
Situasi dengan cepat menjadi lebih mencengkramkan, ditambah lagi sekarang Adit membawa piasu kecil yang berada digenggaman tangannya. Jika aku lengah akan bahaya mulai sekarang sebisa mungkin aku harus berhati-hati.
Saat sedang terdiam dan menganalisis situasi, tiba-tiba Aditya menerjangku dan mengayunkan pisau ke kanan, aku memang berhasil menghindari, tapi pipiku tergores. Membuat pendarahan yang tidak mau berhenti.
Aku mengusap darah di pipi dengan tangan kanan. Mundur menjaga jarak dari Aditya yang sekarang sangat bahaya ini. Aku menaikan kewaspadaan.
Bibir Aditya terangkat, dia tertawa kecil. “Ini menyenangkan aku jadi ingat masa lalu. Kita dulu sering sparing bersama, kan Bos?”
Aku mengabaikan ucapannya dan menyeka darah yang masih tidak mau berhenti. Jujur saja ini tidak menyenangkan sama sekali.
Melihat aku yang terdiam tanpa ekpresi membuat Ardian menjadi marah. Dia kembali menyerangku, mengayunkan piasu dengan vertikal.
Kuhindari serangan itu dengan menolpat ke kanan. Saat sedang berada di udara, dia memberikan tendangan memutar. Ini juga berhasil kutahahan menggunakan tangan kiri.
Dia menyeringai melihat serangan yang berhasil kuhindari, tapi pada akhirya aku mental. Tendangan dari Aditya cukup keras sehingga aku terpaksa terpental dan menabrak beberapa rak kosong di sana.
Kardus-kardus kecil menumpuk tubuhku. Membuat tidak bisa bergerak. Aku pusing untuk beberapa detik, di balik tumpukan kardus aku dapat melihat sosok Aditya yang hendak menusuk tubuh terkapar ini dengan piasu. Dia serius ingin membunuhku.
__ADS_1
Aku tidak bodoh, tentu saja aku melemparkan salah satu kardus di sana. Membuat Adi merintih kesakitan dan pada kesempatan itu aku kembali berdiri.
Kami berdua saling menatap bersamaan. Napas saling berantakan, cairan keringat berjatuhan di pipi kami.
Yang Rijal katakan benar, mereka semua bukan orang normal. Beruntung tiga orang yang dibelakangku sedang ditahan oleh Rijal dan Angga. Jika tidak pasti sekarang aku mati, aku sedikit menyesal tindakan gegabah ini.
“Hei kenapa kamu tidak mau menerima pisau ini dengan menerima sama saja kamu tidak melarikan diri dari tangga jawab lo,” ucap Aditya dengan menodong ke arahku.
Aku menyeringai. Apa dia kira aku bodoh hingga menerima ucapan tidak bermutu seperti itu? Sungguh konyol.
“Jangan tersenyum bodoh!”
Adit tampak emosi berlari dan menusuk pisau ke arahku. Menyeringai, aku menerima serangan itu. Menahan menggunakan tangan kananku.
Dia tampak terkejut karena aku menerima pisau tajam itu. “Kenapa kamu tidak menghindari.”
“Karena aku tidak mau lari dari tanggung jawab, apa yang kamu katakan benar. Segalanya adalah salahku, jika aku tidak gegabah, pasti adikmu dan kamu tidak menderita. Dan aku gagal sebagai teman, jika aku bisa menemaimu saat sedang terpuruk ini tidak akan terjadi … jadi maaf.”
__ADS_1
Aku tahu kata maaf tidak akan berguna. tapi saat kutatap mata Adit, dia terlihat seperti terharu walaupun dia berusaha menutupinya.
Aku menutup sedikit mataku, Pergelangan tanganku serasa sangat sakit, pisau itu menembus tangan darah terus bercucuran tidak mau berhenti. Ini karena aku sok keren. Aku menahan rasa sakit di tangan dengan cara mengigit bibir.
“Jangan jadi menyedih kan, Adit. Cukup katakan di mana Sofie berada dan mari kita lakukan pertemanan seperti biasanya, tidak ada gunanya bertarung. Alasan kenapa kamu memancingku adalah agar aku sadar dan bisa menolongmu kan?
“Ini sangat aneh, jika kamu berniat membalas dendam denganku, maka kamu bisa membunuh Sofie dengan lebih cepat bahkan dari dulu, tapi kamu hanya sebatas mengikuti Sofie saja. Itu karena ada keraguan di hatimu, bukan? Di dalam hatimu sebenarnya kamu masih menolak untuk melakukan ini.” lanjutku.
Dia menundukan kepala dan meneteskan air mata.
“Maaf, maaf, sepertinya kamu benar. Ada rasa aneh ketika aku membututi gadis itu, Setiap melihat wajahnya aku teringat adikku yang sedang di rumah sakit. tapi tetap saja aku tidak bisa melakukan apapun, ini karena aku masih ragu, itulah kenapa aku menyewa orang-orang untuk membuat Sofie menderita. Maaf, tolong hentikan mereka semua! Aku tidak mau terhantui oleh rasa bersalah” Pada akhirnya dia mengakui kesalahan dan menangis.
Isakan demi isakan keluar, aku merangkul teman kecilku. “tenang saja aku akan melakukan apapun.”
Setelah itu dengan napas berantakan Rijal dan Angga berjalan kearahku, menatap sedikit bingung. tampaknya mereka juga telah selesai. Tigs orang yang berada di belakang tampak terkapar dengan sangat lemah.
Aku tersenyum bangga. “Ayo selamatkan semua gadis di sekolahku.”
__ADS_1