Gadis Dingin Yang Ceria

Gadis Dingin Yang Ceria
Chapter 7. Dia siapa?


__ADS_3

...[Sofie POV]...


Apa yang dilakukan sebastian kemarin sedikit membuatku emosi, maksudku bagaimana bisa dia mengabaikanku dalam satu hari? Apa dia tak tahu bahwa aku kesepian? Yah, setelah itu sebastian langsung meminta maaf dan hubungan kami menjadi lancar saja, tapi aku masih marah.


Dan hari ini adalah minggu aku tak bisa bertemu teman tersayangku maka dari itu aku memutuskan untuk menstalker Sebastian. Yap, menjadi stalker, tapi jangan salah paham aku tak sepenuhnya membuntuti dia.


Tadi pagi saat aku sedang membeli gula aku tanpa sengaja melihat Sebastian sedang terdiam seperti menunggu seseorang. Aku senang dan ingin langsung mendekati dia, tapi tepat pada saat itu seorang gadis mendekatinya dan mereka terlihat sangat dekat.


Aku tak tahu dia siapa, tapi.. ah, pokoknya nyebelin karena itu aku memutuskan membuntuti orang itu, tentu saja gula yang kubeli tadi sudah aku berikan ke ibu dan aku berlari dengan cepat kembali ke tempat yang tadi dan Sebastian masih berbincang-bincang dengan wanita itu.


tanpa sadar pipiku mengembung, aku bersembunyi di balik-balik dinding dan menatap dua orang itu yang saling berbicara. Mereka duduk saling berhadapan dan makan ice cream dengan tersenyum dan canda tawa.


Brak!


Suara keras berbunyi. Ah sial, aku tanpa sadar mencengkram dinding sampai retak. Aku bisa merasakan para tatapan terkejut dari pengunjung, tapi aku mengabaikan dan menatap dua orang itu.


Dari jarak seperti ini aku tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka ucapkan dengan jelas, tapi yang pasti kedua orang itu terlihat sangat asik dan tersenyum.


Brak!


Sekali lagi aku meretakan dinding dengan cengkramanku. ‘Nyebelin, kenapa dia bisa tersenyum seperti itu saat dengan wanita itu? saat bersamaku dia bahkan sedikit lebih diam.. Ah melihat senyuman bodoh itu membuatku ingin memukulnya.’ 


Brak!


Sekali lagi aku tanpa sadar meretakan dinding dengan cengkraman, aku tak tahu bagaimana ekpresiku sekarang, tapi tampaknya aku sedikit mengeluarkan aura iblis. Melihat dari bagaimana para pengunjung menatapku.


Terlarut dalam pikiranku, tanpa sadar kedua orang itu sudah menghabiskan ice cream dan berdiri untuk pergi. Aku tak akan melewati kesempatan ini, aku langsung keluar dari dinding, berjalan pelan berusaha tak mengeluarkan suara dan mengikuti dua orang itu lagi.


Saat ini aku sedang dalam posisi memata-matai karena aku sudah memakai kacamata hitam, masker, dan topi. Saat aku berjalan mengikuti Sebastian entah kenapa tatapan mengganggu mengarah ke kepadaku. ‘Kenapa mereka menatapku seperti itu?’


Kedua orang itu terus berjalan bersama dan makin mendekatkan ba- bahu.. Sial aku benci fakta itu, serius siapa wanita itu? Mungkin saat ini wajahku agak menakutkan karena para tatapan orang terus menuju ke arahku. Tapi siapa peduli.


Waktu terus berjalan, jam terus berputar. Sebastian dan wanita itu terus bermain untuk waktu yang lama. Membeli baju bersama, makan bersama, ke cafe bersama, ke foto box bersama dan aku pasti akan emosi setiap melihat kedekatan orang itu.


Hingga hari telah menjadi sore kedua orang itu masih berdekatan di taman yang kosong, dan tanpa mengenal lelah aku melihat kedua orang itu, bersembunyi di salah satu pohon yang berada di sana.


Jujur saja aku tak pernah tahu apa yang sebenarnya kedua orang ini bicarakan, tapi setiap berbicara pasti sebastian akan tersipu malu dan tersenyum seperti orang bodoh.


