Gadis Dingin Yang Ceria

Gadis Dingin Yang Ceria
Chapter 28. Perpustakaan


__ADS_3

Nasya— seorang gadis yang baru-baru ini menarik perhatian Sofie. Dia terus bercerita tentang gadis itu karena Sofie sering bertemu Nasya di perpustakaan.


Seorang kutu buku yang menyukai novel sangatlah jarang. Jadi tentu saja Sofie yang juga menyukai karya sastra ingin dekat dengan dia.


"Jadi hari ini aku ketemu dia lagi. Duh Nasya dia beneran memiliki karishma yang sedikit mirip denganku. Maksudku dia cukup tenang, tidak terlalu banyak bicara, dan yang paling penting dia memakai kacamata, menandakan bahwa dia orang rajin."


Di ruang tamu Sofie mengoceh seperti biasanya. Aku meminum teh hangat yang berada tepat di depanku dan menghenduskan napas.


"Ya, aku sudah dengar cerita itu puluhan kali... Dan juga pfft~ kamu dan dia sangat beda, kamu tenang? dari mananya?"


"Apa Sih! Kamu nyebelin!"


"Hahahaha, maaf.. maaf."


Sudah sekitar empat hari aku menginap di rumah Sofie dan sampai sekarang belum ada kabar bahwa orang tua mereka akan pulang.


Dan pada empat hari ini hubungan kami menjadi makin dekat yang paling penting lagi, Sofie sudah tidak diganggu oleh penguntit lagi selama aku tinggal.


Sofie terus mengoceh dan bercerita tentang kehebatan Nasya- gadis yang bahkan tidak aku kenal. Aku mengabaikan semua perkataannya membiarkan seperti angin yang melintas dan menghidupkan TV di ruang tamu dengan remote.


Mengabaikan ucapan Sofie mataku terus menatap berita di TV.


"Woi! Kamu dengar aku!?"


Ku abaikan lagi.


"Apa sih! Nyebelin banget! Dengerin aku!"


Sofie memegang kerah bajuku dan menggoyang-goyangkannya dengan brutal, aku hanya diam dan menganti saluran TV.


Di saluran ini Sofie menghentikan aktivitasnya dan menatap TV tampaknya dia tertarik dengan berita yang dibahas.


"Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu untuk para warga yang tinggal di daerah jalan pramuka blok B karena setelah beberapa tahun. Akhirnya perpustakaan baru telah dibangun, bagaimana pendapat anda pak kepala desa?"


"Menurut saya pembangunan perpustakaan di sana adalah pilihan yang sangat bagus, kami membangun dan membuat perpustakaan demi menciptakan peningkatan literasi di jalan pramuka blok B selain itu hampir sangat jarang adanya perpustakaan di sini jadi saya sebagai kepala desa sangat bahagia....."


Dan seterusnya.. Tatapan Sofie yang sebelumnya penuh amarah serta emosi kini berubah menjadi bahagia seolah melupakan segala emosinya.


"Bagaimana kalau kita pergi di sana?" tanya Sofie dengan penuh harapan.


Jika aku menolak dia pasti akan marah dan ngambek jadi aku terpaksa mengiyakan.

__ADS_1


Mendengar jawabanku dia bersorak penuh kebahagiaan. Bukankah anda sebelumnya marah kenapa sekarang menjadi sangat ceria.


Aku hanya bisa membuang napas dengan berat karena tingkah Sofie yang terlalu absurd.


...***...


Seperti yang Sofie inginkan aku pergi menemani dia ke perpustakaan, mau bagaimana lagi jika membiarkan dia sendiri aku takut jika hal yang buruk terjadi.


Saat ini Sofie sedang berdiri tepat di sampingku dan menatap beberapa rak buku yang berisi ratusan novel. Matanya terus bersinar seperti orang yang dipenuhi oleh kebahagiaan.


Lupakan tentang bagaimana reaksi Sofie, kedatangan ke perpustakaan bukanlah hal yang buruk. Aku juga bisa mencari refresi untuk buku selanjutnya.


Mana yang bagus ya..


Jari jemariku ke sana ke mari untuk mencari beberapa buku yang cocok untuk dijadikan refrensi bahkan aku sampai menundukkan tubuh. Waktu berjalan sekitar lima menit akhirnya aku menemukan buku yang sedikit menarik.


