
...[Sofie POV]...
Lagi-lagi Sebastian belum datang ke sekolah, hari ini bangku miliknya kosong. Aku benar-benar ingin bertemu dengannya dan juga, aku jadi takut dengan kejadian kemarin. Apa yang harus kulakukan aku benar-benar tidak tahu, tapi yang pasti aku sangat ketakutan.
Aku sudah mencoba bercerita ke Zilla, tapi aku urungkan niat ini, aku takut jika Zilla terlibat juga, dia adalah teman baikku, mana mungkin aku bisa melibatkannya. Yang bisa kuharapkan hanya Sebastian seorang entah kenapa itu yang terpikir di benakku.
Tapi Sebastian tidak ada hari ini, harapanku dengan cepat menghilang begitu saja. “Hah” Aku menghela napas, benar-benar hari yang susah.
Terus memikirkan hal itu aku tanpa sadar tidak memperhatikan pelajaran dengan benar bahkan saat makan bersama Zilla aku terus merenungkan pikiran ini.
Dia tampak khawatir dan berkata,
“Apa kamu sakit?”
Aku menggelengkan kepala. “Tidak, aku baik-baik saja.”
Aku tidak bisa mengatakan apa yang terjadi ke Zilla, jika dia tahu pasti, dia akan melakukan sesuatu, jadi aku berbohong.
“Kamu tidak perlu memaksakan diri kalau sakit ayo ke UKS, biar aku temani.” Dia tampak khawatir, sebagai temannya aku sangat bahagia memiliki orang seperti Zilla.
“Temani ya? Bukankah kamu hanya ingin membolos dengan gaya?” Ardian mengejek dari kejauhan.
Sejak kejadian kemarin dia jadi suka ikut ke atas atap untuk makan bersama kami.
Zilla menoleh ke belakang, dia tampak marah bahkan wajahnya merah karena menahan amarah.
“Apa katamu jangan samakan aku denganmu!” Dia berteriak.
“Dan juga kenapa kamu masih mau di sini? Ini mengganggu jadi enyahlah!” Zilla melanjutkan perkataannya dengan sangat emosi dan nada tinggi, tampaknya dia tidak bisa akur dengan Ardian.
“Heh! Jangan salah paham, aku kesini karena yakin Sebastian pasti juga ikut, jadi aku naik ini bukan demi bertemu denganmu atau semacamnya! Jangan Geer!” Ardian menegaskan dengan nada yang tinggi.
“Iyuh, siapa yang berharap kamu disini untukku? Kamu menjijikan, jadi sana pergi!”
Ardian menaikan alis. “Kamu itu duh, cobalah tiru temanmu itu! BIsakah kamu bisa menjadi sedikit imut? Dasar wanita pemarah.”
Brak
Kali ini Zilla tidak bisa menahan emosi, dia menjitak kepala Ardian hingga benjol, bahkan pria itu terlihat meringis kesakitan.
“Apakah kamu beneran cewek?”
Brak
Dia memukul satu kali lagi dan memalingkan muka. “Cerewet banget ya, seharusnya kamu bersyukur, aku sangat jarang menunjukan sisi ini untuk orang lain, loh!” Dia bergumam dan mungkin hanya aku yang dapat mendengar suara itu.
__ADS_1
Yang Zilla katakan adalah benar, dia pribadi yang sedikit serius apalagi ketika bersama laki-laki, dia tidak akan bercanda seperti tadi jika dengan orang asing. Tapi dia melakukan itu hanya untuk Ardian, oh, aku paham. Jadi ini plot yang itu ya.
Aku tersenyum penuh goda ke arah Zilla yang merona itu.
“A-apa?”
“Tidak kalian pasangan yang baik,” ucapku. Rasakan itu, ini adalah pembalasan yang kuberikan.
Zilla makin merona seolah menyuruhku agar dia tidak salah padam, Zilla menggelengkan kepala.
“Apa yang kamu katakan mana mungkin aku memiliki perasaan semacam itu ke orang bodoh ini kan?” Dia menggembungkan pipinya dengan warna yang agak merah.
Aku sekali lagi tersenyum penuh godaan, “Apa itu benar? Hehehe.”
Dia makin merona, yang sebelumnya hanya ada di pipi kini warna kemerahan menyebar hingga pipi dan telinga.
“Sofie, kamu itu ya! Pas seperti ini saja pintar ngomong, cih!”
Aku hanya tertawa mendengar keluhan dari Zilla, dia sedikit imut.
