Gadis Dingin Yang Ceria

Gadis Dingin Yang Ceria
Chapter 41. Sebastian ini Hadiah dariku


__ADS_3

"Jadi Sofie mengalami hal seperti itu, sangat tidak terduga."


Setelah mendengar semua cerita dari Sebastian, Ardian tampak ingin membahasa ini lebih dalam. Di tempat makan mereka saling menatap satu sama lain.


"Ya, karena itulah aku menginap di rumah Sofie, awalnya untuk satu minggu, tapi orang tua dia tidak pulang. Aku jadi sedikit bingung bagaimana cara menceritakan ini dengan orang tuaku," jawab Sebastian.


"Memang sudah berapa lama kamu tinggal?"


"Sekitar 1 minggu lebih 3 hari.."


"Hmm~ untung saja ayahmu belum pulang. Aku yakin masalah pasti akan jadi besar, kalau ayahmu tahu tentang penginapan ini."


"Ya, aku setuju."


***


Di tempat lain, terlihat tiga gadis masih berkeliling di tempat pakaian. Semua gadis tersenyum bahagia menatap baju-baju yang menurut mereka imut.


Tapi ini bukan untuk mereka, tapi adalah hadiah untuk orang yang cukup berarti.


"Apakah Sebastian akan cocok dengan ini?" tanya Sofie menatap kemeja berwarna hitam.


Ya, tujuan Sofie pergi adalah untuk membelikan hadiah istimewa untuk Sebastian karena hari ini adalah ulang tahun Sebastian. Karena itulah Sofie berusaha untuk menjauh dengan Sebastian dalam satu hari. Dan karena itulah Ardian memisahkan mereka.


Nasya berjalan dan menepuk pundak Sofie dengan halus, dia tersenyum. "Kayaknya pacarmu bakal bagus dengan itu." Dia memberikan saran.


Dan pipi Sofie menjadi kemerahan, membayangkan Sebastian menggunakan kemeja yang dia pilih, tapi dia masih merasa kurang yakin.


Masak kemeja jadi ulang tahun, ini kurang terlihat Spesial dia harus memutar otak untuk memilih yang lebih bagus.


"Sofie bagaimana dengan topi?" usul Zilla.


"Hmm, mungkin ide yang bagus. tapi masih kurang." sahut Sofie.


"Aku rasa aku harus membeli novel. Dia suka membaca juga, Zilla kamu juga harus memilih hadiah, lo," ucap Nasya tersenyum manis, dia membayangkan reaksi dari Sebastian ketika membaca novel yang dia beli. Apalagi ini adalah limit edition yang Sangat langka.


"Kamu benar, dan pilihanku adalah topi, tapi bagaimana denganmu Sofie?"


Sofie masih terdiam. Dia kebingungan untuk memilih barang yang disukai oleh Sebastian. Dia sedikit merasa gagal sebagai pasangan, bahkan tidak tahu hal yang di sukai oleh Sebastian.


Dia menghela napas tanda kefrustasian.


Zilla mengelus pundak Sofie. "Jangan seperti itu Sofie."


"Itu benar kalau menurutku hadiah bukan harus barang yang mereka sukai, cukup kasih saja barang yang menurutmu cocok untuk dia. Dan dia pasti akan menghargai niat itu, jadi jangan terlalu berpikir berlebihan," Nasya menjelaskan.


Sofie mengangguk, sedikit setuju dengan pendapat dari Nasya. "Kamu benar, aku bisa memberikan hal yang menurutku bagus."


Sofie berjalan menjauh diikuti oleh teman-temannya, dia pergi ke berkeliling ke toko dan menemukan satu barang yang paling bagus untuk Sebastian.


"Ketemu, pasti dia akan sangat cocok dengan ini." Sofie tersenyum manis melihat barang yang akan jadi hadiah.


Sedangkan kedua temannya sedikit tampak ragu, tapi tidak berani mengatakannya.


Merasa sudah selesai Sofie mengambil hadiah itu menunju ke kasir untuk segara membayar.


***


"Huh, kenyang.."


Ardian menepuk-nepuk perutnya yang besar. Meja bersih kini menjadi tumpukan piring yang menggunung.


Sebastian menatap sendu orang ini, dia menghela napas dan menaruh gelas minumnya. "Kamu makan sebanyak ini tentu saja kenyang."


"Hehehe, kamu benar."

__ADS_1


Sebastian menatap jam tangan yang mengarah ke pukul 4 Sore, sudah saatnya pulang. Dia juga menerima pesan dari Sofie untuk segera pulang.


