
...[Sebastian POV]...
Sofie memelukku dengan sangat erat, dia menangis dan gemetaran, semua tatapan orang kini ke arah kami, tapi aku tidak peduli. Kupeluk gadis itu dengan lebih erat agar aku dapat memberikan kenyaman kepadanya yang ketakutan itu. Dia makin menangis dan menenggelamkan kepalanya di dadaku.
“Tenang, ada aku sekarang.”
Aku memeluk dia dan mengelus pundaknya dengan sangat halus. Lalu aku menyeka air mata yang ada di pipinya dan berkata,
“Jangan menangis, aku lebih suka kamu yang ceria, cerewet, dan tersenyum. Jadi jangan menangis.” Aku tersenyum dengan hangat sambil menyeka air mata itu.
Sofie hanya terdiam saja, dia tampaknya sudah semakin tenang.
“Kalau begitu akan aku antar saja kamu,” kataku, Sofie tampak menolak.
“Tapi kamu kan masih sakit, tidak perlu memak-”
Aku meletakan jari tangan kanan, ke bibirnya Sofie, agar dia tidak bisa berbicara apapun lagi.
“Tidak perlu pedulikan aku, lagi pula demamku sudah hilang tadi sore. Jadi ayo pergi.”
Aku melangkah mendahului Sofie dan memberikan senyuman hangat. Mata Sofie masih penuh dengan air, namun dia tersenyum dengan sangat tulus, itulah senyuman yang aku sukai.
Kami berjalan di keheningan ini. Sofie agak diam setelah mengalami kejadian barusan. Yah, wajar dia baru mengalami hal tidak enak wanita manapun akan ketakutan apabila diperlakukan seperti tadi. Tapi dia siapa, suaranya sangatlah asing, suara yang tidak aku kenal, dan dia menggunakan jaket tudung. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan seksama.
Yah, mari lupakan tentang siapa pelakunya dan buat Sofie tenang, dia dari tadi gemetaran. Aku meraih tangan kanan Sofie, menyatukannya dengan milikku. Kami bergandengan tangan.
Sofie tampak terkejut dengan tindakan yang aku lakukan tiba-tiba.
“A- apa yang kamu lakukan?”
“Untuk saat ini biarkan aku memegang tanganmu.” sahutku dengan tersenyum hangat.
Sofie tampak merona, dia memalingkan wajah. “T terima kasih, aku sangat senang kamu ada di sini.
Kami berjalan bersama di malam hari dengan udara yang sejuk, tapi tanganku bisa merasakan kehangatan. Kami masih berpegangan tangan bahkan sampai masuk ke rumah Sofie, awalnya Sofie menyuruhku untuk pulang, tapi sebagai laki-laki aku tidak bisa membiarkan Sofie.
“Sofie aku boleh masuk rumah kan?”
__ADS_1
“Tapi, Sebastian.”
“Apa?”
“Di rumah tidak ada siapapun.” Dia menjawab dengan wajah yang memerah.
Aku tahu ini tidak pantas, tapi itu malah membuatku makin tidak mau membiarkan dia sendiri. Jadi aku memaksa untuk masuk.
Sofie mengalah dan menghela napas, dia terlihat sangat malu, mungkin karena pria ada di rumahnya sekarang.
Kutatap rumah Sofie dan seperti rumah normal tidak ada yang menarik. Sofie menuntunku menuju kamar. Kami duduk di meja bundar kecil dan saling bertatapan.
Canggung, itulah cara gampangnya. Yah, gimana lagi seorang lelaki dan perempuan sekarang berada di satu atap rumah yang sama dan kita tidak satu darah pula. Sebenarnya ini sudah merupakan tindakan kriminal, tapi aku tidak bisa membiarkan sofie sendiri.
“Apakah kamu haus? Akan kubuat teh.”
Dia menawarkan, mungkin ingin menghancurkan situasi canggung ini.
Aku setuju dan mengangguk karena situasi memang dingin.
“Kalau begitu tunggu di sini.” Dia berdiri dan mau pergi dari kamar.
“Mau kutemani? Kamu tidak takut kan.”
“Tidak perlu, oke. Di sini ada kamu itu, memikirkan itu saja sudah membuat aku berani.”
Dia lantas membuka pintu dan membantingnya, tampaknya dia agak malu dengan perkataanku. Dasar gadis pemalu.
