Gadis Dingin Yang Ceria

Gadis Dingin Yang Ceria
Chapter 62. END


__ADS_3

“Apa kamu sadar dengan apa yang baru saja kamu lakukan?”


Suara tegas mengitari ruangan kepala sekolah. Terlihat sebastian berdiri di depan sang kepala Sekolah, dia sudah siap menerima hukuman, matanya tidak ada penyesalan.


Kepala sekolah menghela napas melihat Sebastian yang tidak merespon apapun. Di dalam hatinya dia merasakan rasa empati karena harus mengeluarkan dia, namun aturan tetap aturan Sebastian sudah melanggarnya.


Tentu saja kepala sekolah tahu kronologi yang terjadi, namun tetap saja dia harus bertindak tegas sebagai orang yang memimpin sekolah. Tidak ada rasa pilih kasih.


“Baiklah Sebastian, aku tahu motif dari tindakanmu. Namun aturan tetaplah aturan. Aku sangat meminta maaf, namun kamu terpaksa dikeluarkan.”


Sebastian tidak berusaha mengelak dan membela diri. Ini adalah hal yang sepantasnya dia dapatkan.


“Tentu saja aku akan melakukan itu, tapi pertimbangkan untuk melakukan sesuatu dengan Angga. Dia gila, aku sudah merekam suara dia, kalau kamu masih tidak cukup percaya.” 


Sebastian menunjukan ponselnya hendak memberikan bukti untuk kepala Sekolah, namun tampaknya itu tidak perlu karena kepala sekolah sudah tahu semuannya. Meskipun di balik gedung sekolah masih ada CCTV


Kepala sekolah setuju dengan syarat Sebastian dia akan melakukan sesuatu ke Angga karena telah hendak melakukan tindakan pembunuhan.


Sebastian yang senang hati tersenyum. Dia menerima hukuman ini hanya saja dia bingung bagaimana menjelaskan semua ke ayahnya. Sebastian membuka daun pintu dan keluar dari ruang kepala Sekolah.


****


“Sebastian aku sudah dengar kabarnya.”


Saat tengah berjalan pulang tiba-tiba Sofie berlari mendatanginya. Sebastian menoleh, bagaimana bisa kabar itu tersebar dengan cepat?


Sofie menunjukan grub angkatan, tampaknya kepala sekolah sudah mengirim pesan tersebut. Dia berusaha memberikan kesempatan untuk Sebastian mengucapkan salam perpisahan sebelum pergi.


“Kenapa kamu diam saja? Jawab!”


Sebastian mengaruk kepalanya, dia ragu untuk menjawab. Namun pada akhirnya dia putuskan untuk menjawab. “Ya, itu benar Sofie.”


Mata Sofie terbuka lebar dan mulai berair. Dia menundukan kepala. “Aku sudah tahu semuanya dari kepala sekolah, katanya kamu melakukan itu demi aku, kan? Kenapa kamu sangat seperti itu?” tanya Sofie dengan isak tangisan yang membasahi pipinya.


“Jika kamu pindah ke mana kamu ingin pergi?” Sofie menatapnya dengan air mata yang basah.


“... kemungkinan aku akan pergi ke kota yang jauh. Mengingat nama burukku yang sudah tersebar luas. Mantan brandal, mana mungkin di daerah sini mau menerimaku.”


Merasa ini adalah perpisahan terakhir, Sofie makin menangis sejati-jatinya. “Kenapa kamu melakukan itu? Kalu begini aku.. aku..aku.. aku akan…”

__ADS_1


“Sofie kamu-” 


“Jangan pergi! Tolong jangan pergi!”


Mata Sebastian terbuka lebar, dia yang sebelumnya sudah mempersiapkan diri untuk pindah sekarang menjadi bimbang. Dia sangat tidak kuat melihat Sofie yang menangis yang bisa dia lakukan hanya menelan ludah.


“Aku tidak ingin kamu pergi, meskipun ini adalah hukuman yang sepatutnya! Tapi Sebastian tidak perlu keluarkan? Kamu hanya melindungiku. Jika kamu pergi aku.. aku.. akan kesepian!”


Mendengar semua keluh kesah Sofie Sebastian tersenyum dengan hangat. Dia sangat paham keinginan Sofie, namun dia tetap harus pergi. Ini adalah hukuman pada dasarnya.


Sebastian berjalan ke arah Sofie, dia menunjukan kalung dari hadiah Sofie.


“Sofie kita tidak akan berpisah selamanya. Kamu memiliki kalung berisi fotoku dan aku juga punya kalung yang berisi fotomu, seperti yang kita ucapkan dulu ‘dibalik kalung kita ada foto kami, ketika kita sedih dan kesepian genggam kalung tersebut dan lihatlah fotonya, kita akan selalu bersama meskipun berpisah’ itulah gunanya aku memberikan kalung itu untukmu.”


Sebastian memang sudah menyiapkan hal ini sejak dulu. Dia paham skenario terburuk seperti ini jadi dia menyiapkannya.


