Gadis Dingin Yang Ceria

Gadis Dingin Yang Ceria
Chapter 13. Mimpi


__ADS_3

Kakiku melangkah dan akhirnya sampai di rumah lagi. Aku menenggelamkan tubuh ke arah kasur dengan kasar, agar semua rasa lelah hari ini menghilang. Banyak hal terjadi akhir-akhir ini, mulai dari pertemuan dengan Zilla dan makan di rooftop, aku yang berpura-pura menjadi pasangan Sofie untuk melindunginya, dan hari ini Sofie membaca buku yang kutulis.


Aku sangat senang ketika dia menikmati novel yang aku tulis, tapi masalahnya adalah novel yang dia baca tidak akan lagi ku lanjutkan. Karena seperti yang aku jelaskan sebelumnya. Sang karakter utama tidak akan bisa bertemu lagi dengan sang gadis.


Seberapa keras mencoba pada akhirnya itu tidak mungkin, benar-benar menyedihkan. Dan semakin menyedihkan lagi kalau cerita yang kutulis itu adalah aku sendiri. Yap, novel itu nyata aku menulis kisah nyata yang ada di sana.


Bisa dibilang karya itu bukanlah karya baru justru karya yang pertama kali aku ciptakan, tapi aku membuatnya di web novel dan terhenti.


Aku tidak melanjutkannya buka karena tidak ada ide, aku bisa saja membuat ending bahagia di mana sang heroine dan sang pria bertemu lagi dengan adegan yang mengharukan, tapi apa gunanya itu?


Sang tokoh asli, alias aku. Tidak akan bertemu gadis itu lagi bahkan aku tidak tahu namanya, muka dia saja aku sudah lupa, yang kuingat hanya senyuman hangat darinya. Aku berencana memberikan judul ke buku itu setelah bertemu gadis yang kumaksud, namun itu tak terjadi.


Yah untuk sekarang lupakan tentang hal itu tertidur. Aku menutup mata rapat dan mulai bermimpi, tapi ini bukan mimpi random, ini seperti sedikit kenangan masa laluku.


...----------------...


“Mau sampai kapan kamu membantah?!” 


“Tidak bisakah kamu berjuang lebih keras?”


remaja itu yang berumur sekitar belasan tahun hanya menangis dan menatap tajam pria yang membentakinya. Air mata mengalir, namun dia berusaha keras untuk menahanya.


“Ayah, aku juga sudah berjuang, berjuang, dan berjuang. Tapi ini adalah hasilnya.” remaja itu membantah dengan air mata yang bercucuran. Dia pada dasarnya tak akan berani melawan, tapi tampaknya dia sudah tak memiliki rasa sabar lagi.


“Dasar anak tidak berguna!!’


“Itulah yang kamu dapatkan jika terlalu senang menghabiskan waktu dengan gadis itu. Sudah berapa kali kubilang untuk menjauhi dia!”


“Ini salah, dia tak memiliki dosa sama sekali, aku berada di samping dia karena murni suka.. Aku tetap berusaha dalam akademi dan banyak hal lain, tapi tetap percuma, itulah yang aku bisa.”

__ADS_1


"Dan juga apa ayah tahu bagaimana kehidupanku di sekolah? Tidak ada apapun di sana, hanya ada orang-orang yang datang karena ingin memanfaatkan aku, tapi dia beda. Dia datang seperti murni butuh aku, dia tak akan memanfaatkan aku.”


Sang ayah tampak geram, dia melancarkan satu pukulan keras. “Dasar anak tak bisa diandalkan! Sana pergi! Bermainlah dengan teman-teman bodohmu itu.”


Selalu dimarahi itulah yang dirasakan seorang remaja itu. Dia tak terlalu berbakat di akademi, dan sang ayah tampaknya mendengar bahwa si anak itu lebih fokus ke arah pacaran daripada belajar, tapi itu hanyalah rumor. Sang anak itu adalah orang yang sangat rajin di kelas 1 SMP bahkan saking rajinnya dia selalu dimanfaatkan. Tapi sang ayah tentu tak peduli.


