
Matahari menunjukan wajahnya, tampak sedikit malu-malu, Cahaya terang menerjang jendela kamar, alarm berbunyi menciptakan kebisingan di kamar. Mataku perlahan terbuka manatap alarm dan mematikannya.
Aku menghela napas, berdiri dari kasur dan merapikanya. Melipat selimut, menaruhnya di lemari dan mengambil handuk putih. Ku Letakkan handuk di bahuku lalu beranjak ke bawah untuk mandi.
Setelah mandi, aku menikmati sarapan pagi, ada telur goreng di sana dan Ayah sedang duduk tepat di depanku. Kami sempat berdebat jadi hanya menatap canggung. Ayah sebenarnya tidak terlalu buruk, dia hanya ingin agar aku tidak mengalami hal yang serupa seperti sebelumnya, itu yang kutahu.
Aku menghela napas lalu menggelengkan kepala agar pikiran itu juga hilang. Ayah dan ibu menatap bingung, tapi ku abaikan, aku fokus ke makanan ini, jam sudah menunjukan pukul 06.30 aku tidak bisa bergerak lama.
Tanganku meraih tas di samping kursi, aku berdiri dan mengangkat tas tersebut. “Ayah, ibu aku pergi dulu.” Seperti biasa mereka hanya membalas dengan senyuman dan anggukan. Aku tidak masalah dengan respon itu.
Klark
Aku membuka pintu dan melangkah untuk menuju sekolah. Situasi pagi adalah yang terbaik, matahari belum terlalu terang dan situasi masih sejuk, orang-orang juga masih tertidur. Sunyi dan sejuk itu yang aku rasakan sekarang.
Jalan Pertigaan terlihat, kakiku melangkah menuju ke kanan. Aku terus berjalan dengan normal merasa bahwa tidak ada yang aneh, hingga tiba-tiba pandanganku menjadi sangat gelap. Awalnya aku sedikit panik.
Tapi rasa panik itu hanya beberapa detik saja, karena aku mencium aroma wangi yang sangat kukenal dan tangan kecil menutup kedua mataku, aku jga bisa merasak hembusan napas dari seseorang dibelakangku.
“Tebak aku siapa?” tanya pelaku dari semua ini, suara sangat ku kenal, bahkan jika dia tidak bertanya pun aku bisa menebak sosok yang di belakangku dan sedang menutup kedua bola mata ini, pasti..
“Sofie, kan.” Sahutku tanpa keraguan sama sekali. Tepat pada saat itu juga Sofie melepaskan tangannya, pandangan gelap kini menjadi normal. Aku menghela napas dan menatap ke belakang.
Mataku bertatapan dengan Sofie yang tersenyum sangat bahagia. Aku menghela napas sekali lagi.” Pagi-pagi gini, apa yang membuatmu tersenyum?”
Sofie makin melebarkan senyuman itu, tampak sangat senang. “Aku hanya menganggap ini adalah sebuah berkah. Habisnya kita bertemu sekali lagi secara kebetulan dan aku langsung menyergapmu, itu membuatku sangat senang. Sebenarnya aku sudah lama ingin melakukan yang tadi Dan yang paling membuatku senang adalah kamu bisa menebak ku dengan sangat mudah!” Dia makin tersenyum membuatku tidak habis pikir.
Serius? Itu yang dia bahagiakan? siapa pun juga bisa menebak dengan sangat mudah, yah. memang seperti inilah Sofie..
Aku menundukan kepala agar berjajaran dengan Sofie yang tersenyum manis. Berusaha menatapnya. “Kamu Imut seperti biasanya.” Mendengar ucapanku Sofie dengan cepat merona, menoleh ke arah lain. Aku sudah berusaha agar dia menatapku, tapi dia selalu menoleh ke arah lain lagi.
__ADS_1
“Pagi-pagi gini, ngegombal, membuatku malu..”
Bibirku terangkat. “Kamu menunggu di sini, kan? Sudah vSejak lama menungguku dan memberikan kejutan seperti tadi, berlagak bahwa ini hanyalah kebetulan benar, kan?”
Sofie terlihat terkejut, dia menelan ludah dan menolak menatapku untuk kesekian kalinya. “Apa yang kamu katakan? Aku tidak paham.” Dia pasti berbohong, sangat terlihat jelas dari gerak-geriknya. Dasar payah.
“Jangan bilang selama ini kamu juga melakukan hal yang sama? Menunggu di sana lalu mengagetkanku agar terlihat seperti kebetulan, seperti itu, kan? Itulah yang membuatku berkata kamu imut.”
Dia cemberut dan sedikit memerah. “Kalau tahu, jangan diumbar ini memalukan!”
Aku tertawa kecil mendengar responnya. Waktu semakin berjalan, jadi aku tidak punya pilihan lain selain bergegas ke sekolah.
