Gadis Dingin Yang Ceria

Gadis Dingin Yang Ceria
Chapter 57. Penyelamatan


__ADS_3

“Ayo bermain Nak,” ucap tiga orang pria yang menjijikan  bulu kuduk Sofie naik, dia sangat merinding.


Di Tengah kesepian dan malam hari, dia sangat tahu apa yang akan terjadi setelah ini, membayangkan saja membuat Sofie menjadi gila.


“Tidak jangan datang!” Dia memeluk tubuhnya sendiri ingin berlindung.


Mendengar teriakan dari Sofie membuat tiga gadis yang tertidur lemas terbangun. Mereka menatap sekitar, tampak bingung beberapa detik, tapi ketika melihat tiga sosok dewasa yang tersenyum membuat mereka sadar akan posisinya.


Semua gadis itu ketakutan memeluk tubuh mereka masing-masing. Melihat ketakutan para gadis, ketiga pria dewasa bukannya iba malah tambah bersemangat.


Pikiran bejad sudah terlintas di benak mereka. 


"Wuh, malam ini kita mendapatkan sesuatu yang mantap, bohai-bohai," ucap salah satu pria yang berada di tengah. Dia menggunakan kaos polos yang memperlihatkan lengan berotot nan penuh tato.


"Aku mau yang tengah, tidak ada yang boleh mengganggu." Pria yang berada di sisi kanan menunjuk ke arah Sofie.


"Pilihan yang bagus jangan serakah dan bagi lah."


"Tidak boleh! Nanti kena HIV kita lebih baik dia menjadi mainanku. Jangan ada yang membantah!" tegas pria itu.


Yang lain tampak ingin membantah, namun mengurungkan niat. Karena sosok yang mereka tantang adalah Bosnya.

__ADS_1


Sang pria itu melangkah. Sofie semakin bergetar. Saat dia tidak sengaja bertatapan dengan sosok itu, Sofie jadi teringat kenangan buruknya.


Dia kenal dengan sosok ketiga orang itu. Mereka adalah orang yang pernah menggodanya di terminal.


Kenapa mereka ke sini lagi, aku takut..


"Hahaha, ekspresi yang sangat bagus, Nona… hmm, tunggu." Pria itu berhenti melangkah. Menatap Sofie yang menunduk ketakutan.


Memegang dagu Sofie, pria itu menatap wajah dengan seksama, sesekali mengendus rambut-rambut milik Sofie.


Sofie berusaha mendorong tubuh dia, tapi tenaga perempuan tentu tidak sanggup melakukannya.


Sofie bergetar ketakutan, wajahnya sangat dekat dengan Pria yang hendak mempermainkanya.


Melihat gadis lemah yang berusaha memberontak tentu saja membuat kepuasan pribadi di hati pria busuk itu. Dia menyeringai menjijikkan dan menjilati pipi Sofie.


".. tidak.. tolong hentikan," Sofie berkata dengan lirih tenaga tidak kuat lagi untuk melawan. Sebutir air mata menetes.


"Ah, kamu sangat indah sayang. Aku jadi makin ingin bermain, dan apa kamu ingat aku? Aku yang dulu hendak bermain denganmu saat di terminal. Tak kusangka kita akan bertemu lagi disini, bagaikan takdir, bukan?”


Mata Sofie terbuka lebar. Tentu saja dia ingat masa lalu buruknya, dia hampir saja diperkos* saat itu. Beruntung Sebastian membantunya.

__ADS_1


Tapi kali ini sosok Sebastian tidak ada yang bisa Sofie lakukan hanya mengeluarkan isak tangisan dan berdoa di dalam hati agar Sebastian membantu menolongnya walaupun akurasi kemungkinan sangat kecil.


“Selamat menikmati.” Tersenyum jahat pria itu membuka benik pakaian dari Sofie.


“.. tidak! hentikan!” jerit Sofie, teman Sofie yang lain ingin membantu tapi posisi mereka sama. Mereka juga sedang dilecehkan hingga tidak bisa bergerak.


Membuka kening dengan penuh gairah dari atas sampai bawah, setelah terbuka dan menampilkan dalaman berwarna pink membuat pria itu semakin tertawa karena tidak bisa menahannya.


“Hahaha, warna itu sangat cocok untukmu, Nona.”


Sofie hanya menangis tidak menjawab.


“Baiklah mari kita nikmati malam yang panjang denganku.” Tangan pria itu hampir saja merogoh aset penting milik Sofie, hampir semua orang di sana hendak menyentuh semua aset milik para gadis.


Tapi semua itu terhenti karena pintu yang terkunci tiba-tiba dibuka dengan sangat kasar.


Ketiga pria yang melakukan aksi senonoh menatap  sosok pengganggu itu. Sofie juga membuka mata perlahan, dia tersenyum.


“Sebastian!” Isak tangisan kini berubah menjadi senyuman yang menggemaskan. Sofie sudah menduga pasti Pacarnya akan membantu dia.


Kali ini tidak hanya Sebastian. Ada Rijal dan Angga. Mereka menatap tindakan tidak senonoh itu. “Maaf menunggu lama,” ucap ketiga pemuda itu bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2