
Aku dan Rijal berlari dengan sekuat tenaga menuju rumah Sofie karena merasakan hawa bahaya di sana. Saat kami melangkah tanpa sengaja aku berpapasan dengan calon pelaku yang selama ini kucurigai yaitu Angga.
Dia berjalan sambil meminum minuman kotak dan bersenandung dengan sangat santai seolah tidak memiliki beban apapun, karena emosi aku tidak bisa berpikir jernih. Dia pasti pelakunya, itulah yang terlintas dalam pikiranku.
Kakiku melangkah menuju Angga yang bersenandung itu meningalkan Rijal yang kebingunan atas tindakan ini.
Aku menarik kerah Angga dan memberikan tatapan tajam kepadanya. “Apa yang kamu lakukan ke Sofie?”
Dia membuka mata lebar tampak bigungg. “Apa yang kamu katakan tiba-tiba?”
“Jangan berlagak bodoh! Aku tahu kamu melakukan sesuatu dengan Sofie, sekarang katakan kepadaku di mana dia!”
“Tunggu aku benar-benar tidak tahu apa yang kamu katakan?”
Dia masih berpura-pura, atau sesungguhnya Angga memang tidak tahu apa-apa? Tapi bagaimanapun aku terlalu hanyut dengan emosi. Pikiranku tidak bisa terkontrol.
__ADS_1
“Kamu bekerja sama dengan Rangga, kan?” tanyaku menegaskan, saat ini aku sangat marah.
Angga makin tidak terima dia mau menyangkal ucapanku dengan penuh emosi. Dia menepis tanganku dan menatap tajam. Kami seperti ingin bertengkar sekarang.
“Tenanglah kalian semua!”
Saat kami sedang menatap saling benci, tiba-tiba Rijal menghampiri kami berdua membuat emosi kami lenyap dan tenang. Benar yang dikatakan Rijal, tapi Angga adalah orang yang patut dicurigai.
Kami semua terdiam dan saling menatap untuk beberapa detik. Angga menghela napas, menatapku dengan mata yang lebih tenang daripada sebelumnya.
Aku masih tidak percaya dengan ucapan dia, abagaiman bisa sesorang seperti Angga melupakan tentang Sofie dan menyerah, awal kali aku dekat dengan Sofie dia mengancamku dan kini menyerah? sangat aneh. Wajarnya aku tidak akan percaya dan membantah perkattan itu, tapi ini bukan waktu yang tepat untuk berkelahi.
Aku menghela napas berhenti berpikir dan mencerita semua yang terjadi, tentang Rangga dan semua kecurigaanku tentang Angga.
Dia menyimak dan memegang dagunya. “Jadi begitu, kamu masih ragu denganku? Yah mau bagaimna lagi. Tapi bukannya ini waktu yang tepat? Aku akan membantumu dan membuktikan bahwa kecurigaanmu salah.”
__ADS_1
Dia mendekatkan tangan dan mendekatkan ke arahku. Dia benar beberapa hari yang lalu dia sempat menawarkan hal yang sama, tapi banyak hal terjadi aku tidak sempat memberi jawaban.
walau agak ragu aku memutuskan menerima jabatan tangan itu. Hari ini kami akan saling membantu.
Angin berhembusan menerpa kedua rambut kami. Pada saat itu aku tanpa sengaja menatap sosok mencurigakan di belakang Angga.
Dia terlihat memakai jaket hitam dengan tudung dan memakai masker menutup wajahnya. Aku kenal dengan sosok itu, dari arahnya berjalan itu adalah rumah Sofie.
Jangan bilang dia adalah semua biang kerok, aku mengertakan gigi dan berteriak sambil menunjukan tangan ke sosok itu.
“Itu dia!” Angga dan Rijal membuka mata lebar tampak terkejut dengan teriakan mendadakku.
Aku langsung berlari mengejar sosok mencurigakan itu, meningalkan Angga dan Rijal yang masih merespon keadaan.
Angin terus berhembus setiap aku mengejar sosok itu. Akhirnya aku menemukan dia, pasti segala masalah berasal dari dia.
__ADS_1