Gadis Dingin Yang Ceria

Gadis Dingin Yang Ceria
Chapter 11. Menjadi pasangan?


__ADS_3

"Jadi maukah kamu menjadi pasangan Sofie?" Dia bertanya seolah ini adalah hal normal untuk dikatakan.


Reaksi kami berdua sangat simpel.


"Haaaa!!" Tentu saja kami berdua sangat terkejut. Orang di dunia mana yang tidak terkejut bila ini terjadi.


"T- tunggu Zila, aku baru kenal Bastian beberapa hari yang lalu mana mungkin aku bisa menjadi pasangannya."


Sofie tampak membantah tak bisa lagi menahan rasa terkejut dan pipinya sekali lagi tersipu.


"Itu benar jangan putuskan seenaknya! Apa kamu ibu kami."


Aku tidak mengatakan hal aneh. Walaupun jujur saja plot semacam ini jika aku menulis novel maka akan kubuat si Zilla seolah adalah ibu dan ingin menjodohkan kami, itu mungkin masuk akal.


Tapi Zilla bukan siapapun, dia tidak berhak untuk memutuskan hal ini.


"Hahaha. Jangan marah seperti itu dong, ini hanya formalitas."


"Apa maksudnya?" kita bertanya karena bingung.


"Bastian, kamu seharusnya paham dengan kondisi Sofie kan?"


Aku mengangguk.


"Kalau begitu kamu tahu kan, kalau banyak yang mengincar Sofie? Kondisi Sofie sedikit memperhatikan, dia sering dibuntuti oleh orang-orang jahat, bahkan itu terjadi beberapa hari yang lalu, aku sadar seseorang membuntuti Sofie. Sial aku tak tahu siapa orang itu, andaikan saja aku tahu." Zilla terlihat mengepalkan tangan dan marah.


'Maaf jika beberapa hari yang lalu, itu kemungkinan adalah aku' Aku berpikir sendiri, jika kukatakan pasti Zilla akan memukullku.


"Dan bukan hanya itu saja, masih banyak kasus penguntitan, rayuan, godaan, dan masih banyak hal lain. Sofie sudah bisa dibilang menjadi pusat perhatian para penjahat, aku takut bila ada seseorang yang memiliki niat buruk ke Sofie. Jadi aku memutuskan untuk kamu dan Sofie menjadi pasangan."


"Jika seseorang tahu bahwa Sofie memiliki pasangan maka mereka pasti akan sedikit menghindarinya dan pasti mereka akan memutar otak sebelum mendekati Sofie."


"Inilah peranmu Sebastian, kamu hanya perlu selalu di sisi Sofie! Dengan itu Sofie bisa lebih aman dari para tatapan penjahat dan akan terhindar dari tindakan yang seperti itulah.."


"Kamu tidak perlu benar-benar menjadi pasangan, cukup berpura-pura saja tidak apa-apa, asalkan Sofie selalu ada denganmu maka dia bisa lebih aman kan." jelas Zila panjang lebar.


Yang dia katakan sangat masuk akal, tapi tatapan dan senyuman menggoda itu menggangguku. Apakah dia benar-benar ingin melindungi Sofie dari para tatapan penjahat? Atau hanya ingin mempermainkan kita? Siapa yang tahu jawaban itu, tapi senyuman milik Zilla mencurigakan.


Mengabaikan tentang hal itu. Aku menyadari bahwa Sofie sudah konslet dan terdiam.


"Huh. Kamu mungkin benar, kalau aku dekat dengan Sofie maka dia bisa lebih terlindungi dari para tatapan penjahat, tapi bagaimana dengan Sofie? Apakah dia mau denganku? Meskipun ini hanya pura-pura, tapi aku tidak mau melakukan dengan sepihak!"

__ADS_1


Aku mengatakan hal yang membuat hatiku terjangal. Sebenarnya tak masalah jika harus menjadi pasangan pura-pura bagi Sofie, bahkan jika itu asli aku justru ingin.


Mendengar penjelasanku si Zilla malah tertawa. "Coba lihat ekpresi Sofie, mungkin kamu akan tahu jawabannya."


Mengikuti saran dari Zilla, aku menatap Sofie yang duduk di sampingku. Dia terlihat menundukkan kepala dan membeku, dia menarik bajuku seolah menarik perhatian.


"K- kalau dengan Sebastian aku tidak keberatan." Dia menjawab dengan tersipu malu dan sedikit terbata-bata.


"Lihatkan! hehehe." Zilla sekali lagi tertawa.


**Kring


Kring**


Bel berbunyi sebagai tandan bahwa istirahat telah berakhir. Kami memutuskan untuk berhenti makan dan kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran. Karena kelas Zilla di B maka kami berpisah. Omong-omong kelasku adalah A.


Seperti biasa aku duduk dan memperhatikan pelajaran hingga waktu berubah menjadi sore hari. Benar itu adalah waktu untuk pulang.


