
Fe berjalan menghampiri Feri lalu menundukkan kepala menyapa Feri.
"Apa yang terjadi tuan muda," tanya Fe sambil menoleh kearah Masya.
"Ini Masya kesenggol mobil," jawab Frengki.
"Diam kamu!, jangan sentuh dia," teriak Feri.
"Terus gimana aku ngobatinyatuan muda," ucap Frengki kesal.
"Kak, biarin Masya diperiksa," ucap Masya sambil menahan sakitnya.
"Cepat panggil dokter wanita sekarang," teriak Feri pada perawat disebelah Masya.
Feri berjalan mendekati Masya lalu memegang tangannya.
"Tunggu sebentar biar dokter wanita yang merawatmu. Aku tidak rela kamu dipegang cowok lain." Ucap Feri sambil melirik ke arah Frengki. Setelah beberapa menit menunggu, datanglah seorang dokter perempuan yang akan memeriksa Masya. Mereka akhirnya menunggu diluar ruangan. Feri duduk dikursi sambil memainkan ponselnya sedangkan Fe dan Frengki berdiro disebelah Feri.
"Tuan muda apa tidak sebaiknya kita menghubungi mama nona Masya," tanya Fe.
Feri yang tadi fokus bermain dengan ponselnya berhenti sejenak dan memikirkan kata kata Fe.
"Tidak perlu, aku bisa mengurusnya," Feri kembali mengotak ngatik kembali ponsel miliknya.
"Apa luka nona Masya begitu parah," bisik Fe pada Frengki.
"Cuma lecet doang," ucap Frengki.
Fe hanya menganggukkan kepalanya setelah mendengar Frengki.
"Cec cec cec cec emang tuan muda saja lagi bucin, dulu waktu nona Masya tertabrak olehnya dia menyuruhku, sekarang dia yang heboh," gumam Fe.
Setelah beberapa menit dokter keluar dari ruang perawatan. Feri segera berdiri dari tempat dia duduk dan bergegas menghampiri dokter.
"Cuma lecet lecet saja tuan muda, anda tidak perlu khawatir. Kalau begitu saya permisi." Dokter itu menundukkan kepala lalu pergi.
"Yah gak jadi ngerjain Feri aku," gumam Frengki dengan lesu karena rencananya gagal. "Tapi kalau sampai aku jadi ngerjain dia pasti aku ditendang keluar dari sini dan dikirim kepelosok negeri. hih mengerikan," Frengki menyeringaikan wajahnya setelah membayangkannya.
__ADS_1
Setelah mendengar penjelasan dari dokter, Feri pergi menemui Masya.
ceklek
Terdengar suara pintu yang terbuka membuat Masya menatap kearah pintu. Masya tersenyum melihat Feri yang baru masuk. Perlahan Feri berjalan ketempat tidur Masya dengan tatapannya yang khawatir.
"Kenapa wajah kak Feri sendi gitu sih," Masya menatap tajam Feri.
"Tenang saja aku akan menemukan siapa yang membuat mu seperti ini," Feri duduk disebelah Masya sambil memegang tangannya.
Mendengar kata kata Feri membuat Masya sejenak berfikir. Masya terdian beberapa menit dengan pandangan kosong.
"Jadi kecelakaan ini sudah direncanakan?, tapi siapa yang ingin membuat ku celaka?, dan apa salahku?," gumam masya. Masya terdiam cukup lama. Feri memanggil Masya berulang kali namun tidak ada respon darinya. Feri membelai lembut rambut Masya.
"Sayang, apa yang kamu pikirkan?, istirahatlah disini sebentar, tunggu aku," ucap Feri lalu berdiri meninggalkan Masya dan keluar ruangan.
Masya menatap punggung Feri sampai dia keluar dari kamar.
"Tapi apa yang akan kak Feri lakukan," pikir masya khawatir Feri akan melakukan hal bodoh.
"Bagaimana Fe apa sudah kamu urus?," tanya Feri lalu duduk dikursi sambil menyilangkan kakinya lalu meraih kopi diatas meja yang sudah disiapkan oleh Fe.
"Sudah tuan muda, saya sudah kerahkan seseorang untuk mencari cctv didaerah tempat kejadian," laporan Fe pada Feri.
Sesaat sebelum Feri menemui Masya, Feri memberi tugas pada Fe untuk mencari tahu siapa dibalik kecelakaan ini.
