
Di tengah perpustakaan Sofie menanyakan hal yang sangat memalukan, tentang apakah aku mau menjadi pasangan asli untuknya.
Kami terdiam. Saling bertatapan tidak ada interaksi. Aku bisa melihat gumpalan udara dari napas Sofie yang terlihat tidak beraturan, pupil matanya melebar seolah menunggu jawaban memuaskan dariku dan kedua pipi cembung mengeluarkan warna merah Vermilion. Keheningan di ruangan kini menjadi penuh dengan suara detakan jantung milikku dan Sofie.
Mulutku sangat susah untuk mengatakan sesuatu, aku menyadari bahwa kini tubuhku gemetaran dan membeku mendengar pertanyaan Sofie. Kehangatan mengitari pipi hingga telinga serta jantung ini tidak mau berhenti berdetak.
Aku tidak bodoh maksud dari pertanyaan Sofie tentu saja aku paham, ini tidak lain adalah pernyataan perasaan secara tidak langsung.
"Sofie aku—"
Sebelum aku selesai berbicara Sofie telah menutup mulutku dengan kedua lengan kecilnya dan dari jarak sedekat ini aku makin bisa melihat wajah Sofie yang sangat merona, dia sangat menggemaskan. Jika dia tidak menutup mulutku mungkin jarak kami cukup pas untuk ciuman— tunggu apa yang aku pikirkan.
"C- cukup, hehe aku hanya bercanda... ya, candaan untuk siang ini, hehehehe.."
Dia adalah pembohong yang payah. Dari gerak geriknya aku tahu betul ini adalah kebohongan. Sofie melepaskan tangannya dari mulutku, dia berbalik badan kemudian berjalan cepat menjauhiku.
"Apa yang kamu tunggu? Lupakan ucapan bodohku tadi dan mari segera pergi!"
Kutarik ucapanku barusan Sofie cukup pintar dalam berbohong, dia dengan cepat merubah wajah menjadi penuh senyuman seolah mengatakan bahwa tadi memang bukan serius dan masalah yang besar.
Aku mengangguk dan terpaksa mengikuti keinginan Sofie.
***
Setelah berjalan dengan jarak yang cukup dekat akhirnya kami sampai di taman bermain. Banyak para pengunjung mulai dari anak kecil, remaja, dan beberapa orang dewasa yang berkeluarga berada di sini beberapa pasangan juga tampak berjalan bersama dengan sangat mesra.
Beberapa wahana terutama roller coaster raksasa menjadi pusat perhatian meskipun dari kejauhan aku dapat mendengar jeritan dari orang yang menaikinya. Komedi putar dan bianglala terlihat sangat kokoh.
Tak berhenti di situ beberapa penjual jajanan juga berlalu lalang menciptakan suasana makin ramai, permen kapas adalah makanan paling ramai di beli.
Aku masih terdiam padahal baru menginjakan kaki, tapi sudah bisa merasakan hawa keramaian yang luar biasa.
Sofie yang berdiri di samping tampak sangat kagum manik matanya yang hitam tampak sangat berbinar-binar.. ‘oh, aku tahu apa yang akan dia katakan setelah ini’ Dia menarik lengan bajuku seolah-olah mencari perhatian.
“Lihat itu! Sangat besar bukan?”
Sofie menunjukan jarinya ke arah roller coaster yang sedang meluncur itu, dia sangat terlihat kagum. Binar-binar matanya terus mengarah ke situ bahkan bibirnya terangkat membentuk senyuman penuh kebahagian.
“Sofie, apa ini pertama kalinya kamu ke sini?”
“B- bukan seperti itu! Mana mungkin aku tidak pernah ke sini kan, aku pernah kok.. terkadang..”
Sofie membentak dengan nada tinggi menolak menerima fakta yang kukatakan.
“Pergi dengan siapa?”
“Tem- bukan aku pergi ke sini bersama keluargaku!”
“Hee, apa itu benar?”
Aku tersenyum penuh ejekan. Jujur saja aku meragukan ucapan ini.
“I- itu beneran kenapa aku harus berbohong?!”
