
Masya menatap kesal karena tidak meresponnya. Feri tersenyum kaku menatap Masya.
"Yuk ah Masya mau berangkat kuliah," Masya memakai sepatunya lalu menarik tasnya dan pergi meninggalkan Feri.
"Ah dia marah," ucap Feri menatap Fe dengan wajah lesu. Feri mengejar Masya yang berjalan dengan sangat cepat.
"Tunggu aku dong," teriak Feri sambil berlari mengejar Masya.
Masya dan Feri masuk lift diikuti Fe. Feri menatap Masya yang sedang mengerucitkan bibirnya.
"Aku antar ke kampus, oke," ucap Feri tanpa ada respon dari Masya. Feri melirik kearah Fe yang sedang berdiri tegak dibelakang mereka.
"Kenapa anda melihat ku tuan muda, aku tidak tau masalah kalian apa!, wanita memang sensitif anda harus hati hati," Fe balik menatap Feri sambil menundukkan kepala.
Karena tidak ada respon daei Masya Feri pun diam. Pintu lift terbuka, Masya segera berjalan dengan cepat ke basement diikuti Feri dan Fe.
"Kenapa aku lama lama seperti bodyguardnya," Feri menghembuskan nafas kesal.
"Aaah nanti ada rapat kenapa mereka musuhan," gumam Fe yang takut mood tuan mudanya akan jelek saat rapat.
Feri mengantar Masya terlebih dahulu setelah itu dia pergi kekantor.
Sedangkan dirumah Feri, mama Feri sedang berada diruang santai sambil mengomel dan ditemani oleh papa Feri.
"Pa, apa kita ambil anak angkat aja yuk, punya anak tinggal satu saja gak pernah pulang kerumah," ucap mama Feri dengan lesu.
Papa Feri tersenyum mendengar istrinya yang sedang kesal. "Ma buat anak saja lagi," ucap papa Feri sambil tertawa menggoda istrinya.
Mama Feri memukul papa Feri dengan sangat keras, "inget umur,!" ucap mama Feri dengan leras lalu meninggalkan suaminya. Papa Feri terbahak melihat istrinya semakin kesal.
Dikampus Masya segera mencari temannya Eka. Masya mencari diseluruh kampus sambil menghubunginya lewat ponsel namun tidak ada jawaban dan Eka tidak datang kekampus hari ini. Masya semakin khawatir tidak dapat menemukan dan menghubungi temannya. Karena kuliah akan segera dimulai Masya kembali keruangan nya.
"Dia kemana ya?, Kenapa tidak mau angkat telfon Masya," ucap Masya lirih.
"Hai Masya," Rio menepuk pundak Masya.
"Eh kak Rio buat Masya kaget saja," Masya berbalik melihat Rio yang verada dibelakangnya. "Ada apa kak?," tanya Masya.
"Enggak ada, nanti siang kekantin bareng yuk," ajak Rio pada Masya.
__ADS_1
Karena Rio ramah pada Masya ,Masya sedikit menanggapi Rio. Saat mereka berbincang, Lia menatap Masya dengan sinis. Lia marah melihat Masya dan Rio bersama. Tatapan Rio berbeda saat menatap Masya. Rio dapat tertawa bersama dengan Masya namun selalu cuek dengan Lia. Lia kembali keruangannya sambil menggebrak meja dengan keras membuat semua teman temannya terkejut. Sementara Masya dan Rio kembali kekelas mereka.
Masya duduk di kursi nomor 2 dari depan. Dibelakang Masya sudah banyak teman temannya yang menatap Masya.
"Eh kamu dengar tidak siculun keluarganya bangkrut sekarang, dia diusir dari rumahnya," ucap teman dibelakang Masya dan terdengar oleh Masya. Mereka membicarakan tentang Eka.
"Iya katanya papa dia membuat masalah dengan perusahaan praditama,"
Masya membelalakkan matanya mendengar Praditama.
"Itu kan nama kantor kak Feri," gumam Masya sambil membuka bukunya.
Dikantor Feri mengikuti rapat dengan mood yang sedikit tidak baik.
"Apa kalian sudah membeli semua saham Robet," ucap Feri dengan lesu.
"Sudah, semuanya diurus dengan baik presdir," ucao karyawan Feri.
"Rapat cukup sampai sini, aian bisa kembali bekerja," ucap Feri sambil memijat kepalanya.
