Gadis Dingin Yang Ceria

Gadis Dingin Yang Ceria
Chapter 6. Jangan berpikir seperti itu lagi!


__ADS_3

Aku terus terhanyut akan pikiran negatif itu. Jujur setiap memikirkan itu membuat hati serasa sangat sesak, aku ingin berbicara dengan Sofie, namun pikiran ini sangat menganggu seolah-olah membuat diriku terantai oleh sesuatu hingga tak bisa berjalan.


Jujur saja aku masih tak tahu dari mana pikiran seperti ini bisa terjadi, mungkin perasaan saat itu masih membekas dan tak mau menghilang.


Cih! Jika memikirkan lagi saja sudah membuatku mual, dan emosi.


Langkahku terus berjalan. Saat hendak menuruni tangga sekolah yang kosong tiba-tiba aku dikejutkan oleh sosok Sofie yang berdiri tepat di depanku.


Dia merentangkan kedua tangan ke kanan dan ke kiri seolah sedang berusaha membuatku tak bisa pergi dari sini.


"Sebastian, kamu sangat jahat kenapa hari ini kamu tak mengatakan apapun? walaupun saat istirahat, jam kosong, bahkan pulang pun kamu tak bicara satu kata pun!"


"....."


"Apa kamu tahu kalau aku merasa kesepian? Kenapa kamu tak mengatakan apapun kepadaku, dasar menyebalkan, kamu yang terburuk! Nyebelin! Bodoh.."


Aku terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Sofie, dia memang benar. Aku sangatlah terlihat jahat, bagaimana bisa aku mengabaikan dia yang terus menungguku.


Aku hanya tak ingin Sofie dianggap buruk hanya itu saja, tapi apakah pilihanku itu benar? Hasil dari yang kulakukan adalah Sofie terlihat marah, walaupun cara marahnya sedikit mengemaskan.


"... a... a... apa kamu sebenarnya benci aku?"


Aku terlalu hanyut dengan pikiran sendiri. Hingga aku akhirnya sadar Sofie sekarang sedang meneteskan air mata. Mata tenang dan hitam milik Sofie sangat terlihat basah.


Aku membuka lebar mata tak menyangka Sofie akan menjadi seperti ini.. Tapi pertanyaan dari Sofie cukup bodoh.


Jawabannya sangat jelas kan...

__ADS_1


"Dasar bodoh! Mana mungkin aku membencimu!"


Aku tanpa sadar mengeluarkan suara yang keras, untung saja situasi telah kosong, jadi tak ada yang menyadari keberadaan kami berdua ini.


Dengan seperti ini aku bisa mengatakan segala hal yang kuinginkan tanpa peduli dengan tanggapan orang lain.


"Sofie tolong jangan salah paham."


"Aku hanya merasa tak layak menjadi temanmu."


Sofie terdiam, menatap ke arahku dengan wajah penuh pertanyaan.


"Kenapa kamu berpikir seperti itu?"


"Tentu saja, coba pikirkan ini lagi. Kamu cantik, populer, pintar, sedangkan aku sebaliknya."


"Jadi aku memutuskan untuk tak bicara hari ini."


Wajah kesal tergambar di muka Sofie, dengan mata yang masih basah dia menatap tajam ke arahku.


"Apa kamu bodoh! Aku tak peduli tentang reputasi!!"


Teriakan sangat keras menggema di ruangan, bahkan aku terkejut dengan suara teriakan yang mendadak itu.


Napas tak beraturan serta mata sedikit berair Sofie masih berusaha melanjutkan ucapannya.


"kau tahu? Kesepian karena tidak bisa berbicara denganmu lebih menakutkan daripada rasa takut mengenai reputasi bodoh yang kamu katakan. Jadi, alangkah baiknya kalau kamu bisa berbicara denganku."

__ADS_1


"Aku lebih benci jika kamu tak berbicara denganku. Aku tak peduli jika reputasiku menjadi buruk.. a- a- asalkan aku bisa bersamamu lebih dekat itu lebih dari cukup."


Setelah berkata dengan sangat jujur pipi mulus milik Sofie berubah menjadi merah vermilion.


Dia tersipu malu dan kini terdiam dengan sedikit gemeteran.


Tapi aku masih merasa kurang dengan perkataan yang Sofie ucapkan.


"Tapi Sofie aku membosankan, kenapa kamu sangat ingin untuk berbicara denganku? Apa yang menarik dari diriku ini."


Sekali lagi pipi Sofie merona.


"j-j- jangan tanya detail kecilnya!!! A- aku berbicara denganmu karena murni ingin, alasan lainnya pikir sendiri! Dan juga aku tak pernah berpikir bahwa kamu membosankan."


"Justru sebaliknya, kamu menarik. Aku senang Sebastian yang selalu berusaha untuk merespon dan mendengarkan ceritaku. Dia seolah berusaha membuatku senang, padahal kita baru berteman kemarin, tapi kamu sangat baik bahkan repot-repot menemani pulang.."


"Jangan berpikir seperti itu lagi oke! Kalau kamu bertingkah seperti orang asing lagi aku tak akan memafkanmu."


Sofie memalingkan wajah, dia mengembungkan pipi yang telah memerah dan terlihat sangat cemburut. Dia sangat imut.


Tanpa sadar aku tertawa kecil.


"hahaha, ya ya ya. Maaf, Sofie." Aku tersenyum dengan sangat tulus dan berhasil membuat Sofie tersipu untuk sekian kalinya.


"l- lupakan tentang itu dan ayo pulang!"


Bersikap sok galak Sofie berjalan mendahuluiku, mungkin berencana untuk menyembunyikan wajah yang penuh warna merah itu. Tapi sifat itulah yang membuat Sofie tambah imut.

__ADS_1


__ADS_2