Gadis Dingin Yang Ceria

Gadis Dingin Yang Ceria
Chapter 27. Selamat ulang tahun


__ADS_3

Sekarang adalah hari ulang tahun Sofie, aku sudah membeli dua kado. Yang satu berupa boneka anjing dan satu lagi... yah, masih rahasia, tapi aku yakin dia pasti senang dengan yang satu ini.


Tepat di waktu ini kelas sedang ramai dan waktu pelajaran belum dimulai. Semua orang di kelas tampaknya tidak sadar akan hari ini karena Sofie sendiri menyembunyikan hari ulang tahunnya.


Dia sengaja karena jika semua orang tahu maka pasti idol seperti dia akan kerepotan.


Kelas ramai dan tidak ada yang tahu tentang hari ini. Bukankah ini kesempatan untuk memberikan Sofie hadiah?


Aku beranjak berdiri dari tempat duduk dan berjalan ke arah Sofie.


"Sofie, selamat ulang tahun."


Aku memberikan boneka berupa Anjing ke meja Sofie, dia menatapku dengan pandangan sedikit terkejut dan bingung. Aku juga bisa merasakan tatapan dari semua orang di sini.


"Kenapa kamu tahu?"


"Aku tahu apapun tentangmu, lagipula bukankah kita pasangan, hahaha."


Dia terdiam dan memeluk boneka anjing itu, aku yakin sebenarnya dia ingin menolak itu karena Sofie sedikit benci anjing, tapi-


"Aku tidak terlalu suka anjing, tapi terima kasih."


Dia tersenyum dengan hangat sambil memeluk boneka anjing itu agar bisa menutupi pipi yang kini merona.


Aku tersenyum dan berjalan kembali, "Ya, aku senang kalau kamu menerima itu."


Kembali duduk dan mengabaikan tatapan para kelas, itu yang aku lakukan.


Ini mungkin terlihat sangat terburu-buru dan bukan timing yang tepat, tapi aku sengaja memberikan hadiah di depan banyak orang agar semua sadar bahwa aku adalah pasangan Sofie walaupun cuma pura-pura.


Dengan ini semua orang akan menyerah untuk mendekati Sofie.


Tapi, kukira dia akan marah karena aku memeberikan barang yang dia benci, tapi dia memeluk boneka itu bahkan hingga sekarang.


Aku tersenyum menatap Sofie.


***


"Nyebelin! Kenapa kamu memberikan sesuatu yang memalukan di banyak orang?!"


Di waktu istirahat Sofie menghampiriku dengan wajah cemberutnya.


"Bukan masalah kan? Apa kamu tidak suka dengan boneka itu?"


"Bu- bukan itu! A- aku hanya sedikit malu."


Semua kelas kembali menatap kami. Jika dilihat maka ini seperti bertengkaran kecil couple. Aku bahkan bisa mendengar sumpah serapah kebencian dari para laki-laki.


"Hahaha."


"Apanya yang lucu!?"


"Tidak... lupakan tentang hal seperti ini dan mari makan, si Zilla dan Andrian menunggu."


Sofie menghenduskan napas, dia mengangguk dan mengikutiku yang berjalan di depan.


Saat kami hendak naik tangga tiba-tiba pengganggu muncul dari belakang, kami berdua menoleh ke sumber suara.


"Sofie," Suara ini adalah milik Angga.


Tatapan aku dan Angga bertemuan untuk beberapa detik kami saling tersenyum seolah tahu apa yang kami butuhkan.

__ADS_1


"Tampaknya Angga ingin berbicara denganmu, jadi Sofie aku akan naik terlebih dahulu."


"Eh?"


Dia spontan tampak terkejut dan mengerutkan keningnya, dia pasti sangat tidak ingin bertemu Angga, mengingat dia sangat takut dengannya.


Tapi, maaf ini sengaja kulakukan demi mengecek sesuatu. Aku tersenyum dan naik ke tangga, namun tentu saja aku tidak akan membiarkan Angga dengan Sofie sendiri, jadi aku bersembunyi di balik tangga dan menguping pembicaraan.


Ke dua orang itu terdiam, Sofie tampak sedikit tidak ingin bertemu dengannya, tapi di sisi lai Angga malah tersenyum.


"Sofie sudah lama kita berdua seperti ini." dia memulai percakapan.


"Ya." sahut singkat dari Sofie. Seperti biasanya dia seperti orang yang beda jika tidak bersamaku.


"Apakah kamu ingat hari ini?"


Angga mendekati Sofie, dia tampak membawa sesuatu dari belakang tubuhnya, kemungkinan itu adalah kado.


Tapi Sofie tampak gemeteran jika berdekatan dengan Angga, dia sedikit berkeringat. Dari sudut pandanganku Sofie pasti sangat ketakutan.


"T- tidak."


Sofie tidak berani menatap Angga dia menundukkan kepala dan bersuara lirih.


"Kalau aku ingat lo!"


Angga semakin tersenyum lebar, aku punya firasat buruk. Aku hendak keluar dari persembunyian dan menciduk dia, tapi tindakan Angga setelah ini mengejutkan aku.


