Gadis Dingin Yang Ceria

Gadis Dingin Yang Ceria
Chapter 18. Sebastian demam


__ADS_3

...[Sofie POV]...


Hari ini Sebastian tidak datang ke sekolah, tampaknya dia demam. Aku menghela napas sambil menatap bangku Sebastian, biasanya aku bisa melihat Sebastian yang fokus ke pelajaran, tapi sangat disayangkan sepertinya hari ini tidak bisa.


Tadi juga seperti itu, aku sengaja menunggu di pertigaan tempat di mana Sebastian biasanya lewat dengan harapan bisa berangkat bersamanya, tapi dia tidak kunjung datang, ketika menyadari waktu sudah mepet jadi aku harus segera ke sekolah.


Berkat itu aku hampir telat. Sebenarnya alasan kenapa kami sering berpapasan adalah karena aku memang menunggu dia di pertigaan itu, aku senang jika berangkat bersama dengannya, tapi jika aku meminta berangkat dengannya secara langsung itu akan memalukan.


Sangat disayangkan jika dia lewat hari ini aku berencana menutup matanya dengan kedua tangan, memberikan kejutan dan bertanya. “Coba tebak siapa ini?” Itu akan sangat mirip seperti cerita novel yang biasa aku coba dan itu bakal seperti pasangan kan. Tapi dia tak datang, huh.


Pipiku menjadi merona karena pikiran itu sendiri.


‘Tunggu ini bukan berarti aku kangen dengannya, oke! Aku hanya.. sedikit bosan, ya itu, Sebastian adalah satu-satunya orang yang bisa dan mau mendengar ceritaku panjang lebar, jadi wajar kalau aku kangen.. tidak aku tidak kangen!’ Pipiku terus memanas dan aku terus bertarung dengan pikiranku sendiri.


Sekali lagi kutatap bangku kosong itu. 


“Aku harap kamu cepat sembuh, tanpamu aku kesepian.” gumamku sendiri.


Pelajaran terus berlangsung dan kini waktunya istirahat dimulai, seperti biasanya Zilla mengajakku makan di atas atap, sebenarnya aku pernah bilang untuk berhenti di situ bahkan dulu kami sempat dimarahi oleh guru, tapi Zilla masih nekad.


“Ke mana si Sebastian?”


“Dia demam,” sahutku singkat, jika tidak dengan Sebastian aku tidak bisa terlalu banyak bicara, aku sendiri masih tidak tahu alasannya.


Aku sekali lagi menghela napas dan menatap kotak bekal dengan pandangan sendu.


“Tampaknya ada yang kangen?” Dia memberikan tawa dan senyuman menggoda.


“Ya, aku kang– Tidak aku tidak seperti itu!”


Aku menegaskan dengan nada tinggi, hampir saja aku keceplosan, aku tahu sifat Zilla, jika bicara tentang hal seperti ini dia pasti tidak akan berhenti menggodaku.


“Hehehe, dasar tidak bisa jujur, karena itulah kamu tidak punya pacar!” 


“Berisik! Aku tidak perlu pacar jika ada Sebastian!”


Zilla tersenyum puas, dan aku sadar perkataan tadi adalah jebakan. Pipiku dengan segera panas hingga menjalar ke telinga bahkan leher, jika aku bercermin mungkin terlihat seperti tomat.


“Ada yang merona ini kayaknya, hehehe.. tadi siapa yang bilang tidak kangen? Siapa ya? Jika dilihat dari manapun pasti kamu kangen.” 


Aku benci dia, senyuman menggoda itu dan sifatnya yang ini.


Prak


Seseorang membuka pintu, membuatku terkejut. Itu adalah guru, pikiran seperti melintas, tapi aku bersyukur dia bukan guru. Dia adalah seorang pemuda yang entah siapa namanya, dia memiliki rambut lurus dan poni hitam dengan wajah yang sedikit kurus, tapi terlihat berotot. Yah, Sebastian terlihat lebih bagus darinya.


‘Eh, tunggu apa yang aku pikirkan barusan, dan juga dia siapa, aku tidak merasakan hawa buruk sih.’

__ADS_1


“Kamu siapa, jangan bilang kamu penguntit.”


Kalau dilihat dari sudut pandang berbeda itu bisa dibilang, ya. Tapi aku peka dengan tatapan orang dan dia terlihat seperti orang baik.


“Jangan bicara seenaknya dasar tidak sopan!” Dia menaikan nada dan berteriak.


Sepertinya istingku salah dia orang yang agak emosian,


“Jadi kamu siapa?”


“Teman Sebastian. Aku datang ke sini karena mengira dia ada di sini, tapi tampaknya tidak, jadi aku permisi.” Dia membalikan badan dan hendak pergi, tapi terhenti karena mendengar ejekan dari zilla.


“Sebastian demam, aku bahkan tahu, apakah kamu benar-benar teman? Hal seperti itu saja tidak tahu, katanya teman.” Dia tersenyum mengejek.


“Apa katamu! Aku memang tidak tahu kalau dia demam karena bukan satu kelas.”


“Aku tahu lo, btw aku dari kelas B, tapi aku tahu dia tidak demam. Tapi tampaknya si teman ini tidak peduli dengan Sebastian.”


“Apa katamu!? Kamu pasti hanya dapat info dari Sofie, omong-omong aku kelas E jadi jarak antar kelas jauh”


Dan kedua orang itu terus berdebat. Aku hanya bisa diam dan makan bekal yang kubawa ini.


