Gadis Dingin Yang Ceria

Gadis Dingin Yang Ceria
Chapter 16. Ketakutan


__ADS_3

Setelah berbincang-bincang dengan Angga entah kenapa hatiku serasa memiliki penyesalan. Bukan, ini bukanlah rasa menyesal dengan ucapanku barusan, yang tadi itu murni serius, aku menganggap bahwa Sofie hanya memanfaatkanku, ini memang terlalu berlebihan, tapi itulah yang kupikirkan.


Maksudku mana mungkin dia memberikan perasaan kepada orang sepertiku, jika pasangan maka Angga seratus persen lebih baik, dia akan menjadi couple yang baik jika bersama, seharusnya seperti itu.


Tapi Sofie terlihat ketakutan dengan Angga, entah karena alasan apa, aku tidak tahu jelas. Saat ini aku dan Sofie sedang berada di ruang tamuku, dia seperti biasa membaca buku yang kutulis dan tersenyum.


“Sofie, kenapa kamu terlihat ketakutan dengan Angga tadi?” 


Aku bertanya karena hal itu memang sangatlah aneh, Angga memang munafik. Namun bukankah mereka teman sejak kecil, seharusnya hubungan mereka lebih baik.


“....”


Sofie hanya diam, senyumannya kini memudar menjadi wajah tanpa ekspresi, dia menutup buku dan menaruh di meja ruang tamu.


Saat ini hanya ada dua orang di ruang tamu, yaitu aku dan Sofie, jadi pembicaraan ini pasti akan lebih mudah dikatakan oleh Sofie.


Dia menghela napas panjang dan membuka suara.


“Itu karena Angga terlihat sedikit menakutkan.”


Entah kenapa aku paham, dia bertingkah seolah-olah Sofie adalah miliknya, dia tampak sombong dan tamak, Angga benar-benar orang yang munafik.


“Kenapa kamu menganggap dia menakutkan?”


“Itu karena… bagaimana ya.. Dia agak terlalu tergila-gila denganku dan ini agak menakutkan. Cara dia berbicara, tatapan, dan aura yang dia miliki. Mungkin bagi sebagian orang menganggap bahwa dia adalah cahaya yang menarik, namun bagiku dia seperti sebaliknya, fakta bahwa dia mempunyai segalanya itu menakutkan.”


“Jadi begitu? Terus?” Aku menyeduh teh hangat yang ada di meja.


“Apa yang sebenarnya membuat kamu setakut itu dengan si Angga?” tanyaku, melanjutkan ucapan barusan.


Sofie menundukan kepala, seolah perkataan setelah ini akan menjadi serius.

__ADS_1


“Gilang Anggar, dia adalah orang yang populer sejak kecil, dia selalu dikelilingi oleh perempuan yang jatuh cinta dengannya, apa kamu tahu tentang itu?”


“Ya, aku tahu.”


“Dia sayangnya tidak peduli dengan para perasaan perempuan lain, dia seperti tidak ada niat untuk memahami. Dia terus melengket denganku, kadang aku sedikit risih dan takut karena sifatnya yang selalu memaksakan diri untuk dekat denganku, dan yang paling membuat aku risih adalah tatapan para gadis.”


“Tatapan?”


“Ya, Sebastian harusnya tahu. Sejak kecil aku banyak menimbulkan masalah karena mukaku yang cantik ini, semua orang menatapku cemburu karena punya fisik yang lebih baik. Tapi tatapan gadis yang menyukai Angga ratusan kali lebih menakutkan, tatapan mereka penuh oleh rasa sedih, cemburu dan sakit hati. Aku bisa merasakan itu semua.”


“....”


Jadi begitu ya,tatapan cemburu dari para gadis lain, itulah yang membuat Sofie jadi takut jika berdekatan dengan Angga.


“Tidak berhenti disitu saja.”


Alu melebarkan mata. ‘apa masih ada alasan lain?’


“Ini hanya perasaan buruk saja, tapi tampaknya, dia terus membuntutiku.”


