
Hari berlalu seperti biasanya, melupakan apa yang terjadi kemarin minggu. Aku dan Sofie secara kebetulan bertemu lagi di jalan. Kami memutuskan untuk berjalan bersama. Aku berusaha untuk berbicara sebanyak mungkin dan tersenyum karena Sofie pasti akan marah jika aku melakukan hal yang sama seperti kemarin.
Kami melangkah dan terus melangkah dengan penuh pembicaraan sampai tidak menyangka kita telah sampai di halaman sekolah. Tatapan orang menatapku, dengan pandangan iri, cemburu, dan aku bisa merasakan aura pembunuhan dari para lelaki.
Aku sebenarnya berkeringat dan sedikit ngeri, karena tatapan orang, tapi Sofie yang berjalan di sampingku terus tersenyum dan berbicara, jadi aku tak mempunyai waktu yang cocok untuk kabur.
Bukan berarti aku tak ingin pergi dengannya, tapi tatapan para siswa di halaman sekolah sangat mengganggu, tapi berusaha bodo amat aku mulai berbicara lagi dengan Sofie, tak peduli bagaimana mereka menatap. Aku tidak bisa merubah fakta bahwa aku sebenarnya suka menghabiskan waktu dengan Sofie.
Aku merona, karena menyadari fakta itu. Aku juga kembali ingat dengan apa yang dikatakan oleh Sofie. Sembari menatap Sofie yang ceria dan berjalan di samping aku memutarkan kembali dialog yang dia katakan kemarin minggu.
“Aku cemburu! Kenapa kamu bisa dekat sekali dengan wanita itu daripada aku? Jahat, jahat, jahat..”
“Aku benci itu,yang boleh melihat senyuman dan wajah gembiramu hanya aku seorang, aku tak mau jika wanita lain melihat senyumanmu.”
“Itulah yang kurasakan! Jadi jangan lakukan hal itu lagi, kalau mau tersenyum cukup denganku saja, jangan wanita lain.”
Panas pipiku serasa terbakar jika mengulangi apa yang ingin dia katakan. Sofie tampak bingung melihat ekpresiku, dia memiringkan wajah dengan imut, dengan wajah seolah khawatir dia berkata,
“Apa kamu baik-baik saja?”
Aku memalingkan wajah dari muka imut miliknya. “Aku sehat kok tak perlu khawatir.” Aku berjalan cepat agar wajahku yang merona tak bisa diketahui.
Kami melewati halaman. Tidak, mulai sekarang akan kusebut neraka halaman saja karena mengingat tatapan penuh aura pembunuhan dari siswa. Kita menaiki tangga menuju ke kelas.
Seperti biasanya Sofie duduk di samping jendela dan aku di dekat pintu keluar. Jika ini adalah anime, novel, atau komik. Sofie pasti seorang tokoh utama, dia duduk di kursi keramat. Ini adalah pemikiran bodoh yang ada di otakku.
Kring
Kring
Bel berbunyi. Sepertinya waktu pelajaran dimulai, aku mempersiapkan buku dan menaruh di meja. Sudah siap akan pelajaran yang akan datang. Pelajaran kali ini adalah MTK, yah seperti sebelumnya.
Waktu berjalan, setiap detik, menit dan jam terus berputar akhirnya materi dari pak Eko telah selesai dipelajari. Aku menghela napas, menundukan kepala ke meja karena kepalaku yang hampir terbakar. X,Y, Trigonometri. Aku benci semuanya.
__ADS_1
Aku masih menenggelamkan kepala, hingga tiba-tiba seseorang menepuk pundakku.
Plak
Aku menoleh ke belakang dan menatap seorang wanita yang sangat asing bagiku, dia memiliki kelopak mata yang indah, rambut kuncir kuda, dengan postur tubuh yang cukup tinggi. Dia siapa? Hanya itu yang terlintas di pikiranku.
Seolah sadar dengan apa yang ada di otakku, dia memperkenalkan diri. “Kenalkan, aku Zilla.”
Mataku yang malas menatap orang asing yang tiba-tiba sok dekat. “Y- ya.” Satu kata hanya itu yang bisa aku katakan.
