
Matahari bersinar cerah di sore hari yang sunyi menciptakan suasana tenang nan sejuk. Saat ini aku telah sampai di rumah setelah sekian lamanya.
sungguh kangen, sekitar satu minggu aku tidak ke sini..
Klark
Aku membuka pintu perlahan, tidak seperti biasanya rumah sangat kosong. Kukira ibu akan ada di depan pintu masuk, mengingat aku sudah mengabari bahwa akan pulang sekarang. Tapi tampaknya tidak seperti itu.
Aku berjalan hendak menuju kamar, tapi di ruang tamu yang sunyi ini aku menatap terkejut ke arah pria tua yang berjenggot.
Dia seperti biasa terlihat sangat tegas dan menonton TV, bajunya adalah kaos putih. Tampaknya dia sudah pulang.
"Ayah." Aku menyapa orang yang duduk di sofa itu dan berjalan.
Ayah menoleh, dia mengembuskan napas. Semoga dia tidak tahu apa yang aku lakukan selama ini.
"... Sebastian, apa yang kamu lakukan hingga tidak pulang sampai satu minggu?"
Aku refleks membuka mata lebar. Jantung menjadi sedikit berdetak bagaimana bisa dia tahu tentang ini? Aku tidak yakin ibu menceritakan tentang penginapan ini, jadi dari mana dia tahu?
"Apa yang ayah maksud?" tanyaku berpura-pura bodoh.
"Jangan berlagak tidak tahu... kamu menginap di rumah temanmu, kan? Siapa itu? Jangan bilang gadis tempo hari itu?"
Deg, jantungku terus berdetak, aku mengingat kemarin saat Sofie bermain ke rumah. Ayah sangat memperingati.
"... Tidak ada jawaban, ya?" Ayah menghela napas atas respon diam ini. Dia mungkin akan menganggap sebagai "iya"
"Tidak, ayah. Aku tidak melakukan—"
"Apanya yang bukan? Apa kamu mau melawanku seperti dulu lagi? Sebastian dengar ini dengan seksama, yang namanya cinta tulus itu tidak ada! Kamu seharusnya tahu sendiri. Apakah dikhianati oleh Emilia masih tidak membuat matamu terbuka?"
Ayah mengatakan dengan sangat tegas seperti biasanya. Dia sewajarnya tidak menjadi seperti gini kalau tidak tahu hubungan aku dan Sofie, kalau mencangkup tentang wanita dia menjadi sangat tegas. Terutama tentang Emilia itu.
Aku mengigit bibir tidak bisa melupakan peristiwa pengkhianatan itu.
"Tidak! Jangan samakan Emilia dengan Sofie!" Aku membantah sedikit emosi.
Kening ayah terangkat. "Kamu juga pernah mengatakan hal yang sama, kamu bilang Emilia berbeda, dia tidak akan memanfaatkanmu, tapi hasilnya... sungguh menyedihkan."
__ADS_1
Yang ayah katakan sangat benar, pada akhirnya Emilia hanya memanfaatkan. Dia bahkan membuat rumor aku selingkuh agar aku menderita, padahal jika diingat lagi kami bahkan tidak pacaran saat itu.
"Jadi yang aku ingin katakan hanya.... Berhenti bermain dan lakukan dengan lebih serius!! Lebih berusahalah! Kamu sudah kelas tiga, jika kamu menghabiskan waktu terus, maka mimpi menjadi dokter itu tidak akan berjalan mulus!"
Ini mungkin terdengar seperti nasihat yang bagus, tapi aku tidak menganggap demikian. Bahkan aku masih tidak ingat pernah bermimpi menjadi Dokter.
"...Dokter ya? Ayah sangat terobsesi dan ingin aku menjadi itu, tanpa tahu perasaanku. Itu bukan mimpiku itu keinginan ayah, bukan?"
Dia mengangkat alis kening. Menatapku dengan sedikit emosi. Aku menghirup napas mengatakan satu kata lagi.
"Aku bukan dirimu! Ayah hanya ingin ambisi yang gagal di capai dan menyerahkannya kepadaku benar, bukan?"
Ayah terdiam beberapa detik. Berdesis. Kesal. "Ambisi, ya? Apa yang salah dari itu? Itu adalah hal normal, anak adalah bagian dari orang tua, apa salahnya memberikan ambisi kita ke anak? Justru itu gunanya anak, jika hal sepele itu tidak bisa dilakukan maka keberadaanmu sendiri adalah kegagalan. Cukup diam dan lakukan apa yang aku mau! Kamu tidak punya hak menolak!"
Terdiam, tanganku mencengkram kuat menahan emosi yang kupunya, orang ini bahkan hanya menganggap ku sebagai boneka yang bisa mengisi ambisinya.
"Maaf ayah, aku bukan bonekamu.." Kalimat tenang Kuucapkan, nada rendah dan tenang, tapi bisa memenuhi ruangan.
