
Istirahat dimulai, seperti yang diminta oleh Zilla dan Sofie aku pergi untuk makan bersama dengan mereka berdua.
Dan tempat tujuan kita adalah rooftop. Ya, benar atap sekolah. Aku tak tahu kenapa Zilla sangat tergila-gila dengan rooftop bahkan saat ini dia menaiki tangga dengan senyuman di wajah.
Aku hanya bisa tersenyum kecut melihat gadis itu. Sedangkan Sofie berjalan normal dan sedikit cemberut di sampingku.
"Kenapa kita harus ke atas? Kan ada Kantin?" tanyaku.
Ini pertanyaan yang normal, orang di dunia mana yang akan makan bekal di rooftop, meskipun ada itu hanya berlaku di dunia anime dan komik. Atau jangan bilang kalau Zilla adalah wi-
"Ya, itu karena jiwa romanku berada di sana." Dia menjawab dengan senyuman cerah dan berlompat-lompat di tangga seolah ingin segera di atas.
'Jadi begitu mulai sekarang aku akan menyebutnya gadis rooftop.'
Sekali lagi aku tersenyum kecut mendengar jawaban dia dan Sofie makin cemberut, mungkin karena aku sedikit dekat dengan Zilla.
Setelah menaiki tangga untuk sekitar satu menit akhirnya kami sampai tujuan, Zilla membuka pintu yang tertulis "Don't open" dengan sangat tenang seolah tak punya dosa. Jika membaca tulisan itu aku tahu satu hal, mungkin rooftop ini sedang dalam perbaikan, atau memang tak boleh di masuki.
Tapi Zilla dengan santai membuka pintu ini. Si rambut kuncir kuda ini sepertinya orang yang agak absurd. Aku tidak mau terlalu berurusan dengannya.
Kedua gadis itu menuju salah satu tempat dan duduk di sana berlendetan dengan pagar hijau yang ada di rooftop. Ini terlalu anime woi.
Si rambut kepang kuda terlihat sangat tersenyum seolah ini adalah hal yang dia cari selama ini, sedangkan Sofie hanya terdiam mengeluarkan ekpresi yang entah apa artinya. Mungkin dia marah?
Yah, lupakan itu sekarang. Aku berjalan dengan santai dan duduk di sana, tentu saja aku duduk di jarak agak jauh dari mereka mungkin sekitar 3 meter dari jarak mereka.
Ini mungkin terdengar menggelikan, tapi sebenarnya aku tak bisa terlalu dekat dengan perempuan. Ini mungkin penyakit perjaka yang kumbuh lagi.
Kedua gadis itu menatapku yang duduk menjauh.
"kenapa kamu duduk di jarak itu?" Zilla memiringkan wajah dan bertanya.
Aku memakan roti yang kubeli barusan dan menjawab tanpa menatap. "Tak terlalu penting." Setelah menjawab mataku sedikit melirik ke Sofie.
Sebenarnya dia juga merupakan alasan utama. Jika aku duduk berdekatan dengan mereka kemungkinan besar Zilla akan mengoceh dan Sofie akan terabaikan, itu yang tak kumau. Lagi pula dia dari tadi menatap ke sini dengan aura yang aneh.
Aku mengunyah lagi dan lagi mungkin aku terlalu fokus dengan roti. Hingga tak sadar bahwa tiba-tiba Sofie duduk dekat denganku di samping kiri.
Aku menoleh ke kiri dan melihat wajah Sofie dekat sangat dekat, bahu kami saling bersentuhan dan sekali lagi Sofie menggembungkan pipi dengan warna agak merah.
Mengesampingkan dia yang sedikit tersipu, aku lebih fokus ke hal lain.
__ADS_1
'Ada apa dengan orang ini? Dari tadi dia terlihat ngambek.. oh.. mungkin lagi datang bulan.'
Mencoba tak peduli aku memakan lagi roti itu sambil menatap Sofie, tapi tentu saja aku tidak bisa menyembunyikan wajah merah milikku.
Mencoba mengabaikan tatapan dari Zilla, aku membuka mulut untuk memulai pembicaraan.
"Ada apa? Hari ini kamu terus cemberut, apa terjadi sesuatu?" tanyaku menatap ke gadis itu.
Sofie memalingkan wajah menolak untuk menatap dan melanjutkan acara makanannya. Sisi yang ngambek ini sangat imut.. Upss lupakan tentang itu.
