
...[Normal POV]...
Terik matahari yang bersinar cerah, menciptakan suasana terang dan sejuk. Di pagi hari Sebastian terlihat sedang duduk santai sambil menikmati teh hangat, dia menikmati waktu yang ada dengan rutinitas harian. Yaitu membaca buku dan meminum teh hangat.
Dia mengambil gelas, meminum teh dengan santai lalu menghela napas tanda kenikmatan. Dia berlagak seperti pria tua yang kelelahan. Sekali lagi dia membuka lembar buku untuk membaca.
Klark
Pintu ruang tamu terbuka, menampilkan sosok Sofie yang berdadan rapi. Dia menggunakan hem cream dengan baju putih dan tas cangklung di pundaknya. Sekedar mengingatkan hem itu adalah pilihan dari Sebastian, mungkin dia suka dengan pilihan sang pacar.
Sebastian menghentikan aktivitas membaca, dia memutar bola mata untuk menatap Sofie yang hendak seperti pergi entah ke mana.
“Kamu mau ke mana?” tanya Sebastian agak dingin. Dia tidak bisa membiarkan Sofie pergi seenaknya mengingat dia masih jadi target stalker.
“… Aku ingin keluar, apa boleh?”
Mata Sebastian terbuka lebar. Seorang Sofie pergi, tentu ini berita mengejutkan, tapi jawabannya sudah jelas.
“Tidak boleh…”
Memberi jawaban Sebastian kembali lagi membaca buku, tidak peduli akan wajah cemberut dari Sofie.
“Kenapa tidak boleh? Jangan terlalu kolot, aku akan pergi dengan Nasya dan Zilla jadi tidak kenapa-napa.”
Sebastian menghela napas, dia menutup bukunya dan fokus ke arah gadis rapi ini.
“Dengar, apa kamu lupa dengan kondisimu? Aku khawatir, tapi jika kamu memaksa untuk pergi maka aku akan ikut.”
“… Tidak boleh, ini adalah pertemuan para perempuan!”
“Kalau begitu tetaplah di rumah,” jawabnya acuh tak acuh.
“Cih! Dasar Sebastian bodoh!”
Brak
Dia membanting pintu dengan emosi. Sekali lagi Sebastian menghela napas meratapi perilaku Sofie yang sangat random ini, tapi dia yakin pasti Sofie akan menjadi baik lagi. Sofie yang murung bukan hal pertama kali, ini sudah biasa, dia pasti akan kembali ceria dengan sangat cepat.
Tapi, hati nurani Sebastian merasa bersalah karena menolak mentah-mentahan. Dia menghela napas dan hendak berdiri dari tempat duduk berniat untuk meminta maaf.
Namun terhenti, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dia harus mengangkatnya.
“Halo, Ardian. Ada apa?”
“Hehehe, aku sudah lama tidak Nampak, kan, jadi bagaimana kalau kita pergi main?”
Sebastian menghela napas. Ini bukan saatnya untuk main bersama Ardian, Sofie sedang marah dan dia merasa bersalah, jadi dia harus berbicara dulu.
“Maaf, aku ada urusan-“
“Lokasinya ada di mall Bulan, mau?”
Brak
__ADS_1
Belum memberikan jawaban, tiba-tiba Sofie menendang pintu dan tampak sangat bersemangat.
“Nah itu, Mall bulan. Aku, Nasya, dan Zila mau ke sana, jadi kamu lebih baik ikut dengan Ardian. Tapi jangan dekati aku untuk sementara waktu, oke… bukan berarti aku teranggu, hanya saja.. itu.. aku ada urusan dengan mereka, jadi kamu lebih mengamati dari ke jauhan.” Sofie berbicara, tampak sedikit bersemangat.
“Tunggu, itu suara Sofie, kan? Woi, Sebastian kamu sebenarnya di mana. Aku tahu kalian pasangan, tapi jangan bilang kalian tinggal satu rumah?!"
“Huh,,, ya ya ya, aku ikut.. Sudah bye, kututup teleponnya..”
“Tunggu, jelasin dulu-“
Sebastian menutup telepon dan kini menatap Sofie yang kembali ceria.
‘Benar-benar seperti anak kecil, ini orang.’
“Baiklah aku akan ikut,” ucapnya karena sadar akan pandangan berbinar dari Sofie,
Gadis itu melompat penuh kesenangan, dia tampak sangat senang. “Hore!”