Aku membalikan badan mengabaikan Sofie yang cemberut. “Ayo ke sekolah.” Aku mengulurkan tanga dan tepat pada saat itu wajah cemberutnya berubah menjadi senyuman. Dia menerima tanganku dengan sangat senang hati.
Di pagi hari yang sepi dan sejuk aku dan Sofie berjalan bersama dengan tangan yang bergandengan. Sebenarnya ini adalah hal biasa, tapi tetap saja masih terasa sangat hangat tangan kecilnya.
Tiba-tiba Sofie berhenti berjalan, dia gemetaran dan tampak tersipu. Aku juga berhenti melangkah menatap Sofie dengan wajah kebingungan. Angin berhembus menerpa rambut hitam panjang Sofie, tepat pada saat rambutnya bergoyang Sofie tersenyum sangat manis.
“Dan juga seperti yang kukatakan kemarin, karena kamu sudah melamarku dan aku sudah menjadi milikmu, maka artinya kamu juga milikku! Jangan selingkuh, oke. Jangan dekat dengan cewek lain selain aku, aku bisa sangat marah, lo”
Aku tertawa kecil tidak menahannya, tapi aku sedikit merasa bersalah. “Ya ya ya.”
“Humph, kenapa kamu tertawa?”
“Habisnya kamu sangat imut ketika jujur seperti itu, aku tidak bisa berhenti tersenyum,” sahutku sambil menggaruk rambut yang bahkan tidak gatal.
"Humph, bilang aja imut terus.. Yah, lupakan tentang itu dan berjanjilah! Jangan pernah selingkuh dengan calon istrimu, oke. Kalau kamu melakukannya aku sangat marah.”
Setelah berkata seperti itu Sofie menunjukan jari kelingking kecilnya ke arahku Aku yang sedikit tertawa memutuskan untuk berhenti, Sofie serius,
__ADS_1
Aku mendekatkan tangan ke arah Sofie menyatukan jari kelingking dengan Sofie, angin sekali lagi berhembusan, menerpa kedua rambut kami, menciptakan suasana sejuk dan kehangatan yang ada di hati kami, pada saat itu aku maupun Sofie tersenyum bersama,
“Aku berjanji, tidak akan selingkuh denganmu. Dan juga Sofie, aku mencintaimu mana mungkin aku selingkuh,” sahutku dengan serius, tapi di bagian akhir aku tertawa kecil.
Jari kami saling melepas dan kami saling menatap, keheningan berlalu untuk beberapa detik Sofie membuka mulut.
“Asal kamu tahu, aku lebih menyukaimu.” Dia membalas perkataan barusan dengan tersenyum.
Tapi, ini terdengar seperti bualan dan entah kenapa aku terpancing. Tidak mau kalah. Aku menggeleng. “Tidak, Sofie. Aku lebih menyukaimu.”
“Tidak tidak tidak, jangan bercanda.” Dia juga tidak mau kalah.
“Tidak, aku serius, rasa sukaku lebih besar,”
“Jangan bercanda tentu saja aku lebih menyukaimu.”
“Tentu saja aku lebih dari pada kamu Sofie.” Entah kenapa aku sedikit jengkel dan ini mungkin berlaku untuk Sofie.
“Humph, kamu bahkan melupakanku, seorang gadis yang tersenyum sangat manis saja kamu lupakan, tapi asal kamu tahu sejak hari itu aku sudah menyukaimu, aku bahkan tidak lupa denganmu, jadi jawabannya sudah jelas. Aku lebih mencintaimu!”
Baiklah yang tadi fakta.Apa yang sebenarnya kami lakukan di pagi hari buta ini? Benar-benar bodoh, tapi ini sangat menyenangkan, segala tentang Sofie sangat menarik, Aku tersenyum dan berakhir tertawa keras.
“Hahahaha.”
“Apaan? Jangan tertawa seperti itu!” Sofie kembali tampak cemberut, menoleh ke arah lain.
“Aku hanya bahagia, rasanya sangat senang Sofie mencintaiku sebesar itu, jadi aku tertawa.” Aku sedikit menyeka air mata yang keluar karena tertawa.
“Akhirnya kamu paham, aku lebih menyukaimu daripada apapun,’ ucap Sofie dengan wajah tersenyum akan kemenangan. Aku hampir tertawa untuk sekian kalinya, tapi kutahan.
__ADS_1
“Ya ya ya, aku senang calon istriku mencintaiku sebesar ini. Untuk sekarang lupakan tentang itu dan mari ke sekolah,’ aku memberikan usulan dengan wajah penuh senyuman. Aku memberikan tangan kanan lagi ke Sofie dan dia tersenyum lantas menerima tangan itu.
Angin sekali lagi berhembusan, rambut kami bergoyang. Kami saling tersenyum dan setelah itu aku berjalan bersama Sofie dengan perasaan penuh kebahagian, habisnya dia sangat menyukaiku sebesar ini. Aku sedikit terharu.