Gadis Dingin Yang Ceria

Gadis Dingin Yang Ceria
Chapter 36. Aku benci dia


__ADS_3


-ilustrasi Sofie


...[Nasya POV]...


Sangat disayangkan, aku hanya tahu nama Little sun, saja. Aku tidak tahu nama asli orang itu, kami juga hanya bertemu untuk satu minggu, tapi dia dengan mudah membuat hatiku terpesona.


Meskipun kami tidak bertemu lagi. Aku tetap mengingat nama pen Little sun, Kira-kira apa dia masih ingat aku?


Aku tidak terlalu berharap. Kami bertemu untuk satu minggu bahkan kami tidak tahu nama masing-masing, tapi jujur saja aku ingin bertemu dia lagi.


Sekarang pun aku masih kangen dengan dia. Aku juga terus mengikuti semua buku yang dia tulis. Little sun, aku menikmati semua buku yang kamu buat, loh. Aku sekarang menjadi fansmu, bahkan sekarang aku membaca buku darimu.


Jadi aku harap kita bisa bertemu lagi walaupun itu tidak mungkin.


Aku menutup buku yang kubaca dan menghela napas dengan kasar.


"Apa yang sebenarnya aku pikirkan? Aku terlalu berharap dengan orang itu. Kita tidak mungkin bertemu lagi."


Benar, kita tidak akan bertemu lagi. Sama seperti novel yang pertama kali dia tulis, kalau tidak salah judulnya "No name"? Apakah dia berhasil bertemu dengan gadis yang dia sukai?


Kralk


Tiba-tiba seseorang membuka pintu perpustakaan dengan sangat tenang, aku refleks menatap pelakunya. Pada detik itu aku berharap bahwa kemungkinan itu adalah dia.


Namun, harapan itu sirna, orang yang membuka pintu adalah si pacarnya Sofie, Sebastian.


'Yah, itu tidak mungkin dia lagian cara membuka pintunya sangat tenang apa yang sebenarnya aku harapkan?'


"Cih, si Sofie itu! Baru meleng dikit dia hilang lagi di mana dia?"


Sebastian tampak mengeluarkan emosinya sendiri, dia seperti tidak sadar keberadaanku. Apa dia memiliki masalah dengan Sofie?


Dia kini menatap ke arahku, tidak lebih tepatnya ke buku yang sedang aku baca.


Entah kenapa dia menggaruk kepala bagian belakang. "Itu buku dari Little sun, kan?"


Mataku dengan cepat terbuka lebar, aku tidak menyangka bahwa Sebastian tahu tentang Little sun, karena Little sun sendiri masih sangat kurang populer jadi aku terkejut.


"Kamu tahu Little sun?"


Aku tanpa sadar memasang senyuman di wajah, yah, ini mungkin karena ada harapan bahwa Sebastian kenal dengan Little sun.


Dia menganggukkan kepala dengan agak ragu lantas berjalan dan duduk di kursi depanku.


"Apa menurutmu buku itu menarik?"


"Ya, aku suka dengan dia.... eh, bukan! Maksudnya aku suka buku yang dia tulis... bukan orang yang menulis, jangan salah paham!"

__ADS_1


Aku menggelengkan kepala dengan cepat dan menutupi pipi merah menggunakan ke dua tangan.


"Ya, siapapun tidak akan salah paham kalau kamu tidak berprilaku salah tingkah seperti itu."


Bibirku terangkat dengan penuh paksa mendengar ucapan dia.


"Omong-omong jarang banget ada yang tahu tentang Little sun, apakah kamu fansnya?"


"..... ya.. seperti itulah."


Dia menjawab dengan penuh keraguan, sebenarnya ada apa dengan orang ini?


"Bisa dibilang aku adalah fans Little sun. Sangat dirugikan padahal buku yang dia tulis cukup menarik, tapi sangat disayangkan, dia tidak terlalu terkenal."


"Ya, aku paham maksudnya.. omong-omong buku apa yang kamu sukai dari dia?"


"No Name, buku itu belum terbit, tapi aku cukup menyukai itu." Dia menjawab dengan sedikit malu.


"Apa kamu tahu Sebastian? Fakta menariknya cerita itu di ambil dari kisah nyata."


"Ya, aku tahu. Tentang gadis yang tersenyum dan membuat sang tokoh utama menjadi berhenti nakal itu, kan? Aku tahu betul."


"Kamu tahu banyak, ya? Apakah kamu kenal dengan Little Sun?" tanyaku penuh harapan.


