
...[Sebastian POV]...
"Maaf, Sebastian."
Pada pagi hari yang cerah di ruang tamu, tiba-tiba Sofie menundukkan kepala dan meminta maaf karena hal yang tidak aku pahami.
"Apa maksudnya?"
"... kalungmu ... hilang." Dia menundukkan kepala dan berkata dengan sangat lirih.
"Oh, kalung ya— tunggu maksudmu kalung itu?"
Aku spontan terkejut mencipratkan teh hangat yang ada di mulut. Aku menatap sendu ke Sofie. Menghirup napas dalam-dalam lalu memijat kening.
"Bagaimana itu bisa terjadi?"
"Hiks.. hiks.. aku juga tidak tahu, tiba-tiba kalung itu hilang."
Sekarang Sofie tampak menangis, dia sangat merasa bersalah.
Aku menghela sekali lagi. "Sudah lupakan tentang itu! Aku akan membelikannya dengan yang baru."
"Bukan itu masalahnya! Aku suka yang itu, saat kamu memberikan sebagai hadiah ulang tahun, itu membuat aku sangat senang ... dan juga aku tidak bisa memaafkan diriku yang bodoh ini karena menghilangkan barang berharga seperti itu, jadi maaf.. hiks.. hiks.."
"Sofie lupakan itu untuk sekarang, aku akan bantu cari. Tenang saja aku tidak marah, Sofie tidak bodoh samapai menghilangkan itu jadi pasti akan ketemu."
"Apa maksudnya tidak bodoh?" Dia kini tampak cemberut.
Aku tertawa kecil melihat dia. Sofie banget. Modnya seperti anak kecil, kadang nangis dan kesal, ini beneran lucu.
Ditengah perjalanan ke sekolah kami masih membahas tentang kalung yang hilang itu.
"Di mana terakhir kali kamu melihat itu?"
"Aku sangat ingat menaruhnya di kamar tidak, karena terlalu bahagia aku tidak akan pernah memakainya. Aku hanya melihat foto itu sambil tersenyum."
"....."
Ini aneh, bagaimana bisa kalung itu bergerak sendiri? Pasti ada seseorang yang memindahkannya.
Tunggu dulu jika berbicara tentang seseorang bukankah Nasya kemarin di kamarnya Sofie.
Aku sedikit mencurigai gadis itu, aku tidak tahu apa motifnya, tapi tidak ada orang lain selain Nasya.
"Sofie ini tentang kalung itu mungkin ...."
"Mungkin kenapa? Apa kamu tahu di mana itu berada?"
Tidak aku tidak bisa bilang kalau Nasya adalah pelakunya. Dia sangat senang kemarin karena dia akhirnya bisa berbicara akrab dengan Nasya, dia berpikir bahwa Nasya adalah teman berharga.
Sudah Kuputuskan aku tidak akan bicara tentang hal ini.
"Ada apa? Kenapa kamu diam saja?"
"Tidak bukan hal yang penting, aku cuma ingat kalau kalung itu limit Idition jadi hanya orang bodoh yang menghilangnya."
__ADS_1
"Humph, kamu membahas itu lagi. Kamu beneran menganggap aku bodoh." Dia cemberut dan tampak lucu.
Soal kalung itu limit Idition tentu saja bohong, tapi Sofie sangat mudah percaya. Itu membuat dia tambah imut.
Aku terus mengejek Sofie dan dia menanggapi dengan wajah cemberut yang imut, ekpresi itu membuat aku ingin menjahilinya terus.
***
Waktu telah menjadi sore hari. Waktunya pulang, tapi aku masih mempunyai hal yang harus kulakukan. Yaitu menanyakan perihal kalung ke Nasya.
Bukan berarti aku mempermasalahkan tentang kalung itu. Hanya saja entah kenapa aku merasakan bahwa Nasya memiliki sedikit niat jahat ke Sofie, hal itu tidak akan kubiarkan.
Ini hanya firasat saja.
Saat ini dia sedang memasukkan semua buku di tas, jika ingin bertanya sekarang adalah waktunya.
"Sebastian ayo pulang," kata Sofie.
"... maaf Sofie bisa kamu tunggu sebentar, ke Zilla dulu aja. Ada yang harus kulakukan."
"Apa itu?"
"Aku mau mencari tentang kalung itu... jadi kamu pulang dulu."
Sofie tampak ingin membantah, tapi dia tidak jadi. Mungkin karena masih merasa bersalah.
"Baik, aku akan tunggu sebentar."
Dia berjalan dengan menundukkan kepala tanda kekecewaan. Aku menghela napas merasa bersalah, tapi ini beneran hal penting, jadi maaf Sofie.
Dia menyadari keberadaanku dan menoleh dengan wajah sedikit canggung. Ah, mungkin karena dia salah paham mengingat aku di rumah Sofie.
"A— ada apa?" tanya Nasya.
Aku menoleh ke segala arah memastikan tidak ada orang.
"Hmm... akhir-akhir ini kamu cukup dekat dengan Sofie, ya? Kemarin bahkan kamu pergi ke rumahnya kan?"
