Gadis Dingin Yang Ceria

Gadis Dingin Yang Ceria
Chapter 58. Penyelamatan bagian 2


__ADS_3

Sebastian yang menatap Sofie hampir dilecehkan tentu saja marah. Siapa yang tidak akan terhanyut akan emosi apabila orang yang dicintai hampir dilecehkan. Tapi dia berusaha setenang mungkin, apalagi tangan kanan milik dia masih luka.


“Lepaskan mereka dasar brengsek!” 


Suara ini bukan berasal dari Sebastian melainkan dari Rijal yang melihat Stela diganggu. Sedangkan Angga, Adit, dan Sebastian berusaha setenang mungkin karena mereka adalah sosok orang dewasa bukan orang yang bisa dilawan anak selevel SMA. Meskipun Sebastian kuat, tapi tetap harus hati-hati.


Sebelum kesini mereka telah menyusun rencana. Mereka telah memanggil polisi dengan bukti ponsel yang dimiliki Adit. Mungkin setelah ini Aditya juga akan tertangkap polisi karena ini tindakan bunuh diri dan penyerahan diri.


Namun, tampaknya Sebastian tidak menyadari ini karena terlalu fokus dengan Sofie.


Kembali lagi ke masa kini. Walaupun tenang Sebastian menatap semua pria dewasa dengan pandangan sinis seperti berkata matilah.


“Ada apa, ha?” bentak orang yang memanggu Sofie. Tidak hanya dia, dua orang lain juga tampak risih akan kehadiran Sebastian, mereka memutuskan berdiri untuk menghadap empat orang SMA.


“Hei, tenanglah Bos. Dia hanya anak SMA,” ucap salah temannya, berusaha menenangkan.


“Tidak jangan remehkan orang yang ada di tengah itu. Dia pernah membantai aku padahal baru saja SMP. Gara-gara dia juga aku tidak jadi menikmati tubuh nona kecil ini, aku benci dia!”


“Serius? Dia orang yang dulu membabat kita di terminal?” tanya dua orang lainnya secara bersamaan.


Bos mereka hanya menganggukan kepala. Semua pria dewasa menjadi lebih serius, mereka berhenti meremehkan musuh dan mengeluarkan pisau tajam di sakunya. Mereka menatap Sebastian dengan niat membunuh.


Sebastian malah tersenyum tanpa kenal takut. “Oh, jadi orang waktu itu adalah kalian. Pantas saja tindakan kalian seperti sampah, dan pantas aku ingin membantai kalian!” 

__ADS_1


“Dasar bocah Anji*”


“Tunggu, tenang!”


Tidak mendengar perintah dari sang Bos. Salah satu dari mereka berlari menerjang dengan pisau kecil, dia mau menusuk Sebastian tepat di jantungnya. Tapi dengan mudah dihindari, Sebastian mengunci pergerakan musuh dan membantingnya ke lantai dengan sangat keras membuat dia muntah darah dan KO dengan sangat cepat.


Menatap sosok yang terjatuh Sebastian tersenyum sinis. “Selanjutnya siapa?” 


Sisa dua orang di ruangan gelap. tapi dua orang itu tidak seperti yang tadi mereka cukup cerdik. Dua orang itu tersenyum dan menyandera Sofie dan Stela. Mereka menaruh pisau ke leher dua gadis itu.


Sebastian berhenti tersenyum. Dia terdiam.


“Hahaha, ada apa dengan sikap sombong tadi, ha!?”


“Lepaskan mereka!” seru Sebastian dengan nada sedikit tenang tapi tegas.


“Tidak mau, kalau mau kamu harus kesini dulu. Biar ku beri pelajaran,” ucap sang bos yang menodongkan pisau ke leher Sofie.


Para siswa SMA itu terkejut, membuka mata lebar. Tentu saja semua tahu ini hanyalah jebakan, namun Sebastian dengan ringannya setuju.


Dia berjalan ke arah si Bos tanpa adanya niat bertarung. Dia menundukan kepala.


“Tunggu jangan ke sana, kamu akan dibunuh lo!” ucap temannya secara bersamaan.

__ADS_1


Jika dilihat dari situasi tidak ada orang bodoh yang berani masuk ke tempat jebakan dua orang dewasa apalagi mereka semua membawa pisau. Sebastian pasti akan dibunuh bahkan tanpa melepaskan sandra.


“Hahaha, kamu cukup pintar, Nak.” puji Bos.


Sebastian diam saja dan melangkah lebih maju. Ekspresinya kosong seperti tidak takut apapun. 


Sang Bos menatap anak buah yang menyandera Stela, memberikan isyarat untuk membunuh Sebastian, dia mengangguk paham dengan tatapan si Bos. Bawahan si Bos itu berdiri dan merentangkan pisau ke arah Sebastian.


Tapi jika membunuhnya tentu tidak asik. Dia menatap Sebastian dari bawah dan ke atas, lalu tersenyum dengan niat jahat.


Blak


Pria itu menendang perut Sebastian, membuat Sebastian mengeluarkan cairan putih. Tidak berhenti disitu Kepala Sebastian di pegang dengan erat dan dipukul terus menerus secara brutal.


Para gadis yang menjadi sandra menatap ngeri pemandangan yang terjadi. Mereka ingin membantu, tapi sangat takut bahkan bergerak pun tidak berani.


Teman sedang dipukul tentu saja keempat siswa SMA itu tidak ingin diam saja mereka ingin melangkah, tapi terhenti karena pisau yang berada di leher Sofie semakin dekat dengannya. Sofie masih menjadi sandra.


Sofie menangis tapi bukan karena takut. Dia sedih melihat Sebastian yang terus dipukul secara brutal, dia terus berteriak untuk berhenti. Namun tidak ada respon, pria itu terus menyiksa Sebastian.


Sungguh situasi yang mengerikan. Para keempat siswa lelaki sebenarnya ingin bantu, tapi Sofie masih menjadi korban.


Meskipun merasa tidak enak, tapi sekarang menunggu hingga polisi datang adalah pilihan terbaik. Mereka harus merelakan Sebastian dipukul sampai waktu polisi itu datang.

__ADS_1


__ADS_2