Sang anak hanya kesepian dan di tengah kesepian itu muncul satu gadis yang mau berada di sisinya, dia tak mengingat namanya dengan jelas. Tidak atau lebih tepatnya tidak mau mengingat lagi, karena gadis itu sama saja,


Mereka berdua memang memiliki sedikit hubungan asrama, tapi tak berjalan dengan mulus. remaja sudah memberikan segalanya yang dia bisa untuk sang perempuan, namun perasaan itu dengan cepat sirna.


remaja itu termakan oleh fitnah yang entah dari mana beredar. Berita itu menjelaskan bahwa remaja itu melakukan selingkuh dari sang gadis. Si gadis itu terbilang populer, jadi tentu saja remaja yang terfitnah makin ditindas.


Dia makin mengalami kesusahan dalam  hidup, dia selalu dimanfaatkan, dijauhi, dan kini sang pujaan hati yang dia kira akan menerima dia malah ikut menjauh karena rumor bodoh itu, dia menjauh dan memilih lelaki baru yang lebih menarik perhatiannya.


Hingga di suatu hari si remaja itu menemukan fakta ironis, bahwa ternyata yang membuat rumor adalah si gadis itu sendiri. Dia melakukan semua tindakan fitnah hanya agar bisa menjauh dari sang remaja.


“Kamu sangat menjijikan, jadi aku melakukan ini.” Itulah alasan yang dia terima.


Jika semua memanfaatkannya maka dia harus menjadi orang yang kini memanfaatkan orang. Dia ingin mengganti peran mungkin itu pandangan orang, tapi bukan seperti itu. Dia hanya ingin mencari ketenangan dari perilaku onar.


Saat kelas 2 SMP di semester terakhir dia makin parah, dia memasang tindik dan matanya menjadi sedikit suram dan galak, tanpa kebahagian itulah matanya sekarang. Di suatu hari dia berjalan tanpa arah karena pikirannya juga sedang penuh.


Saat dia berjalan kaki, entah kenapa dia malah ke terminal. Dia hanya berjalan tanpa arah. Saat di terminal dia melihat sekitar 3 orang berandalan sedang mengepung gadis yang terlihat imut.


remaja yang emosi itu tentu saja menganggap ketiga berandalan itu adalah pengganggu dan membuat kebisingan. Dan pada saat itu juga dia teringat kalimat menyebalkan.


"Mau sampai kapan kamu membantah?!” 


“Tidak bisakah kamu berjuang lebih keras?”

__ADS_1


Karena emosi, dia menggertakan gigi, dan berlari menuju ke tiga orang berandalan itu. Dia membabat habis semua orang itu. Saat dia menatap tiga orang yang pingsan tergambar wajah puas di wajahnya.


Tapi dia kini menoleh ke gadis yang diganggu.


"apa kamu baik-baik saja?”


Gadis itu tak menjawab dan tampak ketakutan bahkan dia gemetaran sendiri, tapi setidaknya dia bisa memberikan satu senyuman yang sangat hangat.


Dia tersenyum sangat tulus dan berkata satu hal. “Terima kasih.”


Mata suram remaja itu kini terbuka lebar, dia mengalami hal yang tak pernah dialami sebelumnya yaitu cinta. pada awal dia melihat senyuman itu dia mencintai gadis itu. Dengan wajah merah dia mendekati gadis itu dan mencoba untuk berbicara, tapi tampaknya terganggu.


“Woi, boss sebastian. Ayo segera cabut!” Ada remaja lain, mungkin dia adalah temanya.


Dia menoleh ke sumber suara dan dengan terpaksa jalan ke sana.


Mulai hari itu hidup remaja itu berubah. Hanya dengan melihat senyumnya dan kalimat terima kasih berhasil membuat dia berhenti di kehidupan nakalnya. Dia keluar dari geng bodoh dan mengikuti pelajaran normal.


Saat itu juga hubungan dengan sang ayah sudah semakin dekat, mungkin karena si anak sudah berubah menjadi lebih baik.


Tapi ada satu hal yang diinginkan remaja itu, yaitu melihat senyumnya lagi.


...----------------...


Kring


Kring


Alarm berbunyi aku membuka mata. Itu benar-benar mimpi yang cukup panjang. Ya, itu adalah mimpi tentang aku yang dulu, ini mungkin terdengar bodoh, tapi aku memang anak nakal dulunya, tapi karena melihat senyuman gadis tanpa nama itu. 

__ADS_1


Aku memutuskan untuk berubah, karena sadar satu hal. Kemampuanku bisa aku gunakan untuk melindungi orang lain bukan untuk menyakiti.


__ADS_2