‘Kalau dilihat dari manapun mereka pasti pacaran.’


‘Apa mereka baru saja melakukan reuni yang membahagiakan?’


‘Kalau begitu tak aneh kalau mereka bisa dekat seperti itu.’


Bersamaan dengan pikiran ini, entah kenapa hatiku terasa sangat panas dan seperti ingin menangis. Padahal aku baru mengenal Sebastian beberapa hari yang lalu, tapi aku dengan cepat merasakan perasaan ini.


Jika kamu berpikir aku tak peka kalian salah besar. Ini itu kan? Sesuatu yang sering disebut cemburu. Aku menghela napas. Kalau dipikir lagi kenapa aku bisa merasakan rasa cemburu seperti itu? Padahal kami hanya teman yang baru saja bertemu.

__ADS_1


Mungkin kalau dijawab secara logika aku menyukai dia.


blushing


Setelah berpikir seperti itu pipiku menjadi sangat panas dan pasti memerah seperti tomat. Jangan salah paham, suka bukan berarti hal s- s- s- seperti itu oke. Aku hanya menyukai dia yang mendengar cerita dan menerima sisi ceriaku tanpa mengeluh sama sekali.


Aku terus bertarung dengan kepala sendiri, seperti ada dua sisi di kepala. Yang satunya bertanya tentang apakah aku menyukainya dan sisi lain terus beradu untuk berkata sebaliknya. Benar-benar seperti orang bodoh.


Terlarut dalam pikiran aku tanpa sadar menginjak ranting di dekat pepohonan.


Crark


Sebastian merespon dengan cepat dia menatap ke arah sumber suara dan menyadari keberadaanku. Aku sempat panik, tapi dia tak akan sadar. Mengingat bahwa aku sekarang menggunakan kacamata hitam, masker, topi, dan gaya rambut yang sangat berbeda bahkan te- te- orang di kelasku saat bertatapan denganku diam saja seolah tak kenal denganku.


Jadi aku yakin meskipun Sebastian melihat ke sini, dia pasti tak akan sadar keberadaanku, walaupun di sisi lain itu akan menyakitkan, tapi lihat sisi positif. aku membuntuti teman dekatku, apalagi dia cowok tentu saja aku akan mati karena malu.


Saat ini Sebastian menatapku dengan wajah sedikit.. bagaimana mengatakannya, ragu? Atau bingung? Yah bagaimana pun dia tak akan menyadari perubahan in-


“Sofie, apa yang kamu lakukan di sana?’


Sebastian sadar dengan keberadaanku. Aku senang, tidak aku tak senang. Sekarang aku akan mengalami rasa malu yang luar biasa dan bahkan saat dia memanggil namaku saja pipi suda sangat panas.


Aku mundur sedikit- demi sedikit tanpa sadar. “M- m- m- maaf, aku tak melihat apapun.” kataku dengan terbata-bata.


“Kamu melihatnya, saat aku bersama dia?’


Tanpa sadar aku mendekati sebastian dengan pipi yang cemberut dan aku telah melepaskan masker serta kacamata hitam. Lagi pula aku tak perlu barang ini lagi. Aku berjalan dan menatapnya tajam.


“Apa?” 


Dia bergetar ketakutan saat aku sudah berada tepat di depannya, keringat serta wajahnya menjadi kebiruan.


“Sofie kenapa kamu terlihat marah?” tanya Sebastian, membuatku makin emosi.


“Kamu serius tak paham alasannya?”


Di menggelengkan kepala sebagai jawaban tidak tahu.


Aku menghirup napas dalam karena kan sedikit berteriak.


“Aku cemburu! Kenapa kamu bisa dekat sekali dengan wanita itu daripada aku? Jahat, jahat, jahat..”


Dengan tubuh gemetaran Sebastian melambaikan tangan ke udara seolah berkata untuk tenang. “T- tenang Sofie, oke?”


“Mana bisa aku tenang!”


“Gikk.. Maaf.” Dia menundukan kepala dan menjatuhkan air mata. Mungkin kalau aku tak marah dia akan terlihat menggemaskan.

