Gadis Dingin Yang Ceria

Gadis Dingin Yang Ceria
Chapter 50. Amarah


__ADS_3

"Apakah kamu serius?" tanya Rijal. Menatapku yang masih terkapar di tanah.


Cahaya matahari menerjang penglihatanku. Kututup mataku agar tidak silau. "Ya, kamu hanya perlu berpura-pura seolah kamu membawaku ke situ."


Rijal menelan ludah tampak sedikit tidak terima dengan saranku, tapi pada akhirnya dia menganggukkan kepala. Tanda setuju.


Sudut bibirku terangkat, membentuk senyuman. "Bagus."


.****


Aku berjalan dengan tangan yang diikat oleh tali. Sebelumnya aku menyuruh Rijal agar melakukan ini, awalnya dia menolak, tapi kupaksa. Alasan kenapa aku melakukan ini adalah agar Rangga tidak curiga.


Langkah kami terhenti di gudang yang terlihat tua. Kalau tidak salah gudang ini sudah tidak digunakan lagi, tampaknya ini telah menjadi markas Rangga. Rijal membuka pintu abu-abu di sana.


Terlihat sebuah ruangan kosong yang tanpa apapun, hanya ada beberapa kardus, cahaya dari ruangan ini hanya berasal dari cahaya matahari di sore hari.


Di pojok ruangan terlihat sosok pria yang sedang duduk di kursi kayu dengan sombongnya. Jadi dia adalah Rangga? Tidak salah lagi. Tubuhnya tinggi dan terlihat garang, bajunya pun berantakan, dia pasti brandal di sini. Apalagi dia menghisap rokok.


“Apa yang kamu mau, sampah?” tanya Rangga. Tapi ini bukan untukku, ini untuk Rijal, suaranya terlihat tenang, tapi tegas.


Rijal bergetar ngeri, dia menelan ludah dan menatap Rangga dengan ketakutan. “Ini Sebastian aku sudah membawanya, Rangga.”


Rangga menghisap rokok, menghembuskan asap dan menatapku mulai dari bawah ke atas. “Aku tidak menyangka kamu bisa mengalahkannya padahal aku sengaja agar kamu babak belur,” ujar Rangga dengan tertawa kecil.

__ADS_1


Aku mencengkram kedua tangan. Dia menyebalkan.


“Sesuai janji kamu akan melepaskan Stela, kan? Kamu boleh melakukan apapun padaku, tapi jangan apa-apakan dia?” Rijal berteriak, meskipun takut, dia memaksakan diri. Sungguh orang yang mengesankan.


“Hmm, apa yang kamu katakan? Stela apa maksudnya gadis ini?” Tersenyum jahat, Rangga menunjukan ponselnya yang berisi foto seorang gadis yang sedang disandera di suatu gudang.


Aku dan Rijal membuka lebar. “Ini berbeda dengan kesepakatan! Jangan sentuh dia.” Jadi orang yang ada di foto itu adalah Stela pantas saja dia marah.


Aku pun menatap Rangga dengan penuh emosi. Orang ini bagaimana bisa dia mempermainkan perasaan orang? Aku benci tipe seperti ini.


Mendengar amarah dari Rijal tidak membuat Rangga ketakutan dia malah tertawa kencang. Rijal makin emosi, dia menampakan giginya.


Aku menghela napas menatap Rangga. “Hentikan itu! lepaskan gadis itu Rangga,” ucapku dengan tegas. Mataku menoleh tajam ke iblis ini.


Aku tidak menjawab, tersenyum sinis dan dengan mudahnya melepas ikatan tali dari Rijal, dia tampak terkejut untuk beberapa saat. Aku berlari dan mendorongkan tubuh Rangga hingga terjatuh ke tanah. Kutindih tubuhnya dan meletakan satu tangan kanan di kepalanya.


“Hentikan itu! Atau kamu akan menerima akibatnya.” Aku menatap serius ke Rangga yang terbaring di lantai. Tangan kananku siap memukul dia.


Tapi Rangga tampak tidak takut sama sekali dia malah tertawa. “Hahaha, sudah kuduga kamu memang hebat.Sebastian calon ketua geng.”


Aku tersenyum sinis. “Tidak kusangka masih ada yang tahu nama itu. Sudah lama sekali tidak disebut seperti ini. Kamu tahu jati diriku dan mengajak berkelahi?”


“Tentu saja aku kenal, sebagai seorang yang ada di brandalan kamu sangat terkenal. Tapi kamu tiba-tiba berubah, pura-pura menjadi normal. Dan aku juga tahu alasannya, itu karena gadis itu, kan. Sofie.”

__ADS_1


Aku makin menatap tajam dia. “Apa yang kamu inginkan darinya! Tidak akan kumaafkan jika berani menyentuh dia.”


“tidak terlalu banyak. Dia cantik, kan? Jadi wajar saja aku ingin bermain dengan dia dan juga aku tertarik dengan tubuhnya dan kenapa dia bisa membuat kamu berubah. Siapa tahu saat aku bermain dengan dia aku bisa menjadi lebih baik, hahaha.” Dia berkata dengan wajah yang menjijikan dan nada yang mengejek, sedikit tertawa.


Cih! Dia membuatku emosi.


Aku sudah tidak bisa menahan ini lagi. Karena emosi aku memukul wajahnya berkali kali, kali. Dia hanya menerima dan tersenyum walaupun wajahnya kini menjadi babak belur.


“Apanya yang lucu?!” Aku berhenti memukul dan menatapnya tajam.


“Hahaha, apa kamu yakin? Mengurusiku, bukankah ada yang lebih penting.”


“Apa maksudmu?!” Aku makin emosi.


“Sofie, lo. Apa kamu yakin dia baik-baik saja?” tanya dia tersenyum penuh ejekan.


Tanganku mencengkram kuat. Aku hendak memukul dia dengan penuh tenaga. “Apa yang kamu rencanakan?!”


Tepat saat pukulan itu hendak melayang ke pipi Rangga, Rijal sudah menghentikan tanganku. Dia menahan tanganku. Membuat kesadaranku makin tenang.


Aku mengatur napas, berharap agar lebih tenang.


“Cukup tenanglah! Tidak ada gunanya bertengkar lebih baik ayo pergi.” Dia memegang tanganku dan membawaku untuk keluar.

__ADS_1


Aku berterima kasih dengan Rijal, yang dia katakan benar. tidak ada gunannya berurusan dengan dia. Yang lebih penting adalah Sofie dan Stela. Kami berjalan meninggalkan Rangga yang terkapar lemah karena kupukul dengan brutal.


__ADS_2