Gadis Dingin Yang Ceria

Gadis Dingin Yang Ceria
Chapter 48. Undangan


__ADS_3

Aku berjalan menuju kelas. Menatap dompetku yang kini menjadi tipis, ini semua karena Ardian seenaknya pergi tanpa bayar makanan, lihat aku menjadi bangkrut, yah, bodo lah. Anggap aja sumbangan.


Klark


Aku membuka pintu masuk berwarna coklat itu dengan tenang. Aneh tepat ketika aku menginjakan kaki di kelas semua orang menatapku, apa yang terjadi. Untuk beberapa detik akhirnya aku sadar satu alasan, ternyata Pak Eko- guru MTK kami sudah berada tepat di depan hadapan.


Keringat dingin membasahi kening. Aku tahu apa yang akan terjadi setelah ini, Guru yang berdiri tepat di depanku adalah orang yang tidak menerima keterlambatan. Mampus dah.


“Kamu berani sekali terlambat di jam saya,” ucapnya dengan nada tegas dan menujuk. Membenarkan posisi kacamata, dia menatapku tajam. Aku menelan ludah sambil menunduk.


“Maaf,” sahutku sambil mengaruk rambut yang tidak gatal sama sekali. Aku sebenarnya tahu tidak peduli aku meminta maaf, atau tidak jawabannya sudah jelas.


“Kamu keluarlah sampai pelajaran saya selesai.”


Lihat, sudah ketebak arusnya. Aku menghela napas dan seklai lagi meminta maaf, kemudian berbalik keluar kelas. Ini semua salah Ardian jika aku tidak membayar makanan yang dia beli, pasti tidak akan terlambat.


Tapi, nasi telah menjadi bubur. Yang sudah terlanjur mau bagaiman lagi. Namun apa yang harus kulakukan sekaran? Sudah sangat lama aku tidak mengalami hal ini, saat SMA aku yakin seratus persen tidak pernah terlambat dan aku berharap Pak Eko akan memaafkan, tapi dia tidak ada belas kasih.


Yah, lupakan tentang itu dan pergi menjajah saja, toh tidak ada yang bisa kulakukan. Oh, bagaiman kalau ke perpustakaan? Ya, itu ide bagus.


Sesuai yang kupikirkan aku berjalan ke lorong dan hendak menuju perpustakaan, mungkin di sana aku dapat menemukan sesuatu yang menyenangkan. Aku mencopot sepatu dan menuju ke perpustakaan itu.


Saat aku menginjakkan kaki. terlihat lantai yang sangat bersih, rak-rak buku besar memenuhi ruangan, AC berada di pojok, dan lampu menyala dengan sangat terang. Sudah lama aku tidak menuju ke sini;.


“Loh, nak. Kok kamu tidak masuk ke kelas?” tanya salah satu penjaga perpustakaan. Dia terlihat duduk sambil menatap komputernya.

__ADS_1


Aku mengaruk kepala yang tidak gatal. Berbohong sepertinya adalah ide buruk, jadi aku memimilih jujur. “Aku telat masuk jadi terpaksa diluar. dari pada bosan, aku memutuskan untuk pergi ke sini.”


“Waduh bagus nih, biasanya murid lain akan pergi ke kantin, tapi kamu ke perpustakaan, kamu rajin juga.” Aku mengaruk kepala dan tertawa kecil karena mendengar pujian itu. 


Saat berada di perpustakaan aku baru sadar ada satu orang yang berada di sini, dia adalah siswa lelaki yang tidak aku kenal. tubuhnya sedikit pendek dan rambutnya terlihat rapi, berbeda dengan Ardian. Dia membaca novel di pojok ruangan.


Aku menujuk ke siswa itu dan bertanya ke penjaga. “Dia siapa?”


“Oh, dia juga punya alasan yang sama denganmu. Aku tidak tahu namanya, tapi tampaknya kamu akan aku jika dengannya.” Aku tersenyum karena tertarik.


Kakiku melangkah ke siswa itu dan duduk tepat di depannya. Meskipun aku berada tepat di depannya, dia tetap tidak memperhatikanku, sangat fokus dengan bacaanya.


“Hei,” sapaku. 


“Tidak, aku hanya berpikir ini sangat jarang melihat seseorang membaca buku di sini, apa kamu juga terlambat masuk dan memutuskan di sini?”


"Ya, seperti itulah Jam pelajaranku adalah Pak Agus- Guru sejarah, jadi mau gimana lagi,” jawabnya tidak menoleh ke aku. Mungkin sedikit malu.


“Hahaha, kamu benar. Pak Agus orang yang cukup sensitiv dalam masalah terlambat.” aku sedikit tertawa kecil, melihat alasan dia.


“Omong-omong, apa aku boleh tahu namamu?” lanjutku. Dia menatapku kini, sedikit serius.


“Rangga, itu namaku.”


Aku membuka mata lebar, tidak mungkin, kan? Saat aku ditengah kebingungan dia tertawa kecil. “hahaha, bercanda. Sebut saja aku Dika, itu namaku,” sahut dia. Merentangkan tangan ke depan.

__ADS_1


Benar-benar candaan yang buruk. Aku sangat kaget tidak habis pikir, anak brandal seperti Rangga adalah orang ini, tapi aku lega ternyata bukan. Aku menyentuh tangan dia dan tersenyum. “Sebastian salam kenal.”


Dika membuka mata lebar tampak terkeju. “Jadi kamu yang jadi bahan bicaraan itu, ya? Pacar Sofie.”


“Ya, itu benar. Aku tidak tahu kenapa aku bisa menjadi sangat ramai. Padahal cuma masalah keci.” Tawa kecil kuberikan, agar menciptakan suasana freindy, tapi Dika menatapku tajam.


“Kalau begitu, ini ada surat untukmu. Aku diberikan oleh orang yang tidak kukena.” Mengatakan hal itu Ardian memberikan sepucuk surat ke arahku, aku ragu untuk menerima, tapi pada akhinrya kuambil.


Kutatap surat itu ke segala arah. “Dari siapa ini?”


“Aku tidak tahu, tapi dia terlihat pria yang sagat garang dan galak. Mungkin yang disebut Rangga mencarimu,” jawab Dika sambil membaca buku.


Rangga, jika dia adala pengirimnya. Maka lebih baik kubuka. Aku membaca isi sura dari itu. Di situ tertutulis untuk agar aku bertemu denganya di belakang gudang sekolah saat pulang sekolah, tidak ada nama dari pengirim surat. Tapi aku yakin ini pasti surat dari orang yang akan mengangguku, mereka pasti orang-orang yang mau mengangguku, tapi tentu saja aku akan datang.


“Jadi bagaiman, apa isi surat itu?” tanya Dika. Dia tertarik.


“Aku disuruh untuk bertemu dengan seseorang di balik gedung setelah pulang,” sahutku sambil masih menatap surat itu.


“Jadi apa jawabanmu? Apakah kamu akan ke sena?”


“Ya.”” jawabku. Dika hanya mengaggukan kepala.


Waktu berlalu kini sore hari telah tiba. Aku meminta tolong ke Zilla dan Nasya untuk pulang bersama Sofie sedangkan aku ada urusan, beruntungnya mereka mau. Aku brjalan ke gedung menepati keingingan sang penulis surat.


Langit menjadi sangat orange, suasana sangat sepi. Tidak ada orang, siapa yang mengundangku di tempat ini?

__ADS_1


__ADS_2