Gadis Dingin Yang Ceria

Gadis Dingin Yang Ceria
Chapter 37. Ada apa dengan dia?


__ADS_3

...[Nasya POV]...


Waktu berjalan cukup cepat kini sudah waktunya untuk pulang, aku mengangkat tas ke pundak dan berjalan turun ke tangga.


Aku masih sedikit merasa terkejut tidak menyangka bahwa Sebastian adalah orang yang aku cari, Little sun.


Dan yang paling menyedihkan dia sudah memiliki orang di sampingnya, Sofie merebut orang yang kusukai.


Aku terus berjalan sambil memikirkan gadis itu. Aku tidak suka dia, dulu awalnya aku sempat mengidolakan Sofie, tapi lama-lama timbul rasa iri di hatiku. Tidak cukup dengan banyak pria dia juga merebut orang yang aku sukai.


"Cih, aku harap dia lenyap."


Aku tidak tahu kenapa aku bisa sampai seperti ini bahkan jujur saja, aku sedikit jijik dengan sikapku.


Saat aku melangkah dan melangkah, tiba-tiba aku mendengar suara hentakan kaki, seperti orang berlari menuju ke arahku.


Saat menoleh dan menatap sumber suara, aku dibuat sedikit terkejut karena orang yang sedang aku benci berdiri tepat di depanku.


'Sofie? Apa niat dia ke sini.'


Sofie terlihat ngos-ngosan pasti karena berlari mengejarku.


"A— ada apa?" tanyaku. Menatap Sofie yang napasnya berantakan.


"... itu... apa kamu sibuk?"


Dia sedikit memalingkan wajah dan tampak... malu? Kenapa dia malah terlihat seperti gadis yang ingin menembak orang, pipinya merah sekali, loh.


"Ya, aku nganggur, ada apa?"


Aku pura-pura menjadi ramah dan tenang, berusaha sebisa mungkin bersikap Friendly walaupun aslinya aku benci dia.


"R— rumahku ... aku punya banyak makanan apakah kamu mau ikutan?"


Aku makin tidak paham. Kami bahkan bukan orang yang cukup dekat untuk main di rumah, kami bahkan tidak pernah saling berbicara.


'Apa rencana dia? Apa dia mau mengejek dengan memasang wajah sok polos?'


" ... apa kamu tidak mau?" ucap dia sedikit terlihat sedih.


"T— tidak bukan seperti itu, aku hanya terkejut ini sangat mendadak, emang kenapa kamu mengundangku ke rumah?"


" itu karena ... aku hanya ingin saja makan di rumah masih banyak, takut jika terbuang sia-sia."


Sekali lagi dia tampak malu-malu. Apa Sofie memang orang yang seperti ini? Atau dia ingin mempermainkanku?


Tapi ke rumah Sofie itu bukan hal buruk, aku bisa melakukan hal buruk di sana..


"Tentu aku mau, terima kasih Sofie."


"Eh... ya sama-sama."


Ini sedikit menggelikan, dia seperti orang yang punya tiga kepribadian. Pertama yang tenang, ceria, dan sekarang lugu? Dasar munafik! Dia pembohong.


"Kalau begitu ikutin aku."


Entah kenapa dia tersenyum, ini adalah senyuman yang bahkan aku tidak pernah melihat itu. Bahkan sebagai sesama jenis hatiku bergetar melihat senyumannya, pantas saja dia populer dan ini malah membuat aku makin jengkel dengan dia.


***


"S— sudah sampai."


Sofie membuka pintu rumah. Setelah sekitar 10 menit akhirnya kami sampai, aku sedikit merasa aneh akan sifat Sofie yang sedari tadi bersikap sangat gugup. Tapi aku mengabaikan itu.


Aku menatap ke segala arah dan berkata, "Jadi ini rumahmu? Cukup menarik."

