Gadis Dingin Yang Ceria

Gadis Dingin Yang Ceria
Chapter 15. Persetujuan


__ADS_3

Sekarang apa yang harus aku katakan untuk menenangkan idola kita ini? Apa kalimat yang harus kukatakan agar ini semua berakhir tanpa bertarung? Aku harus memikirkan ini semua dengan baik.


"Berhenti melamun dan jawab aku!"


Cih! Tampaknya idola kita tidak bisa bersabar. Tidak ada pilihan lain, sepertinya itu adalah pilihan terbaik.


Menghabiskan waktu hingga istirahat berakhir, itu adalah pilihan yang tepat. Bagaimana pun dia adalah anak yang terbilang akademis dan idola, jadi tidak mungkin dia akan mengabaikan jam pelajaran.


"Aku benar-benar tidak punya hubungan istimewa dengan dia, Angga. Dengar kamu kan idola sekolah ini, banyak wanita yang mengelilingimu, apakah kamu serius berpikir kalau Sofie menghabiskan waktu hanya untuk orang normal sepertiku?"


Ini adalah alasan terakhir, aku sudah tidak bisa lagi berbohong lebih dari ini.


Tampaknya alasan ini berfungsi, dia terlihat tersenyum mengejek, walaupun senyuman itu membuat aku emosi, tapi siapa peduli.


"Hah, kamu benar juga. Tidak perlu khawatir separah itu, Sofie mana mungkin mau menghabiskan waktu denganmu, hahaha. Aku sungguh bodoh."


"Paling dia hanya memiliki keperluan dan meskipun dia dekat denganmu, aku tidak yakin apakah dia serius, dia hanya memainkan perasaanmu." Dia terus mengejek dengan wajah tertawa.


jujur saja aku yakin jika orang yang mengagumimu pasti akan sangat kecewa jika melihat sisi ini. orang yang terlihat baik, populer. Pasti tidak ada yang menyangka bahwa sifatnya sebusuk ini.


Aku berterima kasih berkatmu aku sadar bahwa tidak semua orang baik akan sepenuhnya baik.


"Hahaha, kamu benar."


Aku tersenyum palsu, tapi hatiku sebenarnya sangat marah.


"Sofie adalah milikku jadi menyingkirlah dari hadapannya!"


"Kenapa kamu sangat yakin seperti itu?"


"Itu karena aku adalah teman semenjak kecil. Sejak dulu aku berada di SD, SMP, dan bahkan SMA yang sama dengan Sofie. Ini lebih tepatnya seperti takdir kan? Hahaha, melihat sifat imut Sofie tentu saja aku jadi kagum, dia adalah bunga yang tidak bisa digapai. Tidak ada siapapun yang cocok untuknya tanpa aku!"


"Lagipula aku adalah lelaki paling top di sini aku punya hak untuk bersama Sofie dari pada kamu."


"Iya, kamu sangat benar. Aku tidak akan punya kesempatan untuk menang." Berpura-pura, aku menundukkan kepala. Seolah aku sedang terpuruk.


Gilang Anggara jujur saja aku sedikit takut ketika berada di sampingnya. Apa yang membuatku takut adalah obsesinya terhadap Sofie.


**Kring


Kring**


"Ah, tampaknya istirahat sudah berakhir. Jadi aku akan duluan."


Angga tersenyum mengejek, dia memutar badan dan berjalan menjauh.

__ADS_1


"Berhentilah bermimpi dan Sofie pasti akan menjadi milikku, hahaha."


Aku mencengkram tangan, berusaha untuk menahan emosi, jujur saja akan sangat mudah untuk membuat dia babak belur, tapi apa gunanya itu?


Tap


Tap


"Sebastian!"


Suara ini milik Sofie. Tunggu dia datang ke sini? Dasar bodoh, dia memperparah situasi.


Saat ini Angga berhenti melangkah dan menatap aku serta Sofie dengan sangat tajam.


Sofie yang sebelumnya tersenyum, langsung terlihat pucat dan ketakutan karena melihat tatapan dari Angga.


'Tunggu ini aneh kenapa Sofie takut dengan teman semasa kecilnya?'


Sofie yang gemeteran bergegas berjalan dan bersembunyi di balik bahuku, dia sangat gemeteran aku tidak tahu kenapa dia bisa seperti ini, tapi tampaknya dia tak terlalu suka dengan Angga.


"S- s.. Sebastian."


Aku benci ini, Sofie seharusnya ceria, tapi sekarang dia ketakutan. Naluriku mengatakan bahwa Angga adalah orang bahaya.


