Gadis Dingin Yang Ceria

Gadis Dingin Yang Ceria
Chapter 56. Kronologi


__ADS_3

“Semuanya sudah siap?” tanyaku kepada Rijal, Angga, dan Adit.


Aditya merasa bersalah, dia memutuskan untuk menunjukan arah jalan untuk membayar rasa bersalah yang dia alami, walaupun aku mengatakan tidak usah, tapi dia memaksa.


Tanganku kini telah terbulut oleh perban berwarna putih. Rasa sakit yang kualami tidak terasa lagi, ini lebih baik dari sebelumnya.


Aku menatap tiga orang itu, wajah dari mereka terlihat sudah sangat siap, tampaknya mereka tidak takut apapun yang terjadi.


Aku tersenyum menatap mereka. “Ayo jalankan operasinya!”


[Normal POV]


Di ruangan yang gelap pekat dan tidak adanya sinar yang menyinari kecuali cahaya bulang. Seorang gadis membuka mata perlahan, tambut hitam panjangnya terlihat kotor pakaian yang dia pakai juga penuh oleh debu.


Sejauh mata gadis itu hanya ada ruangan kosong dan beberapa kardus kosong. Dia memegang kepalanya yang serasa sangat pusing, mengingat kembali kenapa dia bisa berada di tempat ini.


‘Kepalaku serasa sangat sakit’


‘Kenapa aku bisa berada di tempat ini?’


Sofie gadis yang baru saja terbangung itu menatap ke segala arah, dia sedikit ketakutan dan rasa ngeri bertambah ketika menatap teman-temannya yang terkapar dengan kondisi yang sama.

__ADS_1


Semua orang dari mereka terikat oleh tali dan mereka, bahkan kaki bereka juga sama. Sofie membuka mata lebar, memangil nama satu0satu dari temannya, berharap agar mereka bisa bangun, tapi tidak terjadi.


Merasakan usahanya sia-sia Sofie mengembuskan napas, menatap ke arah jendela yang menampakan bulan sabit di kegelapan.


Sebutir ingatan terkapar di kepalanya, awalnya cuman ingatan kecil. tapi lana kelamaan ingatan itu menjadi satu dan berputar ulang seperti vido film.


Flasbahk


Saat itu Sofie dan kedua temannya menikmati waktu setelah pulang dengan minuman berbotol. Mereka berkumpul di ruang tamu Sofie karena saat ini dia sedang tinggal sendiri, kedua orang tua Sofie terpaksa kerja lembur hingga malam hari.


Saat mereka tertawa ria dan bercerita, tiba-tiba bel berbunyi. Membuat mereka berhenti tertawa dan menatap pintu masuk.


“tidak apa-apa itu mungkin Sebastian, jadi aku akan pergi membuka pintu dulu.”


Begitulah ucapan sang gadis sebelum berlari membuka pintu masuk. Teman-temannya tentu saja berusaha menghentikan, namun percuma.


Sofie terlalu berharap dan ingin bertemu dengan Sebastian karena itulah dia tanpa memiliki keraguan dan membuka pintunya.


‘ini pasti Sebastian, ketika aku membuka pintu aku akan mengejutkannya dengan pelukan mendadak,


Seperti itulah pikiran sang gadis, di tersenyum penuh harapan dan membuka pintu. tidak menyadari sesuatu yang buruk akan terjadi setelahnya.

__ADS_1


Ketika dia membuka pintu yang muncul bukanya harapannya, dia menatap sosok lelaki mencurigakan dengan jaket hitam. 


“Yo, aku sudah lama menunggumu Sofie,” ucap sosok misterius itu yang tidak lain adalah Aditya.


Sofie membuka mata lebar dia sangat ketakutan, ia ingin lari tapi kaki terlau gemetaran hingga tidak mau berhenti bergerak.


Meresa ada yang ganjal kedua teman Sofie menuju ke pintu masuk dan menyebutkan namanya. Respon mereka sama mereka terkejut.


“Sofie, dia siapa?” ucap kedua temannya bersamaan.


Sofie menggelengkan kepala, menatap ke belakang hendak menjawab, tapi pada detik itu juga hidupnya disumpal oleh kain yang dipenuhi oleh bius tidur. Mata Sofie tertutup dan dia tertidur, setelah itu dia tidak ingat apapun lagi.


flasbhak of


Sofie menghela napas, merubah pandangannya yang dari bulan menuju kedua temannya. “Jadi ini salahku,” gumam dia. 


Sofie juga menatap satu gadis yang asing baginya, dia memikirkan bahwa ini adalah salahnya, dia merasakan sangat bersalah.


Ditengah itu tiba-tiba pintu terbuka lebar. Sofie bergetaran dan menoleh ketiga sosok pria yang kini tersenyum ke arahnya.


“Ayo bermain Nak,” ucap ketiga pria berotot itu dengan senyuman yang membuat Sogie merinding.

__ADS_1


__ADS_2