
Sekali lagi tiba-tiba di waktu yang tidak terduga Sofie mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal. Di ketinggian serta dalam bianglala hanya ada aku dan Sofie, keadaan sangat hening.
"A- apakah kamu beneran tidak ingat dengan wajahku?" tanya Sofie dengan wajah melas, kemungkinan dia sedikit sedih karena aku berbicara melupakan wajahnya.
Tapi apakah gadis itu beneran Sofie? aku masih belum tahu jawabannya.
"Sofie apakah kamu serius?"
Jantung terus berdebar, meskipun sebenarnya ada rasa ragu, tapi di sisi lain ada rasa yang luar biasa berkata bahwa aku bersyukur jika orang itu adalah Sofie, tidak lebih tepatnya, justru aku berharap kalau gadis itu memang Sofie.
"Hmm, iya." Sofie menganggukan Kepala walaupun dia sedikit tampak ragu.
"......"
Bianglala masih berputar dan kami berada di puncak paling atas, keheningan mengitari kami sekali lagi. Bingung. Itulah yang aku rasakan sekarang.
Aku masih tidak menyangka bahwa orang yang selama ini aku anggap tidak akan muncul justru ternyata selalu ada di tepat mataku.
"Apa kamu tidak percaya?"
Sofie menghela napas, dia sedikit tampak kecewa akan respon diam ini. Manik mata yang sebelumnya bersinar kini berubah menjadi isak tangisan.
"Bukan seperti itu... aku... aku hanya bingung dengan situasi yang mendadak ini."
Ini adalah kenyataan mana mungkin aku tidak kebingungan. Orang yang aku cari selama ini justru ada di depan mataku.
"Jadi kamu percaya?"
Sofie kembali menatapku dengan mata ya sangat berair. Gumpalan napas miliknya nampak, dia seperti sangat sesak napas.
"Ya, aku percaya, justru aku sangat berharap kalau orang itu adalah kamu." sahutku, berencana menenangkan Sofie.
"Apa kamu serius? Aku masih kurang yakin... Sebastian, jika kamu tidak percaya bilang saja."
".... Tapi, kalau kamu percaya, aku butuh bukti... kalau kamu tidak mau melakukan ini! Maka Kuanggap kamu tidak percaya dan aku akan marah!!"
Diakhir ucapan dia menaikan nadanya. Pipi milik dia juga tampak sangat merona, apa yang dia inginkan? Apa itu hal yang memalukan? Aku memutuskan untuk bertanya secara langsung.
"Apa yang harus kulakukan agar kamu merasa tenang? Aku tidak ingin Sofie marah."
bibir Sofie terangkat dengan sedikit malu-malu. "Coba c- c- c- c- cium aku." Sangat memerah, sekujur wajah Sofie berubah menjadi merah.
Terdiam. Itu yang aku lakukan. Hawa panas menyebar melalui pipi, leher, telinga, bahkan sekujur wajahku terasa amat panas. Mendengar permintaan tidak masuk akal dari Sofie membuat jantungku serasa mau copot.
__ADS_1
Sofie menghela napas dan tidak mau menatapku. "Kamu tidak mau? J- jadi kamu beneran tidak percaya aku?" Sebutir air menetes di pipi Sofie, aku tidak bisa membiarkan dia menangis.
"MANA MUNGKIN! CIUMAN DOANG AKAN KULAKUKAN!"
Blushing. Pipiku dan Sofie langsung merona karena teriakan dariku, jika kami tidak ada di atas pasti kami sudah jadi pusat perhatian.
"Kamu serius? Ini akan jadi pertama kalinya bagimu dan aku, apa denganku tidak masalah?"
"Ya. Justru aku merasa terhomat, bisa memberikan ciuman hangat ke orang yang aku cintai."
Apa yang aku katakan? Beberapa saat yang lalu aku bahkan sempat meragukan Sofie, aku mencurigai gadis ini bahwa dia hanya datang untuk memanfaatkanku dan seharusnya sekarang aku masih berpikir seperti itu
Tapi, mendengar bahwa Sofie adalah gadis itu, dengan cepat rasa ragu itu lenyap.. atau justru walaupun aku ragu dengannya, sejak awal aku memang memiliki perasaan ini? Di dalam hati paling terdalam, tanpa aku sadari mungkin aku sudah mencintai Sofie sejak pertama kali bertemu.
"Kalau begitu... lakukan dengan lembut."
Sofie makin merona, dia memeluk tubuhnya sendiri. Dan dengan malu dia memiringkan kepala. Dia menatapku untuk beberapa detik dan langsung berbalik, kemungkinan karena dia malu.
"Sofie, kamu imut."
"Be- berhenti berbicara dan lakukan apa yang aku suruh!"
Aku tersenyum lebar, berdiri dari tempat duduk dan melangkah mendekati Sofie yang gemeteran itu.
"Sebastian, cium aku dengan lembut."
Dekat, dari jarak beberapa centimeter aku bisa melihat jelas wajah cantik milik Sofie, kedua pipi cembungnya mengeluarkan warna merah, sedangkan matanya sedikit ber air, tapi dia terlihat sangat imut. Gumpalan napas kami saling menerpa menciptakan kehangatan di hidung.