"Apa masih belum ada hasil," tanya Feri sambil menikmati kopi ditanganya.
"Belum tuan muda," jawab Fe. Tidak lama kemudian Fe mendapat telfon dari orang orang yang dia suruh.
"Tuan muda ini rekaman cctv dari lampu merah dekat jalan tersebut, silakan anda lihat." Fe memperlihatkan ponselnya dan Feri melihat rekaman cctv itu dengan seksama.
"Sepertinya aku tidak mengenal itu mobil siapa," fikir Feri. "Coba cari tahu plat mobil itu milik siapa, secepatnya!," ucap Feri dengan tegas.
"Baik tuan muda," ucap Fe lalu berbalik membelakangi Feri dan menghubungi orang suruhannya untuk menyelidiki pemilik mobil itu.
Feri berpikir sambil menikamati kopinya. Setelah selesai menghubungi seseorang Fe kembali berdiri didekat Feri.
__ADS_1
"Tuan muda sebaiknya ands istirahat dulu, akan saya selesaikan semuanya," ucap Fe
"Tidak!, aku akan campur tangan dalam hal ini," ucap Feri dengan tegas. "Kamu tidak ingin duduk Fe?, kamu mau berdiri disitu sampai pagi?," Feri menoleh kebelakang ditempat Fe berdiri.
"Terimakasih tuan muda," Fe berjalan duduk disofa dekat Feri. "Aah akhirnya, kenapa anda tidak bilang dari tadi tuan muda, aku kira hari ini tidak melelahkan ternyata tetap melelahkan," gumam Fe menghembuskan nafas pelan.
Beberapa menit kemudian Fe mendapat panggilan dari seseorang. Fe berdiri lalu menjawab ponselnya.
"Tuan muda saya sudah mendapat informasi tentang mereka," ucap Fe manatap tuan mudanya.
"Siapa?," Feri menaruh gelas kopi nya kemeja dan mendengarkan Fe.
"Mereka orang suruhan Robet tuan muda," jelas Fe.
Feri terdiam mengingat siapa Robet, "Siapa dia?," tanya Feri menatap tajam Fe.
"Dia musuh kita tuan muda, kita pernah berebut tanah dikota S, namun mereka kalah dengan kita di pelelangan," jelas Fe.
"Hancurkan dia, akusisi perusahaannya dalam semalam, aku tidak akan memberinya ampun," ucap Feri dengan geram dengan mata berapi api.
"Tapi tuan muda ada masalah lain," ucap Fe dengan ragu.
"Apa masalah nya?, apa sulit untukmu melakukan itu?," teriak Feri, emosi Feri meluap luap. Feri tidak bisa menerima jika Masya terseret kedalam dunia politik dan membuatnya celaka. Dia tidak alan memberi ampun jika seseorang yang sangat doa kasihi menderita karnanya.
"Tidak tuan muda, tapi Robet mempunyai anak perempuan bernama Eka dan dia sahabat baik nona Masya tuan. Dia berada satu kampus dengan nona Masya," jelas Fe.
Feri terdiam setelah mendengar Fe. Dia memikirkan apa yang akan dia lakukan setelah mengetahuinya, "Jangan beri tahu Masya, akusisi perusahaannya malam ini juga," ucap Feri. Feri tetap akan memberi pelajaran pada mereka. Meskipun dia penting bagi Masya.Dia telah membuat Masya terluka dan Feri tetap tidak akan mengampuninya. Tetap tidak akan ada ampun untuknya.
"Baik tuan muda," ucap Fe lalu pergi melaksanakan tugasnya.
Feri pergi menemui Masya, Feri membuka pelan pintu kamar perawatan itu lalu melihat Masya sudah tertidur disana. Feri berjalan mendekati Masya lalu berdiri disamping bed sambil memperhatikan Masya. Feri menatap Masya dari ujung kepala sampai kaki setelah itu menatap wajah Masya. Perlahan Feri membelai wajah Masya dengan lembut. Setelah itu dia mencium kening Masya dengan sangat lembut lalu memeluk Masya.
Karena sangat terasa hangat membuat Masya terbangun dari tidurnya.
"Kak Feri," panggil Masya dengan nada serak lembut yang menggairahkan membuat Feri ingin melakukan sesuatu padanya.
Terimakasih
__ADS_1