"Selamat ulang tahun, Sofie!"


Dia tersenyum lebar, menundukan tubuh 90 derajat dan memberikan hadiah berupa boneka yang sangat imut.


Tapi yang membuat aku terkejut adalah hadiah yang dia berikan, yaitu boneka anjing.


"T- terima kasih."


"Aku senang kalau kamu tersenyum, Kalau begitu aku kembali ke kelas dulu oke."


Dia membalikkan badan dan melambaikan tangannya. Sofie menatap pundak Angga yang semakin menjauh.


Ini sangat aneh, kenapa aku berpikir ini aneh adalah karena hadiah yang dia berikan bukan berupa barang yang disukai Sofie, tapi justru Angga memberikan anjing yang seharusnya Sofie benci.


Jika Angga beneran suka dan stalker bagi Sofie, dia pasti akan memberikan barang yang Sofie sukai bukan barang yang kemungkinan di benci Sofie.


Bahkan dia tidak bisa membedakan hal yang Sofie sukai dan tidak disukai, hal sepele itu dia tidak tahu apakah orang seperti itu beneran stalker?


Aku makin tidak paham dan juga Angga tidak terlihat terlalu buruk, dia bertingkah seperti orang normal yang menyukai seorang gadis.


Bukan berlagak seperti stalker.


"Apa yang kamu lamunkan?"


Sofie menatapku dengan kebingungan.


"Tidak apa-apa, omong-omong bagaimana dengan hadiah dari Angga?"


"Aku benci anjing, tapi mana mungkin aku menolak kan."


"Kenapa Angga tidak tahu hal yang kamu sukai?"


"Itu karena aku pernah membohongi... ee.. itu.."

__ADS_1


Dia terlihat ragu untuk berbicara.


"Kamu membohongi dia?"


"Yap, saat kecil dia pernah menanyakan hal yang aku sukai karena aku merasa risih jadi aku menjawab dengan sembarangan, tapi aku tidak menyangka kalau dia ingat sampai sekarang."


"Jadi begitu... Angga tidak terlalu terlihat buruk."


"Itu mungkin benar, tapi... di sisi lain dia sedikit menakutkan... ah! Lupakan tentang dia dan mari makan." Dia berjalan naik ke atas.


'Aku makin tidak paham lagi, sebenarnya apa yang membuat Sofie takut dengan Angga?'


***


Sekarang adalah waktu malam hari aku dan Sofie berjalan bersama saling berdempetan, aku masih punya satu kado lagi.


Di jalan cukup sepi, mungkin ini saat yang tepat untuk memberikan hadiah yang ini.


Yang satu ini asli dari lubuk hatiku, sedangkan yang anjing tadi hanyalah untuk memancing Angga, walaupun hasilnya tidak memuaskan.


"Sofie."


Dia berhenti dan menatapku. "Ada apa?"


Aku merogoh tas dan memberikan satu barang yang paling spesial yaitu kalung, Sofie tampak terkejut matanya terbuka lebar dan sedikit terkesan.


"Apa itu?"


"Ini hadiahmu, selamat ulang tahun." Kali ini aku tersenyum lebar dari lubuk hati paling dalam.


"Tidak perlu, kamu terlalu banyak memberikan hadiah, satu saja cuku-"


Aku tidak mendengar ucapannya dan langsung jongkok di hadapan Sofie, Pipinya terlihat memerah, aku lalu memasangkan kalung itu di leher Sofie.


Sofie terlihat sangat imut, wajahnya yang merona dan kalung silver dengan bentuk love terlihat sangat pas untuk dia.


Aku tersenyum dan berkata.


"Dengan ini kamu terlihat lebih cantik."


"T- terima kasih."


"Dan juga Sofie coba buka kalung itu!"


Sofie melakukan hal yang aku suruh, dia menyentuh kalung itu dan membukanya. Mata dia terbuka lebar dan sedikit berair.


Aku mendekatkan wajah untuk menatap kalung yang terbuka itu.


"Itu adalah foto kita aku membeli kalung bukan hanya untuk fashion saja, di sana ada kenangan kita. Jika kamu kangen denganku pegang kalung itu dan lihat wajahku oke." aku tersenyum lebar.


Sofie makin merona, tapi air mata juga menetes mungkin ini adalah air mata kebahagiaan.


"Bodoh! Aku bukan berarti kangen kamu.."


Dia memerah dan memalingkan wajah, tapi aku sudah hafal dengan sifat dia, pasti Sofie hanya malu.


"T- tapi, Terima kasih. Ini adalah hadiah terbaik."


Dia memeberikan senyuman terbaik yg bisa dia berikan untukku. Aku dapat merasakan kehangatan di hati maupun tubuhku. Melihat senyuman ini membuat aku tidak ingin jika senyuman ini menghilang.


"Ya, sama-sama."

__ADS_1


Aku membalas dengan senyuman dan pada malam hari itu aku melangkah bersama untuk pulang dengan wajah dan hati yang bahagia.


__ADS_2