Gadis Dingin Yang Ceria

Gadis Dingin Yang Ceria
Chapter 17. Olahraga


__ADS_3

Hari ini sekolah mengadakan olahraga, kami semua memakai baju berwarna biru kehitaman sebagai kaos olahraga.


Kami sedang mengadakan basket di goor sekolah, aku belum mendapatkan giliran, sekarang para gadis sedang bermain basket.


Sedangkan para lelaki hanya duduk dan menatap, ya. Siapa lagi yang akan mereka tatap jika bukan Sofie, semua orang menatap Sofie dengan wajah kagum.


Baju hitam biru miliknya sangat berpadu oleh rambut panjangnya, baju itu juga terlihat ketak sehingga lekukan tubuh Sofie terlihat, dan itu sangat cocok untuknya.


"Sofie terlihat cantik seperti biasa."


"Ya, kamu benar. Hari ini dia terlihat lebih cantik lagi."


"Oh, aku paham, tubuhnya terlihat lebih seksi kan,terutama dad-"


Aku menatap dua orang siswa yang berbicara tentang Sofie dengan tatapan tajam dan sinis hingga mereka merasa ketakutan dan berhenti berbicara. Mungkin aura pembunuhan mengitari tubuhku.


"Giikk.. maaf"


"Apa Sebastian semenakutkan itu?"


"Aku mengira dia lebih pendiam."


Mengabaikan bisikan dua siswa yang mulai ketakutan aku berbalik dan berjalan untuk duduk di sembarangan tempat.


"Yo, Sebastian."


Seorang yang sedang duduk sendiri melambaikan tangan. Dia adalah Ardian bisa dibilang dia adalah teman dekatku dari kecil, dia tahu semua kejadian yang kualami.


Aku berjalan dan memutuskan untuk duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Sebastian pendiam? pfft~ jika orang-orang tahu tentangmu pas SMP semua pasti terkejut."


Mengabaikan ejekannya aku melihat pertandingan basket yang ada di depan mata.


"Oh, ya, aku dengar kemarin. kamu dan Angga pergi ke gedung belakang, kan? Apa yang kalian bicarakan?"


Tidak kusangka berita itu melebar secepat itu. Aku memutuskan membicarakan segalanya, tentang Sofie dan persetujuan bodoh itu.


Reaksi dari Ardian cukup menyebalkan, dia tertawa. "Hahaha, jadi begitu."


"Berisik!"


"Aku kira kamu gelud lagi."


"Aku tidak akan melakukan itu lagi, seharusnya kamu paling tahu akan hal ini."


Jika mengingat senyuman gadis itu membuat pipiku memanas.


"Hahaha, ada yang blushing nih?" Semakin terkekeh, dia mengodaku.


Aku memalingkan wajah.


"Sayangnya aku tidak akan bertemu dia lagi, sudah pastinya."


"Kamu mungkin benar."


Setelah itu kami berdua kembali terdiam menatap pertandingan basket untuk beberapa saat.


Di keheningan ini Ardian membuka mulut untuk memulai pembicaraan.

__ADS_1


"Bastian, maaf jika ini akan membuat hatimu sakit."


"Tapi sebagai teman aku akan mengingatkan ini sekali lagi, Sofie-"


"Ya, aku tahu, aku tidak seratus persen percaya dengan dia." ucapku menatap pertandingan basket.


Ardian terdiam untuk beberapa detik, lalu memulai lagi pembicaraan.


"Maaf, sebenarnya aku tidak terlalu mau membahas ini, tapi kejadian yang dulu, aku takut itu terulang lagi."


Kejadian yang dulu, itu benar sebelumnya Ardian pernah berkata denganku untuk tidak terlalu dekat dengan gadis dia bilang kalau gadis itu mencurigakan dan mungkin datang untuk memanfaatkan.


Tapi aku naif, aku tidak mau mendengar dia dan mengabaikan peringatan itu, semenjak itu hubungan kami menjadi perlahan rusak.


Dan hasil yang kudapatkan ketika mengabaikan Ardian adalah penyesalan. Gadis itu mengkhianatiku dengan mudahnya, dia membuat rumor bahwa aku selingkuh dan membuat hidupku menderita.


Aku yang terus dinjak-injak mulai menjadi nakal dan berandalan, saat semua orang ingin menjauh Ardian masih berusaha keras di sampingku, dia terus memperingatiku walaupun percuma. Aku bersyukur punya teman seperti ini.


"Maaf,Ardian," ucapku.


"Kenapa kamu meminta maaf?" tanya Ardia, memiringkan kepala.


"Maaf karena dulu aku tidak mendengar pringatan darimu dan terima kasih aku bersyukur punya teman seperti kamu."


Mendengar penjelasanku Ardia tersenyum dan menepuk pundak.


"Tidak apa-apa itulah gunanya teman kan? Tapi jangan terlalu tidak percaya orang, jika semisal Sofie sedikit berbeda kamu bisa percaya dengannya, aku hanya sedikit memperingati saja."


Dia mungkin benar Sofie tidak seratus persen mencurigakan, tapi tetap saja aku masih ragu dan aku benci keraguan ini.

__ADS_1


__ADS_2