‘Tampaknya tempat ini akan semakin ramai’ Sambil memikirkan itu aku tersenyum.


‘Tapi jika dia tidak ada rasanya kurang.’


Mereka terus berdebat mengabaikanku hingga waktu istirahat berakhir. Saat bel berbunyi aku bisa mendengar hembusan napas keras dari kedua orang itu, mereka menatap dengan tajam dan lomba lari memutuskan siapa yang lebih cepat sampai kelas, mereka benar-benar seperti anak kecil.


Aku menutup bekalku dan berjalan menuruni tangga dengan santai.


Waktu berjalan dengan cepat, sekarang adalah sore hari. Waktu untuk pulang, tidak seperti biasanya karena Sebastian demam aku tidak bisa merasakan sosoknya yang ada disampingku. Jika mendadak menjadi sendiri rasanya aneh.


Aku memutuskan untuk mampir ke rumah Sebastian sebelum waktu mulai gelap.


Ting


Ting


Aku menekan bel rumahnya dan setelah beberapa saat Sebastian membuka pintu dengan wajah tampak lemah dan kelelahan, dia memakai kaos putih polos dan menggunakan masker putih, wajahnya tampak sangat lemas dengan kelopak mata yang hitam seperti panda. Rambutnya juga berantakan.


“Uhuk.. uhuk.. Sofie ada apa?” Dia bertanya dengan wajah yang sangat lemah.


Sepertinya aku tidak bisa mengganggunya.


“Tidak apa-apa aku hanya ingin melihat wajahmu hanya itu.”


“Dek Sofie bisa saja.”  Ibu dari Sebastian kini berjalan mendekati aku yang berdiri di pintu, dia menepuk pundak Sebastian.

__ADS_1


“Sofie datang ke sini setidaknya biarkanlah dia masuk,” ucapnya.


“ya ya ya,” sahut Sebastian dengan malas.


Aku menggelengkan kepala. Sepertinya jika masuk aku akan mengganggu.


“Maaf, aku benar-benar hanya ingin melihatnya sekilas, aku tidak mau mengganggu waktu istirahat anak anda.” kataku dengan sopan dan menundukan kepala.


Aku membalikan badan dengan cepat dan berjalan menjauh. “Maaf tante, aku harus segera pulang.” Aku melambaikan tangan meninggalkan rumah itu.


Sebenarnya aku merasa sedikit bersalah, tapi mau bagaimana lagi. Jika aku tetap di sana Sebastian pasti memaksakan diri untuk berbicara denganku jika itu terjadi dia tidak akan sembuh.


Aku terus berjalan dengan santai dan mungkin sedikit tersenyum, tapi senyuman dan rasa tenang hilang seketika, aku merasakan hawa tidak enak di belakangku. Hwa mencengkramkan yang membuat bulu kuduk berdiri.


Kakiku melangkah dengan lebih cepat karena merasakan hawa di belakangku, aku tidak berani menoleh, tapi aku yakin seseorang pasti membuntutiku. 


Ini sudah cukup lama, semenjak Sebastian menjadi pasangan pura-pura aku akhirnya tidak diikuti oleh orang lain, tapi hari ini seseorang mengikutiku. Keringat membasahi tubuhku, aku sangat takut.


Kupercepat langkahku dan orang itu juga melakukan hal yang sama, aku sungguh ketakutan dia mengikutiku sampai di manapun. Aku menutup mata dan bergegas masuk ke rumahku orang itu bahkan mengikuti hingga rumah, aku sangat takut dengan cepat kututup pintu sangat keras dan menguncinya.


Meskipun pintu tertutup, tapi hatiku tidak mau berhenti berdetak, tubuhku pun menggigil dan bergetar. Hari ini aku sendiri fakta itu sangat membuatku ketakutan.


Brak


Brak


Aku mendengar suara tendangan kaki yang mengenai pintu rumah. Aku berjongkok dan memegangi kepala menggunakan kedua tanganku. Di kepalaku muncul peristiwa yang sangat buruk, tubuhku jadi tidak bisa bergerak, aku terdiam di depan pintu dengan menunduk.


Brak


Brak


Brak


Dia terus menendang untuk beberapa menit dan setiap tendangan itu hatiku serasa hampir copot, untuk beberapa menit akhirnya dia berhenti menendang pintu dan sepertinya telah pergi, tapi aku tidak lengah pintu masih tertutup sangat rapat.


Ting


Hpku memunculkan notif, aku membukanya dan sangat terkejut. Sebuah pesan tanpa nama mengirim sesuatu hal yang tercela, dia pasti orang yang barusan. Dia mengirim satu foto saat aku sedang telanjang dan hanya menggunakan bra serta ****** *****, itu ada di kamar mandi. Badanku makin bergetar.


‘Siapa dia?'


Ting


Dia mengirim satu pesan lagi kali ini bertulis.


“Tubuhmu sangat bagus, aku jadi ingin melihat dengan lebih jelas. Jadi besok buka pintunya oke, aku ingin bersama denganmu. Kamu sangat cantik.” 

__ADS_1


Aku berteriak dan tanpa sengaja melempar hpku itu. Aku jadi makin ngeri, di malam hari tanpa orang tua dan hanya sendiri aku menangis.


“Sebastian, aku takut.” Gumamku. Aku tidak tahu kenapa, tapi di posisi seperti ini aku malah justru memikirkan sebastian sosok yang bahkan tidak satu darah denganku.


__ADS_2