__ADS_1


Aku menghirup napas lagi, tapi kali ini aku berbicara dengan lebih tenang. “Aku benci itu,yang boleh melihat senyuman dan wajah gembiramu hanya aku seorang, aku tak mau jika wanita lain melihat senyumanmu.” ucapku dengan sedikit nada kecil, dan dengan cepat memalingkan wajah. Aku bisa merasakan tubuh dan hati yang terasa sangat panas karena tanpa sadar berkata seperti itu. dasar bodoh, kamu terlalu jujur sofie.


Aku kembali berpaling dan  menatap Sebastian yang telah tersipu serta mematung, setelah melihat ekspresinya aku menambahkan satu kalimat sekali lagi. “Bagaimana denganmu Sebastian, kalau aku tersenyum dan ceria dengan pria lain apa kamu senang?”


Sebastian melebarkan mata, seolah terkejut. “Tentu saja aku tak mau!” jawabnya tegas.


“Itulah yang kurasakan! Jadi jangan lakukan hal itu lagi, kalau mau tersenyum cukup denganku saja, jangan wanita lain.” Aku sekali lagi merona, dari tadi aku tak bisa berhenti berbicara, dasar mulut ember.


Mengesampingkan aku yang tersipu, Sebastian menatapku kebingungan seperti berkata bahwa aku salah paham. “Sofie sebenarnya wanita yang tadi-”


“Dek Bastian.” 


Suara besar berteriak di belakang, aku menoleh dan melihat wanita yang tadinya bersama sebastian. Kalau dipikirkan lagi dia- tunggu tadi bilang adik?


“Y- ya Kak Zahra.”


Tunggu plot ini jangan bilang.


“Kalian berdua adik kakak?!” 


Aku terkejut mungkin ini adalah fakta yang paling menggemparkan 2023 sekarang.


Dengan ekspresi bersalah Sebastian mengangguk sedangkan sang kakak, tampak bingung, seolah tak tahu dengan apa yang sedang terjadi, dia bahkan tampak tak kenal aku.


Tunggu kalau mereka hanya saudara, terus yang barusan kukatakan… sebelum aku menyadari pipiku telah menjadi merah padam. Duh aku mengatakan hal yang memalukan.


“M- maaf, Sofie.” Seolah sadar apa yang kupikirkan Sebastian meminta maaf, kubalas dengan anggukan.


Kak Zahra menyeringai. “Oh, jadi ini sofie toh.”


“He?’


Kak Zahra mendekatiku dan hendak membisikan sesuatu, saat ini Sebastian menyuruhnya berhenti, tapi dia tampak tak peduli dan mulai berbisik.


“Sofieku yang imut, dari tadi adikku terus membicarakanmu.”


Pipiku menjadi merah lagi.


“Dia bercerita bahwa memiliki teman perempuan yang sangat cantik, imut, dan ceria. Awalnya aku hanya berpikir mungkin adiku sedikit sakit karena kebanyakan nulis novel, tapi karena melihat dia terus tersenyum saat bercerita tentangmu membuat hati kakak jadi luluh, aku mau tak mau mendengar cerita dia bahkan sampai sore seperti ini.. Dan aku senang ternyata yang adiku maksud adalah orang asli dan nyata.”


Aku mematung, sebelum menyadari bahwa semua tubuhku telah memanas dan menjadi warna merah padam. Jadi selama ini Sebastian tersenyum karena bercerita tentangku, jujur saja ini membuat jantungku tak mau berhenti berdetak.


Kak Zahra tersenyum karena melihat kedua remaja seperti kami telah merona, dia merentangkan tangan ke atas dan berteriak.


“Sofie, bagaimana kalau kamu pergi makan ke rumah?”


“Haaa?” Aku mendengar jeritan dari seorang pria, yaitu siapa lagi kalau bukan Sebastian.

__ADS_1


Tak mendengar jawaban dariku, kak Zahra memegang tanganku dan membawaku pergi ke rumahnya. Serius hari ini mungkin aku bisa mati karena malu


__ADS_2