Gadis Cantik Milik CEO

Gadis Cantik Milik CEO
Episode 92


__ADS_3

"Fe apa kita kesana ganggu mereka?," Frengki mendekati Fe yang sedang menikmati kopi.


"Aku masih ingin hidup," jawab Fe tanpa menatap Frengki.


"Aaah brengsek," Frengki mengacak rambutnya.


Sedangkan Masya berdebat dengan Feri . Feri tidak mau mengalah pada Masya.


"Kak Feriii, daging nya dibalik dong biar gak gosong gini aaah," ucap Masya dengan kesal.


Feri hanya memegang japit dan memandang daging daging yang sudah mulai menghitam.


"Sudah ah, sini sini," Feri menyuruh Masya duduk disebelahnya.


Feri mengambil ponselnya, Masya menatap Feri kesal.


"Fe, kita disuruh kesana," ucap Frengki dengan senang lalu berlari menghampiri Feri.


Feri menghubungi Frengki untuk datang. Tidak lama kemudian Frengki dan Fe sampai dan melihat Feri dengan Masya duduk dengan santai.


"Perasaan ku gak enak Fe, balik lagi yuk," ucap Frengki lirih namun Fe tetap berjalan mendekati tuan mudanya.


Teman teman Masya melanjutkan acara selanjutnya, Masya tidak mengikuti camping malam itu karena Feri ingin ditemani oleh Masya.


"Sialan, bagaimana bisa dia dekat dengan presdir," ucap Lia senior yang sangat membenci Masya. Dia membenci Masya karena merasa tempatnya direbut oleh Masya. Sebelum Masya masuk ke kampus, dia sangat dikagumi oleh banyak laki laki. namun setelah ada Masya, Lia sering diabaikan. Apalagi dia tahu Masya dekat dengan presdir muda dan terkenal itu.


"Awas aku akan buat perhitungan dengan dia, kita lihat saja nanti," gumam Lia sambil mengepalkan tangannya.


Ditempat Feri berada, terasa ada ancaman yang akan dirasakan oleh Frengki. Kalau Fe sudah terbiasa setiap hari dia terancam. Jiwa Fe lebih kuat dari Frengki. Feri tersenyum licik melihat Frengki dan Fe dari jauh.


"Ki kamu bakar daging itu aku mau istrahat didalam, Fe bantu dia," Feri menggandeng Masya masuk kedalam mobil kemah.


"Baik tuan muda," ucap Fe.


"Dasar rubah licik, benar kan kataku senyuman Feri itu ancaman bagi kita," ucap Frengki lalu berjalan dengan lesu memanggang daging yang sudah disiapkan.


"Kak ikut mereka diluar aja yuk," ajak Masya sambil melihat Feri santai.


"Biarkan mereka bekerja kamu temani saja aku disini," Febri menarik Masya hingga terjatuh dipelukannya.


Malam itu Masya bersenang senang dengan Feri dan meninggalkan camping bersama teman temannya.


Setelah acara kampus berakhir, Masya mulai sibuk dengan kuliahnya. Masya hanya bisa memikirkan mata kuliahnya yang padat. Di dalam kampus, Lia senior Masya sering mencoba menyakiti Masya dengan ulahnya namun Rio selalu membela Masya sehingga membuat Lia semakin Geram.


Feri sudah mulai kesal karena diabaikan oleh Masya. Hampir dua hari Masya tidak menghubungi Feri sepulang dari camping hari itu. Mood Feri sangat buruk setiap harinya. Feri menatap tajam ponsel miliknya.


"Hah gadis gila, kemana saja dia tidak pernah menghubungiku sekalipun," Feri menggebrak meja nya kesal.

__ADS_1


"Sepertinya nona Masya sibuk dengan kuliahnya tuan muda," ucap Fe menenangkan Feri.


"Yang benar saja cih," Feri berdiri didekat jendela menatap pemandangan dari luar kantor.


Beberapa saat kemudian ponsel Feri berdering.


Dring


dring


Feri segera berlari memegang ponselnya.


"Apa brengsek," teriak Feri menjawab telfon dari alex.


"Dilihat dari kecepatan kamu menjawab telfonku sepertinya bukan aku yang kamu harapkan," ucap Alex.


"Cih omong kosong," Feri mematikan telfonnya.


"Fe kita jemput dia sekarang," Feri berjalan keluar dari ruangannya.


"Baik tuan muda," Fe mengikuti Feri.


Beberapa menit kemudian Feri sampai dikampus Masya. Feri berjalan dengan cepat menuju gedung kedokteran di kampus Masya. Feri tidak memperhatikan banyak wanita yang memperhatikkannya.


"Wah presdir Praditama," semua gadis menatap Feri kagum.


"Hai," sapa Lia pada Feri. Feri menatap dia sebentar lalu meninggalkannya.