Ayah sekali lagi tampak sangat marah, tapi dia menahan amarah itu dengan helaan napas yang kasar, lalu dia menatapku dengan pandangan sinis. "Aku tidak peduli bagaimana kamu menatapku sekarang, tapi ada satu hal yang kumau, jangan dekati dia lagi!"
Aku mengingit bibir, menahan rasa amarah. Aku tahu betul posisiku, jika aku menolak dengan keras pasti dia akan marah, jadi tidak ada pilihan lain.
Pandangan Ayah kembali ke TV, dia tampak tidak tertarik lagi denganku. Dia menghelanapas lalu berkata, "Aku harap itu bukan kebohongan." Suaranya tenang, tapi sedikit menakutkan karena kenyataanya aku berbohong.
Aku menganggukkan kepala dengan berat. Menggaruk rambut yang tidak gatal lalu beranjak ke kamar. Seperti biasa membuka pintu kamar, menatap jendela luar. Langit cerah menjadi gelap gulita, awan sedikit mendung. Air kecil-kecil berjatuhan menciptakan suasana sejuk dan bising.
Aku berjalan menaruh tas ke kursi lalu melompat ke kasur. berguling-guling memikirkan beberapa hal yang terjadi. Jika aku menangkap orang yang menganggu Sofie maka hubungan kami disetujui, tapi Ayah, dia..
Aku kembali mengangkat tubuh, duduk di sudut kasur. Menatap embun di jendela kaca. Tadinya situasi gerimis, tapi kini menjadi hujan deras. Guntur menyambat menciptakan kilau kuning yang memenuhi kamarku.
Aku menghela napas kembali mengingat permintaan Ayah. "Mana bisa aku menjauhi Sofie," aku bergumam lalu kembali merobohkan diri ke kasur.
Menatap satu-satunya sumber cahaya di kamar, lampu. Aku merentangkan tangan ke atas, mengingat senyuman yang Sofie miliki. Apapun caranya aku tidak mungkin bisa menjauh dari dia, tapi jika aku menolak entah apa yang Ayah lakukan.
Aku mengembuskan napas, sekali lagi pergi dari kasur menuju meja belajar. Mengambil ponsel lalu duduk di kursi. Aku membuka aplikasi chat untuk mengirim pesan ke Sofie, hanya ingin menanyakan sedikit kabar dari dia.
[ Sofie, bagaiman kondisi di sana?]
{ Hmm, aku tidak apa-apa. Tidak ada yang mencurigakan }
__ADS_1
[ Jadi begitu? Aku tenang, aku akan tidur kamu juga istirahatlah ]
Tanganku hendak mematikan ponsel, tapi tertunda karena muncul satu notifikasi baru di ponsel, di situ tertulis nama kontak Sofie. Penasaran, aku memutuskan membuka ponsel.
{ Ini tentang ucapanmu tadi }
[ Ucapan? Apa aku mengatakan sesuatu? ]
Saat itu aku sedikit merespon apa yang terjadi. Lalu teringat dan aku mulai tersipu, kemungkinan yang Sofie maksud ada ucapan tentang nikah itu.
{ Jangan sok lupa! Aku tahu kamu pasti ingat }
Walaupun tidak melihat wajah Sofie, tapi aku bisa merasakan. Mungkin dia cemberut sekarang? Hanya feeling.
[ Ya, te.. tentu saja aku ingat, ada apa dengan itu?]
{ Apa kamu serius? Dengan itu? }
Sial. Jantungku tidak mau berhenti berdetak. Betapa bodohnya aku mengatakan semacam itu tadi, terlihat seperti melamar. Aku terus menatap ponsel malu untuk menjawabnya. Sekitar dua menit berlalu, tidak ada jawaban dan hanya menatap ponsel.
{ Kenapa tidak ada jawaban?! }
Dia pasti ngambek.
[ Ya, tentu saja]
[ Apa kamu keberatan? Aku serius ]
{ Jadi seperti itu, sekarang aku benar-benar milikmu}
{ Dengar karena kamu sudah melamarku jangan selingkuh, oke }
[ Ya ]
Aku langsung mematikan ponsel. Menutup wajahku yang merah padam dan panas. Jantung terus berdetak, rasanya sangat hangat walaupun sebenarnya diluar sedang hujan. Guntur sekali lagi menyambar membuat aku berhenti menyembunyikan wajah.
Aku bersender di kursi dan menatap jendela penuh embun.
"Maaf, Ayah aku tidak bisa menjauh dia, kalau kamu marah. Akan kupikirkan besok."
__ADS_1
Hari ini hujan terus berdatangan, petir terus menyambar membuat suasana hati menjadi tenang. Aku memutuskan tidur dengan hati yang hangat. Memeluk bantal guling dan mulai bermimpi indah.