Sofie menyeka air mata. Dia kembali menjadi tenang.


“Bagaimana bisa kamu mengatakan hal semacam ini? Kamu benar-benar pintar mengombal, tapi terima kasih. Aku sudah lebih tenang.”


“Apakah dengan seperti ini kamu merelakanku?" tanya Sebastian.


"Sebenarnya, aku sangat sedih karena kamu harus pergi. Terima kasih atas kebaikan dan pengorbananmu."


"Aku akan merindukanmu, tapi aku tahu ini adalah pilihan yang sehat dan benar untuk kita berdua. Semangat untuk petualangan dan kehidupanmu yang baru,” ucap Sofie panjang lebar dengan senyuman di wajahnya.


Sofie kemudian memberikan ciuman di pipi Sebastian dan berkata. “Ingat janjimu untuk menikahiku, jangan selingkuh! Jika kita bertemu lagi maka kita harus menikah!”


Dia tampak benar-benar terkejut bahwa Sofie akan bertindak lebih jauh untuk memberinya ciuman, dan tampaknya benar-benar malu dan tersipu, tetapi juga tampak sangat bahagia dan bersemangat sehingga dia tersenyum lebar dan wajahnya hampir bersinar sebagai tanggapan.


“Ya, tentu saja. Aku pastikan kita akan bertemu lagi.”


****


Sebuah mobil bergerak di malam hari. Di sana terlihat kelurga Sebastian yang telah berangkat ke suatu tempat.


Sebastian menatap ayahnya, takut dengan reaksinya karena sejak tadi ayahnya hanya diam saja. Sadar terus ditatap Ayah Sebastian membuka mulut dengan tangan yang masih sibuk dengan setir mobil miliknya.


“Itu adalah pilihan yang bagus bukan? Rela keluar sekolah demi melindungi gadis untuk kali ini saja aku tidak marah denganmu, Nak.”

__ADS_1


Meskipun begitu wajah ayah sebastian masih saja tampak kesal. Sebastian tertawa kecil untuk menghilangkan kecangungan.


“Apa Ayah serius, kalau begitu kenapa ayah selalu marah jika aku dekat dengan wanita?”


Ayah Sebastian menatapnya beberapa detik. Mobil berhenti di lampu merah, Ayah Sebastian menepuk setir seperti memainkannya.


“Itu karena kamu terlihat menyedihkan ketika bersama Emilia, aku hanya ingin kamu tidak mengalami kesalahan yang sama.”


Sebastian sebenarnya sudah tahu. Dia berpikir mungkin ayahnya seperti ini, namun jika mendengarkan langsung membuat hati Sebastian jadi tenang. Dia merasakan rasa tentram yang hebat di dadanya.


Senyuman tergambar jelas di wajah Sebastian sekarang dia paham kenapa ayahnya terlalu over. Dia juga lega.


Pada malam hari tersebut mobil melaju dengan cepat, pergi menuju ke suatu tempat yang jauh. Meninggalkan kota tempat mereka tinggal.


****


10 tahun kemudian.


Di sebuah jalan yang padat dan macet. Terlihat seorang gadis yang berambut pendek sebahu, dia memakai seragam kantor. Kondisi saat itu sedanghujan, dia tidak membawa payung sama sekali dan menunggu lampu merah berjalan karena dia hendak menyembarang.


Namun dia merasakan kedinginan karena tidak bisa segera menyebrang. Pada saat itu seorang pria berjalan di sampingnya dan membagikan payung bersama.


Sang gadis berterima kasih bahkan sebelum melihat wajah prai yang membagikan payung tersebut. Saat dia menoleh ke arah prai tersebut dia tersenyum sangat manis dia sangat kenal pria itu.


“Sudah sangat lama, ya 10 tahun. Hahaha.”


“Ya, kamu terlihat lebih dewasa dan cantik dengan rambut pendek itu Sofie.”


Gadis kantoran itu yang tidak lain adalah Sofie tersipu karena di sebut ‘dewasa dan cantik’ dia menahan rasa malunya dengan senyuman.


“Yah, Sebastian juga tampak lebih keren.Terima kasih.”


Mobil melintas mereka masih menunggu untuk menyebrang. Hujan terus berjatuhan, menciptakan genangan air dan suasana yang dingin.


Sofie tersenyum dan menatap Sebastian.


“Apa kamu ingat dengan janjimu?”


Sebastian tidak menjawab, malah memegang tangan Sofie. “tentu saja, aku akan menikahimu, kan.”

__ADS_1


Sofie tampak benar-benar senang mendengar ini, dan tatapan lucu dari sebelumnya menghilang saat dia tersenyum hangat Sebastian. Hatinya terasa hangat ketika mendengar kalimat ‘menikahimu’ Sofie yang sudah menunggu dan masih perjaka untuk 10 tahun tentu saja sangat bahgia.


Dia mengangkat bibir. “Aku mencintaimu.”


__ADS_2