"Brengsek," ucap Lia dengan nada kesal karena tidak dihiraukan Feri." Apa dia tidak tau siapa aku, lagian aku juga lebih cantik daripda gadis itu cih,"


Diruang kedua Feri masuk yang saat itu sedang melangsungkan perkuliahan.


Pintu terbuka perlahan, profesor yang saat itu sedang mengajar mata kuliah nya terkejut melihat Feri disana.


"Selamat sore tuan," sapa profesor itu sambil menundukkan kepala. Feri mengedarkan pandangan lalu berjalan kearah Masya. Masya terkejut tiba tiba Feri ada didepan pintu.


"Kak Feri," Masya mendongakkan kepalanya menatap Feri yang sudah berdiri didepannya. "Kenapa kak Feri disini," tanya Masya.


"Mencarimu,"jawab Feri lalu menggandeng Masya keluar. " Aku mau bicara denganmu."


"Kenapa kak," tanya Masya menatap Feri.


"Sudah ikut aja," Feri menggandeng Masya menuju mobil.


Masya mencoba menolak Feri yang memaksa untuk mengikutinya. Namun Feri bersikeras mengajak Masya dan tidak mau mendengarkan Masya bicara. Beberapa menit kemudian sampai diapartemen Feri.


"Kamu duduk disini," Feri memegang bahu Masya lalu menyuruh duduk disofa, Feri berjalan menuju dapur.

__ADS_1


"Kakak mau kemana?," tanya Masya melihat Feri meninggalkannya kedapur.


Masya mengikuti Feri menuju dapur. "Ngapain kak Feri pakek clemek?," gumam Masya. " Jangan jangan dia mau masak lagi, oh no no no," gumam Masya.


"Kak Feri tunggu tunggu," Masya berjalan menghampiri Feri. "Yuk makan diluar," ucap Masya khawatir lalu memegang tangan Feri seakan memohon.


"Kita makan saja dirumah," ucap Feri melanjutkan aktivitasnya.


"Om Fe," Masya menatap Fe dengan wajah khawatirnya.


"Tidak apa apa nona," Fe menganggukkan kepalanya.


Lima belas menit kemudian Feri selesai memasak. Masya menatap Feri yang sedang menyiapkan makanan diatas meja makan.


"Kelihatannya sih enak," gumam Masya sambil melihat makanan yang sudah tertata diatas meja.


"Cepet makan," ucap Feri menyodorkan piring untuk Masya.


Masya mengambil makanan dengan ragu. Feri duduk didepan Masya menatap Masya sambil tersenyum senang seakan dia bahagia bisa membuat kan makanan untuk Masya. Namun jangan tanya bagaimana perasaan Masya. Masya masih meragukan hasil masakn Feri itu. Dengan wajah terpaksa Masya memasukkan makanan kedalam mulutnya.


Setelah makanan itu masuk dalam mulutnya, Masya membelalakkan matanya. "Waah enak banget kak," ucap Masya sambil memasukkan sendok keduanya kedalam mulut.


"Sungguh," Feri tersenyum bahagia mendengar pujian dari Masya.


"Lebih enak masakan ku atau masakan Fe," tanya Feri dengan serius.


"Ya lebih enak punyaku dong," gumam Fe lalu tersenyum melihat Feri sesenang itu.


Andai ada penobatan orang jarang berbicara sedunia Fe mungkin akan mendapat juaranya.


"Emmm sama saja," ucap Masya sambil tersenyum manja pada Feri.


"Cih kamu orang pertama yang makan masakanku," ucap Feri lirih. "Bersyukur kamu orang yang bisa memakan masakan CEO yang tampan," Feri bergaya seperti model didepan Masya namun diabaikan oleh Masya dan tetap fokus pada makanannya.


"Wah, Masya kenyang banget kak," Masya mengusap usap perutnya.


Feri memandang Masya dengan penuh cinta. Sebenarnya Feri masih sangat gelisah karena penyakit mama Masya yang belum diketahui Masya. Feri takut jika terjadi sesuatu dengan mama Masya dan membuat Masya sangat terpukul. Untuk saat ini Feri masih menutupi semuanya namun jika suatu saat Masya tahu. Apa yang akan terjadi dengan Masya?, kecewa atau marahkah pada Feri. Entah.


Cup


Sebuah kecupan mendarat dikening Masya.


"Ups," wajah Masya memerah lalu menatap Feri. Mereka saling menatap.


"Masya jika suatu hari nanti tiba tiba kamu kecewa dengan ku ingatlah bahwa semua yang aku lakukan hanya untuk mu," ucap Feri dengan nada sangat sedih.


Terimakasih kakak sudah mampir membaca. jangan lupa like, komen dan votenya. 😁😁😁😁😁😁😁😁😁😊😊

__ADS_1


__ADS_2