Sepertinya Sofie, Nasya, dan Zilla pulang ke rumah terlebih dahalu. Tujuan mereka adalah untuk mengejutkan Sebastian.


Tapi, tentu saja Sebastian tidak tahu akan hal ini. Dia bahkan lupa akan hari ulang tahunnya.


"Ayo, pulang." usul Sebastian berdiri dari tempat duduknya dan pergi.


"Ya, untuk semua makanan akan ku bayarkan, jadi kamu gratis."


"Kamu serius?" tanya Sebastian yang dibalas anggukan.


Sebastian sedikit merasa tidak enak, tapi inilah hadiah versi Ardian menghabiskan waktu, bermain, makan-makanan hangat, dan mentraktirnya dia merayakan ulang tahun temannya. Bahkan tanpa Sebastian sadari.


"Tenang saja kita teman, kan?" Tersenyum Ardian membayar semuanya di kasir. Membuat Sebastian menundukkan kepala dan berterima kasih.


Kedua orang itu kini keluar dari maal dan pergi menuju rumah Sofie. Ardian maksa untuk ikut, dia beralasan untuk menjaga temannya agar tidak melampaui batas. Sebastian hanya mengangguk terpaksa menerima permintaannya.


Padahal niat aslinya adalah merayakan hari ulang tahun.


Klrak


Setelah beberapa saat akhirnya mereka sampai ke rumah Sofie. Sebastian membuka pintu perlahan dan tepat pada saat itu dia terkejut oleh terompet ulang tahun.


""Sebastian selamat ulang tahun.""


Sebastian membuka mata lebar. Menatap Sofie yang memang kue ulang tahun, Nasya, dan Zilla yang berdiri di sampingnya. Ke tiga gadis itu menggunakan topi ulang tahun, terlihat sangat menikmati.


"Tunggu... ini hari ulang tahunku?!"


Si korban justru baru sadar. Serius seberapa bodohnya dia sampai lupa akan hari ulang tahun?


Ke tiga gadis itu tertawa mendengar respon tidak terduga. Sedangkan Ardian merangkul temannya sekali lagi.


"Selamat ultah, Bro!"


"Daripada di sini, ayo segera makan kuenya." Zilla tampak bersemangat, dia sudah capek berdiri di depan pintu masuk.


Sebastian tertawa kecil. "Kamu benar ayo makan, dan terima kasih semua."


Mereka semua berjalan ke ruang tamu untuk menikmati kue ulang tahun ini. Ada lilin berangka 17 tahun dan semua bersorak menyuruh Sebastian meniupnya.


"Tiup"


"Tiup"


Kurang lebih seperti itu sorakan mereka. Sudut bibir pria itu tersenyum dia mengikuti keinginan temannya untuk meniup lilin dan semua kembali bersorak.


"Hore!!"


Ardian mengacak-acak rambut Sebastian. "Selamat, Bro. Hehehe." Sebastian hanya mengagguk dan tersenyum.


Acara dilanjutkan dengan canda tawa, cerita dan mereka semua tampak sangat menikmati kue ulang tahun ini.


Hati Sebastian sesok terasa terisi kembali, dia merasakan kehangatan yang luar biasa, rasa bahagia tergambar jelas di hatinya.


Dia tidak pernah memiliki seseorang yang mau mengadakan ulang tahun sebesar ini, itulah kenapa dia tidak berencana untuk menghafalkan hari ulang tahunnya.


Karena itu akan menjadi rasa sakit sendiri ketika tidak ada yang menyadarinya. Dia bahkan pernah menyalakan api lili sendiri dan menikmati ulang tahun sendiri.


Sudut bibirnya terangkat untuk ke sekian kalinya, dia sangat bersyukur punya temen seperti ini, tapi bicara soal teman, dia jadi teringat akan teman berandalannya.


Dia dulu juga punya ikatan tersendiri dengan teman-teman nakalnya, walaupun setelah bertemu Sofie dia berhenti berkumpul dan mengundurkan diri dari geng tidak berguna itu.


Hubungan mereka berakhir menjadi pecah setelah hari pengunduran diri itu.

__ADS_1


Sebastian menghala napas, menatap jendela malam. 'Kira-kira bagaimana keadaan mereka?' pikir Sebastian, di dalam hati paling dalam dia berharap mereka telah menjadi manusia normal.


Waktu kembali berjalan tidak terasa kue sudah habis, acara selajutnya adalah hadiah bagi Sebastian.


"Tunggu, karena aku p— pacarnya jadi aku harus memberikan terlebih dahulu."