“tapi jika sesuatu yang buruk terjadi telepon aku, teriak saja, aku akan pasti akan datang.”
“Ya ya ya, aku tahu ibu.”
“Aku bukan ibumu!!
***
Sesampainya di tempat tujuan Sebastian dan Sofie dengan cepat disapa oleh tiga orang yang terlihat berkumpul.
“Sofie sini,” ucap Zilla yang melambaikan tangan, sedangkan Nasya masih diam dan tersenyum.
“Halo, Bro, lama tidak ketemu.”
Di belakang tiba-tiba Ardian merangkul leher Sebastian ,bertingkah sangat akrab, tapi ini sangat menganggu bagi Sebastian.
“Bisa lepaskan aku, ini menjijikan.”
“Hahaha, kamu jahat, ya. Tapi lupakan tiga gadis itu dan mari pergi.”
Ardian menarik tangan Sebastian menuju ke kanan jalan, sedangkan para tiga gadis itu pergi ke arah lain. Sudah berakhir rencana Sebastian untuk memeriksa keamanan Sofie dari jauh, tapi dia masih merasa lega. Ada Zilla dan Nasya, Sofie pasti baik-baik saja.
Kedua orang itu pergi menjauh pergi ke game center.
“Ayo main game pertarungan itu!”
Ardian menunjukan ke arah sebuah mesin game yang berjumlah dua dan saling berhadapan, merasa tertantang Sebastian mengangkat bibir dan tersenyum.
“Boleh saja, aku tidak akan kalah,” ucap Sebastian penuh kepercayaan diri.
“Kau yakin? Kalau kalah apa ada pelanggarannya?”
“Setuju akan lebih menarik.” usul Sebastian.
“Kalau begitu jika kamu kalah berikan Sofie ke aku.”
__ADS_1
Dengan senyuman penuh godaan Ardian mengatakan hal itu tanpa dosa, tapi respon dari Sebastian sudah jelas.
PLak
Yap, dia memukul pipi Ardian dengan pukulan keras.
Ardian memegang pipi karena kesakitan. “Bercanda doang, woi!”
Matanya melirik ke arah Ardian dengan mata sangat tajam, mengeluarkan aura pembunuhan yang pekat. “Tidak ada candaan tentang Sofie.” Dia menekankan, pada saat ini aura preman milik Sebastian kembali muncul lagi.
Ardian spontan menjadi ketakutan, dia menelan ludah dan wajahnya kini membiru. “Ya, maafkan aku.. tapi kamu sepertinya masih punya aura brandalan, tampaknya senyuman itu percuma.”
Plak
“Bodoh, ayo segera main.” Setelah membongkem temanya Sebastian langsung menuju ke permaian game, diikuti oleh Ardian.
Ardian duduk di mesin game. “Duh, kamu jahat sekali… gini aja, kamu cukup bilang bagaiman sejarah kalian bisa jadi pasangan.”
“Oh, kalau itu mah gampang, gak perlu kalah akan kuceritakan, aku juga mau pamer ke orang jomblo.”
“HIkss… kamu jahat, yah, lupakan dan ceritikan”
Sebastian meceritakan segalanya tentang hubungan Sofie dan Ardiam mendengar dengan seksama. Mereka Mengobrol tentang Sofie sambil bertarung dalam game.
"Oh, ya Sofie adalah gadis saat itu, lo."
Ardian tampak terus menganggukkan kepala, menyimak ucapan-demi ucapan dari Sebastian sebagai tanda bahwa dia mendengarkan.
"You Lose."
Suara ini berasal dari mesin permainan Ardian, dia tampak menghela napas karena kekalahannya.
"Sial, mantan preman memang hebat… kalau masalah gelud," ucap Ardian.
"Yosh, aku menang."
"Ya ya aku tahu, jadi apa yang aku mau dariku?" tanya Ardian tampak pasrah.
"Hmm, tidak perlu, jadilah temanku terus itu lebih dari cukup.. ayo ke tempat Sofie."
Sebastian berdiri dari tempat duduk dan berjalan pergi. Sedangkan Ardian tampak sedikit tersentuh mendengar ucapan mengharukan dari Sebastian.
Dia berlari dan memeluk Sebastian dari belakang, tapi dia menghindarinya dan menendang Ardian.
"jijik, jangan peluk aku!"
__ADS_1