Gadis Dingin Yang Ceria

Gadis Dingin Yang Ceria
Chapter 49. Tamu tidak diundang


__ADS_3

Pandangan dibalik gedung tampak sepi. Sejauh mana mata memandang hanya ada tanah bersemen yang membentang luas, gedung Sekolah tampak besar jika dilihat dari sini. Langit cerah berubah menjadi jingga, satu dua burung berwarna putih beterbangan menepakan sayap mereka, angin berhembusan membuat rambutku bergoyang beberapa dedaunan ikut terhempas.


Hening. Tidak ada orang satupun di sini, apa ini semua hanya bulshit.? Aku menghela napa menggelengkan kepala berharap itu hanya imajinasi buruk. Waktu berlalu sekitar 15 menit dan tak satupun orang berkunjung.


Aku berdesis kesal. Seperti orang bodoh, aku sudah dipermainkan. Aku membalikan badan, hendak pulang, namun akhirnya muncul satu suara yang membuatku menoleh.


“Jadi kamu Sebastian,” ucap siswa lelaki di belakangku. Dia memiliki rambut hitam biak tengah, sangat rapi dengan wajah putih, tubuhnya cukup tinggi, apa dia Rangga? Ya pasti itu, dia.


Bola mataku melirik tajam, kalau dia adalah Rangga maka sudah saatnya untuk berpesta, dia pasti mau merencanakan hal buruk. Tapi orang ini tampak ketakutan dengan mata tajam ku, aku sedikit ragu jika dia adalah Rangga.


“M. Maaf.” Dia menundukan kepala, tubuh gemetaran tampak sedikit ketakutan bahkan dia berkeringat.


'Serius? Rangga apa dia orang seperti ini?'


“Kamu siapa?” tanyaku dengan nada sedikit lebih tenang, tapi dia masih gemetaran, tidak berani menatap mataku.


“Aku bukan Rangga, sebut saja aku Rijal,” ucap Rijal tampak ketakutan.


Sudah kuduga, Rangga pasti bukan penakut seperti dia, tapi kenapa malah orang ini yang berada di balik gedung? kukiran Rangga akan marah dan mengajak berkelahi, tapi tampaknya aku salah. Aku bertanya ke Rijal tentang hal ini, dan dia menjawab dengan sedikit terbata-bata.


“I- itu, Rangga memaksaku. Dia menyuruhku untuk bertarung denganmu, ja- jadi. Aku tidak akan mengalah ayo bertarung.” Dia berteriak, walaupun begitu aku sangat yakin dia masih takut. Maksudku tubuhnya bahkan gemetaran.


Dia pasti korban bully dari Rangga, mungkin dia kacung, sungguh kasihan.


“A- apa, jangan menatapku dengan wajah itu!” Gemetaran. Dia memasang kuda-kuda untuk berkelahi.


Tapi aku tidak tertarik sama sekali, jadi aku hendak pulang. Dia sedikit tampak lega untuk sesaat, tapi pada akhirnya dia sekali lagi berteriak. “tunggu!”


Aku menghela napas. Menoleh ke belakang. “Apa?” tanyaku malas.

__ADS_1


“Jangan abaikan aku, kita belum bertarung sama sekali.”


“Aku tidak tertarik.” Aku hendak pergi lagi.


“Tunggu! Ini mungkin sangat bodoh untuk kamu. Asal kamu tahu Rangga kenal sosok asli darimu, mantan brandal saat SMP itu kamu, kan? Aku juga tahu. Tapi aku harus bertarung.”


Aku membuka mata lebar. Menoleh ke belakang, tapi kali ini mataku sangat tajam.Yang membuatku tertarik adalah fakta bahwa Rangga tahu masa laluku. “Oh, dari mana Rangga tahu tentang masa laluku? Dan kenapa kamu masih berani bertarung denganku walaupun tahu masa lalu itu?"


Rijal menelan ludah. Meskipun ketakutan, dia menatap tajam aku. Siap bertarung. “Aku tidak tahu, tapi aku harus bertarung denganmu dan menang!"


“Kenapa harus seperti itu?”


“Karena jika aku kalah Rangga akan menyiksaku lebih parah, dia juga akan mengganggu Stela— teman perempuanku. Dia bahkan mengancam jika aku kalah maka dia akan menikmati tubuh Stela.. Meskipun lemah dan menyedihkan aku masih mau melindungi wanita yang kucintai, tidak peduli apapun yang terjadi kepadaku!!!” Dia berteriak lantang, tampak emosi.