Lagi pula entah hanya firasat, atau ini benar. Tapi aku merasa Sofie menatapku dengan sinis dan mengeluarkan aura pembunuh yang pekat. Sama seperti kemarin minggu, jujur saja kemarin minggu aku sadar bahwa Sofie membuntutiku.
“Jadi, ada perlu apa Zilla?” Aku bertanya dan dengan cepat berpaling.
“Hee, cuma itu yang kamu katakan ketika bertatapan dengan gadis imut sepertiku?”
Aku menghela napas. “Orang di dunia mana yang akan senang jika tiba-tiba ada yang menepuk pundak, bertingkah sok asik, dan ke sini tanpa alasan yang jelas?” aku mencoba untuk menyindir.
Mendengar jawaban itu, Zilla malah tertawa. “Hahaha, kamu ada benarnya.”
“Tapi sepertinya jika Sofie bersikap sok dekat kamu tak ada masalah ya? Dasar genit.”
Dia menyeringai, berusaha mengejek? Atau menggoda? Yang manapun aku tak peduli.
“Ya, karena Sofie berbeda.”
Dia makin terkekeh, “Berbeda. Apa karena kamu memiliki perasaan semacam itu?"
“T- tidak!"
Aku menjawab, sebelum menyadari bahwa aku telah tersipu malu.
Sofie makin cemberut, dia berdiri dari kursi dan melangkah ke sini dan pada saat itu juga para tatapn siswa menuju ke sini. Dia sepertinya kesal.
__ADS_1
“ZIlla, berhenti bermain-main dengan dia!” Dia mengembungkan pipi dan menolak untuk menatapku.
Tapi yang paling penting bukan masalah Sofie yang berpaling, ada satu lagi yang paling penting dan tertawa benar, yaitu-
“Tunggu, kalian saling kenal?”
Mereka berdua dengan cepat menganggukan kepala. Wah, ini akan semakin menjadi parah, tidak maksudku akan menjadi merepotkan.
“Daripada membahas itu, Zilla. Berhenti menggoda Sebastian!” Dia sekali lagi cemberut dan mengatakan itu dengan nada yang cukup rendah tapi tegas, hanya bisa didengar oleh kami saja.
“Hahaha, jangan salah paham Sofi, aku tak menggodanya.Benarkan,” Zilla menatapku dengan mata mengintimidasi, seolah berkata bahwa aku tak mengikuti permainannya maka aku akan kena musibah.
Keringat dingin bercucuran melalui kepala dan aku menjawab, “Itu benar Sofie, dia tak melakukan apapun yang bisa membuatmu cemburu, jadi tenang.” Aku berusaha setenang mungkin, walaupun sebenarnya secara mental aku sudah tertekan.
Pipi Sofie memerah mungkin karena mendengar kata cemburu. “Ti t- tidak bukan berarti aku cemburu atau semacamnya.” Dia berkata dengan menutup mata dan mencengkram celananya.
‘Dari mana datangnya sifat tsundere itu?’
Zilla sekali lagi tertawa dan aku mulai sedikit risih dengan tawanya, sepertinya Zilla adalah orang paling ceria di antara kami. “Hahaha, jangan marah gitu dong Sofie, aku cuma mengundangnya untuk makan nanti pas istirahat tentu saja kamu ikut.”
‘Tunggu, aku tak ingat dia berkata seperti itu.’
“Apa itu serius? Kamu tak melakukan apapun?”
Sofie menatapku dengan wajah sedikit ragi dan mata yang berair, aku yang tak tahu ada apa dengan drama romcom ini memutuskan untuk menganggukan kepala dan berkata ya. Senyum berbunga-bunga tergambar di wajah Sofie.
“Syukurlah.” Aku dapat mendengar dia bergumam, tapi ku abaikan.
“Omong-omong, ke mana kita akan makan nanti, Kantin?”
Zilla tersenyum, “Ah, kamu salah. Kita akan makan di rooftop.”
“Hah?”
__ADS_1
Aku tak salah dengar kan? Dia berkata Rooftop? Ada apa dengan comedy versi anime ini. Ini bukan anime kampang.