Angga memasang wajah penuh senyuman dan dari sudut pandanganku dia terlihat berbohong. Aku paham sifat Angga sekarang, dia adalah orang munafik.


"Tidak, aku tidak apa-apa," ucap Sofie. Dia mencengkram pundakku dengan lebih erat.


Angga mengigit bibir. "Sebastian ya? Tadi kamu bilang kan, kalau kamu tidak punya hubungan istimewa, tapi kenapa Sofie malah berlindung di bahumu. Kalau dilihat seperti ini siapapun akan tahu jawabannya."


"Kukatakan sekali lagi, apa hubunganmu dengan Sofie?"


Sepertinya sudah tidak ada pilihan lain, tapi aku tidak ingin Sofie mendengar apa yang aku katakan ini.


"Sofie, kamu pulang ke kelas dulu, aku mau mengatakan sesuatu kepadanya."


Sofie menganguk dengan tubuh yang masih gemeteran dia berjalan dan menundukkan kepala.


Angga diam melihat Sofie yang mulai menjauh. Sekarang hanya ada aku dan Angga.


"Angga akan aku perjelas, tapi kuharap kamu tidak akan salah paham."


Aku menghirup napas, aku akan mengatakan hal yang sebenarnya.


"Aku hanya ingin membantu menghilangkan sifat pemalu Sofie, bisa dibilang seperti itu."

__ADS_1


Angga mengangkat alis tampaknya, dia terkejut akan jawaban itu dan dia sedikit tampak marah.


"Jadi kamu tahu kalau Sofie pemalu? Sudah kuduga hubungan kalian tidak biasa saja, karena itu adalah hal rahasia yang hanya diketahui oleh beberapa orang."


"Ya, bisa dibilang seperti itu."


"Jadi kamu benar-benar akan mengangguku!" Dia menggeretkan gigi. "Aku tak bermaksud buruk, tinggalkan Sofie sekarang juga, orang sepertimu tidak akan cocok dengannya."


"Jangan salah paham. Bagaimana dengan ini?" Aku tersenyum, mulai dari sekarang perkataanku adalah kenyataan. Sejak awal aku memang tak cocok dengan Sofie.


"Aku akan menghilangkan sifat pemalu dari Sofie, setelah itu kamu boleh lakukan apapun untuknya. Bisa dibilang aku justru membantumu, jika sifat Sofie yang pemalu hilang bukankah itu akan membawa hal baik untukmu?" tanyaku.


Angga tertawa, dia tampak tertarik dengan tawaran yang aku buat.


"Baiklah, kamu sangat menarik, sepertinya idemu cukup bagus, tapi apa ada jaminan kamu tidak akan menyentuh Sofie? Dan apakah kamu bisa menyakini bahwa kamu tidak mencintai dia! Tawaranmu sangat meragukan, kamu bisa saja merebut Sofie saat dalam proses penyembuhan rasa malu." Dia tampak membantah.


Aku tersenyum mendengar keluhannya.


"Maaf, sejak awal aku tidak akan percaya siapapun. Sofie mungkin hanya memanfaatkanku untuk kepentingannya, mana mungkin aku menaruh cinta ke orang yang bahkan tidak aku percaya?"


Yang aku katakan adalah kenyataan, semenjak seseorang menghianatiku. Aku sudah tidak percaya siapapun, lebih tepatnya aku tidak mau mempercayai orang lain lagi.


Pada akhirnya aku hanya akan dimanfaatkan.


"Hahahaha, Sebastian. Kamu sangat menarik! Baiklah aku menerima tawaran itu."


Aku merentangkan tangan.


"Kalau setuju jabat tangaku!"


Tak menjawab dia menjabat tangan miliku dan tersenyum.


"Ini adalah persetujuan, aku akan membiarkanmu dekat dengan Sofie hingga sifat malu dia hilang. Tapi setelah Sofie bukan pemalu, aku akan merebutnya!" Dia menegaskan hal itu.


Aku hanya mengangguk, kemudian dia tertawa dan pergi meninggalkanku.


Aku menatap pundak yang semakin hilang itu.


Saat melihat pundak yang semakin hilang, Tiba-tiba senyuman Sofie terlintas di otakku. Senyuman yang memberikan kehangatan.


Aku tersenyum menatap ke arah Angga yang semakin menjauh.


"Ya, kamu boleh ambil Sofie setelah itu. Tapi jika kamu membuat Sofie meneteskan air mata walaupun hanya sekali, pada saat itu juga aku akan membantaimu."


Aku berbalik dan pergi ke kelas.

__ADS_1


__ADS_2