“Itu karena dia tahu hal yang bahkan tidak pernah aku cerita sama sekali dan itu menakutkan, jujur saja, aku dan Angga tidak pernah sedekat seperti yang kamu pikirkan karena sifat malu ini tentu kamu sudah tahu jawabannya, tapi mengabaikan aku yang punya rasa malu. Aku memang tidak mau dekat dengan dia, meskipun sifat pemalu ini hilang. Karena aku sadar, bahwa orang-orang seperti Angga adalah orang yang tidak bisa dipercaya dan berbahaya.”


Aku terdiam mendengar penjelasan panjang lebar dari Sofie. Ini jadi masuk akal, alasan kenapa Angga tahu aku dekat dengan Sofie adalah karena dia sering menguntit.


‘Aku paham maksudnya, jika gadis terus ditempel dengan seseorang maka tentu saja dia ketakutan, apalagi dia dibuntuti. Eh tunggu kalau dalam situasi ini bukannya, aku juga termasuk menakutkan?’ pikirku


“Sofie, kalau begitu bagaimana denganku. Mungkin kamu sudah sadar, tapi aku sempat membuntutimu untuk beberapa hari, bahkan aku menulis sesuatu tentangmu di buku dan aku berencana menjualnya. Bukankah berarti aku juga menakutkan, kenapa kamu masih mau dekat denganku?” tanyaku panjang lebar.


Sofie tampak merona, dia menutupi wajah merah dengan bantal guling yang ada disampingnya.


“kalau itu kamu, aku tidak masalah. Aku percaya denganmu, karena dari tatapanmu sangat berbeda dengan pria lain, kamu tidak memperhatikan fisikku ini. Dan juga saat kamu membuntutiku, itu justru memberikan rasa nyaman, seolah-olah kamu melindungiku dari kejauhan.”

__ADS_1


“Itu tidak masuk akal Sofie, membuntuti tetaplah hal tabu.. Jadi maaf.” Aku meletakan kepala ke meja karena memang merasa bersalah.


“Tidak apa-apa, seperti yang kukatakan tadi. Aku tidak merasakan hawa bahaya dari tatapanmu, jadi aku tidak merasa ketakutan, aku justru merasa nyaman.”


Aku mengangkat wajah, melihat wajah Sofie yang sudah merah padam. Aku tidak heran kenapa banyak yang pengeng denganya, kecantikan dan keanggunan Sofie sangatlah tinggi, bahkan bisa memasuki level idol yang ada di TV, oh, benar juga saat SD dia pernah menerima tawara, tapi ditolak.


Bisa dibilang bahwa Sofie adalah idol kelas tinggi yang tidak masuk di TV maupun majalah satupun, jadi wajar jika banyak pria yang mau dengannya, dan ini makin membuat aku paham bahwa dunia yang Sofie miliki sangat beda denganku, aku juga mantan brandal. Jadi yang paling cocok dengan Sofie adalah Angga.


Aku tidak menyesal dengan ucapanku ke Angga, tapi memikirkan hal itu entah kenapa membuat hatiku sangat panas seperti ingin kebakar.


"Sebastian, apa kamu baik-baik saja?" Sofie memiringkan kepala dengan posisi sangat imut.


Aku sedikit tersipu dengan posisi duduk Sofie itu, dia sedikit merona, dan pipinya yang memerah ditutupi dengan bantal, dia sangat imut.


"Ya, aku gak papa."


Aku merona dan menoleh ke arah lain, pose Sofie sangat imut.


Waktu terus berlalu kini jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, Sofie pulang ke rumah dan seperti biasa aku mengantarkannya, sangat bahaya jika gadis cantik seperti Sofie berjalan.


Setelah mengantarkannya aku merobohkan diri ke kasur dan memikirkan hal-hal yang terjadi hari ini


Tentang Angga, Sofie, aku tak bisa menghilangkan pikiran tentang mereka. Ke dua orang itu telah ada di otakku.


Hal yang paling membuatku jengkel adalah persetujuan aku dengan Angga,


"setelah Sofie menghilangkan sifat malunya dia akan bersama Angga, itu adalah ending yang bagus, dua idol bersatu. Itu sangat cocok dan serasi siapapun akan mendukung mereka."


"Aku ingin membuat ending seperti itu, namun tampaknya Sofie membenci Angga.."


Aku menghela napas menatap dinding putih dengan pandangan kosong.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa pilihan terbaik agar Sofie bisa bahagia?"


Ditengah malam aku bergumam tentang itu dan tertidur.


__ADS_2