Gadis Dingin Yang Ceria

Gadis Dingin Yang Ceria
Chapter 14. Saingan baru


__ADS_3

Setelah hari itu Sofie jadi sering mampir ke rumahku. Dia setiap hari akan membaca buku yang kutulis dan terlihat sangat bahagia. Untung saja ayah pergi untuk beberapa hari, jadi dia tidak akan tahu tentang Sofie yang suka bermain di rumah ini.


Jika kalian bertanya kenapa aku khawatir jika ayah tahu tentang Sofie? Maka akan kujawab dengan tegas. Seperti yang sudah kukatakan ayahku bukan tipe yang senang bila anaknya bermain dengan wanita seperti ini, itu mungkin terdengar baik.


Namun tidak seperti itu, dia terlalu berlebihan, hanya berdekatan dengan wanita saja ayah akan sangat marah, hal ini yang membuatku menjadi tidak terlalu bisa dekat dengan wanita.


Ini sedikit mengingatkan tentang saat itu.. hah, aku tidak mau mengingat itu. Yang penting jika ayah tahu Sofie suka bermain di sini, maka kemungkinan besar hubungan aku dan Sofie bakal rusak dengan cepat.


"Hehehe, ini juga menarik."


Sofie tersenyum dan tertawa sambil membaca buku. Oh, ya. Saat ini kami berada di ruang tamu karena aku tidak mungkin membiarkan gadis masuk ke kamarku, apalagi ada ibu, dia pasti akan berpikir yang aneh.


"Dek Sofie, ini teh manisnya."


Ibuku berjalan dan menaruh tiga teh dingin di meja ruang tamu. Dia tersenyum ke arah kami berdua dan pergi. Berbeda dengan ayah, ibu lebih mensupportku jika berbicara tentang wanita.


Sofie melanjutkan membaca dan aku melihat TV, atau kadang menatap Sofie hal itulah yang sering terjadi akhir-akhir ini.


...---------------...


Kring


Kring


Jam istirahat berbunyi, aku mengeluarkan bekal dari tas dan hendak pergi ke atas atau Rooftop. Biasa Zilla mengundangku ke sana. Sofie dan Zilla sedang menunggu.


Saat aku melangkah keluar kelas, tiba-tiba. Sosok pria yang keren datang menghalangi, dia berdiri di Pintu keluar dan menatapku.


Dia bernama Gilang Anggara, atau bisa disebut Angga. Dia adalah orang lelaki terpopuler di sekolah ini, jika Sofie adalah gadis paling cantik maka Angga adalah laki-laki paling keren.


Angga memiliki rambut hitam yang kecoklatan, tubuh yang tinggi dan sedikit berotot, wajahnya juga bersih bak-bak korea. Sifat yang dia miliki cukup ceria, dia suka bercanda, pintar olahraga terutama basket, dan akademisnya selalu sempurna. Angga adalah incaran para wanita, tidak ada yang tidak tertarik kepadanya. Dia benar-benar seperti karakter utama dalam novel.


Tapi untuk apa orang seperti Angga ada di sini? Serius hanya berdiri di depan pintu saja semua pandangan menuju ke Angga. Yah, aku yang berdiri di dekatnya saja merasa kalau aku dan dia beda level.


"Hmm, permisi apakah anda melihat Sofie?" tanya Angga, matanya berkeliling.


Jadi dia mencari Sofie, kalau begitu itu wajar.


Karena aku berada tepat di depannya maka aku mau tak mau harus menjawab. "Sofie bersama temannya Zilla, mungkin mereka ada di rooftop."


Entah kenapa dia menatapku tajam.

__ADS_1


"Hee, kamu tahu banyak tentang Sofie. Bahkan kamu tahu bahwa Sofie punya teman bernama Zilla."


Ada apa dengan tatapan mengintimidasi itu?


"Yah, jika ada tugas aku sering satu kelompok dengannya. Jadi aku berbicara sedikit."


Itu bohong, meskipun satu kelompok Sofie wajarnya tetap akan menjadi pendiam, dia akan memberikan pendapat hanya untuk beberapa kalimat saja. Tapi ini sudah menjadi alasan yang bagus.


"Hee, Sofie berbicara dengan orang ya? Menarik. Kamu ikutlah aku di belakang gedung sekolah."