"Fe apa aku harus bilang jujur pada Masya tentang ibunya," tanya Feri pada Fe yang berdiri disampingnya.
"Ternyata dia memikirkan itu, saya kira anda seperti ini karena nona Masya marah tuan Muda," gumam Fe. "Saya pikir sepertinya jujur saja tuan muda,"
"Aah jantungku hampir copot tuan muda menatapku seperti itu," gumam Fe yang khawatir tuan muda nya tiba tiba marah.
"Kita berangkat sekarang," Feri berjalan keluar ruangannya, Fe mengikuti Feri.
Beberapa menit kemudian Feri sampai dirumah Masya. Fe memencet bel rumah Masya. Perawat yang berada disana segera membuka pintu.
"Presdir, ada apa?," tanya perawat melihat Feri didepan pintu.
Feri masuk melewati perawat itu lalu berjalan kekamar mama Masya.
"Wajah nya selalu dingin," gumam perawat.
tok tok tok
Feri mengetok pintu kamar lalu masuk kedalam.
__ADS_1
"Eh nak Feri," mama Masya segera bangun melihat Feri berada disana. Feri mendekatinya lalu membantu mama Masya duduk.
"Tante, ada yang mau Feri bicarakan." ucap Feri ragu mungkin mama Masya tidak akan setuju dengan rencana Feri.
"Ada apa?," mama Masya menatap Feri serius.
"Em lebih baik saya kasih tau Masya tentang kondisi tante," ucap Feri menatap mama Masya.
Mama Masya terdiam sesaat memikirkan ucapan Feri. Dia takut penyakitnya membuat Masya khawatir. Namun dia juga memikirkan jika suatu saat terjadi sesuatu dengannya dan takut tidak dapat mengucapkan salam perpisahan dengan Masya. Mama Masya sangat sedih ketika memikirkan keadaannya. Dia bersyukur ada Feri dideka Masya yang dapat menjaga Masya dengan baik.
"Nak saya yang akan memberi tahu Masya, tapi saya ingin meminta bantuan padamu," ucap mama Masya dengan nada sedu.
"Iya boleh. Jika saya bisa melakukan permintaan anda, akan saya lakukan," ucap Feri dengan serius.
"Nak jika suatu saat terjadi sesuatu denganku, aku ingin meminta tolong padamu. Tolong jagakan Masya untuk ku. Buat Putri ku bahagia. Tolong jangan sakiti dia. Aku mempercayakan Masya padamu." Mama Masya sambil menangis mengutarakan keinginannya.
Feri menatap mama Masya, "Tante jangan khawatir, akan saya lakukan itu,"
"Terimakasih banyak," mama Masya masih menangis haru. Mama Masya ikhlas jika dia pergi dan dia juga akan tenang karena sudah ada yang akan menjaga Masya dengan baik.
Setelah perbincangan itu Feri keluat dari kamar mama Masya. Fe sudah menunggu diruang tamu.
"Fe kita pulang kerumah mama," ucap Feri yang tiba tiba merindukan mamanya.
"Baik tuan muda," Fe mengikuti Feri berjalan kembali kemobil.
Setelah tiba dirumah Feri segera turun dan masuk kedalam rumah. Papa Feri yang duduk diruang santai tersentum melihat Feri datang.
"Ternyata ikatan mama dan anak itu sangat kuat." Gumam papa Feri. "Wah anakku pulang," ucap papa Feri dengar keras suapaya terdengar oleh istrinya.
Feri membelalakkan matanya mendengar papanya yang berteriak melihat Feri. Feri berjalan menghampiri papanya.
Mama Feri dikamar mendengar teriakan suaminya namun berusaha tidak keluar. Mama Feri pura pura tidak mendengar suaminya berteriak dan tatap berada didalam kamarnya.
"Kenapa papa teriak teriak?,"tanya Feri lalu duduk disamping papanya.
Melihag istrinya yang tetap tidak keluat dari kamarnya, papa Feri mencoba berteriak kembali.
"Kenapa cepat sekali sudah mau pulang?, tidak makan dulu?,"teriak papa Feri lagi lalu mengedipkan matanya.
__ADS_1
"Ini papa kenapa?," Feri mengerutkan dahinya sambil menatap Fe. Fe hanya menggelengkan kepalanya menunjukkan dia tidak tau apa apa.
Terimakasih sudah membaca.