__ADS_1


Aku berjalan untuk mengamati rumah ini, ke dapur, ruang tamu, dan ingin mengecek ke toilet tapi Sofie melarang ke sana. Dia berkata bahwa di sana ada sesuatu yang tidak pantas di lihat.


'Apa itu? Mencurigakan.'


"Lupakan tentang kamar mandi, bagaimana kalau ke kamarku?" Tersenyum. Dia mengeluarkan pancaran dan mata berbinar.


"Y— ya, tentu."


Di kamar Sofie aku bisa melihat satu meja belajar, Sofa pink dan kasur cream. Dan ada dua buah boneka anak anjing.


Aku mendekati boneka itu yang kuanggap mengemaskan. "Apa kamu suka boneka seperti ini?"


"T— tidak, jujur saja aku tidak terlalu suka anjing." Dia mengaruk kepala dan sedikit ragu untuk menjawab.


"Kenapa?"


"Itu karena aku punya masa kelam dengan mereka ... saat masih kecil mereka mengejarku."


Entah kenapa aku bisa membayangkan betapa menariknya jika Sofie di kejar oleh anjing.


Aku tanpa sadar tertawa dan Sofie juga membalas tawa itu dengan senyuman.


"kalau kamu benci anjing lalu kenapa ada di sini?"


"Karena itu adalah pemberian dari orang yang penting."


Aku tahu alur pembicaraan ini, tanpa sadar nada bicaraku menjadi lebih dingin.


"Sebastian kan?"


"Eh? Kenapa kamu tahu?"


"Jawabannya sangat gampang karena kalian ada couple, kan? Jadi aku tahu jawaban itu... dan yang satu lagi? Dari siapa?"


" ... itu... dari Angga." Dia sedikit ketakutan ketika menyebutkan nama 'Angga' tapi aku tidak peduli.


"Sofie mana yang kamu pilih antara Sebastian dan Angga?"


"Sebastian." Dia menjawab tanpa ragu.


Aku hanya terdiam dan mengalihkan wajah. Sepertinya aku sudah tidak punya harapan lagi.


Situasi keheningan mengitari kami berdua. Pada saat ini Sofie akhirnya membuka mulut, menghancurkan suasana sunyi.


"Ini, aku baru buat kue kering tadi."


Dia meletakkan piring yang penuh akan kue. Aku mengangguk dan memakannya. Dan rasanya ternyata tidak buruk.


"Ini enak," kataku memberi pujian. Aku tidak bohong ini memang enak.


Sofie tersenyum mendengar jawaban itu dan dia sedikit membicarakan berbagai hal walaupun dia sedikit gugup dan malu.


Sampai sekarang aku masih bingung kenapa dia bertingkah malu seperti itu?


Aku dan dia terus bercerita, menghabiskan kue kering. Waktu berjalan cukup cepat. Pada saat itu kami terlihat seperti... teman?


Aku tidak yakin Sofie menganggap seperti itu, tapi jujur saja aku masih iri dengan Sofie, meskipun di dalam hatiku berkata bahwa Sofie adalah orang yang baik. Aku masih belum menerima fakta itu.


"Sudah jam 8 malam aku harus segera pulang."


Aku hendak mengangkat tas dan pergi dari kamar, tapi perkataan Sofie menghentikanku.


"Tunggu, aku akan membawakan cemilan untuk kamu."


"Tida usah, repot-repot."

__ADS_1


"Tidak ap-apa, lagipula kita t... teman bukan?"


Dia mengangkat bibir membentuk senyuman dan terlihat malu. Aku tidak bisa menolak lagi, aku terpaksa menjawab "Ya" dan pada saat itu Sofie langsung pergi ke bawah meninggalkan aku sendiri di kamar.


Sekarang aku sendiri..


Kutatap sekujung ruangan, aku fokus ke arah boneka anjing yang dimaksud ok Sofie. Aku melangkah ke sana dan melihat ada satu kalung yang menarik perhatianku.


"Kalung apa ini? Bentuknya love."


