Gadis Dingin Yang Ceria

Gadis Dingin Yang Ceria
Chapter 22. Pelaku?


__ADS_3

Kemarin malam Sofie dan aku tertidur pulas dengan duduk berdekatan, saat itu situasi sangat hangat dan memenangkan. Aku bertanya-tanya, bagaimana menurut Sofie apakah dia tenang? Tapi sepertinya tak perlu di tanya aku tahu jawaban dari Sofie.


Dia saat ini sedang memasak sesuatu di dapur dengan sangat ceria dan bersemangat lebih dari biasanya.


Hari ini sampai minggu depan aku akan tinggal di rumah Sofie aku sudah mengabarkan ibuku, tapi tentu saja dengan alasan yang lain.


Karena aku adalah penulis membuat karangan cerita sangat mudah bagiku, meskipun aku merasa bersalah, tapi mana mungkin aku membiarkan ibu terlibat.


Tindakan yang dilakukan pria itu kemarin jujur saja sangat bahaya dan bukan dia saja. Di kamar Sofie sangat banyak surat yang berisi ancaman dan godaan.


Sofie tidak boleh dibiarkan sendiri, atau sesuatu yang buruk bisa terjadi. Karena itu aku sampai berbohong kepada ibu untuk bersama dengan Sofie.


Aku tidak bersenang-senang aku mencari sosok yang membuat segala ini menjadi ruwet, yaitu stalker. Walaupun belum ada clue sama sekali.


"Huh"


Aku menghela napas, kalau seperti ini terus aku tidak akan bisa membantu apapun. Sofie sedang dalam kondisi yang buruk, tapi aku tidak bisa diandalkan.


"Maaf menunggu masakannya sudah jadi loh"


Sofie tersenyum, dia membawa beberapa lauk yang siap di makan. Dengan penuh senyuman kami makan masaknya.


"Bagaimana?"


"Enak."


Sofie tersenyum lebar, celemak cream yang dia pakai sangat berbadu dengan rambut serta seragam sekolahnya, dia sangat cantik. Bahkan tanpa sadar aku berkata hal bodoh.


"Sofie kamu seperti seorang istri."


Ups, aku keceplosan. Setelah itu, aku maupun Sofie dengan cepat merona, kami berhenti makan karena situasi yang memalukan ini.


"Ya, aku setuju, jika seperti ini kita terlihat seperti s- s- s- s- suami istri yang baru menikah."


Sofie sekali lagi konslet ucapannya sangat terbata-bata dan sekujur tubuhnya berwarna kemerahan.


Aku pun tersedak oleh makananku sendiri, yang dikatakan Sofie sungguh mengejutkan, tapi Sofie idemu itu sangat bagus.


"Suami istri yang baru menikah ya? Itu bagus bukan, jika hubungan kita terlihat sedekat itu pasti tidak ada yang membuntutimu lagi, jadi Sofie mari bersandiwara lebih mesra lagi."

__ADS_1


Aku setengah bercanda dan setengah serius, tapi respon dari Sofie agak mengerikan.


"Ha!?"


Dia mematahkan sumpit dengan menekannya dan tatapan itu. 'apa dia preman atau semacamnya?'


Melihat respon dan tatapan mengintimidasi membuat aku yang bahkan mantan berandalan menjadi ketakutan, aku menundukkan kepala karena tahu siapa yang berada di atas.


"Maaf karena permintaan bodoh yang kukatakan barusan."


Mungkin yang kukatakan terlihat seperti godaan dan seharusnya aku tahu betul Sofie benci hal seperti itu, wajar saja Sofie marah.


"Dasar bodoh! Jika bisa Aku mau melakukan itu... tanpa sandiwara."


Sofie terlihat malu dia memalingkan wajah dan merendahkan nadanya, tapi ucapan barusan bisa kudengar sangat jelas bahkan mataku terbuka lebar.


Wajahnya yang merona dan kadang-kadang tidak jujur dengan perasaannya, dia sangat imut.


"Sisi seperti itulah yang membuatku mungkin suka dengannya."


Aku melebarkan mata dan menutup mulut menggunakan tangan kanan. Aku hanya berniat membatin, tapi tanpa sengaja keceplosan lagi.


Situasi menjadi sangat hening karena ucapan bodoh dariku.


'Dasar bodoh seharusnya aku diam saja, tidak perlu berbicara seperti itu kan?'


Itu yang kupikirkan, tapi beberapa saat kemudian Sofie mengangkat bibir hingga membentuk senyuman yang indah.


