
Di pagi harinya aku dan Sofie pergi berjalan ke sekolah bersama dengan tangan yang masih saling berpegangan.
Sama seperti kemarin malam, Sofie tampak malu dan terus meminta untuk melepaskan tangan itu, ini karena kami selalu menjadi pusat perhatian.
Aku tidak heran, seorang gadis cantik seperti Sofie sedang bergandengan tangan dengan seseorang, pasti banyak yang mengira kami sepasang kekasih.
Tapi, itu tak masalah justru ini yang aku mau, jika kami seperti orang pacaran artinya tidak akan ada yang berani menganggu Sofie lagi.
Karena mereka akan takut jika berhadapan dengan sang pacar alias aku, tapi ini hanya sandiwara kami berdua bukanlah pasangan asli.
Kami berjalan bahkan sampai masuk ke sekolah aku sengaja memegang tangan agar para siswa di sekolah sadar bahwa Sofie sekarang punya aku dengan ini baik di sekolah atau di jalanan asal aku mengandeng tangan dia, Sofie tak akan di gangu oleh godaan dan orang yang punya niat jahat.
Aku masih berjalan bergandengan tangan sampai naik ke kelas, semua orang terus menatap kami berdua.
'Yosh, dengan ini semua akan menganggap aku dan Sofie adalah pasangan, aku tidak perlu mengatakan secara langsung.'
Keheningan yang baru ada di kelas berubah menjadi bisikan karena melihat kami berdua yang bergandengan.
"K- kamu cukup sampai sini ya! ini beneran memalukan."
Aku mengabaikan keinginan Sofie dan berjalan menuju kursi miliknya.
Kemudian aku melepaskan tangan itu, sekarang tinggal ucapan yang sering di gunakan untuk para couple.
"Sofie, kamu cantik seperti biasanya, maaf aku jadi ingin memegang tanganmu sampai ke sekolah. Maaf karena membuatmu malu."
Aku tersenyum dan mengatakan itu dengan nada yang cukup besar. Semua siswa di sini terlihat sangat terkejut, ini adalah respon yang paling aku tunggu, aku adalah pasangan pura-pura bagi Sofie, tapi jika dilihat dari sudut pandang berbeda semua pasti berpikir kami adalah pasangan sungguhan.
'Aulina Sofie, gadis populer sudah memiliki pasangan, mari menyerah' Itulah berita yang ingin aku buat untuk sekarang.
Mulai sekarang aku yakin siswa akan memberikan kejahatan bukan kepada Sofie lagi, tapi kepadaku. Mereka pasti akan sangat iri. Aku berhasil dengan ini sebagian besar tindakan goddan dan lainnya akan hilang.
Walaupun aku akan menjadi sasaran empuk bagi pria yang cemburu, tapi siapa peduli. Asalkan kondisi Sofie bisa lebih baik akan kulakukan apapun.
"....."
Sofie hanya terdiam mendengar perkataanku barusan, dia ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak bisa.
"Kalau begitu aku akan duduk dulu."
__ADS_1
Aku berjalan kemudian duduk di bangkuku, semua orang yang biasa menatap Sofie dan membuat Sofie merasa cemas kini berubah menatapku, tatapan iri, cemburu, amarah bisa kurasakan dari para lelaki.
Sekarang aku paham, jadi ini perasaan Sofie, menjadi pusat perhatian ternyata tidak seenaknya yang terlihat.
...----------------...
Brak
"Apa maksudnya ini! Sebastian?"
Di waktu istirahat sekali lagi Angga dan aku berada di balik gedung sekolah, tapi yang mengundang bukan aku justru Angga sendiri.
Sepertinya berita ini sangat cepat beredar.
"Apa kamu dengar!? Aku mendengarkan kabar bahwa kamu dan Sofie sekarang adalah kekasih yang saling mencintai dan kalian bahkan bergandengan sampai ke kelas."
"Bukannya kamu berjanji untuk tidak melakukan apapun dan hanya menyembuhkan sifat pemalu Sofie!?"
Aku tersenyum dan terdiam, jujur saja aku tahu bahwa Angga akan sangat marah kepadaku, tapi ini juga yang aku tunggu.
'Seorang teman semasa kecil, melihat teman itu memiliki seorang pacar dan dia tidak terima, dia menyerang pacar dari teman semasa kecil itu karena cemburu'
Jika seseorang mendengar berita seperti itu maka dengan cepat reputasi Angga akan menurun dan dia akan susah dipercaya orang.
