
...[Sofie POV]...
Setelah melakukan ciuman hangat kami turun dari Bianglala dan kembali lagi duduk di kursi panjang, karena kondisi Sebastian tampak mual lagi jadi kini kami istirahat.
Setelah menaiki Bianglala Sebastian entah kenapa jadi lebih bersemangat, dia memegang tanganku dengan sangat erat dan tenaga semangat itu telah habis di wahana selanjutnya yaitu komedi putar.
Aku tidak tahu apa yang membuat dia menjadi tiba-tiba bersemangat, tapi karena komedi putar yang terus bergerak membuat Sebastian menjadi mual sekali lagi.
Aku menatap kasihan serta khawatir ke arah Sebastian yang duduk di sampingku. Dia menundukkan kepala dan sedang memegang perutnya.
"Kamu, apa ada yang sakit? Apa yang harus kulakukan agar kamu menjadi sehat lagi?"
Aku menyentuh dan menekan dadaku. Menatap dia yang lemah membuat aku menjadi merasa bersalah dan sangat khawatir.
"Tidak apa-apa, tadi hanya sedikit terlalu bersemangat.. aku tidak menyangka kalau komedi putar saja sudah membuat aku mual."
"Ini karena kamu terlalu memaksa diri, sudah aku bilang tidak usah memaksakan diri! Apa kamu tidak merasa bersalah membuat pacar imutmu menjadi Khawatir?" tanyaku, menundukkan kepala dan menatap dia yang terlihat makin pucat.
"Ya ya, maaf— uweeekk"
Ini mungkin menjijikkan, tapi belum selesai bicara Sebastian memuntahkan cairan lagi. Aku menghela napas dan mengelus pundaknya.
"Pulang yuk," ucapku dengan nada lembut dan halus tidak lupa mengelus pundaknya.
Sebastian menganggukan kepala dia menuruti keinginanku.
"Ayo, hati-hati, jangan terlalu tergesa-gesa. Jalan dengan santai aja, oke."
Aku menopang tubuh Sebastian dengan sangat pelan kami berdua berjalan. Beberapa tatapan pengunjung mengarah ke kami. Mungkin sebagian besar menganggap bahwa posisi ini seharusnya kebalik, di mana Seharusnya Sebastian yang menopang ku, tapi aku tidak peduli akan pendapat orang.
"Maaf, aku menyedihkan seperti ini. Memiliki seseorang sepertiku pasti sulit."
Dia tampak sedikit murung, bahkan mengatakan hal yang membuat aku sedikit marah. Apa dia kira aku wanita yang peduli akan hal sepele seperti ini?
"Bodoh! Aku tidak menganggapmu menyedihkan, kamu hebat lo, jangan mengatakan hal seperti itu lagi aku akan marah!"
Sebastian sedikit terkejut dengan jawaban dariku, sudut bibirnya sedikit terangkat dan dia terkekeh.
"Ya, aku lupa kalau kamu orang yang seperti itu, maaf."
"Humph, kalau sudah tahu baguslah."
Aku terus menopang tubuh lemas dari Sebastian karena dia tidak akan kuat berjalan jadi aku memutuskan untuk memesan taxi
Hanya butuh sekitar lima menit Taxi datang. Dengan masih menopang Sebastian aku berjalan ke arah Taxi dan duduk bersama dia.
__ADS_1
"Bagaimana kondisimu?" tanyaku menatap ke Sebastian yang berlendetan di pintu taxi.
"Sedikit lebih mending." sahut dia dengan senyuman paksa.
Dasar pembohong. Aku tahu betul bahwa itu hanya kebohongan, muka dia sangat pucat dan sedikit membiru.
Ini semua salahku, seharusnya aku tidak mengajak dia pergi ke taman bermain.
Sebutir tetesan air mengalir melalui mataku, aku menundukkan kepala agar dia tidak sadar bahwa aku menangis, tapi dia terlalu peka.
"Jangan nangis, menyedihkan."
"Aku tidak menangis," sahutku sambil air menyeka air mata.
"Tu nangis, kamu pembohong yang payah."
"Berisik! Maaf ini salahku seharusnya aku tidak mengajakmu ke sini, karena keegoisanku tubuhmu jadi rusak."
Masih menetes, tanpa sadar aku mengatakan semua hal yang ada di benakku. Ditengah kesedihan aku dapat merasakan tangan hangat membelai kepalaku. Ketika aku menaikan kepala dapat kulihat Sebastian sedang mengelus kepala.