Sofie belum datang, ini sudah lewat sekitar 5 menit. Karena nganggur aku terus menatap kondisi kamar miliknya, di sini ada kasur cream, karpet pink dan aroma wangi. Jadi ini adalah kamar gadis.
Aku berdiri dan menuju ke meja belajar, di sana kau melihat banyak sekali kertas, ketika aku membuka kertas, atau lebih tepat jika dibilang surat. Aku membaca hal yang membuatku jijik dan hampir muntah.
Ini semua adalah dari penguntit, isinya adalah tulisan yang penuh ancaman, kedengkian, dan rayuan. Apa Sofie selama ini menerima ini sendiri.
“Maaf menunggu.”
Sofie datang dia menaruh tehnya di meja dan ketika menyadari aku membuka surat tanpa izin dia membuka mata lebar seolah terkejut.
__ADS_1
“Kenapa kamu membaca itu?”
“Sofie, kamu mengalami ini semua sendiri.”
Sofie menundukan kepala, tampaknya yang kukatakan benar, dia sangat terpukul oleh ucapanku bahkan air mata menetes. Aku benci pandangan ini.
“Iya, itu benar. Banyak sekali surat seperti itu, dan orang seperti yang barusan sebenarnya masih banyak lagi. Tapi semenjak Sebastian ada aku menjadi lebih tenang, jumlah yang mengganggu berkurang, tapi sekali lagi muncul satu orang. Yang ini adalah yang paling parah, sebelumnya hanya berupa pesan, atau surat. Tapi yang barusan itu sangat menakutkan.” jelasnya dengan menunduk dan menangis.
Hatiku terasa hancur melihat Sofie yang menangis ini, jika aku tahu siapa pelakunya pasti akan kupukul habis-habisan.
Aku berjalan dan duduk di depan nya, mengelus kepalanya.
“Sofie tenang saja, ada aku sekarang. Mulai besok aku tidak akan membiarkanmu sendiri lagi, aku sudah tidak peduli lagi. Berita tentang pasangan akan kusebarkan ke penjuru sekolah.”
Sofie entah kenapa tampak tersenyum, dia sangat tersentuh akan perkataanku.
“Terima kasih.”
“Tapi aku punya satu permintaan lagi, apa boleh?” tanyanya.
“Tentu saja.”
Sofie tiba-tiba melompat dan memelukku sekali lagi, memberikan rasa kehangatan bagiku baik itu maupun Sofie, aku membalas pelukan itu.
“Sebastian tolong temani aku di rumah untuk satu minggu ini. Hiks.. Hiks.."
"Orang tuaku tidak akan ada di rumah untuk beberapa waktu, jadi aku sangat takut, aku takut sekali. Jika dia datang lagi, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan!"
Jadi begitu "tolong" Itulah adalah kata yang sering aku dengar dari banyak orang, aku selalu membantu mereka dan ketika semua selesai mereka kembali membuangku seolah aku adalah sampah yang tidak berguna.
Aku pada akhirnya dimanfaatkan, Ardian benar aku sangat naif, tapi aku tidak bisa membiarkan Sofie sendiri. Mau dia memanfaatkanku pun aku tidak peduli, jika setelah ini dia membuangku itulah justru sungguh normal, karena aku diciptakan untuk digunakan.
Sofie masih menangis dan aku mengelus pundaknya, aku tidak bisa membayangkan apa yang sudah dialami selama ini. Bahkan membayangkan saja membuat aku mual.
"Tentu saja Sofie, aku akan menemanimu sampai kamu tenang."
Sofie makin menangis, dia memperkuat pelukan ini. Aku terdiam membiarkan gadis ini mengeluarkan segala emosi yang dia miliki.
__ADS_1
Malam hari ini tampaknya akan menjadi sangat panjang. Dan pada hari ini aku bertekad, aku akan mencari penguntit itu dan memukulnya hingga babak belur, saat ini aku tidak memiliki petunjuk apapun. Tapi jika aku terus menempel di dekat Sofie maka aku akan tahu sesuatu.
Aku akan membantu Sofie dalam masalah penguntitan, menghilang rasa malu, dan Sofie akan membantuku dalam mengisi rasa kesenangan dalam hatiku. Inu sungguh interaksi yang saling menguntungkan. Itulah hubungan kami. Setidaknya itu yang ada di otakku, aku tidak tahu bagaimana menurut Sofie.