Dia menelan ludah dan sedikit tampak malu. "Nasya, bagaimana ya... sebenarnya.. Little sun, itu adalah aku sendiri."


Ini adalah berita paling besar yang tidak terduga. Aku sangat tidak menyangka kalau ini kenyataan.


"Apa kamu percaya?"


Dia menggerakkan tangan ke kanan dan ke kiri untuk membuat aku sadar dari kondisi membeku.


Tapi responku cukup singkat. "Aku tidak menyangka." Hanya itu yang aku katakan.


Sebastian menghela napas dan tersenyum.


"Yah, aku tidak menyangka bahwa ada orang yang suka dengan buku yang kutulis. Kamu orang ke dua setelah Sofie, tidak mungkin yang pertama. BTW, sebelumnya aku juga pernah bertemu dengan seorang gadis, dia adalah orang yang membuat aku memutuskan untuk menjadi penulis. Jadi aku ber terima kasih dengan dia? Walaupun aku lupa dengan wajah dia."


Sudah kuduga, dia tidak mengingat wajahku. Fakta ini membuat hatiku sakit seperti ingin menangis, orang yang aku cintai sudah pergi dengan orang lain, dan juga mereka pacaran tepat di depanku.


Aku tanpa sadar meneteskan air mata, pada waktu itu juga mata Sebastian terbuka lebar seolah terkejut dengan apa yang terjadi.


"Kenapa kamu menangis?"


Suara dia sangat tenang. Aku jadi makin iri dengan Sofie dia memiliki pacar yang sangat baik.


"Tidak, aku hanya terharu... omong-omong apakah kamu berhasil bertemu dengan gadis itu."


"Yap, berita mengejutkannya dia adalah Sofie."

__ADS_1


Aku menyipitkan mata. Lagi-lagi dia, aku sudah muak mendengar nama dia. Setiap aku melangkah aku mendengar nama dia dan membuatku emosi. Kini dia juga mengambil orang yang aku sukai.


"Oh, aku tidak menyangka."


Memasang senyuman palsu seolah menikmati pembicaraan ini, aku sebenarnya tidak ingin membahas dia, karena membuat hatiku sakit.


"Aku jujur saja agak bingung, Nasya dari mana kamu tahu kalau cerita itu asli? Aku tidak ingat pernah menceritakan ini dengan orang selain Sofie."


Sofie lagi, sudah berapa kali dia mengucapkan nama itu? Dan juga dia beneran luapa denganku, kamu sendiri yang menceritakan ini denganku saat SMP.


"Itu karena—"


Aku ingin menjawab dengan sangat jujur, bahwa kita pernah bertemu, tapi ucapanku terpotong karena HP-nya Sebastian berbunyi.


"Hah, ini dari Sofie, maaf. Aku harus mengangkatnya."


"Ya, silahkan."


Sebastian meletakkan ponsel ke telinga dan mulai ber telepon.


"Di mana saja kamu, hah!?"


"M.. maaf, aku tadi ke tempat Zilla dan tidak kusangka kita terpisah."


"Huh, kamu ini! Sadarlah dengan situasimu, jangan pergi sendiri, bahaya!"


"Ya ya ya, aku minta maaf."


"Cih! Sudah kuputuskan sebagai permintaan maaf, makan malam hari ini daging panggang."


"Hee, aku akan kerepotan. Aku tidak bisa membuat yang seperti itu."


"Berisik!"


Dan Sebastian menutup panggilan secara sepihak. Serasa sesak, aku melihat pertengkaran manis di depan mata dan orang itu adalah pria yang kusukai.


"Maaf, Nasya aku harus pergi."


Sebastian berlari dengan cepat menaruh hp di sakunya dan menghilang.


Kini perpustakaan hanya ada aku seorang. Air mata ini sudah menetes dari tadi.


Seperti yang orang katakan Sofie adalah pencuri lelaki, aku benci dia.


Sofie punya segalanya, sedangkan aku tidak, bahkan dia mencuri lelaki yang aku cintai, apakah dia tidak cukup dengan banyaknya orang yang menembak dia? Dia selalu menolak pria manapun, tapi aku yakin dia pasti bermain dengan mereka di balik layar. Sebastian hanya dipermainkan. Aku jadi kasihan dengan Sebastian.


Selalu bersikap sok baik, tapi pada akhirnya dia bermain dengan pria, kan? Menjijikkan pantas saja banyak wanita yang membencimu.


Sofie, aku benci kamu, aku harap kamu lenyap saja.

__ADS_1


__ADS_2