"Sudah kubilangkan, itu tidak masalah, aku justru senang. Hari ini aku bisa melihat senyumanmu, bahkan ciuman juga kita lakukan kan?"
Mendengar kata "ciuman" membuat aku merona, apa dia tidak sadar? Ada sopir yang bisa mendengar ucapan kita.
Sang supir berkata, sepertinya kami telah membuat dia menunggu.
"Maaf! Untuk tujuannya ada di jalan pramuka blok B no 92."
"Baiklah." ucap sang supir. Dia dengan cepat menghidupkan mesin dan mengemudikannya.
Waktu berjalan sekitar lima belas menit dan akhirnya kami sampai di rumahku.
"Terima kasih pak supir."
Dia mengangguk sebagai jawaban. Aku masih menopang Sebastian dan membawanya ke rumah, aku menaruhnya ke sofa dengan lemah lembut.
Dia tertidur lemah di sofa, wajahnya masih terlihat mual.
"Apa aku harus membuat sesuatu? Kamu mau teh hangat?"
"Ya, boleh."
Aku tersenyum mendengarkan jawaban jujur darinya. Berjalan ke dapur aku membuat teh hangat. Setelah itu aku memberikan teh kepadanya, dia terlihat menikmati teh yang aku buat dengan tenang dan perlahan.
"Hah, terima kasih." kata Sebastian.
__ADS_1
"Ya, justru seharusnya aku yang berterima kasih. Sebastian makasih sudah mau menemaniku bermain."
"Kalau semisal kamu lelah tidurlah di kamar, aku akan pergi mandi dulu, jadi sampai ketemu lagi."
Dia terdiam mendengar ucapanku dan tubuh yang makin menjauh ini. Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan setelah ini, tapi aku bisa menebak dia pasti tidak ingin tidur di kasurku.
Kalau dipikirkan lagi dia selalu kedinginan pas malam hari, dia selalu menolak tidur di kasur yang hangat dan malah tidur tanpa selimut dan dia duduk lagi.
Aku juga membagi selimut dan tidur dengan duduk berdampingan dengan dia, tapi apakah Sebastian tidak lelah tidur seperti itu terus?
Yah untuk sekarang lupakan hal itu dan mandi.
***
Setelah beberapa menit aku selesai dari mandiku. Rambutku telah menjadi harum dan basah. Aku mengambil handuk dan menaruhnya tepat di bahuku lalu berjalan ke kamar.
Saat ini aku memakai baju polos berwarna cream dengan celana cukup pendek.
Kralk
Aku membuka pintu kamar dengan perlahan, berharap si Sebastian tidak terganggu akan tidurnya.
Di kamar aku mendapatkan Sebastian tidur di kasurku, tapi dia tidak memakai selimut dan baju yang dia gunakan sedikit terbuka hingga memperlihatkan perutnya.
"Dasar bodoh itulah kenapa kamu jadi mudah sakit," aku bergumam sendiri. Sedikit menyebalkan melihat dia yang terus mengalah.
Aku mengambil selimut tebal di lemari dan berjalan ke arah kasur itu, tapi aku masih menatap Sebastian yang tertidur aku belum memberikan selimut ini ke dia.
Aku cemburut dan berkata, "Kamu tidak mau tidur di kasur, itulah yang membuat kamu jadi sakit."
"Lihat kamu bisa demam jika seperti itu terus.. bahkan hari ini kamu jadi mual terus."
"Itu karena kamu tidak mau tidur di kasur dan berdampingan denganku, dasar bodoh."
Aku bergumam sendiri, aku sedikit sebel dengan dia. Diakhir dengan helaan napas, aku merobohkan tubuh ke kasur bersamanya dan berbagai selimut dengan Sebastian yang tertidur.
Sekarang aku sedang tertidur berdampingan dengan Sebastian. Aku mendekatkan bahu dengan bahunya agar selimut ini bisa membuat dia merasakan kehangatan.
Dari jarak sangat dekat aku menatap wajah tidur Sebastian.
"Dengan ini kamu bisa tidur dengan hangatkan."
"Berterimakasihlah, aku berbagai selimut karena bagiku, hanya kamu yang spesial untukku."
Aku tersenyum dan tertidur berdampingan dengan dia.
__ADS_1