Gadis Dingin Yang Ceria

Gadis Dingin Yang Ceria
Chapter 34. Nasya


__ADS_3

...[Sebastian POV]...


Pagi hari yang cerah, aku bangun dari mimpiku. Tubuhku kemarin terasa sangat mual dan lemas, tapi sekarang sudah sedikit lebih membaik, oh, ya, aku bisa merasakan bahwa badanku serasa sangat hangat lebih dari biasanya, walaupun aku tidak tahu apa penyebabnya.


Ketika mataku terbuka sedikit demi sedikit aku dapat melihat dengan jelas selimut hangat berada di atasku dan aku bisa mencium wangi seperti shampo yang sangat harum. Apa ini? Sangat harum.


Mataku menoleh ke samping kiri sumber dari aroma harum ini. Aku dapat melihat gadis cantik berambut hitam panjang tertidur pulas menghadap ke arahku, dia sangat harum, wajahnya sangat putih seperti salju, dalam beberapa detik saja aku paham sosok cantik bagaikan bidadari ini, ya. Siapa lagi kalau bukan Sofie.


Tunggu! kenapa dia tidur di sampingku? Satu kasur lagi.


Aku terkejut dan dengan cepat berdiri dari kasur.


"Sofie kenapa kamu tidur di sini?"


Sofie bangun dengan malas. Dia mengusap matanya yang terlihat mengantuk.


"Sebastian? Kamu sudah bangun? Syukurlah."


"Lupakan tentang itu! Bisa kamu jelaskan apa yang terjadi?"


"Kamu tidur tanpa selimut, aku takut kalau kamu demam jadi aku tidur bersamamu di satu kasur dan berbagi selimut, kita tidur bersama untuk satu malam."


"omong-omong apa tidurmu nyenyak, Sebastian? Kamu tidak pernah tidur dengan nyaman, kan? Sekali-kali tidur di kasurku akan membuatmu nyaman, dan juga apakah saat tidur bersamaku kamu terasa hangat? Apakah kamu suka ketika tidur bersamaku?"


Seperti biasanya, dia orang yang suka berbicara, Sofie memberikan beberapa pertanyaan dalam waktu yang cepat.


Aku menghela napas dan menjawab semua pertanyaan itu dengan satu kalimat.


"Tidur denganmu tentu saja membuatku sangat nyaman.. Tapi, tetap saja itu adalah hal bodoh, apa kamu tidak takut jika aku melakukan hal seperti itu? Begini-begini aku laki-laki, loh!"


"Sebastian bukan orang seperti itu, aku percaya sama kamu. Kalau Sebastian pasti tidak akan melakukan hal yang macam-macam, karena ini Sebastian."


Dia menjawab dengan sangat yakin tanpa mengambarkan sikap curiga sama sekali.


"Dan juga jika kamu beneran mau... a- aku tidak masalah."


Sofie mengatakan hal gila sekali lagi, dia tampak sangat malu ketika mengatakan hal seperti itu. Apakah dia paham dengan apa yang dia katakan?


"Apakah kamu bodoh?" tanyaku berusaha menyindir.


"Duh, berisik! Aku cuma ingin kamu tidur nyaman apa salahnya itu!?"


Sofie terlihat marah, dia menjadi cemberut, dan pipinya terlihat merah. Aku tertawa kekeh melihat reaksi dari Sofie. Dia benar-benar gadis yang unik kadang ceria dan sangat mudah ngambek, tapi itulah bagian yang membuat dia imut.


***

__ADS_1


"Lihat itu dia Nasya!"


Pada saat kami berjalan ke sekolah, lebih tepatnya saat berada di halaman sekolah Sofie dan aku kebetulan bertemu dengan Nasya.


Nasya terlihat berjalan sendirian dan Sofie menatap pundak Nasya dengan penuh binar-binar.


"Kenapa kamu tidak mencoba menyapa dia?" Aku memberikan usulan.


"Ya, aku inginnya seperti itu, tapi aku takut akan mengacau seperti kemarin." Dia menjawab dengan wajah sedikit murung.


"Tidak perlu memikirkannya, kamu hanya perlu tersenyum dan mengucapkan selamat pagi atau semacamnya."


"Hanya cukup dengan itu?"


