
“Sebastian ini tentang buku yang kamu tulis. Apakah aku sudah boleh membaca salah satunya?” Di Tengah sore hari, saat waktu pulang. Seorang gadis menyapaku, dia adalah Sofie.
Oh,ya karena banyak kejadian aku sempat lupa bahwa Sofie ingin membaca buku yang kutulis. Kalau tidak salah aku sudah berjanji untuk memperlihatkan salah satunya, tapi tidak kusangka aku akan lupa. Aku jadi sedikit merasa bersalah.
Lupakan tentang pikiran itu! Sofie sudah menatapku dengan wajah penuh harapan. “Ya, kamu boleh membacanya.”
Aku mengangkat tas dan berdiri dari tempat dudukku. Kalau kalian bertanya bagaimana kondisi kelas, maka akan kujawab satu kata Sepi. Di kelas sekarang hanya ada aku dan Sofie siswa lain sudah pulang. Kalau masih ada orang tentu saja akan jadi heboh mengingat Sofie adalah idola kelas.
BIcara denganku saja sudah akan heboh. Aku tak bisa membayangkan kalau semua tahu kalau aku dan Sofie adalah pasangan, yah. Walaupun hanya pura-pura.
“Sebastian! Ayo segera pergi.”
Dia melambaikan tangan dengan ceria di dekat pintu keluar kelas, tampaknya Sofie sudah tak sabar untuk pergi membaca buku yang kutulis,
Aku melangkah menuju ke arah Sofie dan beranjak ke rumah.
Di Tengah jalan seperti biasa aku berbicara berbagai hal random. Tidak, lebih tepatnya Sofie yang bercerita, dia terlihat sangat suka berbicara ketika bersamaku.
“Oh, ya Apa nama buku yang kamu tulis.”
“Hmm, untuk saat ini sekitar 5 jenis buku yang sudah diterbitkan, walaupun tidak ada satupun yang terjual laku.”
“H. hahaha.” Sofie tertawa kecut saat mendengar perkataanku.
Seolah berkata tidak apa-apa dia menepuk pundakku.
“Apa ada sarang darimu? Jika sekitar 5 buku aku akan kerepotan untuk memilih.”
Langkahku terhenti dan kini aku menatap Sofie dengan sedikit secerah harapan. “Ada satu. Ini cukup baru, aku belum menerbitkan dan masih berada di web novel, aku harap kamu akan membacanya.”
“Hee, serius web novel ya? Kalau begitu sungguh kehormatan bila aku membaca calon buku yang akan ramai sebelum terbit.”
“Tidak, aku tak terlalu yakin, bahkan di web novel sekalipun pembaca tidak terlalu banyak.” Aku menunduk tanda bahwa sedikit rasa kecewa tergambar.
Seolah sadar dengan kekesalanku Sofie memegang pundakku dan tersenyum. “Jangan berkecil hati seperti itu, aku akan selalu menjadi pembaca setiamu lo.” Dia berkata dan mulai mengelus kepalaku, melakukan aku layaknya anak kecil.
Karena sedikit malu aku menepis tangan itu.
Dan kami kembali lagi berjalan hingga sampai ke rumah. Ketika sampai aku langsung membuka pintu, menaruh sepatu dengan sopan, Sofie mengikuti pergerakanku.
“Oh, jadi ini rumahmu!”
Sofie melihat sekeliling rumah di mulai dari ruang tamu, beberapa kamar, dan bahkan toilet.
“Menarik, ya!”
Ini anak..
“Menarik dari mananya dan juga kamu baru kesini beberapa hari yang lalu kan? Jangan bertingkah seolah ini adalah pertama kalinya kamu ke sini.”
“Hehehe, maaf… habisnya di sini hanya ada kamu dan aku.. Jadi aku sedikit grogi.”
“Orang di dunia mana yang grogi malah pergi untuk memeriksa kamar mandi di rumah orang?”
“…..”
Sofie tak menjawab sindiran dariku.. Yah, mau bagaimana lagi yang dikatakan Sofie ada benarnya aku dan dia sekarang hanya berdua-
__ADS_1
Baru sadar dengan apa yang terjadi, pipiku memerah. Ini mungkin terlalu membuat hatiku copot, mengingat gadis imut sepertinya kini berada di rumah denganku dan berdua saja..
