
Fe diam tanpa menjawab Feri. Beberapa saat kemudian Feri melaksanakan rapat dikantornya.
"Semoga para staf siap mendapat omelannya," gumam Fe sambil berjalan dibelakang Feri menuju ruang rapat.
"Diam semua jangan berisik," teriak Feri sambil mengetuk ngetuk meja.
Semua karyawan membelalakkan matanya karena ruangan saat itu sepi tidak ada yang berani mengeluarkan suara namun tiba tiba Feri marah seakan meraka sedang ramai diruang itu.
"Kenapa presdir tiba tiba marah," tanya salah satu karyawan pada rekan kerja disebelahnya.
Teman disebelahnya pun hanya menggelengkan kepala tanpa mengeluarkan suara. Hari itu semua karyawan yang mengikuti rapat dengan gemetar ketakutan karena suasana hati Feri yang buruk.
"Hanya karena barang barang tidak dibawa kenapa anda semarah ini tuan muda," gumam Fe
ting
ting
Terdengar suara ponsel Feri berbunyi.
Feri menatap ponselnya lalu melihat nama Masya muncul dilayar ponselnya. Feri segera membuka pesan yang dikirim oleh Masya.
"Kak Feri maaf, Masya cuma bisa kirim pesan. Soalnya masih sibuk, nanti kalau sudah selesai Masya telfon," isi pesan dari Masya membuat hati Feri lebih baik.
"Siapa yang membuat laporan keuangan!," tanya Feri dengan dingin sambil membolak balik kan dokumen ditangannya.
"Sa sa sa ya," salah satu karyawan mengacungkan tangannya dan bicara dengan terbata bata.
Ah aku pasti mati hari ini fikir karyawan itu.
"Cukup bagus, koreksi pengeluaran pembangunan mall baru," ucap Feri dengan dingin namun membuat karyawan itu sedikit tersenyum.
"Baik, terimakasih," ucap karyawan.
"Aah untung saja," ucap Fe lirih sambil menghembuskan nafas lega. "Ternyata bukan karena barang barang yang tidak dibawa tapi karena nona Masya mengabaikannya," gumam Fe sambil tersenyum. Saat ponsel Feri berbunyi Fe sempat melirik nya sehingga tahu hati Feri kembali normal karena pesan dari Masya.
Rapat berjalan dengan mulus karena satu pesan dari Masya. Feri kembali keruangannya lalu menjatuhkan dirinya diatas sofa.
"Apa aku jemput saja dia kesana, gimana menurutmu?" tanya Feri sambil menatap Fe.
"Emh saya kurang tau tuan muda,"jawab Fe yang bingung apa yang akan dilakukan tuan mudanya.
"Aah percuma ngomong sama orang yang tidak pernah jatuh cinta," ucap Feri lalu kembali berbaring sambil memikirkan sesuatu.
"Saya pernah jatuh cinta tapi tidak segila anda tuan muda," gumam Fe.
Malam itu Masya melakukan kegiatan api unggun. Suasana sangat ramai, semua berkumpul ditanah lapang untuk persiapan.
__ADS_1
Rio selalu mencoba mendekati Masya, namun Masya hanya menganggapnya sebagai senior dan menghormatinya.
"Sya kamu bisa bantu aku," ajak Rio pada Masya.
"Kemana kak?," tanya Masya sambil menyiapkan alat makan untuk makan malam mereka.
"Daging nya lupa aku gak bawa masih dipenginapan," ucap Rio sambil menunjuk kearah penginapan.
"Oke," Masya berdiri lalu pergi bersama Rio.
Dalam perjalanan mereka saling bercakap cakap. Setelah mereka kembali dari penginapan, terjadi keramaian dilapangan. Anak anak disana sudah antri untuk mengambil pizza dan coffe.
"Sepertinya ada kesalahan, aku tidak pernah pesan truk pizza dan truk coffe itu," Rio berhenti berjalan dan menatap truk coffe dan pizza.
Tidak lama kemudian ponsel Masya berbunyi.
dring...
Masya menatap layar ponselnya, "kak Feri," Masya berjalan menjauh dari Rio dan menjawab panggilan masuk dari Feri.
"Kamu dimana?," tanya Feri.
"Aw, telingaku," Masya menjauhkan ponselnya. "Kenapa kak Feri teriak teriak sih,"
"Aku ada disamping truk pizza kamu cepat kesini," Feri langsung mematikan ponselnya.
"Apa!, jadi ini kelakuan kak Feri, dasar hih," Masya berlari meninggalkan Rio.
Masya tidak memperdulikan Rio dan berlari menemui Feri.