Diakhiri dengan cemburut dia menghembuskan napas dengan kasar dan membuang pandangan dariku. Dia sangat mudah dibaca pasti yang dia katakan adalah kebohongan aku yakin ini pasti pertama kalinya dia pergi ke sini. Tapi tampaknya dia terlalu malu untuk mengatakan bahwa ini adalah fakta, jadi untuk kali ini aku mengalah.
“ya ya ya, kamu pernah ke sini.”
“Bisakah kamu mengalah dengan lebih serius? Ini malah seperti mengejek.”
__ADS_1
Aku hanya bisa tertawa kekeh menerima semua ocehan dari Sofie. Akhir-akhir ini hubungan kami bisa dibilang sangat baik meskipun bertengkar seperti ini pasti pada akhirnya kami berbaikan.
Mulai dari sekarang aku mengabaikan ocehan dia dan memegang tangan Sofie. Manik hitamnya terbuka lebar terkejut akan tindakanku yang sangat mendadak ini, tapi itu hanya berlaku beberapa detik Sofie dengan cepat tersenyum dan membiarkan aku memegang tangan serta membawanya ke suatu tempat.
Kami terus bergandengan melewati beberapa orang yang berlalu lalang dan bergerombolan. Aku berhenti tepat di tempat yang menurutku akan sangat menarik.
“Sofie bagaimana jika kita naik itu?”
Aku menunjukkan jari ke atas yang mengarah ke roll coste aku sadar Sofie tampak sangat kagum dengan benda ini dan aku juga tahu ini adalah hari pertama Sofie bermain kesini jadi tidak masalah kan membawa dia bermain wahana sebanyak-banyaknya.
“Apa kamu serius?” tanya Sofie, dia menatapku dengan wajah penuh harapan.
“Tentu saja kenapa tidak.. tapi tolong usahakan jangan sampai mual oke," sahutku dengan senyuman.
"Terima kasih, aku beneran akan mengingat kejadian ini."
Bibirku sekali lagi terangkat, kami berjalan mendekati roller coaster dan duduk di sana, orang yang tampak seperti pengurus menatap kami, memberikan senyuman serta saran agar sabuk pengaman.
Tentu saja kami mengikuti apa yang orang itu katakan. Aku tidak ingin mati konyol, akan sangat lucu bila terhempas di sini. Tapi roller coaster, ya? jujur saja ini pertama kali aku menaikinya dan Sofie saat ini berada tepat di samping kananku.
"Baik Persiapkan diri kalian."
"Satu."
"Dua."
Aku mengabaikan hitungan dari orang itu dan pupil mataku mengarah ke Sofie. Gadis ini terlihat sangat menikmati apa yang akan terjadi, terus tersenyum, bahkan tanda ketakutan tidak tergambar.
Melihat Sofie yang terus tersenyum membuat perasaan aneh timbul di hatiku dan tiba-tiba pertanyaan Sofie beberapa saat yang lalu terlintas.
Sudut bibirku terangkat. "Sofie aku—"
Setelah berteriak, roller coaster dengan sangat cepat melintas membuat aku terkejut dan ketakutan. Aku bahkan belum siap.
"Aaaaaaa!"
Sofie tampak berteriak, tapi ini bukan teriakan ketakutan, namun teriakan kebahagiaan.
"Hebat! Hahahaha."
Sial, roller coaster ini bergerak sangat cepat menciptakan tekanan angin yang membuat rambut semua orang bergoyang. Dari sini aku bisa mendengarkan beberapa teriakan penuh ketakutan dan aku juga termasuk orang yang berteriak ketakutan. Yang terlihat bahagia hanya Sofie.
Kereta ini berputar, naik ke atas, dan turun dengan kecepatan tinggi.
"Wuuuu!" teriak bahagia dari Sofie.
Sial, aku sudah tidak kuat lagi. Aku bisa merasakan wajah dan perutku terasa sangat mual, aku memegang mulut berusaha agar muntahan tidak segera keluar.
Dan sekali lagi di saat aku sedang ketakutan justru Sofie malah tampak ceria seolah menikmati semua ini.
