
Bel berdering menciptakan alunan nada yang menghentikan aktivitas belajar mengajar. Pak Fajar- Guru IPA kami yang sedang memegang kapur barus terpaksa harus menghentikan niatan untuk menulis rumus di papan tulis. Dia menghela napas berbalik untuk menatap para anak muridnya.
“Baik anak-anak ini adalah waktu istirahat silahkan meluangkan waktu kalian.”
Suara seruan riang terdengar, kelas menjadi bising karena teriakan kebahagian para murid. Aku menghela napas. Sedikit merasa tidak enak dengan pak Fajar, anak-anak ini sangat senang apabila pelajaran dari beliau tertunda.
Pak Fajar menepuk-nepuk buku paketnya, dia mengangkat laptop dan tasnya. Membawa ke pundaknya, beliau berjalan, sekali lagi menoleh serta melambaikan tangan. Membuka pintu keluar berwarna coklat dan menghilang.
Kepergian dari Pak Fajar menciptakan helaan napas kepuasan, mereka semua mengatakan sangat tidak enak pelajaran IPA dari Pak Fajar. Aku menatap kegaduhan kelas yang terjadi, mengabaikan semua ini dan merogoh tas, mencari uang jajan.
Saat sibuk dengan aktivitasku sendiri, tatapanku bertemuan dengan Sofie untuk beberapa detik, dia sudah berdiri dan hendak pergi dari kelas sambil membawa bekalnya. Aku menebak pasti Zilla dan Nasya mengundangnya makan bersama.
Kami bertatapan untuk sekian detik dan Sofie pergi meninggalkanku dengan senyuman. Tadi pagi dia bercerita untuk membiarkannya sendiri bersama teman perempuannya, jadi kami berpisah untuk hari ini.
Aku tidak membawa bakal jadi sepertinya aku akan ke kantin. Sudah sejak lama tidak pergi ke sana. Aku berdiri dari bangku kayu, beranjak keluar kelas. Berjalan ke kanan, menuruni tangga.
Sedikit bernyanyi kecil, tangan ku letakkan di saku. Saat sedang asik sendiri tiba-tiba seseorang menepuk pundak dari belakang, membuatku berkata “Aduh” sekilas. Aku menoleh. Siapa orang gabut yang mengganggu di tangga.
Saat ini aku menatap seorang siswa lelaki dengan rambut sedikit berantakan, kemeja putih yang tidak dimasukan dalam celana, dan memilih hidung sedikit runcing. Aku kenal orang ini.
“Ardian, apa maumu?” tanyaku, menatap sendu mengganggu.
Dia terkekeh. Ikut menuruni tangga dengan menggaruk kepala yang tidak gatal. “Jangan dingin lah, sudah lama kita tidak pergi berdua saja, kan?”
Aku menghela napas. Melupakan dia yang bertindak seenaknya. Kakiku terus melangkah ke bawah tangga. “Ya, kamu benar,” sahutku singkat.
“Itu karena kamu sibuk dengan masalah Sofie jangan lupakan aku.”
“Ya ya, maaf.” Aku mengabaikan dia. Setelah beberapa detik kaki kami menyentuh permukaan.
__ADS_1
Aku dan Ardian melangkah lurus ke lorong sekolah, beberapa murid tampak sudah keluar dari kelasnya. Ada yang bermain bola di halaman sekolah, ada juga yang nongkrong di depan kelas sambil bermain game MOBA bersama.
Kami berdua sedikit bercakap kecil, mengabaikan para siswa yang berlalu lalang. Ada belokan di lorong, untuk menuju kantin kami harus melangkah ke sana.
Sesuai dugaan, kantin cukup ramai. Beruntung setidaknya ada satu kursi dan meja kosong di pojokan. Aku duduk di kursi kosong itu, buru-buru, agar tidak digunakan oleh orang lain. Sedangkan Ardian memesan makanan.
Aku meminta dia Soto, sedangkan Ardian akan membeli Bakso. Aku kini sendiri, menunggu pesanan jadi. Aku membuka Ponsel, memeriksa apakah Sofie mengirim sesuatu, dan benar saja dia mengirimkan satu foto selfie, di sana ada Sofie, Nasya, dan Zilla. Semua tampak berdempetan dan tersenyum, tampak asik.
Melihat foto itu membuat bibirku terangkat. Aku membalas pesanan dari Sofie, menyuruhnya untuk bersenang-senang. Setelah itu aku mematikan Ponsel dan menaruhnya kembali di saku.