“Apa Sih yang kalian dari tadi bicarakan?” Ardian kembali berdiri, dia masih memegang kepala yang benjol.
Zilla menatap ke arah Ardian, dia merona dan dengan cepat memukul wajahnya sekali lagi.
Brak
Kring
Kring
Bel berbunyi dan kini pelajaran dimulai dengan sangat baik. Aku memperhatikan semua pelajaran dengan baik dan waktu pulang pun datang dengan cepat.
Seperti biasa aku pulang ke rumah dengan sendiri, awalnya Zilla menawarkanku untuk pulang bersama, tapi aku menolak. Aku memang takut dengan penguntit yang kemarin, tapi disisi lain aku juga takut jika Zilla terlibat.
Tapi untungnya aku tidak merasakan hawa keberadaan seseorang di belakang, mungkin hari ini aku beruntung, aku tidak diikuti oleh siapapun itulah pemikiranku, hingga tiba-tiba langkahku terhenti dan seseorang menggenggam tanganku dengan sangat erat.
Badanku bergetar, aku bisa merasakan hawa tidak enak dari belakangku, dia sepertinya orang yang kemarin, napas dan jantungku dengan cepat berdetak tidak karuan, keringat dingin pun menetes dengan deras.
“Kamu cantik seperti biasanya, ya.”
Suara ini sangat asing bagiku. Aku tidak merespon bahkan bergerak satu inch pun tidak ada, jika aku berteriak mungkin aku bisa membuat dia berhenti, jadi akan kucoba.
“To-
“Jang berbicara, oke.”
__ADS_1
Dia meletakan tangan satunya ke leher, berusaha mencekikku, tangannya cukup besar dan aku bisa merasakan kedinginan. Aku terdiam dan mematuhi perkataannya.
Pria yang memegang tanganku tampak mengendus rambut-rambut hitam milikku, dia memegang wajahku. Di tengah keramain ini tampaknya aku dan dia terlihat seperti sepasang kekasih, jadi tidak ada yang mencurigakan.
Jujur aku ingin sekali berteriak, tapi suara itu tak muncul, aku mulai pasrah dan menutup kedua mata.
Pria itu berhenti mengendus, tapi mengelus tangan kananku.
“Apakah aku boleh tahu namamu? Kamu sungguh tipeku sekali.”
Aku terdiam mana mungkin aku bisa memberitahu, tapi tampaknya aku tidak bisa. Aku hanya bisa melakukan apa yang dia mau.
“Sofie?”
Aku membuka mata lebar, tidak ini bukan berasal dari suaraku, ini adalah suara milik Sebastian. Harapan muncul juga.
Sebastian menatap tajam pria yang ada di belakangku, matanya itu seperti sangat waspada. Tapi di sini adalah pusat keramaian, Sebastian tidak bisa melakukan kekerasan.
“siapa kamu?”
Dia bertanya dengan wajah emosi, tapi mencoba untuk menahannya.
“Katakan kepadaku bahwa aku temanmu.” Lelaki yang ada di belakangku berbisik.
Aku hanya bisa pasrah dan mengikuti apa yang dia katakan.
“Sebastian dia adalah temanku.” Aku menjawab dengan senyuman terpaksa.
“Apakah itu benar?”
Dia tampak tak yakin dan melototi lelaki itu. Lelaki yang berada di belakangku menggunakan jaket bertudung dan dia memakai masker, wajahnya tidak terlalu terlihat jelas.
“Hahaha, tentu saja. Tampaknya aku akan mengganggu, jadi aku pergi dulu.”
Lelaki itu menepuk pundakku, dia terlihat tertawa dan melambaikan tangan untuk pergi, dia semakin jauh dan menghilang.
Sebastian menatap tajam pria itu, tapi dia tidak mengejarnya, walaupun dia mengejar dan menghentikannya, tetap saja dia tidak punya bukti apapun. Jika dia gegabah bisa saja Sebastian malah jadi tersangka. Mungkin itu yang ada dipikirannya.
Yah, apapun itu aku tak peduli.
“Sofie?”
Sebastian menatapku dengan pandangan sedih. Dia melihat sebutir air yang jatuh melewati pipiku. Aku tidak peduli ini ramai atau bukan, aku langsung berlari dan memeluk Sebastian karena ketakutan.
Dia tampak tak masalah dan membiarkan aku menangis sesuka hati dan memeluk erat dia.
__ADS_1