Judul dari buku ini adalah "We Will Change"


cerita dari buku ini entah kenapa mirip, atau bisa dibilang sedikit mirip dengan hubungan aku dan Sofie. Jadi buku ini bercerita tentang dua orang remaja yang ingin merubah sifat pemalu dan canggung mereka, nama karakter utama adalah Rafael dan si heroine ada Auliana Vira.


Aku baru baca sekitar satu bab, tapi.. pfft~ aku tidak menyangka kalau karakter utamanya sepayah itu dalam bicara. Bahkan dia dilupakan oleh teman satu kelasnya sungguh bodoh.


Jadi buku ini akan saya rekomendasi apalagi ini adalah cerita pertama dari seorang penulis.


Brak


Aku menjatuhkan buku itu karena terkejut Sofie tiba-tiba hilang tanpa arahan yang jelas. Seharusnya aku menggenggam tangan Sofie dengan begitu dia tidak akan pergi seenaknya.


Kaki melangkah mencari Sofie di tumpukan rak yang menghalangi pandangan awalnya aku sedikit panik, namun akhirnya Sofie terlihat.


Dia sedang bersembunyi di balik rak buku dan menatap seorang gadis yang duduk santai dengan buku di meja, tampaknya sang gadis sedang membaca sesuatu.


Aku melangkah untuk mendekati Sofie.


"Hah, apa lagi yang kamu lakukan?"


"Shh, jangan berisik! Dia Nasya yang aku maksud."


Sofie jari di bibirnya dan berbicara dengan suara sangat lirih.


Aku makin mendekati dia. "Nasya? Oh, dia yang sering kamu ceritakan itu?"

__ADS_1


"Yap, benar sekali. Bagaimana? Dia cukup tenang, dingin seperti aku kan?"


"Tidak." sahutku singkat.


Dia cemberut dan tampak emosi, biasanya Sofie akan membantah, tapi dia mengurungkan niatnya.


"Humph, kalau begitu aku tidak akan cerita apapun lagi denganmu hubungan kita berakhir sekarang."


"Hahaha."


Aku hanya bisa tertawa melihat tingkahnya yang seperti anak kecil.


"Tapi, Sofie kenapa kamu tidak mengajaknya berbicara? Jika kamu sehobi maka bicara akan menjadi lebih mudah."


"Aku ingin seperti itu, tapi ini memalukan."


Sofie memainkan rambutnya dan masih fokus menatap Nasya yang membaca buku. Dia tersenyum penuh cahaya ketika melihat Nasya yang dengan tenangnya membuka halaman demi halaman.


"Wah, dia sangat keren aku ingin menjadi jadi temannya."


Aku menghela napas dan memberikan nasihat ke Sofie.


"Kamu ini.. apa serius ingin menghilangkan sifat pemalu itu? Aku sudah berjanji untuk merubah itu, tapi jika kamu sendiri tidak memiliki keinginan untuk berubah maka percuma."


"......"


"Aku tahu, tapi berbicara dan tertawa bersamamu itu sudah cukup untukku.. aku hanya tidak terbiasa dengan tatapan orang."


Dia menundukkan kepala dan tampak sangat menyedihkan, tatapan serta senyuman bercahaya pudar dengan sangat cepat.


"Sofie, dengar ini. Jika kamu ingin berdekatan dengan orang maka pertama keluarkan senyuman paling ramah yang bisa kamu keluarkan, kedua berikan sapaan, dan ke tiga duduklah di depan dia. Baik cukup dengan materi, cepatlah mulai prakteknya."


Aku mendorong tubuh Sofie agar tidak bersembunyi, dia tampak terus menolak karena malu, tapi pada akhirnya dia mengalah dan memutuskan untuk membulatkan tekad.


"Aku sekarang paham, aku akan melakukan yang terbaik. Lihatlah di sana Sebastian!"


Mata Sofie membara bagaikan api, ini pertama kalinya aku melihat Sofie yang panas seperti ini. Mengabaikan keterkejutan ku Sofie langsung pergi menghampiri Nasya dengan santai.


Dia melangkah dengan anggun dan kini berada tepat di samping kanan Nasya.


Nasya menoleh ke arah Sofie dengan wajah sedikit bingung dan heran. Kini tatapan dua gadis itu telah bertemu.

__ADS_1


'Hehehe aku semakin tertarik dengan apa yang akan terjadi, Sofie apakah gadis pemalu sepertinya bisa berbicara dengan normal? Apapun itu ini makin menarik'


__ADS_2