Gadis Dingin Yang Ceria

Gadis Dingin Yang Ceria
Chapter 26. Mencari hadiah


__ADS_3

Hari telah menjadi gelap gulita, awan yang sebelumnya cerah kini telah tertutup oleh warna kehitaman yang ditemani oleh bintang-bintang.


Sebelum pulang ke rumah aku mengajak Sofie pergi ke suatu tempat, aku bilang kepadanya untuk bermain di mall dan dia terlihat mengangguk dengan senang hati.


Tepat pada saat ini aku mencari hadiah untuk ulang tahun Sofie, mataku terus terfokus ke tumpukan boneka yang ada di hadapanku.


Sedangkan Sofie kini sedang mencoba beberapa baju di balik tirai yang berdekatan dengan tumpukan boneka ini.


Saat kita menginjak kaki di Mall Sofie tampak sangat senang, dia tersenyum berlari-lari kecil seperti anak kecil, aku sampai kerepotan untuk mengikuti anak itu.


Hingga pada akhirnya aku memegang tangan dia dan merekomendasikan untuk membeli pakaian aku juga menawarkan diri untuk menilai pakaian yang cocok untuk dia gunakan,, itulah yang terjadi beberapa saat yang lalu.


Mengingatnya membuat aku sedikit tersenyum, Sofie beneran sangat berenergi dan ceria, aku sampai sekarang masih tidak percaya.


Senyuman itu perlahan memudar karena ingat akan perkataan aku dan Angga pada saat istirahat tadi.


Pada akhirnya aku tidak menjawab apa yang aku inginkan karena bel telah berkumandang jadi aku belum memberikan jawaban atas tawaran darinya.


Namun... bagaimana aku harus mengatakan ini aku sangat bingung dengan si Angga aku semakin bimbang tentang pelaku Stalker yang sebenarnya.


"Bagaimana menurutmu, Sebastian?"


Aku mendengar suara gadis di belakangku. Tubuhku bergerak ke belakang dan mendapatkan Sofie sudah berganti pakaian dan terlihat sangat cantik.


Dia memakai gaun one piece berwarna hitam polos dengan kerah putih dan lengan yang panjang. Warna hitam itu cukup berpadu dengan rambut panjang yang terurai milik Sofie, setiap dia bergerak rambut akan bergoyang dan pipinya yang cembung serta agak kemerahan membuat dia menjadi bertambah imut.


Dengan cepat dia menjadi pusat perhatian para pengunjung, ya, aku tidak menyalahkan mereka semua. Sofie sangat cantik.


"Aku sangat suka dengan pakaian itu kamu sangat cocok!" sahutku dengan senyuman.


"Tapi, Sofie bagaimana dengan ini."


Aku memegang tangan Sofie dan membawanya ke tempat yang dipenuhi oleh pakaian. Aku mengambil hem warna cream, kaos polos warna putih, dan rok warna merah.


"Apa menurutmu aku akan terlihat lebih cantik jika pakai itu?" Dia bertanya dengan sedikit malu.


"Ya, jujur saja Sofie sudah cukup cantik bahkan tanpa memakai baju-baju seperti itu, tapi aku akan senang jika kamu memakai baju yang kupilih."


Dia merona dan menjawab dengan sangat cepat, "Akan kupakai, jika kamu senang."


Sofie mengambil semua dan berbalik dia sekali lagi menuju ke ruang ganti.


Aku menghela napas lega, jujur saja tadi aku asal pilih, meskipun aku merasa bersalah. Tapi aku mana bisa membeli boneka yang kujadikan kado ulang tahun di depan Sofie.


Jadi aku sengaja menyarankan baju baru agar dia kembali ke ruang ganti.

__ADS_1


Dan selain itu aku benci saat Sofie menjadi pusat perhatian, gaun one piecenya terlalu cantik, aku tidak mau Sofie jadi pusat perhatian para lelaki.


Dengan ini aku bisa membeli yang aku mau dengan sangat cepat aku asal pilih satu boneka anjing, tapi aku membeli satu barang lagi. Yang ini adalah kado beneran dariku, aku yakin Sofie pasti akan senang dengan yang satu ini.


Aku bergegas ke kasir dan membayarnya dengan kecepatan turbo sebelum si Sofie selesai bergantian.


"Huh, tadi nyaris banget."


Aku mengeluh sendiri, sekarang tangan kananku telah terdapat satu barang yang berisi kado untuk dia.


Dan aku masih menatap tirai Sofie yang masih terbuka.


sekitar lima menit berlalu dan Sofie akhirnya keluar dari ruang ganti.