Saat aku melepaskan pandangan dari Ponsel akhirnya aku sadar. Aku menjadi bahan bicaraan dan tontonan di kantin. Aku menatap bingung, apa aku melakukan sesuatu?
Pikiran bingung terlintas untuk beberapa detik dan setelah mendengar seksama gosipan mereka aku sedikit paham alasan aku menjadi artis dengan cepat.
“Itu Sebastian, bukan? Aku dengar dia jadian sama Sofie, lo,” Bisik lelaki yang menatapku tidak jauh.
“Tidak kusangka Sofie memiliki pacar, kukira dia milik kita semua.”
Kata “Milik kita semua” membuatku sedikit emosi. Untung hari ini aku tenang kalau tidak tanpa sengaja aku melemparkan wajah para penggosip ini dengan garpu atau sendok.Beruntunglah kalian.
“Tapi kukira Sofie punya kak Angga.”
“Sayangnya Kak Angga juga ditolak.”
“Heh, hebat juga Sebastian ini.”
“Dia berani banget ya, aku tebak pasti Kak Angga dan Ranga beserta grupnya tidak akan diam setelah ini, dia pasti akan menerima masalah.” Dan seperti itulah bisikan para penghuni kantin, mereka tukang gosip.
“Kak Angga masih mending, tapi Rangga, dia pasti mampus karena merebut Sofie,”
__ADS_1
Aku menoleh ke para penggosip ini dan dengan cepat mereka terdiam. Tidak aku bukan marah karena menjadi bahan bicaraan, hanya saja Rangga. Aku tidak pernah dengar nama itu, apa dia terkenal? Aku mencoba menanyakan itu ke para penggosip dan mereka menjawab dengan sedikit gemetaran, apakah Rangga semenakutkan itu?
“Aku heran kamu tidak tahu nama itu, dia adalah kelompok berandalan dari sekolah ini loh, menurut kabar dia sangat menyukai Sofie dan apabila ada yang berusaha mendekati Sofie maka nasibnya akan mampus.. setelah hampir tiga tahun sekolah bagaimana kamu tidak kenal dia?” jawab si penggosip.
“Maaf, aku tidak terlalu suka mengurusi hal kecil, apalagi kelompok preman,” sahutku tidak menoleh.
“Oi, jangan seperti itu! Apa kamu tidak takut setelah mendengar itu?”
“Tidak,” sahutku singkat. Setelah itu dia terus bercerita tentang seberapa mengerikannya Rangga, seperti tukang masuk BK, bahkan dia sepertinya terlibat dari bisnis gelap seperti narkob*
Aku menghela napas. Mendengar semua cerita dari sang penggosip, tidak membuatku bergidik ngeri satupun, malah merasa bahwa ini menarik.
Jika rangga orang yang menakutkan seperti cerita maka besar kemungkinan, dia terlibat dari masalah Stalker Sofie, apalagi dia terobsesi dengannya. Kalau Angga, aku sekarang sudah tidak menaruh curiga ke dia. Bahkan setelah aku berpacaran, dia tidak kunjung menyerang.
Jadi mungkin dia sudah menyerah, yah, sekarang Rangga lebih penting.
“Nih, Sotonya.” Ardian menaruh Soto di meja, dia tampak sudah duduk dan siap makan. Berkat Ardian aku akhirnya terbangun dari pikiran sendiri.
Aku menghela napas. Berpikir sekarang percuma lebih baik makan dulu. Aku mengambil sendok dan menyantap Soto yang kubeli.
Hem, aku suka rasanya ini. Hangat dan segar.
Saat sedang fokus dengan makananku sendiri Ardian menatap segala arah, memperhatikan murid yang menatap kami.
"Lupakan tentang mereka," sahutku lirih. Dia mengangguk dan kini menatapku.
"Kamu benar, hanya karena jadian dengan Sofie kamu cepat menjadi artis, tapi hati-hati. Aku sudah tahu kondisi Sofie, Stalker, dan beberapa hal lain itu bukan hal yang patut dicampuri urusannya oleh anak SMA seperti kita. Dan juga berhati-hati dengan Rangga, oke!" Dia tampak mengeluarkan ekspresi khawatir.
Aku sedikit menelan ludah dan menganggukkan kepala. Emangnya separah apa Rangga itu?
__ADS_1