Karena kemungkinan besar semua orang akan percaya dengan sang pacar dari pada teman semasa kecil yang bahkan bermain fisik ke sang pacar. Benar-benar ide yang bagus kan.
Tapi, Angga tampak sadar dengan rencanaku, dia menghela napas dan menenangkan diri, dia tadi sempat mendorong tubuhku di tembok, tapi sekarang dia melepaskannya.
Padahal aku sudah repot-repot memikirkan rencana ini tadi malam dan aku juga telah menyiapkan rekaman suara, tapi si Angga sangat cerdik. Dia tidak mudah di kelabuhi.
"Hah, Sudahlah! Pastikan kamu punya alasan khusus!"
"Ya, aku punya alasan khusus, aku cuma berpikir bahwa akhir-akhir ini Sofie sedang dibuntuti, jadi aku berpura-pura menjadi pasangan Sofie."
Kenapa aku mengatakan hal ini dengan jujur? Aku punya alasan sendiri, jika rencana membuat dia marah gagal maka aku akan membuat alasan lain untuk membuat dia marah.
Semisal dia adalah penguntit yang asli, dia pasti akan menunjukkan taringnya sekarang karena dia merasakan bahwa aku menganggu.
Sekarang hanya ada aku dan dia, dua orang. Ini adalah tempat yang cukup untuk membasmi pengganggu.
__ADS_1
'Jadi apa yang akan kamu lakukan Gilang Anggara?'
'Jika kamu menyerangku maka akan kuanggap kamu sebagai pelaku'
Aku berpikir seperti itu, tapi respon yang di dapat kan sungguh di luar dugaan.
"Apa kamu serius, Sofie di buntuti oleh orang?"
Dia tampak tak percaya dan terkejut, dari reaksinya akan sangat sulit dikatakan bahwa dia memalsukan ekspresinya.
Ini aneh, jika dia memang penguntit nya maka sekarang adalah kesempatan terbaik untuk membasmiku, orang yang menganggunya, tapi Angga justru terlihat terkejut.
"Jadi apa yang kamu lakukan sekarang?! Tunggu jangan bilang kamu meragukanku?"
Dia menurunkan nada menjadi dingin dan tegas di akhir kalimat.
"Ya, aku meragukanmu."
Angga memijat pelipisnya dan menghela napas, dia menatap aku dengan wajah aneh.
"Apakah kamu serius berpikir seperti itu? Apa kamu tidak berpikir aneh jika aku adalah pelaku maka-
" Maka sekarang pasti sudah menyerangku tentu saja itu yang akan terjadi, tapi kamu tidak melakukannya. Itu karena memang bukan kamu pelakunya, atau itu karena kamu ingin bermain aman untuk sementara waktu?"
Angga tampak terkejut dengan perkataanku dia tertawa keras.
"Aku suka logika itu, tapi serius, aku bukan pelakunya, untuk apa aku melakukan tindakan kriminal seperti itu?"
"Bukannya karena kamu suka dengan Sofie? Obsesimu terhadapnya sangat besar, jadi aku meragukanmu."
Angga makin terdiam, tapi dia tidak ada amarah dalam mukanya, jika dia adalah pelakunya seharusnya dia sekarang setidaknya memunculkan wajah tidak suka.
"Begini saja, aku akan membantumu dalam mencari penguntit itu, dengan seperti itu kamu akan tahu bahwa aku bukan pelakunya. Lagipula men stalker orang, meskipun aku menyukai Sofie aku tidak akan melakukannya, Jadi apa jawaban darimu, Sebastian?"
Ini menjadi makin membingungkan, apakah aku harus menerima tawaran dari orang yang mungkin musuh?
Tapi ini sangat aneh, jika Angga adalah penguntit maka dia pasti tidak akan melakukan hal berbelit seperti ini dan langsung membasmi aku yang pengganggu. Karena obsesi mereka sangat tinggi dan pasti mereka cemburu orang yang mereka idolakan mempunyai pacar.
Tidak mungkin orang gila seperti itu tak mengambil kesempatan untuk membasimku, tapi dia tidak melakukan itu.
__ADS_1
Sekarang apa yang harus kulakukan?
Apa keputusan terbaik sekarang?