Tegur Sofie melihat kedua gadis yang sudah mengitari Sebastian dengan hadiah di kedua tangan mereka. Dia sedikit cemberut melihat Sebastian dikerumuni oleh wanita selain dia.


Jantung Sebastian berdetak. Pipi sedikit memanas karena membayangkan apa yang akan diberikan oleh Sofie, walaupun barang itu tidak berguna Sebastian dengan senang hati akan menerimanya.


Sofie berjalan ke arah Sebastian dengan malu-malu. "I- I- Ini aku hadiah dariku, semoga kamu suka. Selamat ultah Sebastian." Dia memberi kotak berisi hadiah dan tersenyum sangat manis membuat jantung Sebastian hampir copot.


"Y— ya, terima kasih."


Sebastian menoleh ke arah lain, menyembunyikan wajah meronanya.


""Cie""


"Uhui"


Para teman mereka semua bersorak. Membuat Sebastian dan Sofie makin malu, pipi mereka menjadi merah padam.


"Apakah aku boleh membukanya?"


"Ya, tentu aku harap kamu suka," ucap Sofie tampak dengan nada lirih karena malu.


Sebastian menelan ludah. Perlahan dia membuka kertas kado dan menemukan kalung yang serupa dengan yang dia berikan ke Sofie. Kalung Silver berbentuk Love.


"Ini?"


"Ya, itu hadiah untukmu dengan menggunakan kalung yang bermodel sama kita terlihat seperti p- pasangan sungguhan, kan? Dan juga.."


Sofie memegang tangan Sebastian, manik matanya menatap pria itu dengan bata sedikit malu-malu.


"Di balik kalung itu ada fotoku, Jadi kamu bisa melihatku di manapun kamu berada, dan itu memiliki arti kita selalu bersama walaupun terpisah.. itu terdengar sangat romantis."


Memanas. Mendengar ucapan dari gadis yang disukai. Wajah Sebastian terasa sangat panas seperti ingin mendidih. Jantungnya juga seperti ingin copot tidak bisa berhenti berdetak.


Sofie membalikan badan dan berjalan. Membiarkan teman-temannya memberikan hadiah. Nasya dengan Novel dan respon Sebastian sedikit berbinar-berbinar, mereka tampak bercerita tentang buku itu dan terlihat akrab. Sofie sedikit cemberut.


Kemudian Zilla dia memberikan topi dan si Ardian tidak mengasih apapun. Dia sudah mentraktirnya.


Setelah memebri hadiah ke tiga teman itu pulang. Sofie dan Sebastian berjalan ke pintu keluar melambaikan tangan untuk mereka yang pergi pulang.


Sekarang telah menjadi sepi. Seperti biasa hanya ada Sofie dan Sebastian di sini. Teman-teman telah pulang.


"Aku mau ke toilet dulu.." ini hanya bohongan, agar tidak terlalu canggung ketika bersama Sofie.


Tapi Gadis ini memegang tangan Sebastian membuatnya berhenti melangkah.


"Sebastian aku masih ada satu hadiah lagi." Sofie tamapak memerah, dia menutup kedua matanya.


"A— Apa itu, kamu tidak perlu memberikan—"


Belum selesai berbicara Sofie menyumpal mulut Sebastian dengan bibirnya. Memberikan ciuman manis yang singkat, tapi sangat menghangatkan untuk Sebastian dan bagi Sofie.


Ke dua orang ini tersipu sangat malu. Terutama Sofie.


Sofie melepaskan ciuman dan menatap Sebastian dengan tersipu sangat malu.


"Ini hadiahku yang satunya, Kamu sudah mencium aku dengan hangat kemarin, jadi sekarang giliranku, walaupun cuma singkat, tapi apakah kamu suka?" Sofie meletakkan tangannya ke bibir.


Tidak mau menunggu jawaban karena rasa malu yang luar biasa Sofie memutuskan langsung lari ke kamarnya, sedangkan Sebastian masih mematung. Jantung dia tidak mau berhenti berdetar.


Sensasi bibir manis milik Sofie masih sangat terasa seperti baru, bau parfum dan rambutnya barusan membuat dia hampir gila. Sofie sangatlah wangi dan imut.

__ADS_1


Menatap ke arah kosong, Sebastian meletakkan jarinya ke bibirnya dia menjawab pertanyaan dari Sofie walaupun dia tidak ada.


"Aku sangat menyukainya... tidak lebih tepatnya aku sangat menyukaimu Sofie, aku ingin menikah denganmu."


__ADS_2