***
"Weeekkk."
Ini mungkin menjijikkan, tapi sekarang aku sedang memuntahkan segala isi yang ada di perutku. Yap, aku sedang muntah.
Sofie tampak khawatir di menuntunku untuk jalan dan membawa di tempat duduk yang panjang.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Sofie tampak khawatir, dia mengelus pundakku.
__ADS_1
"Maaf, kamu jadi mual karena mengikuti keegoisan, seharusnya aku tidak membawa kamu ke sini."
Sofie tampak merasa bersalah dia menundukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa lagipula aku yang menawarkan untuk naik… omong-omong wahana apa lagi yang kamu inginkan?"
"Eh? Tidak perlu kamu gak usah memaksakan diri," kata Sofie dia menggelengkan kepala.
"Sofie dengarkan! Aku ingin kamu bahagia, melihat senyumanmu membuat aku ingat dengan seseorang! Aku suka dengan senyumanmu."
Aku menegaskan agar dia tidak lagi membantah tepat dengan perkataan itu Sofie tampak tersipu dan kami berdua menjadi pusat perhatian orang yang lewat.
"kamu beneran keras kepala… kalau begitu aku ingin naik itu."
Sofie mengarahkan jarinya ke arah sesuatu wahana yang berbentuk lingkaran besar yang pada tiang-tiangnya ada kereta gantung, yap. Ini adalah Bianglala.
"Ya, itu tidak masalah."
***
Kami berdua menaiki bianglala sekarang, berbeda dengan roller coaster, ini tidak terlalu membuat mual justru dari ketinggian aku bisa melihat pemandangan, tapi perutku yang mual membuat malas untuk melihat dari atas.
Aku hanya duduk lemah di Bianglala, walaupun memang benar sekarang kondisiku semakin membaik aku sudah tidak terlalu merasa mual, mungkin karena wahana ini tidak bergerak cepat.
Sofie tersenyum berbunga-bunga ke arahku.
"Bagaimana apa kamu sudah lebih baik?"
Sangat terang gadis ini mengeluarkan senyuman sangat manis dan dia juga tampak paham akan kondisiku.
"Sofie jangan bilang kamu memilih wahana demi aku?" tanyaku.
Dia memalingkan wajah karena tersipu malu, "ya, aku repot jika Sebastian jadi sakit dan juga… di sini hanya ada kami berdua kan.. jadi ada yang mau aku katakan."
"Hmm, apa yang kamu ingin bicarakan?"
"Ini tentang novel yang kamu tulis itu, a- a- aku hanya menebak apakah itu kisah nyatamu."
Wah, dia lebih peka dari yang kuduga, tak kusangka Sofie akan sadar dengan hal kecil seperti ini, sepertinya tidak ada alasan untuk menyembunyikan itu.
"Ya, itu benar." sahutku tanpa menunjukkan keraguan.
Dia makin tampak canggung, "Kalau senyuman dia bisa membuatmu hingga berhenti menjadi berandalan… apakah senyuman itu sangat indah?" Dia bertanya, tapi tampak sangat ragu bahkan suara sangat lirih.
"Ya sangat imut, senyuman dia tidak mungkin aku lupakan, senyuman manis darinya yang bahkan bisa mengubahku mana mungkin aku melupakan itu! Yah, walaupun dalam kenyataan aku lupa dengan wajah gadis itu."
Entah karena alasan apa, tiba-tiba Sofie menjadi merah padam, dia konslet… Sofie menelan ludah, dia menatapku dengan wajah memerahnya.
"Bagaimana jika kamu ber- be- bertemu dia lagi?"
"Yah, bagaimana ya? Jujur saja aku mungkin akan menembaknya."
Aku berkata dengan jujur, ini bukan bohongan.
Napas Sofie makin berantakan, dia terlihat sangat ragu untuk menatapku, tapi pada akhirnya dia melakukan itu.
Dengan wajah tersipu malu yang sangat lucu dan napas yang entah kenapa berantakan dia menatapku.
"Sebastian… orang itu adalah aku.."
__ADS_1