Bibirku terangkat, jadi seperti itu. Dia melakukan untuk gadis yang dia sukai, sungguh terhormat. Aku tidak menganggap orang ini bodoh, justru dia terlihat hebat.


“Kamu bukan pengecut, aku yakin Stela pasti orang penting bagiku,” ucapku dengan sedikit tersenyum.


Tapi, tampaknya senyuman ini terlihat mengejek bagi Rijal. Dia malah emosi.  “Berhenti tersenyum! Ya, dia sangat berharga. Dia orang yang mau menerima pecundang sepertiku, orang pertama yang mau menerimaku, tidak peduli seburuk apa Stela mau berada di sisiku, jadi aku harus melindungi dia tidak peduli apapun yang terjadi.” Dia mengepalkan tangan siap menyerang.


Aku tersenyum sekali lagi. Jadi Stela baginya sangat berharga. Mungkin seperti aku yang menganggap Sofie, dia sangat berani, jika kita bertemu di posisi yang berbeda kita bisa menjadi teman baik.


“Berhenti mengeluarkan senyuman itu, jangan ejek aku!” 


Rijal tampak marah. Dia menyerangku, melompat dan memberikan pukulan keras. Kuhindari pukulan itu dengan sangat mudah. Serangan berikutnya tendangan memutar, itupun juga kutahan dengan sangat mudah. Semua gerakan orang ini adalah pemula, tapi tidak terlalu buruk.


“Cih!”  Dia berdesis, memberikan satu pukulan tangan kanan ke wajahku agar aku melepaskan kakinya.


Aku melompat karena tidak bisa menahanya. Baru beberapa detik napas Rijal sudah ngos-ngosan, padahal aku belum melakukan apapun. tidak mau kalah, dia terus menyerang, memukul ke segala arah dengan asal tampak sangat marah.

__ADS_1


Serangan membabi buta adalah hal paling mudah dihindari. “Kenapa? Kenapa ini semua selalu terjadi padaku?! Aku hanya ingin hidup normal! Aku hanya ingin melindungi gadis yang kucintai! Kenapa tidak berjalan lancar? Sial!”


Berteriak dia memberikan satu pukulan kasar yang membuatku melompat mundur. Dia sudah berkeringat sedangkan aku masih bertenaga, tapi Rijal. Tatapannya tidak mau kalah.


Bibirku terangkat lagi. Dia benar-benar keren.


Rijal menerjang, memberikan satu pukulan keras ke pipiku. Sebenarnya aku bisa menghindari ini, tapi baiklah. Aku kan mengalah untuk kali ini.


Brak


Pukulan itu mengenai tepat pipiku, membuat gigiku hampir saja lepas. Aku terjatuh menatap langit jingga. Tubuhku terbaring di tanah, tapi aku tidak pingsan.


Rijal menatap tangannya tidak percaya bisa memukulku, Yah, sebenarnya aku mengalah, tapi Rija tampak sadar. “Kenapa kamu menerima pukulan itu? Apa kamu meremehkanku?!”


Aku tertawa kecil. Sungguh candaan yang bagus. “Tidak, justru sebaliknya. Aku tidak tahu apa yang orang pikirkan tentangmu, mungkin ada yang mengira kamu pecundang, tapi dari sudut pandangku kamu sangat berani, lo. Kamu melindungi orang yang kamu sukai, kan? Aku yakin Stela pasti menganggap kamu keren, hahaha.”


Dia tidak merespon, sedikit terharu dengan ucapanku. Matanya berair. Aku berkata satu kali lagi, “Aku punya ide, bawa aku ke tempat Rangga. Aku punya urusan dengan orang itu.”


“Tapi-”


“Tidak, apa-apa. Dengan ini Stela dan kamu akan bebas. Akan kubuat si Rangga menerima segalanya. Itulah alasan aku ke sini.”


“Aku dengar Rangga terobsesi dengan Sofie, apa kamu ingin melindungi dia?”


“Ya, aku dan kamu sama, hahaha.”


“Tidak, kamu kuat sedangkan aku lemah. Aku harap aku bisa sepertimu besok.”


“Kamu bisa, pastinya. Sudah diam dan lakukan apa yang aku minta, aku akan menendang pantat orang itu.”

__ADS_1


__ADS_2