Memikirkan itu hanya akan membuat diriku semakin panas, Sofie juga pasti mengalami hal yang sama.
“A.. a. lupakan tentang itu dan mari kita pergi ke kamar.”
“He?” Sofie membuka mata lebar, pipinya yang putih seperti salju dengan cepat berubah menjadi warna merah vermilion.
Melihat dari ekspresinya dia pasti salah paham.
Aku melambaikan kedua tangan di udara dengan cepat. “Kamu salah paham! Bukuku, ya. Buku yang kutulis ada di kamar, jangan memikirkan hal bodoh!” Karena panik dan grogi aku jadi berteriak.
Sofie mengangguk dengan wajah yang masih merona.
Dan kami berdua menaiki tangga untuk menuju kamarku. Kamarku tidak terlalu spesial, hanya ada Kasur, meja belajar, dan satu rak buku kecil yang hanya bisa menampung sekitar 20 buku dan buku itu adalah buku pelajaran. Sedangkan buku yang aku tulis ada lima dan berada di atas rak buku itu dengan tersusun rapi serta terlihat bersih.
Mata Sofie terlihat sangat berbinar-binar, dia menatap buku-buku yang tersusun rapi itu. Jujur saja melihat ekspresi darinya membuat hatiku senang, karena ini pertama kalinya seseorang membaca dan terlihat bersemangat dengan buku secara langsung.
Mungkin aku bisa jatuh cinta dengannya sekarang.. ups lupakan tentang pikiran itu.
“Waoo, aku tak sabar untuk membacanya.”
Sofie membalikan badan, menatapku dengan wajah seolah berkata ‘apa aku boleh membacanya?’ ya, seperti itulah tatapan Sofie yang sekarang.
Tapi bahkan tak perlu bertanya, jawabannya cukup simple. “Ya, kamu boleh membacanya.”
Dia tersenyum dan langsung mengambil satu persatu-satu dari buku itu dan membaca blurb dari masing-masing di buku itu, dia terlihat seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan.
Senyuman itu, sifat cerianya, benar-benar tidak akan membuatku bosan untuk memandangnya.
“Maaf.” Dia menundukan kepala Sembilan puluh derajat.
“Hahaha, tidak perlu meminta maaf, aku senang melihat sifat ceria itu.”
Dia tersipu dan kembali menatapku. “Tidak, bukan itu maksudnya. Aku tetap akan membaca buku itu, tapi ada yang lebih diprioritaskan.”
“Apa maksudmu?”
“Itu lo, yang kamu bicarakan beberapa saat yang lalu, tentang novel yang kamu tulis secara online yang belum terbit.”
“Oh, kamu serius ingin membacanya?”
“Tentu saja.” Sahutnya dengan senyuman bersinar.
Aku memberikan link cerita yang kutulis ke nomor Sofie, dan dia terdiam seperti menikmati apa yang kutulis.
Entah ini hanya perasaanku pribadi, tapi jika seseorang dengan langsung membaca novel yang kamu tulis akan terasa sangat berbeda, Aku bisa melihat wajah orang secara langsung yang sedang menikmati cerita yang kutulis ini . Seolah setiap detik yang berjalan adalah momen paling mendebarkan.
Seseorang sedang membaca hal yang kutulis dan ini secara langsung, aku tentu terasa sangat senang akan hal ini. Dan lagi wajah Sofie yang ini terlihat sedikit imut, aku bisa melihatnya dengan puas, mumpung dia sedang fokus ke satu hal.
Mata hitamku tanpa sadar menatap ke arah Sofie yang sedang asik membaca novel, dia terus membaca seolah sedang berada di dunianya sendiri, dia sesekali tersenyum, mengeluarkan ekspresi terkejut, kadang tertawa kecil.
Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuannya. Tapi tiba-tiba mata tenang Sofie melebar seolah membaca hal yang membuat terkejut.
Waktu berjalan dan mungkin berakhir di 30 menit, dia menutup hpnya dan menatapku.
__ADS_1
“Menarik!!” Dia tersenyum dan berkata hal itu.
“Apa begitu?”
