Gadis Dingin Yang Ceria

Gadis Dingin Yang Ceria
Chapter 59. Bala bantuan


__ADS_3

Dentuman tulang patah terdengar, memenuhi ruangan yang gelap itu. Tanpa perlawanan Sebastian dipukul terus menerus.


wajahnya penuh oleh luka, darah bercucuran. Orang normal akan jatuh pingsan, tapi Sebastian masih tahan banting.


Dia menyeringai. "Sudah puas? Kalau sudah tolong lepaskan mereka semua. Kamu boleh lakukan apa pun setelah ini."


Tatapan Sebastian adalah mata tak mengenal rasa takut mati, membuat pria yang menyiksanya menjadi makin emosi.


Apa dia Monster bagaimana dia bisa berdiri di kondisi seperti ini?


Tubuh Sebastian sempoyongan. Dia bisa jatuh kapapun, tapi dia mengusahakan untuk berdiri.


Teman-temannya yang menonton tidak tega. Ingin rasanya menolong, namun masih ada sandra jika melangkah satu kali saja, Sofie akan mati karena tersayat pisau.


"Sebastian cukup! Lupakan aku dan kalahkan mereka semua... aku tidak tega melihat kamu menderita seperti ini," ucap sang korban sandra yaitu Sofie. Meskipun pisau sedang berada di lehernya, Sofie masih hendak melakukan sesuatu.


"Tidak mau, bukankah kita sudah berjanji. Setelah lulus aku akan menikahimu, jika kamu mati rencanaku berakhir. Aku tidak ingin itu, Sofie." Dengan tubuh terluka parah Sebastian menjawab perkataan Sofie.


Isak tangisan Sofie makin parah. Dia sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa, sangat ingin menolongnya. Sangat ingin memberikan pelukan ke Sebastian, tapi dia kini adalah sandra yang bisa dia lakukan hanyalah menatap.


Maaf Sebastian ini semua salahku.. maaf, maaf, maaf, maaf..


Pria itu tampak makin kelelahan. Dari tadi memukul seseorang yang tidak kenal sakit membuat dia kelelahan. Keringat membasahi mukanya.


Dia mengigit bibir masih menatap Sebastian yang kuat menerima segala serangannya.


"Sial, matilah!"


Sudah tidak bisa menerima emosi. Pria itu hendak menusuk Sebastian dengan sebilah pisau kecil. Sofie menjerit, teman yang lain sudah tidak menahan diri lagi, hanya dalam beberapa detik saja pisau itu hendak mengenai dada Sebastian.


Di tengah kepanikan, suara tegas berbunyi. Ruangan gelap menjadi sangat terang, cahaya lampu senter berada di mana-mana.


"Cukup sampai di situ dasar penjahat!"


Serontak sosok polisi berompi yang berjumlah lima orang mengelilingi ruangan. Mereka menghidupkan cahaya dari senter dan lampu mobil.


Mereka semua juga menodongkan pistol ke arah pria yang hendak menusuk Sebastian. Pria itu dan orang yang menyandra Sofie mengangkat tangan ke atas tanda menyerah diri.

__ADS_1


"Pilihan yang bagus, sekarang pergi jauhi mereka semua!" tegas polisi serasa bersamaan.


Kedua orang itu berdiri, berjalan mendekati polisi karena merasa sudah tidak ada harapan.


Semua teman Sebastian termasuk dirinya menghela napas lega. Akhirnya semua berakhir.


Sofie yang bajunya terbuka setengah langsung melompat ke arah Sebastian, memberikan pelukan hangat karena ketakutan. Airnya mata dia terus menetes.


"Maaf, maaf, maaf, karena aku kamu jadi babak belur.. maaf," isakan tangisan membuat dia tidak bisa berkata dengan jelas.


Sebastian memeluk erat Sofie, mengelus pundaknya. "Tidak apa-apa kamu pasti ketakutan. Aku bersyukur kamu baik-baik saja, sudah tugas calon suami untuk melindungi istri, bukan?"


Sofie semakin menangis dia membenamkan kepalanya ke dada Sebastian. "Dasar, kenapa kamu mengatakan hal memalukan dengan sangat enteng."


"Haha, maaf."


"Tapi, Terima kasih. Aku sangat takut karena kamu semua menjadi baik-baik saja.," ucap Sofie sekali lagi.


Sebastian terdiam dan tersenyum.


Dua pria dewasa itu berjalan melintasi Sebastian. Mereka tampak penuh dengan amarah dan melotot kearahnya dengan emosi.


Sebelum tertangkap dan berada di penjara mereka memiliki ide gila. Mereka terutama si Bos ingin membunuh Sebastian.