"Kamu membuatku sedikit malu... yang tadi hampir membuat jantungku copot... kamu seperti menembakku, tapi ini Sebastian kamu tidak akan melakukan hal seperti itu kan?"


Dia awalnya tersenyum dan mengubah wajah menjadi kecewa di ucapan terakhir, dia sepertinya salah paham.


"Aku tidak akan melakukan hal seperti itu? Kamu salah, jika aku memiliki rasa cinta kepadamu, aku tak akan ragu untuk menembakmu kapanpun."


Aku serius akan perkataan itu, tapi jika memang aku memiliki rasa cinta.


Dia terdiam seperti sangat terkejut oleh perkataanku barusan, tapi Sofie maupun aku terlihat tidak peduli.


Kami berdua berusaha melupakan ucapan memalukan beberapa saat yang lalu dan memutuskan untuk menghabiskan makanan.

__ADS_1


Jam terus berputar sekarang adalah pukul 7 pagi, aku dan Sofie kini sudah berada di sekolah. Karena masih sangat awal kelas terlihat sepi hanya ada beberapa orang saja.


Aku duduk di kursi dan memikirkan tentang orang yang kemarin, tidak ingin menyiakan waktu akan hal bodoh, lebih baik aku segera mencari tentang keberadaannya.


Pertama-tama, poster tubuh darinya yang cukup tinggi dan memiliki otot sekilas dia terlihat seperti orang yang memiliki ukuran 180 CM ke atas. Mukanya tidak terlalu jelas karena dia menggunakan jaket dengan tudung dan masker.


Awalnya aku mencurigakan Angga sebagai pelaku, tapi aku tidak punya bukti lagipula suara di antara mereka berdua sangat beda. Angga lebih berat dan tegas, sedangkan pria kemarin memiliki suara yang serak serta nada yang tenang.


Sebenarnya siapa dia? Aku tidak akan tahu pasti, tapi yang jelas pelaku penguntit ada di sekolah ini.


Kenapa aku berpikir seperti itu? Jawabannya simpel, Sofie menang cantik, dia selevel dengan idol di TV maupun majalah, tapi sayangnya kecantikan itu tidak terekspor dengan banyak.


Dan orang yang tahu dan mengidolakan gadis idol seperti itu adalah sekolah ini, setidaknya kemungkinan besar adalah sekolah ini.


Di sini sangat banyak orang yang mengidolakan Sofie kadang aku juga mendengar sedikit ucapan nafsu dari para laki-laki meskipun kadang terdengar seperti candaan, tapi jika dilihat dari berbagai sudut pandang itu sangat menjijikan.


Jadi bisa di simpulkan sang penguntit adalah orang di sekolah ini, atau orang yang pernah sekolah bersama Sofie seperti teman SMP dan SD.


Kalau menurutku pelaku adalah Angga.


Berpikir akan hal itu, tiba-tiba aku mendengar beberapa suara, yang satu laki dan satunya lagi perempuan mereka berkata sambil berjalan di Koridor sekolah. Suara itu sangat bising.


Jadi tanpa sadar aku menoleh ke jendela dan melihat Angga yang berjalan dengan perempuan lain.


"Angga bagaimana kesehatanmu hari ini? Kamu kemarin demam kan?" tanya sang perempuan yang berjalan di sampingnya.


"Ya, aku sudah lebih baik." ucap dia.


Setelah itu mereka berdua pergi dan aku tidak bisa mendengar suara lagi.


Sudah kuduga suara di antara mereka berdua sangat beda dan ciri fisik pun juga hampir beda. Angga terlihat lebih pendek dari pria itu, aku tidak berencana mengejek, tapi kalau tidak salah tinggi Angga adalah 175 CM, aku tahu karena tahun sebelumnya aku se kelas dengan dia walaupun aku tidak pernah satu kali berbicara dengannya, aku hanya mendengar dari laporan fisik.


Dan pria kemarin cukup tinggi dia sekitar 180 CM lebih dan dia lebih berotot.


"Cih!" Aku berdesis.


Tapi perempuan itu tadi bilang bahwa Angga demam, kata demam sendiri adalah alasan klasik untuk bolos dan Sofie mulai dibuntuti semenjak dua hari yang lalu, saat aku dan Angga tidak berangkat sekolah.


Jadi kemungkinan bahwa Angga adalah pelaku naik lebih tinggi, aku yakin sekitar 50℅ bahwa dia adalah pelaku.

__ADS_1


__ADS_2