Karena penasaran aku memegang kalung itu menatapnya dan membuka kalung itu. Mataku terbuka lebar dibarengi dengan sedikit tangisan, aku sedikit merasakan hati yang terkikis.


Di sini ada foto Sebastian dan Sofie yang terlihat sangat dekat, seharusnya aku yang ada di posisi ini, tapi, tapi..


Aku sudah mencintai orang itu sejak pertama kali bertemu, dia sedikit tampak garang dengan tindikan, tapi orang yang sangat baik dan halus.


Sekarang perawakannya sudah tampak beda seperti orang normal, tapi tetap saja aku masih menaruh cinta dengan dia.


Tapi orang yang aku cintai direbut oleh gadis itu, ini salah Sofie jika saja dia lenyap, seharusnya aku yang ada di posisi ini.


Aku menatap benci ke arah foto itu, sedikit menyeringai dan mengambil kalung itu ke saku celana.


Aku tahu ini salah mencuri barang orang, tapi Sofie juga mencuri orang yang aku sukai jadi aku akan melakukan hal yang sama. Barang seperti ini tidak sepantasnya dia miliki.


Dia pasti akan kerepotan sertifa menangis karena barang ini tiba-tiba hilang, tapi itu yang aku mau. Dia terlalu hidup enak jika dia menderita maka tidak apa- apa kan?


Aku berjalan dan duduk kembali di tempat tadi menunggu Sofie.


Klark


Pintu terbuka menampilkan Sofie. Dia dengan gembira memberikan kue kering dengan plastik aku menerima itu.


Walaupun ada sedikit rasa bersalah ketika melihat senyum tulus itu, tapi aku tidak peduli. Sofie pantas menderita.


"Kalau begitu aku pergi dulu."


Aku berjalan menuruni tangga, saat aku hendak melangkah aku bertemu dengan sosok tak terduga di ruang tamu.


Dia adalah Sebastian.


"K— kamu apa yang kamu lakukan di rumah wanita?" tanyaku keheranan.


Dia yang membaca buku dan melihat TV menatapku dengan terkejut. Seperti sedang melihat hantu mukanya dengan cepat pucat.


Dia menggaruk kepala mencoba mengatakan sesuatu. "... aku punya alasan sendiri, hahaha."


Hahaha, pala kau, apa situasi itu? Apapun situasinya tinggal berdua itu adalah hal tabu. Mereka pasti melakukan hal yang tidak pantas.


Aku meneteskan air mata karena pikiran itu sendiri, 'melakukan hal tidak pantas' memikirkan ituu hatiku menjadi sangat sakit.


"Oi, kenapa kamu nangis?"


Aku tidak menjawab dan berlari dari rumah itu dan membanting pintu dengan sangat kasar.


Aku terus berlari ditengah malam hari yang gelap dan dingin. Tangisan tidak mau berhenti keluar dari mata.


Saat aku sampai rumah aku langsung tidur di kasur memeluk bantal berharap kesedihan ini menghilang entah ke mana.


Orang yang aku cinta pacaran dengan orang lain dan dia tinggal satu atap dengan dia. Mereka pasti melakukan hal-hal seperti itu, aku... aku di dalam hatiku aku masih berharap dia mau melirikku.


Hanya dia orang pertama yang mengobrol dan menerima orang yang membosankan seperti aku. Sebastian kamu adalah orang yang cukup spesial buatku. Tapi bahkan orang spesial itu menghinatiku.


Ini semua salah gadis itu. Auliana Sofie, aku benci dia.


Hari ini aku berharap di adalah orang yang baik karena dia tersenyum sangat manis dan mengundang aku ke rumah, tapi tampaknya itu tujuan dia. Dia sengaja agar aku berpasapasan dengan Sebastian, agar aku cemburu dan menderita, dia pasti tertawa bahagia melihat aku sekarang.

__ADS_1


Sok bersikap baik, tapi ternyata dia adalah ular yang menjijikkan. Baik Sofie maupun Sebastian kalian sangat munafik.


__ADS_2