Gadis Dingin Yang Ceria

Gadis Dingin Yang Ceria
chapter 47.


__ADS_3

Kami berdua menikmati makanan di kantin, tidak peduli walaupun menjadi pusat perhatian dan gosipan, sebenarnya aku hampir sama menyiram mereka dengan kuah Soto, tapi kuhentikan kare mubazir. 


Ardian mengambil kecap dan saos, makan dan terus menambahkannya, saat aku tanya apa yang dia lakukan, kenapa ditambah terus? Ardian menjawab bahwa rasanya kurang pas. Aku menggelengkan kepala.


Tentu saja tidak pas, kamu menaruh kecap dengan brutal, kuahnya bahkan berwarna kehitaman. Aku sedikit mual apabila melihat kuah itu. Aku menaikan alis menatap Ardian yang bisa memakan bakso dengan normal tanpa masalah.


“Aku dengar Ayahmu sudah pulang, bagaimana kabar Beliau?” tanya Ardian, tiba-tiba. Dia meminum es teh yang berada di sana dan lanjut makan baksonya, menunggu jawaban dariku.


Aku menghela napas, menaruh sendok di meja. Menatap Ardian dengan tatapan bingung, dari mana dia tahu tentang ini? Aku tidak pernah cerita lo?


“Ya, dia pulang dan parahnya dia tahu hubunganku dan Sofie,” jawabku.


Mendengar jawabanku, Ardian terkejut, dia tersedak dengan makanannya sendiri. Dan meminum esnya agar tidak tersedak, setelah itu dia menatap ke arahku.


“Serius?” Ardian masih bertanya, tampak tidak percaya.


Aku menganggukan kepala mendengar pertanyaan itu. “Apakah dia marah?” Ardian kembali bertanya untuk kesekian kalinya.


Aku terdiam dulu, minum es teh dan menjawab pertanyaan Ardian. “Ya, dia marah besar.”


“Duh, terus! Bagaimana dengan ini? Mengingat Ayahmu, dia tidak akan memaafkan hubungan seperti itu, lagi, kan? Apakah kamu akan berhenti menjadi pasangan Sofie!?” Si bodoh ini menaikan nadanya di akhir kalimat. Semua kini menatapku dengan wajah terkejut. Sial.


Aku menutup mulut Ardian, biang kerok ini dan berbisik, menyuruhnya untuk tenang. Dia mengangguk, kini sedikit lebih tenang dan menatapku.


Aku menghela napas, melihat Ardian dan melanjutkan percakapan ini. “Aku tidak akan melakukan itu, kalau aku menjauh dari Sofie siapa yang akan melindungi dia dari para godan buaya darat.”

__ADS_1


Ardian tertawa kecil. “Hahaha, kamu benar. Habisnya Sofie punyamu seorang.”


Aku mengabaikan Ardian dan kembali menyantap Soto, tapi tiba-tiba dia sekali lagi mengatakan hal yang menarik perhatianku. “Ayahmu sangat tegas, ya. Kenapa dia sangat tidak suka kamu dekat dengan wanita? Dia seperti itu sejak kamu SD, kan? Dan kini makin parah, kan?” tanya Ardian. Menyantap Baksonya lagi.


Mataku menoleh, dia tidak bisa diam. Aku menghembuskan napas dan menjawabnya, “Aku tidak terlalu tahu akan hal itu, tapi Ayah tidak berencana buruk. Mungkin dia tidak mau aku mengalami pengkhianatan yang sama dengan Emilia itu, dan dia tidak sepenuhnya salah, maksudku dia hanya tidak mau aku dekat dengan wanita. Mungkin dia mau aku lebih serius lagi dalam menggapai mimpi ‘Dokter itu’.” Ardia terdiam. Menatapku.


“Kamu dewasa juga, ya. dokter bukan mimpimu, kan? Ayahmu memaksamu, kan?”


“Itu benar, aku tidak mempermasalahkan dia yang tidak mau berdekatan dengan wanita, tapi yang jadi masalah adalah dia memaksa mimpi itu, benar-benar, menyebalkan.”


“Kalau begitu kenapa kamu tidak berhenti menjadi pasangan Sofie kalau tidak masalah?”


“Tidak mau, untuk kali ini saja aku mau memberontak. Aku tidak semata-mata bersenang-senang, jika Sofie tidak dekat denganku, dia bisa mengalami bahaya. Apalagi dengan Rangga.”


Mendengar kata rangga, Ardia menyemprotkan es teh yang dia minum. Menjijikan. “Apa Sih, jorok,” keluhku. 