Sekelas menjadi heboh, tidak peduli pria atau wanita semua berteriak kaget.


"Serius si Sebastian itu apa yang dia lakukan?" ucap siswa pria.


"Dia diundang untuk berdua saja, betapa irinya aku." ucap siswi wanita.


"Kenapa, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya salah satu siswa pria.


"Aku dengar mereka membicarakan tentang Sofie, atau semacamnya. Tampaknya si Sebastian itu ingin merebutnya dari Angga."


"Hahaha, apa dia bodoh, Sofie tidak akan mau dengan orang sepertinya."


"Itu benar."


Jika ini adalah diriku yang SMP, serius orang ini pasti sudah kupukul. Tapi aku sudah berhenti melakukan itu, terima kasih berkat gadis tanpa nama itu, aku bisa berhenti melakukan hal bodoh.


"Oi! Kamu dengar? Aku ingin mengajakmu ke balik gedung."


"Ya, baiklah." Aku menjawab dengan tenang dan berjalan mendahuluinya.


"Ayo, jangan lama-lama." kataku.


Semua orang tampak terkejut, mereka pasti tidak akan menyangka bahwa aku berani bicara setenang ini dengan idol sekolah.


Tapi si Angga tersenyum, seolah tertarik dengan keberadaanku.


Setelah beberapa saat kami sampai di belakang gedung sekolah. Di sini sangat sepi, aku tidak peduli dengan apa yang mau dia lakukan. Jika mau bertarung, aku tidak akan melakukan hal bodoh lagi. Aku sudah berubah.


Seolah mengecek, Angga menatap segala arah. Setelah itu menatapku.


"Apa hubunganmu dengan Sofie?"

__ADS_1


"Hanya teman." sahutku singkat.


"Jangan bohong! Aku melihatmu berjalan dengan Sofie setiap hari, dia juga pergi ke rumahmu setiap hari kan?" Dia tampak marah.


"Dari mana kamu tahu hal itu? Apakah kamu tidak salah lihat? Maksudnya aku orang biasa, tidak mungkin aku bisa dekat dengan gadis populer."


Aku berbohong sekali lagi. Ini kenyataan, di dunia manapun tidak mungkin orang biasa akan dekat dengan idol, aku memanfaatkan fakta itu untuk mengubah pikiran Angga.


"Tidak aku sangat yakin."


Sepertinya permainan kata tidak berguna. Aku harus memikirkan kalimat yang bagus.


"Kenapa kamu seperti ingin sekali dengan Sofie?" tanyaku.


"Jawabannya simpel karena aku menyukainya. Orang seperti Sofie hanya akan cocok untukku, aku kuat, pintar antar akademis dan sempurna. Tidak ada orang selain aku yang bisa bersama Sofie."


"Dan juga aku sudah kenal Sofie sejak SD, dia sejak awal memang sudah menjadi populer, pendiam, dingin, dan tenang."


Aku mencengkram celanaku. Sofie bukan seperti itu, dia hanya sedikit pemalu, jika dia sudah terbuka maka dia akan menjadi reog yang tidak bisa berhenti bicara, tapi tampaknya teman masa kecilnya tidak tahu akan ini.


"Jadi aku tanya apa hubungan dia denganmu!?" Dia semakin marah.


Tenang, jangan terbawa emosi. Jika aku yang dulu pasti sudah meledak dan memukul si idola ini.


"Hahaha, apa yang anda takuti. Aku hanya orang biasa tidak mungkin Sofie memiliki perasaan kepadaku, jadi anda tidak perlu khawatir."


Kalimat ini sedikit melukai hatiku, walaupun aku berbohong aku berharap dia sedikit menatapku.


"...."


Angga tampaknya terdiam, dia merespon perkataan ini.


"Tidak, jika teman mana mungkin akan pergi ke rumah setiap hari. Kalian pasti memiliki hubungan kan?"


Menyebalkan.


"Sofie bukan pacar anda! Kenapa anda sangat overprotective?"


"Itu karena aku teman masa kecil."


'Untuk seukuran teman masa kecil kamu tidak tahu apapun tentangnya.' Aku menyimpan perkataan itu di otak karena jika aku bicara pasti dia akan marah besar.

__ADS_1


Sekarang apa yang harus aku katakan untuk menenangkan idola kita ini?


__ADS_2