Seperti yang kupikirkan dia tampak lebih cocok dengan pakaian yang sederhana ini.


"Yap, k- k- kamu cantik."


"T- Terima kasih."


Dia berpaling dan memerah, bener-benar imut.


Seperti yang kuduga para Pandangan orang sedikit berkurang mungkin karena menganggap Sofie yang menggunakan hem tampak biasa, tapi bagiku Sofie tetaplah Sofie, mau pakai apapun dia akan cantik.


Sofie terlihat melirik tangan kananku yang membawa plastik.


"Oh, ini.. ini.. eee.. Rahasia lelaki."


Bodoamat aku menjawab dengan asal dan entah kenapa Sofie makin merona karena mendengar jawaban dariku.


"J.. j.. jadi begitu mau gimana lagi, Sebastian adalah lelaki sih.."


Aku tidak tahu bagian mana dia bisa salah paham, tapi pasti dia berpikir yang tidak-tidak.


"Lupakan tentang itu dan mari pulang."


"Eh, tunggu dulu, aku harus melipat baju ini.."


Aku tidak merespon perkataan dari Sofie, aku memegang tangan Sofie yang penuh celah itu.


"Sebastian?"


"Tidak perlu dilipat, tetap pakai saja sampai pulang."


Aku tak melihat ke belakang agar wajahku yang sedikit malu tidak terlihat oleh Sofie.

__ADS_1


Sofie terdiam untuk beberapa saat dan akhirnya menjawab, "Baiklah kalau kamu sebegitu sukanya maka akan kupakai sampai kamu puas."


***


Waktu berjalan cukup cepat sekarang kami berdua sudah berada di rumah secara bersama. Sofie saat masih mandi di bawah kamar mandi sedangkan aku mengatur kado ulang tahun Sofie dan menyembunyikan di tas sekolah milikku.


Semoga dia tidak tahu hal ini, jika dia tahu aku membawa kado maka hilang sudah rasa kagetnya.


Klrak


Pintu kamar terbuka


"Aaaaa!!" Karena terlalu hanyuk dengan pikiran aku terkejut.


"Hei, kenapa kamu berteriak?"


Aku menoleh ke belakang dan melihat Sofie yang rambutnya telah basah kuyup dan handuk bergantungan di bahunya, aku bisa mencium aroma sampo dan beberapa wangian dari jarak ini.


"Gak papa aku cuma terkejut."


"Hmm... omong-omong... apa kamu sudah melakukan.. itu?" tanya Sofie dengan wajah memerah.


" Itu? Maksudnya?"


"Barang yang kamu katakan tadi loh... tentang rahasia laki-laki... kamu tidak perlu repot-repot beli seperti tisu karena di rumah sudah ada... tapi jika minta kamu pasti malu ya."


'Hah? Apa yang dia maksud, seberapa besar dia salah paham?'


Tapi tunggu. Tissu, rahasia laki-laki, malam hari, sendirian di kamar. jangan bilang yang dia maksud adalah..


Pipiku dengan cepat memanas karena menyadari yang dimaksud Sofie, di sisi lain aku bingung bagaimana bisa dia salah paham sampai ke situ.


"Jangan salah paham!! Aku bukan laki-laki seperti itu!"


Aku membantah dengan nada yang tinggi meluapkan semua emosi itu.


"Tapi... rahasia laki-laki adalah melakukan itu kan? M- maksudku kamu tidak bersalah! Kita hidup berdua sendiri di sini, j- j- j- jadi jika memiliki keinginan semacam itu sangat wajar, lagipula Sebastian lelaki."


Dia menjelaskan dengan wajah merah padam. Apakah dia bodoh? Kenapa dia bisa memikirkan hal seperti ini?


"Bukan!!! Aku bukan lelaki seperti itu! Sofie tolong jangan salah paham."


"Tidak apa-apa, i- itu sudah sangat wajar untuk lelaki. jika kamu tidak masalah aku bisa b- b- b- b- bantu kok, toh aku juga salah di sini karena memaksamu tinggal.... l- lihat aku sudah mandi terlebih dahulu, jadi a- a- aku bisa bantu kamu." Dia bilang dengan wajah sangat merah padam dan terbata-bata.


Baj**gan, dia tak mendengar sama sekali dan juga bagaimana bisa gadis mengatakan hal ini.

__ADS_1


Aku menghirup napas mengumpulkan kekuatan dalam satu teriakan keras ini.


""SUDAH KUBILANG BUKAN SEPERTI ITU!!""


__ADS_2