“Tergantung saja, jika dia datang mengganggu maka ku anggap dia adalah Stalker Sofie, apapun itu dia terobsesi dengan Sofie. Aku tidak bisa membiarkan tangan kotornya menyentuh Sofie.”


Ardian memijat kening. Apa perkataanku sangat mengejutkan? Sekali lagi Ardian menatapku, kini sedikit serius. Pandangan penghuni kantin juga mengarahkan, mereka tampak kaget ketika aku bicara tentang Rangga dengan sangat enteng.


“Mantan brandal memang tidak tahu takut.” berkata demikian Ardian meminum tehnya, aku berdesis. Masih aja dibahas masa lalu itu. “Aku tidak khawatir tentang fisikmu karena kamu tidak akan kalah dengan orang seperti Rangga, tapi yang jadi masalah adalah Rangga orang yang VIP di sini.”


“VIP?” aku mengulangi perkataan Ardian. Bingun dengan maksudnya. Ardian menghela napas, memijat keningnya lagi. Sebenarnya apa yang mau dikatakan orang ini?


“Maksudnya dia adalah penyumbang dari sekolah ini dan dia adalah penyumbang paling besar. Inilah alasan dia bisa bertindak seenaknya. Bahkan dia terjun ke pasar gelap pun guru tidak berani menyentuh karena kekuatan uang adalah segalanya.” Ardian menjelaskan dengan serius, aku terdiam mencerna ucapan ini. 

__ADS_1


‘Benar-benar menjijikan hanya karena uang kamu pikir bisa melakukan apapun?


“Jadi kenapa kalau dia VIP, aku tidak peduli. Jika dia membuat Sofie menderita, aku tidak takut.”


“Kamu beneran bodoh ya! Intinya pihak sekolah mendukung dia, jika kamu ketahuan bertengkar atau membuat tuan muda Rangga kamu bisa saja dikeluarkan dan juga aturan sekolah tentang perkelahian cukup ketat. Kamu harusnya tahu!”


OH, kalau diingat lagi itu benar. Aturan paling tabu di sekolah ini adalah pertengkaran.Jika murid ketahuan berkelahi lebih dari tiga kali maka dipastikan dia akan dikeluarkan, tapi tampaknya peraturan itu tidak berlaku untuk utang VIP.


“Kamu paham sekarang?” Dia kembali bertanya dengan tegas. Tapi jawabanku tidak berubah.


“Gampang saja, ini tidak seperti Rangga akan menyerang atau semacamnya. Tapi jika Rangga mengganggu hubunganku dan menyentuh Sofie akan kubuat dia merasakan pengalaman paling pahit.” sahutku dengan senyuman sinis. Membuat para penghuni kantin menatap ketakutan. 


Sedangkan Ardian, dia menghela napas dan mengangkat bahu. “Mantan berandal memang mengerikan.”


Sekali lagi aku dibuat emosi dengan sebutan itu. “Berhenti ingatkan masa lalu itu, aku tidak mau melakukan itu lagi.”


“Kalau begitu kenapa kamu mau mencari masalah dengan Rangga? Ayahmu bisa marah besar lagi jika kamu membuat masalah.”


Dia berkata seenaknya. Aku menjadi semakin emosi. “Ini beda dengan saat aku masih melakukan masalah hanya karena emosi. Aku melakukannya demi melindungi Sofie.”’ Aku menaikan nada membuat keheningan di kanting dan mereka menatapku dengan ekspresi sedikit cemas,


Ardian ingin mengatakan sesuatu, tapi bel sekolah berdering. Membuat alunan nada yang menghentikan pertikaian kami, kami berdua menghela napas. Pada akhirnya Ardian mengalah dan meminta maaf.


“Aku pergi dulu..” katanya dengan nada lirih, dia berdiri dari kursi makanan dan meninggalkan kantin. Aku menatap pundak dia yang semakin jauh.


Sedikit merasa bersalah. Aku menatap makanan kami dan sadar satu hal. ‘Anjir si brengsek itu belum bayar.’ aku menepuk kening. Jadi itu alasan dia pergi duluan. Aku kan buat dia mengingat tentang hari ini.

__ADS_1


Pada akhirnya aku menuju kasir kantin dan membayar makanan untuk jatah dua orang. Satu bakso dan satu soto, sial untung saja aku membawa dompet kalau tidak aku akan berakhir mencuci piring. Si Ardian benar-benar bertingkah seenaknya.


__ADS_2