Feri berdiri disamping truk Pizza bersama Fe dan dan Frengki. Banyak gadis yang menatap Feri kagum.
"Wah itu presdir praditama, ganteng banget," bisik bisik gadis gadis disana sambil terus memandangi Feri.
"Itu dia Masya," kata Frengki sambil menunjuk kearah Masya. "Wah dia memang benar benar cantik, kalau kamu tidak mau lagi kasih aku aja Fer," ucap Frengki sambil menatap Masya yang berlari kearah mereka.
"Apa kamu sudah bosan hidup," Feri menatap tajam Frengki. Frengki hanya tertawa mendengar ancaman Feri.
Frengki tertawa dengan keras sambil memukul pundak Feri. Masya berdiri didepan Feri dengan nafas yang tidak beraturan. Semua orang menatap Masya yang sedang menghampiri Feri.
"Kenapa kak Feri ada disini," tanya Masya sambil mengatur nafasnya.
"Kenapa kamu lari lari?, apa kamu begitu merindukanku?," ucap Feri sambil tersenyum menatap Masya.
"Ahh kenapa kak Feri selalu membuat heboh disekolahku," guman Masya.
"Apa kamu suka, aku membawakan ini semua untuk teman teman mu," Feri menyombongkan dirinya.
__ADS_1
"Cih gara gara kak Feri acara kita mungkin akan dibatalkan," ucap Masya dengan nada lesu sambil menatap teman temannya yang memperhatikan mereka.
"Sialan gadis ******, memang dia penggoda," bisik gadis disana menatap Masya tidak suka.
"Permisi, apa anda yang membawa semua ini," tanya Rio menghampiri Feri.
Feri menatap tajam Rio lalu menoleh Fe seakan memberi isyarat pada Fe untuk menjelaskannya.
"Mari kita bicara," ucap Fe pada Rio lalu menjauh dari Feri.
"Benar benar Fe sangat hebat, hanya dengan tatapan Feri dia mengetahuinya," gumam Frengki. "Fer kalau kamu tidak memberi gadis ini untukku biarkan Fe menjadi asistenku," bisik Frengki menggoda Feri.
"Apa kau mau kubunuh sekarang," ucap Feri lirih membuat Frengki tertawa.
"Yuk kamu ikut aku," Feri mengajak Masya jalan jalan menghindari kerumunan yang mengganggu keromantisan mereka. Masya menyerah dan tidak memberontak mengikuti Feri. Feri memegang tangan Masya didepan krumunan teman kampus Masya. Semua wanita yang ada disana menghujat Masya.
"Dasar Feri brengsek," ucap Frengki dengan nada kesal sambil melihat Feri berjalan berdua bersama Masya. "Lebih baik aku di rumah sakit, disini banyak nyamuk,"
Sedangkan Fe bersama Rio berbicara dengan serius.
"Maaf tuan ini acara camping kami kenapa anda mengganggu," tanya Rio
"Kami disini ada izin tidak perlu khawatirkan kami lanjutkan rencana anda," kata Fe dengan wajahnya yang serius.
Rio terdiam dan menerima karena dia tahu siapa yang dihadapinya.
Feri mempersiapkan sebuah mobil kemah yang sudah dihias dengan lampu dan api unggun kecil didepannya dan dua kursi duduk.
"Wah, kapan kak Feri nyiapin ," tanya Masya berjalan mendekati mobil kemah itu.
"Apa kamu suka?," Feri menghampiri lalu membelai rambut Masya.
"Kak Feri makasih selalu memberi Masya kejutan, makasih," mata Masya berkaca kaca menatap Feri.
"Aku akan selalu buat kamu bahagia, mengerti," ucap Feri sambil tersenyum.
Masya menganggukkan kepalanya lalu memeluk erat Feri. Mereka menikmati malam itu berdua tanpa ada gangguan dari siapapun.
"Kak Feri bawa daging juga?," tanya Masya melihat makanan yang sudah disiapkan disana.
"Iya aku sudah menyiapkan semuanya, alat untuk membakar dan semuanya sudah aku siapkan tapi kamu tidak membawanya tadi," Feri terlentang di tempat duduk yang dia siapkan.
"Cih dia enak enakan tidur disana," Masya menatap Feri yang sedang bersantai.
"Aku kan camping sama teman teman tidak sendiri mana mau aku bawa mereka semua," gumam Masya.
"Ayo sini kita bakar daging bersama," Masya menarik Feri dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Sialan Feri, Fe sampai kapan kita disini jadi patung," ucap Frengki dengan kesal.
Terimakasih jangan lupa like, komen dan votenya.