"Ya, itu cara menyapa orang dengan normal."


Sudut bibir Sofie terangkat. "Kalau begitu akan kucoba kamu lihatlah Sebastian."


Dia berlari dengan menuju ke arah Nasya. Dia seperti anak kecil yang kegirangan, aku menghela napas melihat sikapnya.


Baiklah mari kita lihat apa yang akan dilakukan gadis pemalu itu.


Sofie terlihat menurunkan kecepatan berlari dan menjadi jalan normal, dia berjalan menyamai kecepatan dari Nasya.


"Selamat pagi, Nasya."


Si Nasya terlihat gemetar, mungkin dia takut akan senyuman itu.


"S- Selamat pagi," jawab Nasya dengan terbata-bata.


Kemudian Sofie berjalan menjauh dari Nasya dan memberikan satu kali lagi senyuman mengerikan. Si Nasya makin gemetaran bahkan tubuhnya melompat.


"Hah." Aku menghela napas kasar.


Sofie telah berjalan menjauh sedangkan Nasya terlihat menatap pundak Sofie dengan tatapan takut, dia pasti salah paham.


Aku berjalan ke arah Nasya.


"Jangan dipikirkan, Sofie tidak bermaksud buruk."


"Eh, Sebastian? Aku sedikit terkejut."


"Yah, kamu bisa katakan kalau itu cara Sofie menyapa orang."


Mendengar jawabanku, Nasya makin bingung. Tapi, aku tidak terlalu peduli. Aku menggaruk kepala dan berjalan menjauh, mencoba mengejar Sofie yang telah pergi.

__ADS_1


***


"Bagaimana tadi? Apa itu terlihat seperti sapaan pagi yang keren?"


Belum juga aku menaruh tas di kursi, Sofie sudah berjalan ke arahku dan bertanya dengan wajah penuh harapan.


Aku tidak bisa memberikan jawaban asli.


Aku menatap ke arah Nasya yang berada di kelas ini. Ya, Nasya adalah teman satu kelas kami. Dia selalu diam dan berada di kursi paling depan.


Saat aku menatapnya secara kebetulan dia juga ikut menatapku, tapi tatapan itu seperti terlihat ketakutan. Dia langsung menoleh ke arah lain. Kemungkinan ini karena Sofie ada di depanku, dia jadi takut.


"Bagaimana? Bagaimana?" Matanya sangat berbinar-binar, aku menghela napas.


"Ya, c- cukup bagus."


Maaf, Sofie untuk sekarang aku harus bohong kalau kamu tahu kenyataan maka akan memperburuk situasi.


"Yosha, kalau begitu aku akan menghampiri dia untuk berbicara."


Sofie hendak pergi menuju ke arah Nasya, tapi aku menghentikan dia dengan memegang tangannya.


"Jangan dulu, oke!"


"Kenapa?"


Sofie membalikkan badan dan bertanya.


"I- itu, dia sedang membaca buku. Lebih baik tidak menganggu sekarang."


Aku mengarang cerita dan untung saja Sofie mengangguk tanda paham.


Ting


Ting


Bel masuk telah berbunyi semua siswa termasuk aku kembali ke bangku masing-masing dan memperhatikan pelajaran yang disampaikan oleh guru kami.


Tapi, hari ini aku tidak bisa fokus. Aku sesekali mencuri pandangan ke arah Nasya, seorang yang menarik bagi Sofie.


Apa yang harus kulakukan agar dia bisa dekat dengan Sofie? Dan juga Nasya, aku punya firasat buruk akan gadis itu, seolah-olah dia memiliki sesuatu yang disembunyikan.


Aku benci pikiran ini, tapi aku merasa bahwa si Nasya menganggap Sofie sebagai penganggu dan dia tidak ingin dekat dengannya.


Kenapa aku tahu akan hal itu? Jawabannya cukup simpel, dari matanya aku sedikit tahu. Aku tidak ingin memperburuk reputasi gadis ini, tapi orang seperti Nasya. Aku yakin, dia pasti memiliki rasa iri dan cemburu yang besar ke Sofie.

__ADS_1


Apapun itu, jika Nasya melakukan sesuatu ke Sofie, pada waktu itu juga aku akan membuat dia mengerti.


__ADS_2