
Beberapa minggu telah terlewat semenjak peristiwa buruk itu, kini semua telah kembali menjadi normal. Semenjak hari itu Sofie sudah tidak lagi terganggu oleh beberapa orang yang membuntutinya, dia sudah bebas,
Sofie juga perlahan mendapatkan teman baru dari klub membaca ini semua berkat Nasya yang menyuruhnya bergabung meskipun agak canggung tapi sekarang dia telah sedikit lebih baik. Dia tidak terlalu dingin seperti dulu setidaknya Sofie tidak akan mengaatakan “ya” dan “tidak” lagi.
Semua warga siswa tentu saja terkejut dengan sikap Sofie yang menjadi lebih terbuka bahkan dia sempat menyapa beberapa siswa pria yang membuat mereka salah tingkah sendiri. tapi mereka tetap saja tidak berani mendekati Sofie.
Karena dia punya pawangnya sendiri yang bernama Sebastian. Isu-isu mengatakan bahwa Sebastian membabat habis Rangga yang ingin menganggunya. Siswa yang terkenal bahaya saja dia pukuli apalagi mereka yang tidak memiliki apapun, bisa mati mereka kalau berani mendekati Sofie.
Di saat Sofie semakin tenar Sebastian sang pacar malah semakin dijauhi karena malu.
****
“Hahahah, berita ini sangat menarik, aku tidak menyangka kamu akan menjadi populer seperti ini.”
Pada waktu istirahat dan di kantin yang ramai. Terlihat tiga siswa pria yang berkumpul di meja makan. Mereka tidak lain adalah Angga, Sebastian, dan Ardian.
Setelah kejadian itu, Angga menjadi lebih akrab dengan Sebastian dan Ardian, mereka menjadi lebih sering berkumpul bersama.
Yang barusan tertawa tidak lain adalah Angga dan Ardian, mereka membaca informasi dari web sekolah.
Menjadi bahan candaan Sebastian hanya menatap sendu dan mengabaikan mereka dengan meminum es teh.
“Tapi aku tidak menyangkan kamu akan melawan Kak Rangga, apa kamu gila?” tanya Ardian seperti mengejek.
“Mau bagaimana lagi, si bucin ini akan melakukan apapun demi wanita meskipun itu artinya dia akan dikeluarkan,” tambah Angga dengan terkekeh.
Peraturan di sekolah ini sangat ketat apabila terdapat siswa yang berkehali maka siswa itu akan dimungkinkan untuk segera dikeluarkan, normalnya sekarang Sebastian akan dikeluarkan, tapi karena Sebastian melakukan ini demi kebaikan Sofie dan dia punya bukti bahwa Sofie hampir saja dilecehkan jadi pihak sekolah mengampuni perbuatan Sebastian.
Sebastian juga meminta kepada pihak sekolah untuk menyembunyikan peristiwa tentang Rangga dan Aditya yang bersekonkol untuk melecehkan beberapa siswi perempuan. Pihak sekolah setuju, mereka menganggap ini sebagai bonus untuk Sebastian karena melakukan hal terpuji.
__ADS_1
Tapi, peraturan tetap peraturan. Jika Sebastian berkelahi lagi maka dia seratus persen akan dikeluarkan.
“Jadi bagaiman dengan Ayahmu? Apa tanggapan beliau?” tanya Ardian sekali lagi.
Meskipun diabaikan mereka terus bertanya hal ini membuat Sebastian menjadi jenuh dan memutuskan untuk menjawab.
“Dia marah besar, tapi katanya kali ini yang kulakukan benar. Melindungi kehormatan perempuan dia bangga dengan apa yang kulakukan.”
Mendengar jawaban dari Sebastian membuat dua orang temannya tertawa kecil.
“Yah, kamu cukup beruntung tidak dikeluarkan. Jangan berkelahi lagi, lo.” Ardian mengangkat bahu.
“Ya, aku tahu. Mana ada orang bodoh yang akan melakukannya,” keluh Sebastian.
Jam istirahat telah berakhir semua orang kembali ke kelas masing-masing termasuk Ardian, Sebastian, dan Angga.
Di kelas Sebastian sedang mengadakan suatu perkumpulan, mereka membahas tentang konser drama yang akan dilaksanakan beberapa hari setelah ini. Karena Bu Endah selaku Guru Seni Budaya akan mengadakan pameran berupa drama untuk beberapa hari ke depang.
“Jadi apa yang sebaiknya kami mainkan untuk pentas drama?” tanya seseorang gadis berkaca mata yang merupakan ketua kelas.
“Bagaiman dengan Malin kundang dan semacamnya?” usul salah satu siswa.
“Itu juga bagus, tapi kelas sebelah sudah mengambilnya. Jadi maaf ide itu tidak berlaku.” Ketua kelas menghela napas, merasa bersalah karena menolak ide salah siswa di sana.
“Tenang aja ketua, tidak perlu meminta maaf. Masih banyak cerita lain.”
Ketua kelas kembali tersenyum, menghilangkan ekpresi menyedihkannya. Dia kembali meminta usulan.
“Bagaiman dengan Romeo dan Juliet, itu akan menjadi kisah roman yang bagus,” salah satu siswi perempuan memberikan usulan dengan wajah yang berbinar-binar. Dia sangat menyukai kisah-kisah roman yang membuat hati berdebar.
__ADS_1
Ketua kelas menghela napas, bukan karena tidak setuju hanya saja dia bingung untuk memilih pasangan yang cocok. Karena melihat dari kelas ini pasti jika dipilih akan ada yang tidak suka karena malu, atau alasan semacamnya.
Beberapa ada yang tiak akan mau dijadikan pasangan karena pasti akan digoda setelah drama dan beberapa dari yang lain akan marah apabila crush mereka di pasangkan dengan orang lain.
Jadi ketua kelas membutuhkan orang yang benar-benar pasangan. Di tengah kebingungan ketua kelas tidak sengaja menatap Sebastian, dia teringat bahwa di sini ada pasangan yang akan cocok.
Dia tersenyum menunjukan niat jahat. “Romeo dan juliet, itu ide bagus. Yosh, Sebastian dan Sofie. Kalian yang akan berperan di sini!”
Sebastian menoleh, dia menatap sekali lagi dengan alis yang diangkat, meminta tolong untuk mengulai perkataan yang baru saja dilontarkan.
“Sudah kubilang Sebastian dan Sofie akan menjadi karakter di Romeo dan Juliet! Bagaimana apa kalian mau?”
Semua pandangan kelas kini mengarah ke Sofie dan Sebastian dengan senyuman menggoda di wajahnya.
“Ayo, ayo kalian pasti malu jangan menolak.”
“Kalian sangat cocok. Kalian pacaran, kan? Jadi ayolah.”
“Itu benar. Ayo, ayo, ayo.”
Suasana kelas kini berubah dengan penuh sorakan dan penuh godaan. Baik Sebastian dan Sofie menundukan wajah karena malu. Sedangkan beberapa siswa lai diam saja serta menghela napas bersyukur tidak ditunjuk, karena pasti mereka akan mengalami hal seperti ini.
Sebastian menoleh ke arah Sofie yang terlihat tersipu malu. “Bagaimana denganmu? Apa kamu mau?”
“Y- ya, aku tidak masalah.” Dengan wajah memerah dan jantung yang berdebar dia menjawab.
“Hore!”
“Dengan ini sudah diputuskan Sebastian dan Sofie akan menjadi pemerannya.” Ketua kelas menulis nama mereka di papan kelas.
__ADS_1
Kelas semakin gaduh dengan Sebastian yang digoda oleh siswa lain. Sebastian hanya terdiam dan menghela napas.