Sebelum aku pulang aku mengatakan beberapa kalimat untuk Sofie karena dia akan marah seperti kemarin bila aku mengabaikannya, benar-benar gadis yang merepotkan, tapi di sisi lain itu menjadi bagian yang imut.


Aku mengangkat tas dan hendak pergi untuk pulang ke rumah, tapi aku tiba-tiba teringat dengan perkataan Zilla tadi siang.


"Kalau begitu kamu tahu kan, kalau banyak yang mengincar Sofie? Kondisi Sofie sedikit memperhatikan, dia sering dibuntuti oleh orang-orang jahat."


Dan pastinya orang itu bukanlah hal baik, mungkin stalker, atau bisa saja...


"Cih!" Aku berdesis, karena takut dengan pikiranku sendiri.


"Ada apa?" tanya Sofie yang masih duduk di kursi kelas.


Aku tak terlalu merespon.


'Itu benar, akan sangat bahaya bagi Sofie untuk sendiri, apa yang terjadi bila sesuatu yang buruk terjadi dengannya. Yang dikatakan Zilla benar, aku harus melindungi gadis suci ini.'


Aku berjalan ke arah Sofie, gadis ini menatapku dengan pandangan seolah kebingungan. Tapi aku tak peduli, aku melangkah mendekat. Di situasi ini aku tahu apa yang harus kulakukan.


"Ayo pulang bareng!" ucapku.


Sofie tampak terkejut untuk beberapa saat dan akhirnya dia tersenyum. "Tentu saja."


......................

__ADS_1


Kami berdua melangkah menuju ke arah rumah Sofie. Aku sudah mengantarkannya pulang sekitar 3 tiga kali, aku sudah hafal arahnya.


Aku dan Sofie terus bercakap dan bercanda, tapi jujur saja fokusku terlalihkan ke hal lain. Yaitu tatapan orang yang menuju kita, tidak lebih tepatnya banyak tatapan yang menatap Sofie.


Jadu begitu.. Aku paham maksud dari Zilla, jika Sofie sendiri bisa bahaya. Di sepanjang jalan aku juga sempat menatap sekitar dua orang yang cukup mencurigakan berkeliaran di dekat kami.


Tapi dua orang itu kini hilang pasti karena keberadaanku. Aku sedikit merasa bangga akan hal ini, jika saja pada hari ini aku tak mengantarkan Sofie pulang, mungkin hal buruk akan terjadi.


Aku bersyukur mengantarkan dia pulang hari ini.


Tapi tetap saja aku masih kurang cocok dengan ini semua.


"Sofie ini tentang perkataan Zilla yang tadi." Aku membuka mulut.


Sofie yang tersenyum mendadak diam dan berhenti melangkah. "Iya, ada apa dengan itu?"


"Apa kamu Benar-benar tidak apa-apa. Menjadi pasangan pura-pura. Ini demi keselamatanmu aku setuju dengan pendapat Zilla, tapi apa kamu tidak merasa jijik denganku?"


Sofie terdiam, dia menggertakan gigi. Mukanya sedikit marah. "Kenapa kamu masih bertanya tentang itu?!"


"Karena aku memang tidak cocok denganmu! Mulai hari ini demi keselamatanmu. Aku mungkin akan selalu ada di sisimu. Melakukan peran sebagai pasangan palsu dan melindungimu, tapi apa Sofie benar-benar tidak risih akan keberadaanku? Itu yang ingin aku tahu." jelasku panjang lebar.


plak


Entah karena alasan apa Sofie menamparku, sedikit air mata mengalir.


"Jangan katakan hal itu lagi! Cocok atau tidak? Hal seperti itu siapa yang peduli. Aku senang ketika Sebastian ada di sisiku itu sudah cukup! Kenapa hal simpel seperti itu kamu tidak paham?"


"Atau justru.. k.. kamu merasa repot jika berurusan denganku?" Mata Sofie berair.


"Tentu saja tidak! Apa kamu bodoh!" sahutku dengan nada tinggi.


Ini beneran pertanyaan terbodoh, mana mungkin aku bisa benci dengan Sofie.


"Kalau begitu diam dan tetaplah di sisiku, jangan katakan hal menyedihkan seperti itu!" Dia berteriak.


Tanpa menunggu lama Sofie berlari ke rumahnya yang sudah dekat. Dia membuka pintu dan membantingnya dengan kasar, seolah mengatakan bahwa dia emosi.


Aku menghela nafas melihat Sofie yang sudah masuk ke rumah.


"Kamu salah paham Sofie, mana mungkin aku membencimu, mungkin perasaan ini mengatakan sebaliknya."

__ADS_1


Aku berbalik meninggalkan rumah Sofie. Hari ini aku memang sedikit cekcok dengannya, tapi aku sedikit bahagia. Aku berhasil menghentikan dua orang mencurigakan itu dan menyingkirkan mereka.


Hanya dengan keberadaanku mungkin bisa melindungi Sofie dari kejahatan. Benar, presetanan dengan rasa suka, atau semacamnya. Aku akan melindungi Sofie karena itu adalah tugasku.


__ADS_2