Gadis Dingin Yang Ceria

Gadis Dingin Yang Ceria
Chapter 42. Mereka pulang


__ADS_3

...[Sebastian POV]...


Menteri pagi tampak malu-malu menunjukan senyumannya, mengendap-endap masuk kesela-sela jendela ruang tamu. Cahaya menteri ini mengenai tubuh membuatku merasakan suhu di pagi hari.


Tanganku bergerak untuk membuka halaman buku terbaru yang dibelikan oleh Nasya kemarin. Sunyi, aku menikmati situasi ini dengan ditemani kopi hangat yang baru saja kubuat beberapa saat yang lalu.


Aku menghembuskan napas. Benar-benar situasi yang tenang. Aku kembali membuka lembar baru dan menikmati buku, tapi ini berakhir ketika terdengar suara langkah kaki yang mengganggu.


Klark


Bola mataku menoleh dengan malas ke arah sumber suara. Aku dapat melihat Sofie yang terlihat berlutut dan sedikit mengeluarkan keringat, dia seperti baru saja lari, apa yang dia lakukan.


Sofie menyeka keringat dan mengatur napas, kemudian menatapku. “Aku punya kabar yang mengejutkan jadi dengar!”


“Apa itu?”


“Orang tuaku akan segera pulang!”


“Ohhh, kalau begitu aku tidak perlu lagi menginap. Ini sudah 1 minggu lebih pasti ibuku akan marah, jadi kapan mereka akan pulang? Besok?”


Sofie menggelengkan kepala, dia berkata dengan wajah panik. “Mereka sekarang sedang berada di perjalanan, kemungkinan 5 menit lagi akan datang.”


“Kalau begitu bagus- Tunggu, 5 menit lagi?” tanyaku yang dibalas anggukan.


Ini gawat mengingat aku adalah pria yang tinggal di sini selama satu minggu, pasti orang tua mereka akan berpikir yang tidak-tidak, Sofie tak bodoh dia sadar akan hal itu makannya dia bercerita tentang ini. Pasti Sofie ingin segera aku pergi, karena itulah Aku dengan cepat berdiri dari kursi ruang tamu.


“Maaf Sofie, untuk kepentingan bersama aku harus segera pulang-”


***Ting


Ting***


Bersamaan dengan waktu aku berdiri, suara bel telah mengeluarkan suara yang sangat nyaring, membuat aku maupun Sofie menjadi panik. Mereka pasti adalah orang tua Sofie, ini beneran gawat.


“M-mereka sudah datang, hahaha…” Sofie mengeluarkan senyuman masam. Sudah berakhir, entah apa yang akan mereka katakan.


“Sofie kami sudah berada di depan! Bisa buka pintunya?”


Suara nyaring berbunyi. Ini adalah suara dari wanita yang cukup tua, ini pasti ibunya Sofie.


“Maaf, Sebastian, ikut aku sebentar!”

__ADS_1


Sofie meraih tanganku, menyatukan dengan miliknya dan berlari ke arah kamar. Sofie membuka lemari baju dan mendorong tubuhku dengan pelan ke situ.


“M- maaf, ini akan sedikit sempit, tapi tahan, ya. Akan sangat bahaya jika kedua orang tuaku lihat kamu. Nanti kalau ada kesempatan untuk kabur akan ku kirim pesan, kamu bisa langsung pergi ketika menerima pesan dariku..” 


Dengan wajah tidak enak dia berkata panjang lebar dan aku hanya menganggukan kepala sebagai jawaban. DIa menutup pintu lemari dan sekali lagi meminta maaf.


**


Sofie menutup pintu lemari menyembunyikan Sebastian di sana. Tampak ada rasa bersalah yang luar biasa dari raut wajahnya, dia menatap lemari dan bergumam, “Maaf Sebastian.”


Dia kemudian pergi dari kamar dan mengurus kedua orang tuanya yang sudah menunggu di bawah.


Klark


Sofie membuka pintu, mempersilahkan kedua orang tuanya untuk segera masuk.


“Sofie, apa kamu baik-baik saja? Tidak ada hal aneh yang terjadi, kan?” 


Ibu dari Sofie yang bernama Dewi memeluk anak semata wayangnya tepat di depan pintu masuk, dia memberikan kehangatan di setiap pelukannya. Kedua orang tua Sofie tentu saja paham akan kondisi sang anak. Mereka wajarnya tidak pernah pergi meninggalkan Sofie, tapi mau gimana lagi ada pekerjaan yang memaksa mereka.


“Tidak ,apa-apa. Ah, ibu tahu? Aku akhirnya punya teman yang baik dia membantuku dalam banyak hal.” 