“Iya, aku serius. Cerita tentang anak yang tidak memiliki keluarga yang tentram. Dia menjadi berandalan dan berbuat nakal serta seenaknya, tapi ditengah cerita dia tanpa sengaja menyelamatkan gadis yang diganggu oleh berandalan, dan gadis itu berterima kasih dengan senyuman sangat manis, sehingga membuatnya dengan cepat jatuh cinta. Dia yang merasakan cinta memutuskan untuk berubah menjadi anak normal, dia meninggalkan geng nakalnya dan benar-benar menjadi normal. Dia terus mencari gadis yang diselamatkan itu, dia sangat berterima kasih berkat gadis itu, dia bisa menjadi normal.”
“Dia sangat mencintai gadis itu dan terus mencarinya sepanjang tahun bahkan hingga dua tahun, tapi tidak ketemu juga dan cerita bersambung sampai di situ.”
“Sampai sini ceritanya benar-benar menarik. Hal yang membuat menarik adalah rasa cinta kepada sang gadis yang bahkan tidak tahu dimana keberadaanya, cara dia berjuang untuk mencari sang gadis benar-benar maha karya.” Dia menjelaskan sangat Panjang lebar, seolah-olah dia adalah editor dari novel. Tapi aku sangat senang karena ada yang berkata sepanjang ini.
Sofie memegang tanganku dan berkata. “Ne, kapan kamu akan membuat lanjutan ini? Kalau tidak salah terakhir kali update adalah tahun kemarin kan? Ini benar-benar menarik, jadi sebisa mungkin aku ingin membaca kelanjutannya.”
“Hahahah, seperti itu ya. Aku senang kamu suka cerita yang aku tulis.”
Aku tak melanjutkan lagi ucapan itu, dan membiarkan Sofie terus bercerita dengan ceria, tapi itu tak terdengar jelas karena pikiranku sendiri penuh.
Jujur saja kenapa aku tidak bisa melanjutkan adalah, karena si karakter utama tidak akan pernah bisa bertemu dengan sang heroine. Bayangkan saja sudah beberapa tahun terlewat, tidak mungkin ikatan kebetulan seperti itu akan mempertemukan mereka lagi. Sungguh bodoh, mereka tak akan bertemu lagi.
Takdir mereka sudah diputuskan bahkan setelah mereka bertemu. Ya, takdir mereka adalah untuk berpisah bahkan tanpa mengenal nama. Lagipula aku tidak tahu bagaimana cara mereka bisa bertemu lagi.
“Woi, Sebastian!” Dia tampak marah, Dengan cepat lamunanku hilang. “Apa?”
“Jangan melamun!”
“Maaf.”
“Ceritamu sangat bagus, tapi kenapa judulnya “No Name”?”
Aku jujur saja tidak ingin menjawab, tapi mulutku bergerak sendiri.
“Itu karena sang gadis tidak diketahui Namanya, sang lelaki berusaha mencari, tapi apapun yang terjadi mereka tak lagi bertemu. Itulah realita, tak mungkin mereka bertemu lagi.”
“….”
Sofie terdiam karena mendengar jawaban serius dariku.
“Maaf, aku terlalu banyak bicara. Aku berencana untuk memberikan nama buku dengan nama sang gadis, tapi mengingat karakter utama belum bertemu dengan gadis maka aku menganti dengan “No name.”
Waktu sekali lagi berputar kini telah malam, ponsel Sofie bergetar.
“Aduh, ibu menelponku, maaf sepertinya aku harus pulang.”
“Akan kutemani Sofie.”
Tak menjawab Sofie hanya mengangguk, hari ini aku sekali lagi mengantar Sofie ke rumah.
Setelah beberapa menit akhirnya dia sampai rumah.
“Bye, Sebastian!”
Aku mengangguk dan menatap Sofie yang sudah masuk rumah. Aku membalikan badan.
“Sofie asal kamu tahu, tokoh utama dari novel itu adalah aku. Aku tak akan bisa bertemu sang gadis lagi, karena itulah aku tak bisa melanjutkan cerita dan karena itulah aku menamai novel dengan judul “No name.”” Aku bergumam di tengah kesepian malam hari.
__ADS_1