Gadis Dingin Yang Ceria

Gadis Dingin Yang Ceria
Chapter 52. Fakta yang menyakitkan


__ADS_3

Aku berlari mengejar sosok mencurigakan itu. Aku sangat yakin bahwa dia adalah pelakunya, Rijal dan Angga tampak ikut mengejarnya dibelakangku.


Sosok mencurigakan itu berbelok di satu gang kosong. Aku pun mengikuti jejaknya beruntung di sana terdapat jalan buntu, dia tidak bisa lari kemanapun.


Sosok mencurigakan itu tampak panik dia menatap segala arah, tapi percuma yang ada hanya dinding yang menganggu jalan. Aku tersenyum dan melangkah ke dia.


“Akhirnya kita bertemu,” ucapku.


Dia tidak merespon perkataanku, wajahnya kini terlihat cukup jelas. dia melepaskan masker dan sedikti tersenyum. Aku heran kok dia tersenyum apa dia sadar dengan situasinya?


Kini tiga orang sedang mengepunnya kenapa dia malah tersenyum. Aku makin marah karena situasi ini.


“Kenapa kamu tersenyum, apa kamu bodoh?!”


“Tidak, yang bodoh itu kamu, serang dia!”


Jangan bilang ada orang lain di sini? Kami bertiga bergegas menoleh dan dampak tiga orang lagi berada di belakang kami. Sebelum kami sempat merespon ketiga orang itu memukul aku, Angga dan Rijal tengan kayu hingga membuat kami pingsan.

__ADS_1


Aku terjatuh, rasanyan sangat sakit di kepala. Cairan kental berwarna merah menutup pandanganku. Tubuhku tidak bisa bergerak, cepat lambat mata ini tertutup rapat.


***


Aku mendengar suara kebisingan di suatu tempat. Sangat bising tampak suara orang yang sebelumnya kukejar seperti sedang berbicara dengan orang lain. Aku memaksakan membuka mata walaupun terasa sangat sakit.


Dan benar sana ada sosok pria berjaket hitam dengan hode dan sedang berbicara dengan tiga orang tadi yang memukul kami. Pembicaraan mereka tidak jelas sangat kecil suarannya, mungkin ini karena aku sedang dalam kondisi buru.


Ketika mataku terbuka lebar aku melihat bngunan tua di sini. Terlihat kotor tanpa apapun, hanya diisi oleh empat orang termasuk pria berjaket itu.


Sosok berjaket itu tersenyum ketika menyadari aku telah terbangun, dia berjalan menghampiriku. “Akhirnya kamu bangun,” ucapnya dengan tersenyum.


“Jangan menatap sinis seperti itu dong.” Dia tersenyum dan duduk di tumpukan kardus, menatapku dengan pandangan merendah.


Tiga orang dibelakangnya tampak tersenyum mengejk, tapi aku tidak takut dengan ini semua.


“Di mana Sofie dan Stela, kamu suruhan dari rangga bukan?” tanyaku tanpa basa-basi. Aku tidak mau menghabiskan waktu lama sedangkan aku tidak tahu kondisi kedua gadis itu.

__ADS_1


Sosok itu tersenyum. “Apa kamu yakin mempentingkan itu terlebih dahulu, apa kamu tidak merasa aneh dengan situasi yang kamu alami.”


Apa maksud orang ini? Aku beneran tidak paham. Aku menatap bingun dia. “Apa maksudmu? Jangan bertele-tele tentu saja aku ingin menyelamatkan dua gadis yang kamu sandra.”


“Itu memang penting, tapi bukankah lebih penting lagi untuk mengenal sosok di depanmu ini, apa kamu tidak mengenalku Bos Sebastian.”


Mataku terbuka lebar “Bos” ucapan ini sangat nostalagia, sosok yang memangilku dengan sebutan itu adalah teman berhargaku saat masih di dalam geng, jangan bilang dia adalah?


“Apa tatapan itu, apa kamu beneran lupa denganku?”


Nada ini, dan wajahnya. jika dilihat lebih jelas aku kenal orang ini. rambut semir putihnya, wajah sedikit musam dari dia dan gerak geriknya, dia adalah..


“Aditya jangan bilang ini kamu?”


Aditya tersenyum sinis dan tertawa. “Itu benar Bos Sebastian, sungguh terhormat kamu ingat sosok bawahan setia ini.”


Aditya adalah teman semasa SMPku, aku dan dia sering berbuat onar dulu. Walapun aku sudah tobat, tapi bagaiman dengan dia? Aku tidak menyangka dia menjadi semakin parah. Tindakan yang dia lakukan sudah termasuk kriminal lo.

__ADS_1


Dan juga ternyata sosok yang selama ini aku cari adalah teman baikku yang lama. Ini fakta yang menyakitkan.


__ADS_2