Melihat wajah Sofie yang mengemaskan dari jarak sangat dekat tentu saja membuat jantungku serasa ingin copot. Aku terdiam melihat maha karya yang tuhan ciptakan.
"Berhenti menatapku seperti itu... ini sangat memalukan... ne, cepat lakukan.. jantungku serasa hampir copot."
"..Iya.." jawabku dengan sangat canggung. Dia beneran cantik, mencium gadis seperti ini adalah berkah.
"Tutup matamu, aku akan melakukannya sekarang." ucapku dengan nada yang tenang.
Sofie menutup matanya, menyerahkan segala hal yang terjadi kepadaku. Tanganku bergetar, dia benar-benar ingin menerima ciuman dariku.
Karena tidak ingin mengecewakan dia, aku memutuskan untuk menundukkan kepalaku. Menyamakan posisi kepalaku dan kepala Sofie, dia menutup mata. Senyuman tergambar jelas di wajahku.
Aku mendekatkan wajahku ke arah kening Sofie dan menaruh bibir tepat ke arahnya. Ciuman hangat ku arahkan ke Sofie, tapi ini di kening bukan di bibir.
Melepaskan ciuman di kening, Sofie membuka mata lebar. Dia memegang bibirnya, "Padahal aku berharap kamu menaruh di sini." Dengan nada lirih, dia mengatakan itu.
__ADS_1
"Tapi, ciuman di kening juga tidak masalah... terima kasih."
Sofie memberikan senyuman yang sangat indah, lebih cerah dan berbunga-bunga dari pada biasanya.. melihat senyuman itu aku jadi teringat akan senyuman gadis itu.. Benar, sangat mirip, pada momen ini juga aku sudah ingat bahwa dia memang Sofie.
"Tapi, aku jadi marah! Bisa-bisanya lupa dengan wajahku, padahal aku sangat ingat denganmu, Sebastian. Apa beneran kamu menci—"
"Ya, aku mencintaimu, Sofie!"
Manik mata Sofie terbuka lebar, sudut bibirnya terangkat karena mendengar jawaban dariku.
"Jadi begitu, aku juga merasakan hal yang sama... terima kasih karena telah menyelamatkan aku pada hari itu, saat itu kamu terlihat sangat keren, meskipun tampangnya seperti berandal, mata yang seperti panda dan tindik di kedua telinga.. tapi, aku bener-benar berterima kasih, sejak hari itu aku tidak pernah melupakanmu."
"Aku sangat senang saat kelas tiga tidak kusangka aku bertemu dan satu kelas dengan penyelamatku, setiap hari aku mencuri pandangan untuk menatapmu, walaupun kamu sendiri tidak sadar... aku juga sempat marah besar ketika kamu mengatakan bahwa lupa denganku, tapi... tapi, rasa sukaku tampaknya lebih besar daripada amarah."
Sofie menjelaskan semua perasaannya dengan sangat lancar, dia sangat senang mengatakan hal yang dia mau.
Aku terus terpesona akan bibirnya yang berbicara, rambutnya yang bergoyang saat berbicara dan senyumannya yang terbaik. Hari ini aku sadar dengan pikiran bodohku, Sofie tidak pernah berpikir untuk memanfaatkanku sama sekali, benar. Sofie bukan dia, Sofie adalah Sofie. Dia tidak mungkin melakukan tindakan seperti memanfaatkan orang dan menghianatinya.
Aku menyukai gadis ini, itu adalah fakta yang aku dapat hari ini.
"Jadi, Sebastian, aku sangat ber—"
Sofie belum selesai bicara, namun aku menaruh bibirku ke arah bibir Sofie dan memberikan ciuman yang cukup dalam. Bibir kami menyatu, dan hanya bertemu tida ada permainan lidah. Tapi ini berhasil memberikan kehangatan di sekujur tubuhku.
Manik hitam Sofie terbuka lebar, dia merona, tampak sangat tidak percaya dengan apa yang aku lakukan. Dia sempat menolak dan mendorong tubuhku, tapi kekutan dia sangat lemah, dan pada akhirnya dia membiarkan aku melakukan apa yang kumau
Dia melingkar tangan kecilnya ke leherku dan memelukku agar ciuman dan kehangatan makin dalam. Napas saling berpapasan dan jantung kami mengeluarkan suara yang amat bising di keheningan.
Setelah dua menit berciuman aku melepaskan pelukan itu dan membiarkan Sofie menjauh. Matanya berair, tapi aku yakin dia merasa bahagia, sekali lagi Sofie memberikan senyuman manisnya.
"Terima kasih, tapi jangan mendadak... aku belum siap!"
"Maaf, kamu terlalu imut jadi aku tanpa sadar melakukan itu."
"Bodoamat, aku marah, aku tidak menerima permintaan maaf.. jika kamu merasa bersalah.."
Sofie meletakkan satu jari di bibirnya dan berkata,
"Cium aku sekali lagi, dengan itu aku akan memaafkanmu."
Aku menganggukkan kepala dan melakukan hal yang Sofie inginkan, kali ini dia tidak melakukan apapun dan membiarkan aku mencium bibir manisnya. Kami sekali lagi berciuman hingga Bianglala akhirnya berhenti bergerak.
Kami melepaskan ciuman karena sudah berada di bawah, Sofie menatapku dengan penuh kebahagiaan.
__ADS_1
"Aku mencintaimu."
".... aku juga."