"Apa kamu tak tahu jawabannya?"
".. ya... apa kamu marah karena aku dekat dengan Zilla?" tanyaki sekali lagi.
Sebenarnya aku bisa merasakan tatapan penuh senyuman dari Zila mengarah ke sini, tapi aku mencoba untuk melupakan itu.
Memerah, dia tak mau menerima fakta dan membantah. "b.. bukan! Aku.. aku bukan berarti cemberu!"
'Dari mana datangnya sifat tsundere ini?'
[Note : Tsundere seorang yang tidak bisa jujur dengan perasaanya, bahasa kasarnya orang munafik. Atau malu-malu kucing]
"Aku marah karena kamu duduk di tempat jauh."
"Bukankah kita teman, kenapa kamu malah menjauh itu membuatku kesal.. d- dan juga aku tak akan cemburu kalau kamu dekat dengan Zilla, dia juga temanku.. aku akan cemburu kalau kamu dekat dengan wanita yang tidak kukenal."
"Oh, seperti kakakku kemarin?"
"Ya, saat itu aku sangat marah! Kamu dekat banget dengan dia, sekarang aku tak akan marah karena tahu itu kakakmu. Tapi jika ada wanita yang dekat denganmu, besok pasti akan kupul kamu!"
Dia berkata dengan sangat jujur. Kemudian merona karena menjawab dengan sangat tegas, dia kembali makan dan konslet.
Aku hanya bisa tersenyum mendengar jawaban jujur itu dan tidak bisa menyembunyikan detak jantung yang terus berdebar.
Tapi-
"Yo, kalian berhenti bersenang-senang sendiri dan ajak aku."
Zilla kembali berjalan dan duduk di samping Sofie, aku sebenarnya merasa bersalah karena mengabaikannya. Tapi dia malah terlihat menikmati percakapan kami, jadi entah kenapa aku jengkel.
"Kami tidak melakukan itu."
__ADS_1
Sofie membentak, tentu saja dengan wajah yang merah padam. Sedangkan Zilla makin tersenyum penuh goda.
"Duh. Sofie kamu seperti biasanya imut."
Dia memeluk tubuh Sofie. Sekali lagi ada apa dengan comedy versi anime ini?
Apa Zilla adalah orang yang tipe seperti itu, orang yang suka sama jen-
"Tidak aku orang normal."
Zilla menjawab, seolah sadar akan pikiranku. Mataku menoleh. 'Apa dia cenayang?'
"Tapi yang lebih penting aku sangat senang akhirnya Sofie bisa kembali ceria."
Oh, benar juga Sofie pernah cerita kalau dia punya satu teman yang masih setia jadi dia adalah Zilla. Dan aku tahu bahwa Sofie berubah karena masa lalunya.
"Sebastian, terima kasih kepadamu, sepertinya Sofie bisa kembali menjadi seperti sedia kala, dia orang yang sangat pemalu, tapi akhirnya membuka hati kepada orang." kata Zilla dengan senyuman.
"Memang sifat malu Sofie separah apa?"
"Oh, jangan terkejut ya. Dia itu-"
"Aaa, stop! Jangan katakan apapun lagi!"
Sofie menutup mulut temannya dengan menggunakan kedua tangan, ini sepertinya adalah hal paling memalukan bagi dia.
Tapi Zilla menepis tangan itu dengan mudah dan melanjutkan ucapannya.
"Dia bahkan akan terdiam di kasir alfamart lo, saat di tanya oleh kasir dia hanya diam dengan ekpresi dingin, tapi sebenarnya dia sangat gugup dan malu. Itu terjadi saat sekolah dasar."
"Aaa, berhenti." Muka dia merah, Sofie ingin menghentikan temannya yang bercerita.
'Serius orang yang seperti itu benar-benar ada toh.'
Tapi itu mungkin, mengesampingkan sifat dia yang pemalu. Sofie memang punya masa lalu yang sedikit menyedihkan akan sangat normal bila orang akan berubah setelah mengalami semua itu.
"Oh, Sebastian. Karena Sofie sangat terbuka denganmu maka aku minta tolong dong?" suruh Zilla.
Aku memiringkan wajah, "Ada apa?"
"Maukah kamu menjadi pasangan temanku?" Dia berkata seolah-olah itu adalah normal untuk dikatakan.
__ADS_1
Reaksi kami berdua sudah sangat jelas.
"Haaaa" Itulah reaksi aku dan Sofie.