
Awan menjadi orange, awan sore hari memenuhi langit yang luas. Warna jingga menerangi dunia dan suhu menjadi sejuk. Sebastian mengangkat tas hendak pulang dari aktivitas sekolahnya.
Akhir-akhir ini banyak yang terjadi dan kini dia harus berpartisipasi menjadi Romeo dan julie, Sebastian menghela napas, memutuskan berjalan menjauh dari kelas untuk pulang.
“Tunggu Sebastian, kamu tidak pulang bersamaku?” tanya Sofie yang berada di belakangnya.
Ini bukan berarti Sebastian tidak ingin pulang bersama dia hanya saja dia teringat akan hal penting yang harus dia lakukan. Pelaku dari segalanya, sosok yang mengirim pesan ke Adit. Dia akhirnya tahu siapa itu. Tapi tentu saja Sebastian tidak akan pernah menceritakan perihal ini dengan Sofie, dia akan khawatir.
“Maaf Sofie aku punya hal yang harus kulakukan, jadi aku akan pergi terlebih dahulu.”
Meskipun tidak enak namun dia terpaksa,dan Sofie hanya merelakan dan memberikan senyuman hangat.
“Baiklah mungkin aku akan pergi bersama beberapa temanku.” Dia tampak bahagia setelah beberapa saat akhirnya dia berhasil mengalah sikap malunya walaupun kadang masih agak canggung.
“Yah, bersenang-senanglah dengan mereka.”
Sebastian tersenyum dan melambaikan tanga. Dia berjalan di lorong sekolah yang kini menjadi sepi, dia melangkah turun ke bawah tangga. Pada saat itu juga dia terlihat mengirim suatu pesan ke seseorang.
Menyuruh orang tersebut ke bawah dan ke tempat sepi.
‘ Dengan ini semua berakhir. Setelah ini aku mungkin tidak akan berada di sini, tapi ini demi Sofie apapun akan kulakukan.’
Sebastian melangkah dan menghilang.
__ADS_1
*****
“Jadi ada apa, kenapa kamu memanggilku ke sini?” tanya sosok yang terlihat baru saja datang. Dia memiliki rambut kecoklatan dan memiliki luka perban di tanganya.
Mereka saat ini berada di balik geudng sekolah tempat sepi yang tidak ada orang.
“Jangan bilang kamu masih menaruh keraguan kepadaku?” tanya sosok tersebut.
Sebastian tersenyum dan menatap tajam sosok itu. “Itu benar Angga.”
Angga mengigit bibir, dia menunjukan luka bekas perbannya. “Apa ini tidak cukup untuk bukti!? Aku rela tertusuk pisau hanya untuk melindungi kalian, lo. Jika aku pelaku mana mungkin aku melakukan hal merepotkan.”
“Logika itulah yang membuatmu mencurigakan. Sejak awal aku sudah menaruh curiga kepadamu. Asal kamu tahu pelaku tidak perlu terlibat secara langsung dengan korban.”
“Apakah kamu ingat dengan ucapan Adit dia berkata bahwa mendapatkan foto sofie dari seseorang dan orang itu adalah kamu, bukan?” Sebastian mengarahkan jari telunjuknya ke Angga, memberikan tekanan yang hebat.
“Ada dasar apa kamu menuduhku? Apa kamu punya bukti?”
Sebastian menghirup napas hendak memberikan segalanya yang ada di otak dia.
“Aku memang tidak punya bukti dan logika khusus. Namun tindakanmu terlalu aneh di sudut pandangku, pertama-tama saat aku dekat dengan Sofie kamu terlihat murka dan menyuruhku untuk menjauhinya. Saat aku menanyakan hadiah ulang tahun untuk dia kamu juga memberikan saran yang salah dan kamu sendiri memberikan barang yang dibenci Sofie. Alasannya karena kamu memberikan kamera mengawas dari mata boneka anjing itu, kan? Boneka anjing hanya kamuflase fungi sebenarnya adalh meneplekan barang seperti pengawas.”
Angga mengeluarkan keringat.
__ADS_1
“Tidak berhenti disitu kamu kamu malah membiarkanku yang dekat dengan Sofie. Aku bisa beranggap bahwa kamu merelakannya, namun sikap awal dan terkhir sangat berbeda, seolah sadar aku mencurigaimu. Kamu dengan cepat merubah citra dan sok menjadi lebih baik. Kamu menyelmatkan Sofie untuk agar dia bisa percaya denganmu, namun sebenarnya kamu tidak memiliki perasaan cinta dengan gadis itu justru sebaliknya kamu.. berusaha membunuh dia, kan?”
“Yang ingin kamu lakukan adalah dekat dengan Sofie dan jika dia lengah kamu akan membunuhnya, Sofie peka dengan tatapan orang dan sifat orang karena dia sejak kecil sering mengalami dikucilkan, jadi mungkin dia merasakan aura membunuhmu. Karena itulah dia takut denganmu, namun ada malam hari itu dia diselamatkan oleh kamu. Sikap ragu dan tidak percaya Sofie seketika lenyap. Inilah yang kamu rencanakan sejak awal, membuat Sofie percaya dan ketika dia dekat denganmu kamu akan membunuhnya. Apa benar?”
Seolah yang dikatakan benar Angga tertawa keras. Dia menjadi gila.
“Hahahaha, kamu hebat ya. Itu benar Sebastian perasaanku terhadap Sofie bukan karena cinta atau hal semacamnya ini murni rasa benci, amarah, dan rasa ingin membunuhnya. Tapi bukankah membunuhnya dan menjadikan koleksi bisa disebut juga dengan cinta, oleh karena itu aku mengirim pesan ke Adit agar dia menjadi putus asa karena perawanannya hilang dan saat dia putus asa aku berniat membunuhnya.. menjdikan dia koleksi, inilah yang dinamakan cinta sejati!”
Sebastian menatap jijik. “Dasar gila. Apa kamu kira aku akan membiarkan tindakanmu?”
“Hahaha terserah apa pendapatmu, matilah. Sebastian.”
Dengan pisau kecil Angga menyerang Sebastian, dia telah mempersiapkan senjata tajam dari tadi. Larinya cukup cepat dia hendak menusuk Sebastian, namun sebelum pisau sampai ke sebastian, tangan Angga sudah digenggam erat dan Sebastian membanting tubuh Angga dengan keras.
Ini sebenarnya sudah melanggar peraturan. Sebastian berkelahi dengan orang sekali lagi dia pasti akan di keluarkan setelah ini, namun Sebastian tidak akan tinggal diam. Sofie terancam jadi mana mungkin dia diam saja.
Sebastian menindih Angga dan memukul wajahnya berkali kali hingga dia penuh luka. Dia sangat marah lantaran rencananya yang tidak manusiawai.
Tidak peduli apapun itu meskipun dia dikeluarkan setelah ini dia akan memukulnya. Angga terjatuh pingsan dan napas Sebastian menjadi berantakan.
Mendengar keributan satpam di sana datang dan terlihat sangat terkejut. “Hei kamu apa yang kamu lakukan.”
Ini semua sudah berakhir dengan ketahuan dia dipastikan akan dikeluarkan, namun di kondisi ini dia merasa puas Sofie selamat. Dia tersenyum siap menerima hukuman.
__ADS_1