"Dan kamu sendiri menginap di rumah sang gadis, sebenarnya apa yang kamu lakukan?"
Sial, dia balik menyerang.
"Dengar jangan salah paham, aku punya alasan penting, bukuku tertinggal di sana jadi aku terpaksa mengambilnya."
Ini adalah bohongan, mana mungkin aku bilang bahwa Sofie sedang di incer salker.
"Ya ya ya, jadi apa keinginanmu ke sini?"
Aku menyeringai. "Tidak, aku hanya berpikir aneh, apakah kamu tahu tentang kalung?"
Wajah Nasya spontan memucat karena mendengar kata 'kalung' sudah kuduga, sepertinya dia adalah pelaku.
"Ka— kalung? Hal seperti itu mana ku tahu!"
Dia menaikan nada, seolah menghilang rasa kepanikannya.
__ADS_1
"Jadi begitu... Sofie kehilangan kalung itu, jadi kupikir kamu tahu sesuatu—"
"Apa kamu bodoh? Mana aku tahu hal seperti itu kan! Aku tidak peduli tentang WANITA ITU!"
Diakhir kalimat dia membentak dengan suara tinggi, 'wanita itu' nadanya seperti penuh kebencian.
"Hee, kamu terlihat seperti sedikit kesal dengan Sofie."
Nasya memalingkan wajah, napasnya sedikit ter engah-engah dan dia tidak bisa menghilangkan rasa paniknya.
"Apa yang ingin kamu katakan?"
"Tidak seperti yang aku katakan aku hanya ingin tahu—"
Dia menatapku tajam. "Kamu mencurigaiku, kan?!" Dengan nada mengancam dan dingin Nasya berkata.
Aku tersenyum. "... itu benar, aku curiga denganmu."
"Aku tidak tahu dan juga kenapa aku harus repot-repot mengurusi barang wanita itu!?"
"Kamu tidak menyebutk Sofie dengan nama? Kenapa kamu menyebutnya dengan 'wanita itu' sebenarnya kamu, apa. Kamu tidak suka dengan dia?"
Nasya tampak menahan emosi, tapi sudah tidak bisa ditahan lagi. Dia menggertakan giginya.
"Itu benar, aku benci dia! Dia memiliki segalanya, baik popularitas, kekuatan, kejayaan, dia punya segala hal yang aku tak miliki maka dari itu aku benci, dia! Aku mencuri kalung dia dengan harapan dia bisa menderita sedikit."
"Dia terlalu sombong, hidupnya terlalu penuh keberkahan dia pasti tidak pernah merasakan rasa frustasi dan hidup dengan santai, dunia berputar dengan dia. Di mana pun aku pergi dia akan selalu di bela, bahkan sekarang kamu membela dia bukan, jadi apa salahnya membuat dia menderita sedikit saja?! Aku benci dia, aku benci orang yang diberkahi dan hidup enak—"
Brak
karena emosi yang mendalam tanpa sadar aku menepuk meja membuat ucapan Nasya terpotong.
Aku menggertakan gigi dan menatap tajam Nasya. Dia tidak tahu satu pun tentang Sofie. Tidak ada satupun kalimat yang menggambarkan Sofie di sana.
"Sofie hidup enak? Dunia mengelilinginya? Dia tak pernah menderita? Dia sombong? Apa yang kamu tahu tentang Sofie!?"
"Dia menangis karena ketakutan, dia tidak pernah hidup dengan normal, sebagian besar menatapnya dengan pandangan buruk dan sebagian orang menjauhinya hanya karena dia spesial, tak berhenti di situ, dia selalu dibuntuti oleh orang yang tidak diketahui! Dan pertemanan dia hancur! Dia difitnah sebagai pencuri lelaki, karena peristiwa itu dia jadi tidak bisa berkomunikasi dengan normal, dan kamu bilang hidupnya penuh berkah?!"
Aku tanpa sadar terlalut akan emosi, aku tidak bisa berpikir jernih. Ketika aku tersadar dari emosi aku memalingkan wajah dan meminta maaf.
Aku pikir Nasya akan menangis, tapi responnya sedikit mengejutkan.
"Apa yang kamu katakan serius? Sofie mengalami hal seperti itu? Jadi berita tentang Sofie pencuri lelaki adalah bohongan?"
"Tentu saja bodoh!"
Aku menghirup napas dalam-dalam.
"Nasya sepertinya kamu sudah salah paham tentang Sofie, dia hanya ingin menjadi temanmu, dia tidak memiliki niat jahat sama sekali... coba temuin dia dengan pikiran jernih, lihatlah senyuman tulus dari Sofie!"
"Aku tidak marah karena kamu mencuri kalung, aku marah karena kamu menganggap Sofie buruk."
Aku membalikkan badan dan menjauh, tapi sebelum itu aku memperingati satu hal.
"Ingat ini, lihatlah Sofie sekali lagi. Dia tulus ingin menjadi temanmu, tapi aku jadi kasihan dengan Sofie. Dia sudah dikhianati bahkan sebelum kenal dekat."
__ADS_1
Aku berjalan dan menjauh meninggalkan Nasya yang masih terdiam