Bos dari mereka mengambil pisau dari saku dan hendak menikam Sebastian dari belakang. Sebastian menoleh dia sadar, tapi tidak merespon, dia memilih untuk memeluk Sofie untuk melindungi dia. Sofie berteriak.


Polisi ingin menembak, namun jarak antara Sebastian dan Bos terlalu dekat. Sebastian malah bisa terkena dampak dari tembakan.


Pisau makin mendekat, Sebastian makin memeluk Sofie. Sofie berteriak dan menangis, tidak ingin sesuatu terjadi.


Tiga temannya sudah tidak tahan lagi. Mereka muak menjaladi penonton, mereka bertiga lagi untuk menghentikan itu.


Angga berlari paling cepat, dia tidak berhasil menghentikan pisau yang menusuk itu. Tapi Sebagai gantinya dia bisa menahan pisau itu dengan mengorbankan tangan kanannya agar tertusuk pisau.


Telapak tangan Angga berdarah. Pisau tembus. Dia mengigit bibir kesakitan.


Polisi langsung memborgol Bos dan anak buahnya. Mereka mencoba memberontak tapi percuma.

__ADS_1


"Bangs** ini semua salahmu anak SMA sangat belagu kau!" jeritan emosi dilontarkan oleh Bos. Meskipun diborgol dia masih melawan hendak membunuh Sebastian, tapi Polisi semakin ketat dan membawa paksa semua pelaku ke mobilnya.


Mobil itu melaju membawa tiga pelaku dari pelecehan. Sebelum pergi si Bos berteriak dengan lantang bahwa suatu hari dia akan membunuh Sebastian.


Walaupun itu tidak mungkin terjadi karena mereka akan di penjara seumur hidup karena banyaknya kasus yang telah terjadi.


Mereka bertiga adalah Gavin selaku boss, Revan, dan Bryan. Ketiga buronan tertinggi untuk saat ini. Mereka bantar narkob*, judi, pelecehan dan masih banyak lagi.


Sekarang masalah telah selesai. Pelaku pelecehan telah tertangkap dan dibawa pergi dengan mobil.


Sekarang hanya tersisa Siswa SMA yang menjadi korban.


Angga menatap tangan kanannya yang tidak mau berhenti berdarah, sangat sakit rasanya. Tapi dia tidak mau rewel, Sebastian malah lebih sakit soalnya.


Sofie tampak bersalah. Dia sudah menganggap Angga dengan pandangan buruk menyamakan dengan lelaki bejad yang lainnya.


Dia menundukkan kepala dan berjalan ke arah Angga. "Maaf, ini salahku, seharusnya kamu—"


"Tidak. Aku melakukan hal yang sama seperti Sebastian, aku hanya melindungi gadis yang ku cinta. Walaupun sebenarnya dia sudah memiliki orang lain, justru aku yang minta maaf. Aku terlalu terobsesi denganmu, aku menakutkan bukan?" potong Angga.


Sofie meneteskan air mata, menggelengkan kepala. "Tidak justru aku yang minta maaf. Aku terus menganggap mu buruk, sekarang aku sadar kamu bukanlah orang yang seperti kupikirkan. Maaf atas prilaku yang buruk yang telah kuberikan kepadamu." Sofie menundukkan kepala meneteskan air mata.


Angga menggaruk kepala. "Aku senang... Sofie berkata lebih dari satu kata. Biasanya dia hanya akan bilang " ya" dan "tidak" tampaknya operasi penghilang rasa malu menghilang Sebastian." Angga menoleh ke Sebastian.


Sebastian menghela napas. "Ya seperti itulah, tapi maaf. Aku tidak akan memberikan Sofie untukmu, perjanjian awal ku batalkan. Jika ingin Sofie coba dekati dia lain kali dengan lebih sehat."


"Hahaha, kamu benar."


Tanda tanya ada di kepala Sofie. Perjanjian? Operasi penghilang rasa malu? Janji? Banyak hal yang tentu dia tidak tahu.


Melihat kebingungan Sofie membuat Angga dan Sebastian tertawa keras.


Di sisi lain. Saat situasi sedang penuh canda tawa, Aditya menelpon polisi sekali lagi, saat Sebastian bertanya untuk apa? Adit menjawab.


"Pelaku masih di sini, yaitu aku. Aku mau menyerahkan diri."


Hal ini tentu ditolak oleh Sebastian, dia bilang tidak perlu melakukan itu. Namun keputusan Adit sudah bulad.

__ADS_1


Pada malam itu juga Aditya di bawa dengan mobil polisi. Sebastian sudah mencoba membujuk polisi berkata bahwa Aditya tidak bersalah namun semua bukti ada. Dan Aditya mengakui kesalahan.


Jadi percuma. Mobil melintas meninggalkan Sebastian dan teman-temannya.


__ADS_2