“Ayo masuk, ayah dan ibu. Aku sudah menyiapkan makanan, loh,” ucap Sofie dengan tersenyum.


Ayah dari Sofie tersenyum bangga dan membelai rambut anak perempuannya, dia merasakan rasa bangga yang tinggi.


Tak menunggu waktu lama mereka menikmati makanan di meja ruang tamu dengan penuh kebahagian, walaupun Sofie sedikit tidak bisa menikmati situasi ini mengingat Sebastian masih di kamarnya.


“Oh, ya Sofie. Apa beneran tidak terjadi sesuatu? Kamu terlihat lebih pucat dari biasanya,” ucap Pak Arto, ayah dari Sofie. Dia sadar bahwa sesuatu terjadi dengan anaknya.


“Tidak, aku seperti biasa saja. Hanya saja aku terkejut, ayah dan ibu datang sangat mendadak.” Sofie berusaha mengelak, tapi tidak bisa menutupi wajah pucatnya. Dia takut bila mereka tahu ada Sebastian di sini.


Kedua orang tuanya cukup ketat tentang hal ini, Sofie paham itu, jadi sebisa mungkin dia tidak mau Sebastian terkena amukan.


“Apa kamu serius?” Pak Arto menatap curiga. “Jangan bilang kamu membawa teman cowok ke sini?” 


Deg..


“Hahaha, hanya bercanda. Mana mungkin Sofie berani dekat dengan lelaki.” Arto tertawa tampaknya itu hanya bualan sementara, sedangkan Sofie jantungnya hampir copot, karena itu 100 persen benar. Dia memasang senyuman penuh terpaksa.


Waktu berjalan, kini semua makanan di meja telah habis tanpa tersisa.

__ADS_1


Ibu Dewi menghela napas, merentangkan tangan ke atas. Dia sangat terlihat mengantuk. “Duh, aku bersyukur anakku jadi sangat rajin, padahal baru saja kami tinggal satu minggu. Tapi kamu dengan cepat menjadi lebih mandiri.”


Mata hitam Bu Dewi terus mengarah ke anaknya yang terlihat mencuci piring di dapur, sedangkan Sofie hanya tersenyum mendengar ucapan dari sang ibu.


“Kamu bisa cepat menjadi lebih mandiri, karena memang karena kami? Atau jangan bilang kamu membawa teman cowok dan melayaninya, maka dari itu kamu lebih mandiri? Yah.”


Deg..Jantung Sofie sekali lagi bergetar karena insting dari dua orang tuanya sangat kuat.


Sunyi suasana sangat berat, sebab pertanyaan dari sang ibu Sofie bahkan tidak menjawab, dia tidak menoleh ke sang ibu.


“Hahahah, bercanda Sofie.. kalau begitu ibu akan pergi ke kamar ibu, jadi kuserahkan masalah ini ke kamu.” Bu Dewi berjalan dan menjauh. Sofie menghela napas lega.


Ayahnya sedang di kamar dan ibunya juga ke kamar. Sofie berpikir bahwa mereka pasti tertidur sekarang, jadi dia memberikan pesan ke Sebastien untuk segera pergi.


[Sebastian, ayah dan ibuku sudah ke kamar masing-masing, jadi kamu segeralah pulang]


[Jadi seperti itu, oke. Aku akan segera pulang, jawa keselamatan, oke. Kalau ada apa-apa telepon aku.]


[Ya, maaf banget ya, kalau kesannya seperti mengusir, padahal kamu menemaniku untuk satu minggu, tapi sifatku seperti ini.. Aku benar-benar minta maaf]


[Tidak apa-apa, jika aku tidak pergi malah akan membuat ke salah pahaman.]


[Tapi, Sebastian apakah kamu mau ke sini lagi kapan-kapan?]


[Tentu saja]


Sudut bibir Sofie terangkat menciptakan senyuman. Dia menutup ponsel miliknya dan menghela napas lega. 


Dengan seperti ini tidak akan ada kesalahpahaman.


Dia lega setidaknya Sebastian tidak akan kena marah oleh kedua orang tuanya. Karena dia yakin mereka pasti memikirkan yang tidak-tidak, dia sekali lagi menghela napas, merasa tenang, namun ketenangan itu lenyap seketika karena suara.


“Siapa kamu!?”


Ini adalah suara ayah sofie, rasa tenangnya kini menjadi kepanikan. Sebastian pasti tanpa sengaja bertemu dengan ayahnya.


Dia sangat panik langsung bergegas ke atas menuju kamarnya dan di sana dia melihat jelas Sebastian dan ayahnya yang saling menatap.


“Sofie dia siapa?!”


Sial, berakhir sudah. Apa yang harus kulakukan sekarang?

__ADS_1


__ADS_2